Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Mengetahui tentang Tiara dan Thomas



"Hallo Kak Frans," sapa Amara disambungan teleponnya dengan Dokter Frans.


"Ya. Amara. Ada apa menghubungi ku?" Sahut Dokter Frans.


Jujur Frans sangat bahagia menerima panggilan telepon dari Amara saat ini, suara wanita yang beberapa hari telah ia rindukan.


"Kak Frans, ada apa dengan Tiara? Kenapa nomornya sama sekali tidak bisa aku hubungi? Apakah dia sakit?" Tanya Amara begitu mengkhawatirkan sahabat terbaiknya ini.


"Kamu ada di mana saat ini? Aku tidak bisa menjelaskan keadaan Tiara di telepon. Bagaimana jika kita ketemuan saja?"


Amara sejenak terdiam, saat diajak bertemu oleh Dokter Frans malam ini. Pasalnya ia baru saja tiba dari Bali. Tubuhnya masih sangat letih dan ingin segera beristirahat. Namun ia juga merasa penasaran kenapa Tiara tidak bisa dihubungi hingga saat ini.


"Aku baru saja tiba dari Bali, Kak Frans. Sepertinya sangat letih jika harus keluar dari kosan terlalu jauh. Di dekat kosan ku ada tempat minum kopi 24 jam, apa Kak Frans bersedia jika kita ketemuan di sana?"


"Ok, kamu sharelok saja tempatnya ya! Aku langsung meluncur."


"Baik Kak Frans hati-hati." Sahut Amara yang kemudian menutup panggilan teleponnya.


Di dalam mobil Daniel yang belum pergi, mendengar semua percakapan Frans dan juga Amara yang ia sadap.


"Kamu memang harus selalu aku awasi, aku tidak bisa lengah sedikit. Aku benar-benar tidak menyukai sifatmu yang terlalu perduli dengan orang lain. Terlalu mengambil pusing Tiara yang tidak bisa dihubungi saja. Bertemu dengan laki-laki tengah malam begini itu sangat membahayakan dirimu, Amara." Gumam Daniel yang kemudian bergegas memundurkan mobilnya agar tak terlihat oleh Amara.


Tidak berapa lama, Amara keluar dari kosannya. Ia di antarkan oleh Pak Udin scurity ke tempat janji bertemu dengan Dokter Frans.


"Pak Udin, mau nungguin atau pulang? Kalau pulang setengah jam lagi jemput ya? Jangan lupa loh!" Ucap Amara saat turun dari motor Pak Udin.


"Siap Mba Amara." Sahut Udin yang kemudian pergi meninggalkan Amara. Rupanya Pak Udi. Memilih meninggalkan Amara seorang diri di kedai kopi 24jam itu.


Sementara Daniel yang juga sudah tiba di kedai kopi itu, tetap berada di dalam mobil, mengamati gerak gerik Amara dari kejauhan yang sedang menunggu kedatangan Dokter Frans.


Untuk mengetes kejujuran Amara, Daniel pun mengirim pesan pada Amara.


Sayang apa kamu sudah tidur? Tulis Daniel di dalam pesan singkatnya pada Amara.


Belum. Jawab Amara singkat.


Kenapa belum tidur? Bukannya kamu bilang lelah dan mengantuk? Tulis Daniel lagi di dalam pesan singkatnya.


Saya ada urusan sebentar. Bapak di mana? Apa sudah sampai? Clara pasti sudah tidur ya? Balas Amara yang balik bertanya pada Daniel.


Di hati mu. Jawab Daniel singkat.


Amara nampak tersipu malu karena membaca balasan pesan dari Daniel. Saat Amara ingin membalas pesan Daniel, tiba-tiba Dokter Frans datang menghampiri Amara.


"Maaf, kamu nunggu lama ya?" Ucap Dokter Frans ketika mengambil kursi untuk duduk di samping Amara.


"Lumayan, Kak."


"Maaf ya, kamu udah pesan minuman?"


"Sudah. Kak Frans apa sudah pesan? Kalau belum biar aku pesankan."


"Tidak perlu. Aku sudah pesan." Tolak Dokter Frans.


"Kak boleh langsung ceritakan, ada apa dengan Tiara? Kenapa dia tidak bisa dihubungi? Apa dia sakit? Jujur saya sangat mengkhawatirkan dirinya?" Amara menatap serius wajah Dokter Frans yang tiba-tiba berubah dingin menatapnya.


"Sebelum aku jawab Tiara kenapa. Kamu jawab dulu pertanyaan aku dengan jujur ya Amara?'


"Ok. Kakak mau tanya apa?"


"Apa kamu menyukai atau ada hati dengan Thomas?"


"Tidak Kak. Aku hanya menganggap Thomas sebagai sahabatku, tidak lebih."


"Ok. Apa kamu selama ini tidak tahu kalau Tiara sangat mencintai Thomas?" Tanya Dokter Frans lagi.


"Aku tahu Kak, meski Tiara tidak pernah mengatakannya." Jawab Amara.


"Lalu bagaimana dengan Thomas? Apa kamu tahu jika Thomas mencintai kamu?" Tanya Dokter Frans dengan mata yang terus menatap lekat wajah Amara yang terlihat letih.


"Tidak Kak. Thomas tidak pernah mengatakannya dan aku yakin Thomas hanya menganggap ku sahabatnya." Jawab Amara.


Dokternya Frans menghela nafasnya ketika mendengar jawaban Amara yang ternyata tidak mengetahui jika Thomas mencintainya.


"Sebenarnya Thomas sangat mencintai kamu, Amara. Dan rasa cintanya pada kamu telah melukai hati Tiara saat ini, karena Thomas berencana membatalkan pernikahannya dengan Tiara yang tinggal di depan mata." Ungkap Dokter Frans.


Amara sangat terkejut dengan apa yang diungkapkan oleh Dokter Frans. Mengenai Thomas yang mencintainya dan juga rencana Pernikahan Thomas dan Tiara yang sama sekali tidak ia ketahui.


"Apa? Tidak Kak. Tidak mungkin Thomas mencintai aku. Sejak awal berteman dengan ku, dia sudah seperti itu, peduli dan perhatian. Jika Tiara terluka karena itu, aku minta maaf. Aku harus berbuat apa agar mereka tetap melanjutkan rencana pernikahan mereka, Kak?"


"Thomas membatalkan rencana pernikahannya dengan alasan kamu sudah tidak bersama dengan kekasih kamu lagi. Ia merasa ada kesempatan untuk memenangkan hati kamu, karena kamu sedang sendiri, dan menurut ku, satu-satunya cara agar kamu bisa membuat mereka melanjutkan pernikahan mereka, kamu harus kembali memiliki pasangan. Agar Thomas tidak lagi berharap untuk memiliki kamu."


Kenapa aku merasa kaya jadi seorang janda sih, setelah lepas dari Mas Rendra. Posisi kinjadi serba salah. Gak punya pacar salah, punya pacar juga salah karena selalu makan hati. Sekarang aku malah terbelit dilingkaran setan cintanya si Thomas dan Tiara. Batin Amara.


Amara terdiam memikirkan saran Dokter Frans yang terlalu naif baginya. Di saat ia terdiam memikirkan saran Dokter Frans. Seorang pria tiba-tiba duduk di sampingnya sembari merangkulnya.


"Apa yang sedang kamu urus dengan Dokter sialan ini sayang?" Tanya Daniel sembari menatap dingin sahabatnya yang cukup terkejut dengan kedatangannya.


"Kok ada di sini? Kenapa belum pulang?"


"Feeling saya terlalu kuat, sehingga saya masih berada di sini untuk melihat calon istri saya sedang bertemu sembunyi-sembunyi, dengan seorang pria di waktu yang sebentar lagi akan menunjukkan pukul dua belas malam."


Plakk!!!


Amara menepuk pipi Daniel yang seketika membuat Daniel membulatkan mata.


"Nyamuk!" Ucap Amara berbohong pada Daniel yang meliriknya.


"Bohong!" Cetus Daniel masih melirik tajam Amara.


"Jangan tuduh saya selingkuh! Saya gak selingkuh." Sengit Amara yang merasa kata-kata panjang Daniel itu menuduhnya selingkuh.


"Saya tidak bicara seperti itu. Kamu merasa?"


"Dibilang saya gak selingkuh ngerti gak sih? Saya cuma ketemuan sama Kak Frans." Balas Amara kembali tak terima.


"Owhh, kamu panggil Dokter sialan ini Kakak. Manis sekali. Hemmm luar biasa ternyata kamu di belakang saya, ya." Ucap Daniel sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, ia juga terlihat melipat kedua tangannya di depan dada bidannya. Kemudian ia melirik Amara dan juga Frans secara bergantian.


Frans terlihat santai mendapatkan lirikan dari Daniel, sementara Amara terlihat sangat kesal dan tidak terima.


"Terus harus panggil apa kalau bukan Kak Frans? Harus panggil Pakde Frans, Om Frans, Opung Frans, Oppa Frans atau apa? Kamu aja saya panggil Papi. Bukankah panggilan itu jauh lebih manis?" Sahut Amara dengan omelannya. Ia bicara sambil berdiri dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Mata Daniel terus mengarah pada perut Amara. Ia khawatir kecebong yang baru ia semburkan kemarin rontok karena guncangan kaki Amara itu.


"Duduk sayang, jangan bicara sambil menghentak-hentakkan kaki seperti itu!" Daniel menarik tangan Amara untuk kembali duduk tapi Amara menolak.


"Kak Frans, aku pamit pulang dulu, terima kasih atas informasinya. Besok jika ada waktu aku akan datang ke rumah Tiara, untuk bertemu dan bicara langsung dengannya." Pamit Amara yang lantas pergi setelah Dokter Frans menganggukkan kepalanya.


"Kita perlu bicara, tapi gue antar Amara pulang dulu,"


"Hemmm... gue tunggu di club."


"Ok."


Diluar kedai kopi. Amara berdiri sembari menatap arah jalan menuju kosannya. Daniel tahu jika Amara tengah menunggu scurity yang mengantarnya tadi.


"Gak usah nunggu Pak Udin. Dia gak akan jemput. Cepat masuk, ini sudah hampir tengah malam!" Perintah Daniel dengan wajah jutek ke arah Amara.


Karena lelah dan sudah sangat mengantuk. Amara pun segera masuk ke dalam mobil, di mana pintu belakang mobil telah di buka lebar oleh Daniel.


Di dalam mobil, Amara langsung bergelayut manja di lengan Daniel. Ia seakan lupa baru saja berdebat dengan Daniel. Dan saat ini ia sedang tak ingin melanjutkan perdebatannya dengan Daniel.


Ia merasa sangat mengantuk dan hanya ingin segera memejamkan matanya, setelah ia tahu alasan mengapa Tiara tidak dapat dihubungi beberapa hari ini oleh dirinya dan juga Mba Tri.


Sesampainya di kosan, Daniel menggendong Amara hingga ke kamarnya. Ketika Daniel sudah berada di depan pintu kamar Amara. Terlihat Dias baru saja tiba dari kantor. Usai pulang dari Bali. Dias tak langsung kembali ke kosannya, tapi ia menyempatkan diri untuk singgah ke kantor, untuk meletakkan properti-properti milik kantor yang ia bawa ke Bali kemarin.


Melihat Daniel mengalami kesulitan membuka pintu kamar kosan Amara. Dias segera membantu Daniel. Saat pintu kamar terbuka, Dias sedikit terkejut dengan penampakan interior kamar Amara yang berubah drastis. Kamar Amara terlihat sangat mewah dan elegan, berbeda sekali dengan penampakan interior kamar kosannya.


Sadar dengan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Daniel saat ini. Dias lantas undur diri. Tak lama kemudian Daniel pun segera keluar dari kamar Amara setelah sebelumnya ia mengecup kening wanita yang kini ia klaim sebagai calon istrinya. Ia membiarkan Amara untuk beristirahat dengan tenang, tanpa gangguan dari dirinya lagi.


Pagi hari. Tepat pukul delapan pagi. Daniel sudah kembali lagi ke kosan Amara. Ia datang untuk menjemput Amara ikut ke kantor, karena Daniel tahu Amara sudah tidak memiliki kegiatan lagi di kampus. Daniel yang memiliki kunci duplikat kamar Amara, segera saja masuk tanpa mengetuk pintu hati terlebih dahulu.


Saat ia sudah masuk. Daniel terkejut karena tidak mendapati Amara di atas ranjang tidurnya, tapi mendapati suara tangis Amara yang memilukan di kamar mandi.


"Amara sedang apa kamu di dalam? Hei kamu kenapa sayang? Kenapa menangis? Apa kamu sakit? Kamu sakit apa? Amara, buka pintunya!" Pekik Daniel yang terlihat sangat khawatir dengan jeritan tangis Amara yang sesekali terdengar kesakitan di dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Amara membuka pintu kamar mandi, ia keluar dengan berjalan sembari membungkuk kesakitan. Ekor mata Daniel terus memperhatikan cara jalan Amara yang tidak biasa.


"Kamu kenapa? Kenapa jalan seperti itu?"


"Diem ah, jangan banyak tanya! Gak liat orang lagi kesakitan." Balas Amara dengan emosi.


"Kamu tuh, kalau di tanya malah suka ngomel-ngomel sekarang."


"Bisa diem gak, saya lagi sakit perut nih." Jawab Amara yang berbaring di ranjang dengan posisi seperti udang rebus.


"Sakit perut? Sakit perut kenapa? Kamu sudah sarapan belum sayang? Apa kamu salah makan? Makan apa kamu tadi?"


"Sudah. Diam ah jangan banyak nanya. Saya mau tidur." Jawab Amara mengomel.


Mengomel adalah cara jitu untuk menutupi kesalahannya. Ya, Amara telah melakukan kesalahan dengan menyantap mie instan untuk dijadikan menu sarapannya pagi ini, padahal malamnya ia sudah menengguk kopi dikedai kopi saat bertemu dengan Dokter Frans. Entah bagaimana kondisi lambungnya saat ini. Kurang istirahat, banyak pikiran ditambah salah makan. Jika fisik tidak kuat, bisa-bisa berakhir diri ah sakit seperti biasanya.


"Tidur tidak akan membuat sakit perut kamu sembuh. Ayo kita kedokter! Kamu harus diperiksa secepatnya." Ucap Daniel sembari menarik tubuh Amara untuk bangun.


Amara menghempas tangan Daniel. Amara kembali mengomel, dengan wajah meringis dan kedua tangan yang melingkar diperutnya.


"Gak mau. Bisa diam gak sih? Kalau gak bisa, tinggalin saya sendiri."


"Jelas saya gak bisa diam, kamu sakit. Masa saya biarkan. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?"


"Ya udah biarin. Kalau kenapa-kenapa biarin aja. Gak usah diperduliin." Sahut Amara yang malah menangis.


Kepedulian Daniel malah membuatnya teringat akan percakapan dirinya dan kedua orang tuanya subuh dini hari tadi. Di mana kedua orang tua Amara sudah menekankan jika mereka tidak bisa datang di acara wisudanya minggu ini, karena mereka sedang menemani Novita yang menunggu waktu kelahiran putra pertamanya. Yang rencananya akan lahir secara normal di tanah kelahiran Erdi.


"Kamu kenapa sayang? Kenapa jadi menangis seperti ini hum? Apa perkataan saya salah tadi? Apa saya salah ya, terlalu perhatian sama kamu? Katakan yang mana yang sakit? Jika kamu tidak mau ke dokter, baiklah. Tidak apa-apa. Saya akan menemani dan merawat kamu di sini." Ucap Daniel yang segera mendekap Amara dalam pelukannya.


Di dalam dekapan Daniel, Amara kembali menumpahkan air matanya. Tanpa mau menceritakan yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Stress karena terlalu sakit hati membuat Amara merasakan begitu nyeri disaat hari pertama datang bulannya, ditambah keadaan lambungnya yang kambuh, menambah sakit perut Amara menjadi luar biasa.


Setelah lelah menangis, Amara akhirnya dapat kembali memejamkan matanya. Daniel segera membaringkan tubuh Amara dan ikut berbaring bersama Amara di atas ranjang king size yang Daniel belikan. Ia urungkan niatnya untuk pergi ke kantor hari ini karena kondisi Amara yang lebih membutuhkan dirinya.


Tepat pukul 11 siang. Mba Tri menghubungi Amara. Selain ingin meminta tolong dibelikan makanan, ia juga ingin menanyakan bagaimana dengan Tiara, apa sudah bisa dihubungi atau tidak.


Dering ponsel Amara, berhasil membangunkan Amara yang sudah merasa cukup tidurnya, meski suhu tubuhnya mengalami demam tinggi.


Ia mengangkat panggilan Mba Tri dengan wajah meringis menahan sakit yang tak tertahankan. Amara menceritakan pertemuannya semalam dengan Dokter Frans dan memberitahu apa yang terjadi pada Tiara, hingga Tiara tidak dapat dihubungi oleh Amara dan juga Mba Tri, di sambung teleponnya bersama Mba Tri.


Penjelasan Amara pada Mba Tri, terdengar jelas oleh Daniel yang pura-pura masih tertidur. Daniel sekarang paham dengan masalah yang tengah dihadapi Amara saat ini.


Tak hanya menghadapi masalah dengan Tiara tapi ia juga sedang menghadapi masalah pada dirinya sendiri, karena merasa kecewa pada kedua orang tuanya.


Daniel mendengar jelas Amara menceritakan tentang kedua orang tuanya sembari terisak pada Mba Tri. Di mana kedua orang tuanya tidak akan mungkin menghadiri acara wisudanya di akhir Minggu ini.


Jika mereka hanya bisa menghadirkan Awan gelap di hidupmu. Maka akulah yang akan menghadirkan pelangi di hidupmu. Tunggu saja saatnya akan tiba. Aku yakin kamu akan bahagia bersama ku. Batin Daniel.