
Keluar dari mobil, Amara berjalan mengekori Rendra. Meski ia tahu langkah kaki mereka sedang menuju ke makan sang ayah. Amara tetap membiarkan Rendra berjalan di depannya sebagai penunjuk jalan.
Sesampainya di depan makam sang Ayah. Amara dapati Riana sang ibu bersama dengan Chandra sudah berada di sana lebih dahulu.
Amara menyalami ibu dan kakaknya itu. Namun kemudian kembali melangkah menjauh. Layaknya orang asing. Ia berdiri sedikit jauh dari Rendra maupun keluarganya sendiri.
Ya, alasan Amara menjauhi mereka, karena terbiasa tanpa mereka. Lebih tepatnya nyaman hidup tanpa mereka yang tidak dapat memahami perasaannya.
Lagi-lagi, seolah memiliki sebuah radar, tatapan Amara tiba-tiba tertuju pada salah satu mobil sedan mewah yang mencuri perhatiannya. Ya, salah satu mobil sedan mewah yang ia lihat saat ini, ia yakini benar jika itu adalah mobil Daniel.
Dasar penguntit! Pasti Clara ditinggal begitu saja di kosan. Hummm hammm hemmmm aja kalau dititipin anak, ujung-ujungnya ditinggal juga. Gak bisa dipercaya jaga anak! Umpat Amara kesal layaknya seorang ibu yang akan marah pada suaminya yang suka meninggalkan anaknya demi kepentingan pribadi suaminya.
Amara mengarahkan tubuhnya dan tatapan matanya lurus kearah mobil Daniel, yang ia yakini Daniel pasti masih berada di dalam mobilnya. Kemudian ia kepalkan sebelah tangan kanannya, dengan gerakan berulang-ulang Amara terus memukul telapak tangan kirinya .
Bohong jika Daniel tidak melihat apa yang dilakukan Amara saat ini, yang tengah mengintimidasi dirinya.
"Hissst, dia melihatku. Marahlah, aku siap untuk mendapatkan bulan-bulanan darimu daripada aku harus kehilangan mu." Gumam Daniel di dalam mobilnya dengan manik mata yang terus memandang lekat Amara dari kejauhan.
Sementara itu kini Rendra, Riana dan juga Chandra tengah berjongkok di depan makam Tomo yang masih terlihat basah. Amara yang melihat mereka berjongkok pun mengikutinya.
Terdengar suara yang cukup merdu dari Chandra yang memimpin doa diantara mereka. Hati Amara sedikit terhenyuh ketika sang Ibu kembali menitikkan air mata di kala mengaminkan semua doa yang dipanjatkan oleh putranya untuk sang suami.
Setelah doa selesai Chandra panjatkan, dengan menghela nafas panjang. Rendra mulai mengemukakan hal yang ingin ia bicarakan.
"Ibu, Kak Rendra. Aku tahu Ayah telah tiada, namun aku yakini Ayah dapat mendengar apa yang ingin aku katakan saat ini, meski ia sudah tak lagi bisa berbuat ataupun berkata-kata dalam menghadapi peliknya masalah rumah tanggaku bersama Amara yang tak berujung, dari mulai pernikahan kami hingga saat ini." Ucap Rendra tanpa menatap Riana, Chandra ataupun Amara. Mata pria yang hatinya tengah bersedih ini terus memandangi batu nisan yang bertuliskan nama sang ayah mertua.
Riana yang mendengar ucapan menantunya begitu terkejut, ia tidak menyangka dan tidak mengetahui jika rumah tangga putri bungsunya ternyata mengalami sebuah masalah.
Sementara Chandra sudah membulatkan matanya menatap Rendra yang berada di hadapannya. Chandra marah dengan Rendra yang kini buka suara dihadapan sang ibu, yang mungkin akan berdampak pada kesehatannya.
Alih-alih perduli dengan tatapan kakak iparnya. Rendra kembali melanjutkan ucapannya.
"Bu, maafkan aku menjemputmu jauh-jauh ke sini hanya untuk mendengarkan hal yang tak enak untuk didengar oleh mu. Namun aku harus menyampaikannya, meski ini terasa berat." Lanjut Rendra dengan suara yang mulai bergetar. Mata pria yang tidak kalah tampan dari Daniel ini sudah berkaca-kaca menatap ibu mertuanya.
Amara yang ada tidak terlampau jauh dari samping Rendra hanya tertunduk tanpa berniat untuk menenangkan hati Rendra yang benar-benar bersedih saat ini.
Sesekali Rendra memandangi Amara yang hanya diam tertunduk, sambil bergumam di dalam hatinya. Tidakkah hatimu tergerak dengan kesedihan ku, istri ku. Semudah itu kamu melupakan manisnya cinta yang pernah kita bina. Tak adakah kesempatan yang ingin kau berikan pada ku, agar aku bisa kembali menghadirkan pelangi di dalam hidupmu? Tidak bisakah?"
"Apa yang sebenarnya terjadi Ren? Ada apa dengan rumah tangga kalian? Tidakkah kalian lihat, makam Ayah masih basah, dan kalian berdua sudah seperti ini?" Riana bertanya dengan isak tangisnya
"Maafkan aku Bu. Aku pun tidak ingin seperti ini. Tapi apa dayaku. Tak bisa aku memaksakan seseorang untuk terus hidup bersamaku, ketika ia sudah memiliki kehidupan lain yang membuatnya bahagia. Aku ini hanya seorang penghalang dari kebahagiaannya saja." Jawab Rendra.
Riana paham dengan yang dimaksud oleh menantunya. Seketika manik mata Riana langsung menatap tajam putrinya, yang kini sudah berani menatap Riana dengan tatapan tak kalah tajam.
"Ara, lupakan dia! Kini kamu sudah memiliki suami." Pinta Riana yang langsung di bantah oleh Amara dengan cepat.
"Tidak segampang itu melupakan dia, Bu. Aku sangat mencintainya, terlebih dia juga suamiku. Suamiku yang sah di mata hukum."
"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana ini bisa terjadi? Rendralah suami mu. Ayahmu menikahkan mu dengan Rendra bukan dengan pria itu." Riana terkejutnya dengan bantahan Amara.
Ini adalah kali pertama dalam hidupnya, Amara membantah Ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Tentu saja ini bisa terjadi karena kalian tidak pernah perduli bagaimana perasaan ku. Aku ini bukan boneka kalian. Aku ini manusia yang memiliki perasaan. Kalian tidak pernah berhenti menuntutku, tanpa mau memahami perasaan ku sedikit saja, sedikit saja Bu. Aku yang tidak bersalah dan menjadi korban, malah tersisih dan terlupakan. Tidakkah kalian sadari kalian begitu kejam padaku." Jawab Amara dengan lantang menyuarakan isi hatinya.
"Kami tidak menuntut mu Ara, sebagai orang tua kami hanya menuntunmu, mengarahkan mu kejalan yang benar. Semua yang kami lakukan demi kebaikan mu. Kami tidak pernah menyisihkan dan melupakan mu. Kamu sudah salah paham." Balas Riana yang tidak menyangka mendapati kerasnya hati putrinya yang selama ini lembut dan penurut.
"Jalan yang benar mana yang ibu maksud? Apa semua paksaan kalian dengan ketidak pedulian kalian pada ku ini adalah jalan yang benar bagi ku, Bu? Aku berhak bahagia Bu. Aku berhak menentukan dengan siapa aku hidup. Kenapa kalian tidak sedikit pun iba dengan hidup ku yang menderita karena perlakuan kalian selama ini bpadaku?" Cecar Amara yang kini menyudutkan Riana.
Ingin Chandra menghampiri Amara untuk menampar mulut sang adik yang berani menekan sang ibu. Namun hal itu urung dilakukan karena melihat sosok Daniel yang sudah berdiri cukup jauh dari belakang tubuh Amara.
Daniel tahu, pasti akan ada keributan di sana yang akan membahayakan Amara. Hingga ia memutuskan untuk turun dan menghampiri keberadaan mereka.
Tak bisa menjawab pertanyaan yang dilayangkan putrinya, Riana pun hanya bisa menangis di dalam pelukan Chandra.
"Maafkan aku Mas, kamu terlalu baik untuk ku. Maafkan aku yang tidak bisa menghargai perasaan mu. Sungguh aku merasa tidak pantas untuk mu, setelah aku tahu semua kenyataan yang terjadi. Bertahan denganmu hanya akan membuatku terus menderita dalam rasa bersalahku, yang telah mengkhianati mu."
"Aku sudah bersedia memulai semuanya dari awal dan menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Tapi dirimu tak memberikan ku sedikit kesempatan untuk kita memulai kembali."
"Maafkan aku Mas, dia sudah terlanjur datang memberikan cinta atas luka yang selama ini kamu torehkan padaku. Memaksa ku bertahan hanya akan membuat hidupku semakin hancur. Aku tidak bisa tanpanya." Balas Amara.
"Ya, aku tahu, dia adalah nafasmu, dan dia adalah hidupmu saat ini. Aku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Dia adalah sosok yang mampu menjaga mu, tidak seperti aku yang hanya seorang pecundang."
"Maafkan aku, Mas. Dia sebenarnya sama seperti mu, seorang manusia biasa. Namun dia punya cinta yang membuatku nyaman dan terasa terlindungi olehnya." Ucap Amara yang tidak ingin Rendra terus merendahkan dirinya.
Namun pada kenyataannya ucapan Amara ini kembali membuat Rendra rendah diri dan merasa teriris hatinya. Dengan menarik nafas panjang, Rendra mulai menguatkan hatinya.
"Baiklah. Jika dia adalah pilihanmu. Aku tidak akan memaksa ataupun memohon lagi padamu untuk tetap bersama ku." Ucap Rendra dengan suara bergetar.
Ia tak sanggup mengatakannya namun, ia lebih tak sanggup lagi untuk menjalani rumah tangga yang tidak dapat lagi ia perjuangkan, bukan karena tidak mampu. Tapi karena dia tidak ingin lebih dalam lagi melukai wanita yang sangat ia cintai.
Amara menatap lekat gururan wajah Rendra yang menahan kepedihan hatinya. Bohong jika Amara tak dapat memahami apa yang Rendra rasakan. Meski hatinya iba, namun ia juga tak ingin mengalah untuk kali ini. Ia tetap teguh dengan pendiriannya demi kebahagiaan yang ingin ia rengkuh.
Kembali Rendra menarik nafas dalam-dalam. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Jujur ia tak sanggup, namun keadaan memaksanya untuk mengucapkan kalimat sakral yang akan melepaskan Amara dalam genggamannya.
Riana hanya bisa menangis menatapi kepiluan hati Rendra. Bagaimana pun hubungan Rendra dan Amara yang sudah terjalin lama, membuat Riana memiliki sedikit ikatan batin pada menantunya itu.
"Maafkan aku Bu. Aku tidak bisa mengemban amanah dari Ayah untuk membahagiakan Amara. Ibu tidak perlu khawatir dengan keyakinan Daniel yang ditakuti oleh Ayah. Daniel bukanlah pria yang abu-abu. Dia teguh dalam pendiriannya." Ucap Rendra saat Riana menangis histeris ketika ia tahu Rendra akan mengucapkan kalimat sakral itu dihadapan dirinya dan juga di depan makam suaminya.
Sembari menatap dalam manik mata Amara, dengan suara yang lantang namun masih terdengar gemetar, Rendra akhirnya mengucapkan kalimat syakral yang membuatnya kehilangan wanita yang ia cintai detik itu juga.
"Amara Ayudia binti Tomo, ku talak engkau dan mulai saat ini kau bukanlah istriku lagi. Tubuhku haram untuk kau sentuh, begitu pula dengan tubuh mu. Ku bebaskan engkau dari ikatan pernikahan yang membelenggu dirimu. Berbahagialah dengan pria yang kau cintai." Ucap Rendra yang kemudian pergi karena tak kuat menahan kepedihannya.
Meski ia bahagia Rendra telah menceraikannya, namun Amara tetap menangis. Ia menitikkan air mata kesedihannya karena merasa terlalu kejam pada pria yang dulu pernah menjadi bagian terpenting bagi hidupnya.
"Maafkan aku Mas. Maafkan aku." Ucap Amara saat manik matanya melihat punggung Rendra yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
Melihat Rendra pergi, Chandra pun lantas membawa Riana untuk pergi dari area makam Tomo. Tersisalah Amara seorang diri di sana dengan Daniel yang masih setia berdiri dari kejauhan.
"Ayah, maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi anak yang selalu membanggakan dirimu dengan menuruti semua perintahmu. Kali ini saja, izinkan aku memberontak demi kebahagiaan ku. Tolong restui pilihanku, Ayah. Tolong!" Ucap Amara dengan berderai air mata di depan batu nisan sang Ayah.
Perlahan Daniel datang menghampiri Amara. Ia merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya.
"Jangan menangis lagi sayang, sudahi tangismu hum!" Ucap Daniel saat memeluk Amara.
"Dia sudah menceraikanku dan aku melukainya kembali. Aku sangat egois bukan?"
"Tidak, kamu tidak egois. Jangan merasa bersalah! Percayalah dia akan baik-baik saja setelah ini. Dia pria yang cukup kuat, dan tegar."
Di dalam mobil, Rendra yang belum benar-benar pergi masih menatapi Amara yang menangis dalam pelukan Daniel.
"Berbahagialah cintaku. Aku melepaskan mu dan membiarkan mu pergi dari dekapan ku, demi agar kau berbahagia bersamanya. Meskipun saat ini hanya aku yang terluka di seorang diri." Ucap Rendra yang kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju kendaraannya meninggalkan area pemakanan.
Gimana nih, Amara sudah diceraikan?
Ceritanya mau lanjut apa sampai di sini?
Ditunggu jawabannya di komen ya..
Makasih udah setia baca novel ala kadarnya dari aku hahaha.....
Tunggu karya-karya aku yang lainnya ya...
Aku akan terima request cerita cinta Thomas dan Tiara, nanti aku buat novel tersendiri untuk kisah mereka ya.. papayoooo