
Di sebuah hotel berbintang, Anto tengah sibuk menyiapkan keperluan pernikahan dadakan Daniel dan juga Amara. Tidak ada tamu khusus yang diundang selain keluarga inti Tuan Christiano, selaku Daddy Daniel.
Pernikahan dadakan yang cukup sederhana telah di siapkan, sebuah buku nikah yang tercatat oleh negara pun sudah tersedia hanya tinggal menunggu Daniel dan Amara membubuhkan tanda tangan saja.
Di kamar pengantin Amara tengah dirias oleh seorang MUA yang cukup ternama. MUA yang memoles riasan pada wajah Amara sama sekali tidak merasa kesulitan. Bahkan MUA itu sangat merasa nyaman saat bekerja merias wajah Amara. Di karenakan sikap Amara yang ramah, tidak sombong dan tidak banyak request yang merepotkan.
Usai merias wajah Amara. Seorang MUA senior membawa Amara ke ruangan di mana akad nikah Amara dan Daniel akan dilangsungkan, sesuai dengan arahan Anto.
Sewaktu Amara berjalan melewati lorong menuju tempat acara pernikahannya. Ia hampir saja bertemu dengan Tiara. Jika saja seorang ibu dengan anak kecil tidak menghalangi pandangan mereka.
Langkah kaki Amara kini berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan yang masih tertutup dengan rapat. Namun suara gaduh dari dalam ruangan sangat terdengar jelas. Amara dan Bu Laras yang merupakan MUA senior saling melihat satu sama lain. Keduanya saling bertanya satu sama lain, dengan yang terjadi di dalam ruangan.
Demi mengusir rasa penasarannya. Bu Laras membuka kedua pintu ruangan tersebut.
Deg! Semua orang terkejut dengan kedatangan Amara di waktu yang tidak tepat.
Clara yang menangis langsung saja berlari ke pelukan Amara.
"Mimpi ku terjadi, mimpi ku terjadi Mami. Tolong jangan pergi tinggalkan aku. Apapun yang terjadi. Siapapun yang menjemput mu nanti, tolong jangan pergi tinggalkan kami." Ucap Clara dengan isak tangisnya yang makin membuat Amara bingung.
Ya, Amara bingung karena ada seorang wanita yang terus memukuli dada bidang Daniel dan terus berkata, "Kejamnya kamu padaku. Kamu mau menikah dengan orang lain bukan bersama dengan ku. Kita hanya break bukan berakhir Honey."
Honey? Kenapa wanita itu memanggil Papi dengan sebuah Honey? Memangnya wanita itu siapa? Tanya Amara dalam hatinya. Ia tak hanya dibuat bingung saat ini, tapi juga terkejut.
Daniel yang terus dipukuli oleh wanita asing bagi Amara hanya diam sembari memandang sendu ke arah Amara.
"Katakan di hadapan Mommy dan juga dua wanita yang penting bagi mu. Kamu pilih siapa, dia atau dia?" Tunjuk Nyonya Anne yang sengaja membawa Tara untuk ikut ke Bali bersamanya.
Nyonya Anne memang sengaja membawa Tara, ketika ia tahu dari Anto jika Daniel dan Amara memutuskan akan menikah hari ini setelah lamaran Daniel di tolak oleh Tomo.
Hal ini sengaja Nyonya Anne lakukan, karena sebagai seorang ibu, ia tidak mau putranya mengalami kegagalan rumah tangga untuk kesekian kalinya, hanya karena masalah masa lalu yang belum diselesaikan dengan tuntas.
Mendengar pertanyaan Mommynya. Daniel terdiam dan menunduk.
"Jawab Honey! Kamu pilih aku atau dia?" Desak Tara pada Daniel yang hanya diam membisu.
Sedikit rasa cinta yang tersisa untuk Tara dan rasa takut kehilangan Amara telah berhasil membuat hati Daniel dilema.
Air mata Amara berlinang, saat ia mendengar desakan Tara yang ia yakini memiliki hubungan spesial dengan Daniel.
Saat Daniel ingin menjawab memilih salah satu diantara mereka, tiba-tiba Frans dan Tiara datang.
"Amara, ayo kita pulang sekarang. Jangan teruskan pernikahan ini! Ayahmu sekarat di rumah sakit, dia kena serangan jantung setelah bertengkar dengan Kak Chandra!" Ungkap Tiara dengan tergesa-gesa.
Tiara langsung menarik Amara pergi, tanpa memperdulikan Clara yang menangis sejadi-jadinya karena pelukannya dengan Amara terlepas begitu saja.
Angel, adik Daniel segera datang menghampiri Clara. Ia berusaha menenangkan Clara yang terlihat sangat terpukul.
Sementara Daniel hatinya luluh lantah, ketika Amara dibawa pergi oleh Tiara dan juga Dokter Frans. Ia ingin pergi mengejar Amara. Namun langkahnya terhalang oleh Tara.
"Kamu lemah dan bodoh Daniel. Mommy kecewa dengan mu." Ucap Nyonya Anne pada putranya.
"Mommy!" Pekik Daniel yang tidak terima dengan ucapan Nyonya Anne.
"Kenapa kau biarkan masa depan mu pergi bodoh? Hanya karena wanita kom(e)rsil dan su(n)dal ini. Tidak ibakah hatimu melihat kesedihan putrimu? Kau akan kehilangannya, Daniel. Kehilangannya!!" Balas Nyonya Anne dengan nada tinggi.
"Mommy. Cukup jangan hina Tara serendah itu!"
"Dia memang wanita rendah dan tidak bermoral. Mommy tidak sudi memiliki menantu seperti dia! Kamu benar-benar bodoh, telah membiarkan Amara pergi hanya demi wanita seperti dia. Kamu akan menyesal karena telah kehilangan dia Daniel." Balas Nyonya Anne yang terlihat marah besar.
Dua kali sudah Nyonya Anne menekankan kata kehilangan pada Daniel. Dan kali kedua inilah yang berhasil menampar Daniel dengan kebodohannya.
Tuan Christiano yang menyaksikan perdebatan antara anak dan istrinya ini hanya diam, sembari mengamati pergerakan putranya, sebelum ia mengeluarkan bukti tentang keburukan Tara yang sudah ada di tangannya.
"Saya tahu kamu tidak mencintai putra saya, kamu hanya mencintai uang dan uang bukan? Katakan berapa nominal yang kamu harapkan? Saya akan memberikannya berapapun yang kamu mau. Tapi entahlah dari hidup putraku!" Ucap Nyonya Anne di depan wajah Tara.
Namun Daniel hanya diam saja seperti orang bodoh yang sudah kehilangan separuh nyawanya, ketika bayangan Clara putrinya menceritakan mimpinya kembali menghantui dirinya.
Papi, aku bermimpi buruk tentang pernikahan Papi dan Mami. Di sana tiba-tiba Tante Tara datang mengacaukan segalanya. Tiba-tiba pula ada orang tidak dikenal bersama Om Dokter datang menjemput Mami dan mengatakan jika orang tua Mami dalam kondisi sekarat. Saat Mami pergi, Mami sudah tidak bisa kita miliki lagi, kita kehilangan Mami, Pih. Karena Mami akan menikah dengan orang lain di hari yang sama demi orang tuanya.
"Tidak! Tidak!! Dia milik ku!!" Pekik Daniel tiba-tiba.
Ia kemudian berlari keluar ruangan. Daniel berusaha mengejar langkah kaki Amara yang sudah pergi jauh darinya. Ia berlari hingga ke lobby dengan diikuti oleh Anto. Namun sayang, sosok Amara tak Daniel dapati. Karena saat ini, Amara sudah berada di dalam pesawat jet milik Thomas. Jarak antara hotel dan Bandara cukup dekat dan tidak memakan banyak waktu.
"Anto siapkan saya pesawat sekarang!" Perintah Daniel pada Anto.
"Baik, Pak." Jawab Anto mengangguk patuh.
Di rumah sakit XCB. Keluarga Rendra sudah berkumpul dengan membawa seorang penghulu, sesuai keinginan Tomo, yang mungkin akan menjadi permintaan terakhir Tomo pada Amara.
Saat ini mereka semua hanya tinggal menunggu kedatangan Amara dengan cemas, karena kondisi kesadaran Tomo mulai kembali menurun.
Setelah hampir dua jam perjalanan, dan waktu hampir menunjukkan tengah malam. Amara datang dengan masih menggunakan gaun pengantin.
Semua orang memandang terkejut dan juga bertanya-tanya dengan pakaian yang digunakan Amara ini.
Apa dia sudah menikah dengan Daniel? Jika sudah Rendra tidak mungkin bisa menikah dengannya? Batin Bastian.
Kasihan sekali putraku. Wanita yang dicintainya sudah berpaling dan mencintai orang lain. Apakah pernikahan ini akan baik kedepannya nanti? Ya Tuhan, tolong berikan jalan yang terbaik untuk putraku. Batin Mami Rendra yang menatap sedih putranya, yang ia yakini hatinya tengah hancur melihat Amara berpakaian seperti ini.
Jika Amara sudah menikah dengan Tuan Daniel. Selamatlah kehidupan ku. Batin Chandra sedikit menarik senyum tipisnya.
Aku yakin, dia telah batal menikah Amara. Jika dia sudah menikahi Amara. Pasti dia akan datang ke sini bersama Amara. Batin Erdi yang tersenyum miring menatap Amara.
"Kemarilah nak?" Riana merentangkan tangannya dan Amara pun jatuh ke pelukan Riana yang ia rindukan.
"Amara anak ku sayang, di dalam Ayah mu menunggu mu. Ada permintaan Ayah mu yang mungkin akan menjadi permintaan terakhirnya pada mu. Ibu harap kamu mau mengabulkannya." Ucap Riana hati-hati.
"Apa permintaan Ayah pada ku, Bu?" Tanya Amara yang menatap lekat wajah keraguan ibunya.
"Maafkan ibu, ini pasti berat untuk kamu lakukan. Tapi tolong kabulkan permintaan terakhir Ayah mu, yang meminta mu menikah dengan Rendra." Jawab Riana yang kemudian terisak tangis dan memeluk Novita yang ada di sampingnya.
Amara terpaku. Ia terduduk lemas di lantai rumah sakit. Air matanya mengalir deras. Ia menangis karena pada akhirnya ia kembali tidak bisa bersatu dengan orang yang ia cintai.
Meski Rendra pernah ia cintai dan sayangi, namun rasa itu telah tidak ada lagi di hatinya. Di hatinya saat ini hanya ada satu nama, yaitu Daniel.
Dokter Frans dan Tiara yang melihat Amara, menyesali membawa Amara datang ke rumah sakit jika ujungnya seperti ini.
"Seharusnya kita tidak membawanya Tiara. Kita seperti orang yang mendorongnya ke jurang penderitaan." Bisik Dokter Frans yang hanya bisa di dengar oleh Tiara.
"Maafkan aku Ara. Aku tidak tahu jika jadinya seperti ini." ucap Tiara menyesal yang hanya dapat di dengar oleh Dokter Frans.
"Saya nikahkan dan kawinkan Amara Ayudia binti Tomo dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Dengan satu tarikan nafas Rendra melafazkan ijab qobul dengan lancar.
"Bagiamana saksi sah?" Tanya Ustadz yang menjadi penghulu mereka malam ini.
"Sah!" Seru orang-orang yang menyaksikan pernikahan mereka.
Hati Amara hancur berkeping-keping, air mata terus saja mengalir deras dari kelopak mata indahnya.
Tak lama berselang setelah Amara sah menjadi istri Rendra. Tomo pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Di saat semua orang menangisi kepergian Tomo. Amara malah terduduk mematung seorang diri. Hatinya ikut mati dengan kepergian Tomo saat ini.
Sementara di sudut lorong ada seorang pria yang menangis dalam kesunyian setelah menyaksikan wanita yang dicintainya dipinang oleh pria lain.
"Maafkan aku Amara, maafkan aku. Maafkan Papi Clara, maafkan kebodohan Papi ini yang membuat kita kehilangan Mami." Ucap Daniel berkali-kali tanpa henti disela tangisannya.