
Di perjalanan menuju pulau itu Alan nampak gelisah dan tidak sabar ingin segera sampai seorang pemuda yang melihat itu bertanya kenapa ia nampak gelisa, Alan hanya menatap kearah dimana pulau itu berada, pemuda itu nampak mengerti
“kau menunggu orang itu ya”
Alan menoleh
“tadi aku bertanya kau tidak menjawab lalu kau hanya melihat kearah sana" kata pemuda itu
"maaf mungkin aku kurang fokus makanya tidak menjawab pertanyaanmu” senyum Alan
“maksudnya?” lanjut Alan
“kau sedang menunggu atau menjemput seseorang ya”
“ bagaimana kau tahu” Alan terkejut
“sudah kubilang aku ini sering melihat sikap dan eskpresi orang yang gelisah seperti mu” pemuda itu tertawa kecil
“sepertinya gadis itu cantik ya” lanjut pemuda itu
Alan nampak salahtingkah dan bingung “ekhem, dia lebih dari itu”
Pemuda itu tersenyum dan mengangguk
Alan memikirkan rencana saat sampai disana ia sudah pernah memasuki rumah atau sebut saja gedung tua itu tidak seperti penampilan luarnya dalamnya sungguh berbeda namun ada kekhawatiran menerpa ia takut gagal lagi untuk membawa Lisa pergi seperti saat pertama kali
Di kepalanya berkecamuk rencana dan banyak sekali pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi mengapa orang orang di I.V.V menganggap Lisa sudah meninggal sedangkan Lisa sendiri masih hidup dan sepertinya ada sesuatu yang tidak beres karena mereka sudah menganggap Lisa meninggal mungkin saja ada manipulasi disini tapi siapa biang keroknya karena ayahnya dan kakaknya sudah tiada jadi siapa dalangnya
Jika dulu ia masih bisa menanganinya karena teman temannya bersamanya lalu sekarang bagaimana? Ia harus membongkar nya sendiri memecahkannya sendiri karena sahabatnya pun yaitu sahabat Lisa dan Alan sendiri pun menganggap Lisa sudah meninggal bahkan Alan hampir di habisi oleh Alex saat mengungkapkan itu dan yang lain pun nampak murung jika Alan membahas soal Lisa.
Arya menatap langit kamarnya ia berbaring di tempat tidur dan menghela napas beberapa kali, rasanya lelah sekali baru saja dimulai masa revolusi beberapa wilayah mulai berkembang dan bertahan membangun kembali peradaban sekarang mereka dihadapkan lagi dengan maslah virus yang lebih aneh dan kuat dari KV19
“kau sedang apa, aku lelah apa sebaiknya aku menyusulmu ya Lisa ?” gumam nya sembari menatap langit kamar
Lalu ia bangun dan bergegas untuk mandi saat ia membuka lemari pakaian entah kenapa tiba – tiba ia teringat dengan Lyta setelah mengingat Lisa
“ dia juga sahabatmu ya, aku gagal melindungimu sekarang aku janji akan melindungi sahabat dan keluarga mu” gumamnya lagi sembari membasahi diri di bawah shower
Sedangkan Alex dan Hanna masih sibuk di lab mereka terus berusaha memikirkan untuk mengetahui dan mempelajari virus ini padahal Hanna baru saja sampai tapi ia belum beristirahat sama sekali Alex menyarankannya untuk tidur dan istirahat namun Hanna yang begitu penasaran tidak bisa menanti lagi untuk meneliti virus ini
“ jangan buat Rara sedih Hanna jika kau sakit nanti kami juga repot aku juga nanti bagaimana menjelaskannya pada Rara dan Ben jika sesuatu terjadi padamu” dumel Alex
Hanna fokus melihat mikroskop miliknya
“ Hanna..?”
“baiklah anak cerwet kau tenang saja ini...”saat Hanna menoleh pada Alex ia melihat hidung Alex mengeluarkan darah
“hei! Kau mimisan”
Alex yang tidak menyadari nya langsung refleks mengusap hidungnya “ ah mungkin aku hanya kurang tidur” paniknya mencari tisu
Hanna memukul bahunya “ kau ini mengomeliku suruh istirahat kau sendiri seperti ini” Hanna nampak marah pada Alex ia menyeretnya keluar lab
Mendengar kerusuhan dikamar sebelah Arya keluar dan melihat ternyata Hanna mengomel sembari menarik Alex masuk kekamarnya seperti ibu yang sedang memarahi anaknya
“ada apa Hanna?” tanya Arya
Hanna segera memberi pertolongan pertama untuk Alex ia membersihkan darah dan setelah darahnya keluar semua ia menyumbatnya dengan kain kasa lalu menyuruh Alex merebahkan badan dengan posisi bersandar
“ kau mimisan” kata Arya
“ aku sudah tahu” sahut Alex
Lalu Hanna juga mengecek suhu tubuh Alex yang ternyata juga ia demam tinggi Hanna mengomel kenapa bisa ia diam saja dengan kondisi tubuhnya yang seperti ini, Hanna juga memarahi Arya bagaimana ia tidak bisa tahu temannya sakit
“loh ko aku juga kena sih Hanna?”
Alex yang nampak lemas tersenyum “ dia tidak selalu bersamaku Han. Aku kemari hanya beberapa kali dalam sebulan”
Hanna menghela napas “lex kau ini jangan egois, tubuhmu juga perlu perhatian jangan hanya fokus pada masalah yang ada”
“kapan terakhir kau tidur malam?” selidik Hanna
“aku tidak ingat seingatku terakhir aku sempat tidur kemarin di pesawat”
Hanna menyuntikan vitamin pada lengan Alex “sudah ku duga anak ini benar benar ya”
“hehe iya iya maaf” kata Alex sembari meringis
“ minta maaf pada dirimu sendiri” Hanna keluar kamar
Arya nampak geleng geleng kepala “ kau serius tidak pernah tidur di malam hari?”
“bagaimana bisa aku tidur dengan kondisi ancaman didepan mata”
Arya mencoba untuk menasehatinya untuk lebih bisa menjaga dirinya menyelesaikan masalah juga butuh raga yang sehat dan pikiran yang matang jika kondisinya buruk maka bagaimana menyelesaikan masalahnya
Alex nampak beberapa kali terlihat batuk
“sudah kau istirahat saja jika ada apa apa kau hubungi saja kamarku” Arya keluar dari kamar
“hanna kau masih disini?” tanya Arya melihat Hanna yang berdiri di samping pintu kamar Alex
Hanna nampak seperti orang yang habis menangis melihat itu Arya mencoba menenangkan Hanna dan bertanya kenapa ia menangis
“dadaku sesak melihat kalian seperti ini, Alex berjuang sendiri menyelesaikan masalah yang seharusnya ditanggung bersama hingga sakit seperti ini, lalu Lyta selalu nampak sedih walau dia berusaha menutupinya tapi itu bisa terlihat olehku, lalu kau yang juga berpura –pura kuat setelah adikmu meninggal dan hingga sekarang tidak tahu jasadnya dimana” Hanna terisak dengan suara lirih memegang dada nya yang sesak
Arya mempersilahkan Hanna untuk duduk di bangku meja ia kerja “ Hanna jangan membuatku melemah melihat mu menangis, aku hampir saja ingin merengek dan berteriak dengan semua ini tapi aku berusaha kuat karena melihat kalian yang juga kuat” Arya memberikan teh untuk Hanna
Hanna masih terisak “ kenapa? Lakukan saja, merengeklah berteriak lah menangislah seperti yang aku lakukan” Hanna menatap Arya
“lihat aku Arya” kata Hanna yang hanya melihat Arya menunduk
Arya menjauh dan duduk di tepi tempat tidurnya ia memalingkan wajahnya tidak ingin Hanna melihat
Hanna berdiri “kau sakit, aku tahu hati mu sakit dan luka itu belum hilang maka jangan selalu di simpan kau boleh merengek menangis”
“Hanna.. aku rindu” isak Arya terdengar
Tangannya gemetar meremas sprei tempat tidur itu “aku rindu Luna” ia pun tak kuasa menahan air matanya
Hanna pun ikut larut lagi dalam sedih mereka berdua saling mengeluarkan kesedihan menangis dan mengeluhkan luka pada malam itu, beberapa jam berlalu Hanna pergi ke kamar Alex untuk mengecek kondisinya, Alex sudah tidak ada di kamarnya entah kemana. Hanna segera pergi mencarinya ia mencari ke lab namun tidak ada lalu bertanya pada petugas yang ada
“ beliau sudah berangkat ke I.V.V beberapa jam yang lalu” jelas petugas itu
Hanna menghela napas lalu ada seorang petugas lain memberitahu nya jika ia mendapat telepon, Hanna segera menuju ruangan petugas untuk menerima telepon
“ dimana lex?” singkat Hanna tanpa basa basi
“ aku sebentar lagi mendarat, maaf tidak mengabarimu dan Arya karena ada meeting dadakan yang harus ku hadiri disini”
“ aku akan meresepkan obat suruh asistenmu mengambil nya di rumah sakit akan kusuruh orangku menyiapkan obatnya”
“Hanna maaf sudah membuatmu khawatir, kau fokus saja pada tugasmu disana”
“ dengar anak kecil,aku tahu tugasku dan kau harus mengambil dan minum obat itu” ketus Hanna
Terdengar suara Alex terkekeh mendengar ocehan Hanna “terimakasih Hanna kau sudah baik padaku”
Alex menutup teleponnya Hanna hanya bisa menepak jidat “anak itu apakah harus dia dirawat dulu baru bisa istirahat” gerutu Hanna sembari berjalan kembali ke Lab.
Arya yang baru saja terbangung dari tidurnya mendapati email yang masuk di komputer meja kerja miliknya
Dengan secangkir teh yang ia buat dan memeriksa komputer miliknya nampak email itu dari Lyta yang berisikan pesan singkat menanyai kabar Arya
Ia segera membalas pesan itu dan pergi mencari Alex dikamarnya namun tidak ada, ‘apa mungkin dia sudah kembali ke I.V.V’ pikir Arya
Ia pun mencari Hanna dan bertanya tentang Alex dan benar dugaannya jika Alex sudah kembali ke I.V.V
***
Badan Alex rasanya seperti remuk dan sakit disetiap sendinya namun ia harus segera menghadiri rapat penting pagi ini dengan kondisi masih demam dan lemas. Sebelum rapat dimulai ia dipanggil ke ruangan Rey president I.V.V
Rey menanyai perkembangan masalah virus pedagang itu namun Alex hanya menggelengkan kepala, Rey mengusap wajahnya “bagaimana ini, lambat laun mereka pasti akan mengetahui masalah ini”
“ jika ini sampai ditelinga mereka aku yang akan bertanggung jawab kau tenang saja”
Rey mencekram bahu Alex “aku pegang omonganmu, tapi kita tidak bisa pasrah begitu saja jika mereka (para petinggi) sudah tahu masalah ini mereka akan menggila dan dugaanku rencana yang dahulu terjadi akan kembali terulang”
Alex mengepalkan tangannya “ tidak! Aku tidak akan membiarkan itu”
“heh, anak muda kau ini naif bahkan masalah ini terjadi karena kau terlalu naif”
“biarkan aku yang memikirkan cara penyelesaiannya jika mereka tahu aku yang akan ambil alih kau tidak perlu khawatir” Alex melangkah pergi
Rapat pun sudah dimulai saat Alex memasuki ruangan ia melihat Alif juga tengah duduk disalah satu jajaran, pembahasan kali ini membicarakan tentang geologi dan kondisi pasca wabah berlalu dan salah seorang yang mengetahui kondisi langsungnya ialah Alif itu alasan ia juga berada dalam rapat kali ini
Alif menjelaskan presentasinya beberapa wilayah yang sudah ia kunjungi bagaimana kondisi geologinya, masyarakatnya dan alam disekitarnya
30 persen pulih selebihnya masih berantakan bahkan masih ada Kroon yang berkeliaran di beberapa wilayah
Lalu Alif melanjutkan slide selanjutnya video dimana ia merekam secara langsung Kroon yang sedang berjalan di hutan bukan hanya itu disana ia mendapati ada satu Kroon yang berbeda
“kita bisa lihat” Alif mempause videonya dan membesarkan gambarnya
“ ini dia berbeda dari beberapa Kroon lainnya, nampak lebih menyeramkan dan walau dia sudah tidak memiliki kepala ia masih bisa berjalan, berbeda dari sebelumnya yang bisa dikalahkan dengan menebas leher dan memisahkan tubuh dan kepalanya kali ini seperti bermutasi ia bahkan bisa bertahan tanpa anggota tubuh lainnya seperti kepala “
Semua yang menyaksikan presentasi itu nampak memasang wajah ngeri dan takut, walau kecil kemungkinan mereka bisa menyebarkan virus tanpa adanya kepala namun tetap saja ini menjadi topik hangat di kalangan para pemerintah dan petinggi beberapa wilayah
Melihat persentase Alif, Alex teringat jika pedagang itu pun terjangkit setelah berhadapan dengan beberapa Kroon
Alex mengangkat tangan tanda ingin menyakan sesuatu “di wilayah mana saja Kroon mutasi itu ada?”
“terakhir aku meriset mereka ada di beberapa titik yang cukup jauh dari wilayah kita namun ada beberapa yang tersebar di perbatasan wilayah Timur sekitar pelabuhan yang sudah mati”
Dugaannya benar mungkin saja pedagang itu terinfeksi oleh Kroon mutasi itu saat melewati pelabuhan, ia bergegas meninggalkan rapat tanpa basa basi membuat para hadirin yang ada kebingungan.
Ia bergegas dengan cepat diikuti oleh asistennya “siapkan pesawat kita kembali ke Timur”
“tapi pak kondisi anda…”
Asistennya langsung terdiam ketika Alex menatap tajam “tidak usah memikirkan yang lain fokus pada-“ ngiiiing… telinganya berdenging penglihatannya jadi buram dan berputar
Ia mencoba memegangi asistennya “pak! Sudah saya bilang kondisi anda tidak baik baik saja” asistennya membantu agar ia tidak jatuh
Alif yang nampak mengejar Alex pun ikut membantu nya berdiri “ada apa ini? Lex kenapa kau pergi tanpa pamit seperti tadi ?”
“sekarang bukan saatnya untuk menjelaskan pak Alif kita harus bawa pak Alex ke rumah sakit” jelas asistennya
Alif pun segera membawa Alex ke rumah sakit dan ia mencoba mencari Hanna disana namun pihak rumah sakit bilan Hanna sedang di tugaskan diluar wilayah
Akhirnya Alex tumbang dan dilarikan ke unit gawat darurat ia sudah tidak sadarkan diri.