DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 32 Memasuki musim dingin



Seingatku mereka ada, disini sebelum aku tertidur lantas kemana mereka pergi saat aku membuka mata mereka semua menghilang “Aryaa, Aliiif, Alaaan, Been, Lunaaa kalian dimanaaa” teriaku panik karena melihat mereka sudah tidak ada di mobil bersamaku “kalian dimana” aku menangis terduduk lemas karena semua pergi meninggalkanku lalu samar –samar aku mendengar suara sepertinya itu suara Arya “ Alex kalian dimanaa” teriaku yang terbangun Alif yang mendengarkupun ikut terbangun “ apa, kenapa, ada apa” kata nya terjekut


“ kau kenapa Lisa, mimpi buruk?” tanya Arya disebelahku


“ mimpi, jadi itu mimpi huuft” suaraku bergetar


Ternyata semua itu hanyalah bunga tidur tapi sungguh sangat terasa nyata, aku melihat mereka semua tidak bisa kubayangkan jika aku tinggal sendiri di sini bagaimana “ hey kalian bisa bantu aku” teriak Alan yang tengah membuka pintu keluar dari area hutan ini


Arya membangunkan Ben yang tengah tertidur kami sudah sampai di pintu yang biasa di gunakan oleh pegawai I.V.V jalan menuju pintu sangat rumit dan hanya Alan yang tahu karena dia salah satu bagian dari I.V.V


“ ada apa?” Alif turun dari mobil


Pintu nya sedikit macet karena suhu udara sudah semakin dingin sekarang apa karena sudah mau menjelang sore, bahkan hembusan nafas Alan pun berasap “ apakah sudah memasuki musim dingin” gumam Alif yang mengusap usap kedua lengannya berusaha untuk tetap hangat


“ kita dobrak gerbang ini” saran Arya


Alan dan Alif mengangguk disusul Ben yang baru turun dari mobil “ 1, 2, 3 dobraak” kata mereka serentak di mobil Luna membuka jendela penghubung dari depan mobil ke belakang “ kak apa kau kedinginan?” tanya Luna


Aku yang menggigil berusaha membuatnya tidak khawatir “ a-aku masih bisa tahan kau didalam saja agar tetap hangat” nafasku mengeluarkan asap


“ padahal belum turun salju tapi dinginnya sudah seperti ini” gumamku


BRUUG


Mereka masih berusaha mendobrak pintunya tapi tidak ada kemajuan “ hah-hah sepertinya kita harus rusak pembukanya” saran Alif


Ben segera mencari batu besar yang ada di sekitarnya ia berusaha merusaknya agar bisa terbuka “sial ini memekan waktu” gerutu Ben


Saat mereka tengah sibuk dengan gerbangnya aku berusaha menghangatkan diri dengan menggosokkan kedua telapak tanganku dengan sesekali menempelaknnya ke wajah lalu aku melihat seseorang segera aku mengeluarkan senjataku dan berusaha mendekati sosok itu bersembuyi dibalik pepohonan “ siapa kau?” selidiku, dia berlari menjauh aku coba mengikutinya nampaknya ia bukan Kroon “tunggu kau mau kemana?” kataku sembari berlari , ia pun berhenti “untuk apa kau mengikutiku?” tanya gadis itu


“ kau bukanlah Kroon, kau pasti salah satu kelinci percobaan yang dijadikan kunci saat game berlangsung di hutan ini kan?” selidiku karena pakaiannya mirip dengan yang Rachel kenakan


Ia berbalik dan menatapku dengan wajah pucat dan beberapa pembuluh darah di lengannya “ kau mau menyelamatkanku?” tanyanya lalu ia berlari dan menggengam tanganku “ tolong aku, selamatkan aku, aku tidak mau mati disini” katanya sembari meneteskan air mata, melihat gejala pada tubuhnya langkahku mundur karena tahu ia sudah terinveksi


Di gerbang Ben masih berusaha membukanya bersama Alif dan Arya, kemudian Luna yang merasa bosan ia keluar dari mobil untuk menghampiriku yang berada di belakang mobil “ ka Lisa aku bosan” ia tidak menemukan ku disana “ ka Lisaa, kaka diamana?” teriaknya, mendengar Luna yang mencariku Alif menghampiri “ ada apa Luna?”


“ ka, ka Lisa enggak ada” panik Luna


“kemana sih dia, lagi kondisi kaya gini malah ngilang sendiri” gerutu Alif sekaligus cemas


Alif pergi dengan membawa senjatanya berusaha mencariku dihutan ini


“ mau kemana dia?” tanya Arya pada Luna


“ mencari ka Lisa” singkat Luna


“ Lisa, kemana dia?” tanya Arya


Luna menatap kesal Arya yang selalu bertanya “ jika aku tahu untuk apa ka Alif pergi” ketusnya


Arya memberitahu kehilanganku pada Ben dan Alan dan meminta mereka segera membuka pintu nya sementara Arya akan menyusul Alif dan aku, “ kau sudah terinveksi” kataku yang melangkah mundur “ lalu untuk apa kau mengikutiku kemari, ternyata kau juga sama seperti manusia – manusia busuk itu” bentaknya yang tetap mengenggengam erat tanganku “aku kira kau belum terinveksi aku memang mau menolongmu tapi” kaliamatku terhenti terdengar suara teriakan Alif yang memanggil namaku


Aku berusaha melepaskan tanganku dari gadis ini “ ALIIIF” teriaku berusaha memberi tahu jika aku ada disini “ senangnya ada yang mencari dan menyelamatkanmu” senyum getirnya gadis itu, “ tolong lepaskan, aku tidak ingin berlaku kasar” tegas ku


“ kasar, kenapa, kau mau menembakku atau menebasku” kata gadis itu


Aku meronta – ronta berusah melepaskan diri karena nampaknya ia sudah memasuki vase tahap 2 perubahan dalam vase ini manusia yang terinveksi bisa saja menularkan virus nya pada manusia lain, gadis itu terjatuh kbarena ku dorong dan aku berusah kabur darinya tapi ia berhasil menahanku dengan menarik kakiku “ aa-a aku ti- tidak mau se-ndiri” gadis itu mulai berubah


“ lepaskan aku” berusaha melepaskan kaki dari gadis Kroon ini ia siap mengigit kakiku


‘KWRRK’


DUAAAR


Tepat mendarat di kepalanya seketika ia tewas, aku menoleh dan ternyata Alif yang menembak Kroon ini ia membantuku berdiri dan pergi tanpa sepatah kata pun “ Alif tunggu” kataku menyusul Alif yang pergi begitu saja lalu tiba – tiba terdengar suara Kroon yang mungkin jumlahnya lumayan banyak di sekitar kami langkahku dan Alif terhenti kami terdiam dan melihat sekitar


suaranya menggema tapi Kroon itu tidak ada


“sial ini pasti gara – gara tembakan ku” gerutu Alif


“ Lisa bisakah kau tidak menghilang dan menempatkan dirimu dalam bahaya” Alif marah padaku


“ ma-maaf Alif aku-“ kalimatku terpotong


“ sudahlah cepat pergi” Alif menarik tanganku kami berlari kembali ke mobil


Benar saja Kroon itu sekarang ada dibelakangku dan Alif mereka mengejar kami dengan cuaca dingin ini kami berlari menghidari Kroon didepan terlihat Arya yang menyusul kami “ LARIII!!” teriak Alif pada Arya


yang awalnya bingung tapi setelah melihat betapa banyaknya Kroon di belakang kami ia pun menyusul aku dan Alif berlari kembali ke mobil


“ apa yang kalian lakukaan?” teriak Arya


Di gerbang Alan dan Ben berhasil membobolnya mereka sudah membuka pintu gerbang “ apa mereka belum kembali?” tanya Alan pada Luna yang cemas menunggu kami


“ belum ka, bagaimana ini?”cemas Luna


Tak lama Alan bertanya suara teriakan Alif dan Kroon yang menggema terdengar oleh mereka “ Alaaan bukaa gerbangnyaa”


“ oh tidak tidak suara itu” Ben mendengar suara Kroon


“Luna cepat masuk ke mobil” kata Alan


“ kau gila kakak ku masih disana” kata Luna


Lalu aku dan Alif datang disusul oleh Arya yang berusaha menembaki Kroon itu agar mengulur waktu melihat itu Ben pun mencoba menembaki Kroon dari atas mobil “Alan nyalakan mobilnya sekarang” teriak Alif ‘ngiing’ kepala nya kembali terasa sakit penglihatannya pun mulai kabur tapi ia berusaha terus menyelamatkan ku agar dapat naik ke mobil


“ KAKAAA” teriak Luna histeris


“ LUNA MASUUK KE MOBIL SEKARAANG” teriak Arya dari kejauhan


Alan sudah tidak sabaran lagi ia menarik Luna dan memasukannya kedalam mobil kemudian ia segera menginjak gas untuk pergi menghindari gerombolan Kroon ini, pegangan Alif pada tanganku melemah tapi kemudian ia berusaha menyadarkan diri untuk bisa menaikan ku kemobil


“ Been bantu Lisaa” kata Alif sembari terus berusaha mengangkat tubuhku sembari berlari, aku berhasil memegangi mobil bak terbuka ini lalu Ben menariku “ Alan pelankan laju mobilnya” teriakku berusaha meraih tangan Alif


“ tidak bisa jika kulakukan maka kita semua mati diterkam oleh gerombolan itu” teriak Alan


“ KAKAAK” Luna histeris melihat Arya dari jendela mobil


Pandangan Alif semakin kabur ia terjatuh “tidaaak” aku histeris, Arya berusaha menolong Alif dan menyeretnya berlari mereka berlari berusaha menggapai mobil ini “ ayoolah kumohon” akhirnya juluran tanganku bisa tergapai oleh Alif “ Ben tarik aku” kataku, Alif pun bisa selamat naik ke mobil begitu juga dengan Arya yang dibantu oleh Ben. Aku memeluk Alif karena khawatir dengannya ia melepaskan pelukanku terlihat ia sangat marah padaku


“ bisa nggak sih lebih waspada dalam kondisi seperti ini?” Alif marah


“ maaf tadi aku melihat seseorang gadis seumuran Luna aku pikir dia bukan Kroon tadinya maksudku ingin menyalamatkannya ternyata ia sudah terinveksi” jelasku


“ selamatkan saja dirimu dulu” ketus Alif


“ sudahlah dia hanya berusaha menyelamatkan orang lain” Arya membela


“ tapi setidaknya dia bisa lebih memakai logika nya dalam kondisi seperti ini dengan menimbangkan beberapa kemungkinan sehingga tidak membahayakan orang lain” Alif ngegas


“ hei jika kau tidak mau dibebani olehnya gak masalah masih ada aku lagi pula dia memang tanggung jawabku” balas Arya


“ bukan begitu justru karena aku khawatir dan say-.” Kaliamat Alif terhenti saat melihat ku


Ia memalingkan mukanya dan aku hanya bisa tertunduk Arya mengerti apa maksud Alif ia khawatir karena takut sesuatu yang buruk terjadi padaku, Luna membuka jendela penghubung “ ka apa kau terluka?” cemasnya


“ aku baik” singkatku


“ bagaimana bisa kau seberani itu Lisa” sahut Ben


\*\*\*\*


Di Pulau I.V.V


Disini memiliki cuaca tropis tanpa musim salju Alex yang menatap lautan lepas di pantai sembari terus memikirkan nasib kawan kawannya juga Lisa, semenjak sampai disini ia terus memandang lautan di pelabuhan berharap melihat sebuah kapal yang berlayar dengan membawa Lisa dan yang lainnya ia tampak murung dan raut wajahnya kembali gelap karena diseret paksa ke pualu oleh Rachel


Alex pulang ke apartemen hunian miliknya di pulau itu I.V.V tentu sudah membangun fasilitas untuk para pesohor dan pejabat dunia yang ada, Alex belum mengetahui jika Lyta juga berada disana, suara pintu terbuka Alex masuk dan melemparkan sebuah teropong miliknya yang ia gunakan saat dipantai saat berada di atas tempat tidur, betapa terkejutnya Alex saat melihat Rachel yang sedang tertidur disana


“ hei sedang apa kau?” tanya Alex dengan galak


Rachel tidak menggubris Alex yang emosi menghampirinya dan mencoba mengusirnya keluar kamar “ cepat pergi atau mau ku lempar kau keluar gedung” Alex menarik selimut yang menyelimuti tubuh Rachel saat selimut itu setengah tertarik hingga bahu Rachel Alex baru menyadari jika Rachel tidak berbusana


“ RACHEEL” bentak Alex


“ apa sih berisik tau gak” akhirnya Rachel membuka mulutnya


“PERGI DAN PAKAI BAJUMU” bentak Alex lagi


Rachel bangun dari tidurnya Alex melangkah mundur “ kau ini kenapa? Apa salahnya aku disini” ternyata Rachel mengenakan baju tidur tanpa lengan sehingga terilhat seperti tidak memakai baju saat selimutnya ditarik hingga bahu


“ pergi sekarang” Alex mencoba menahan amarahnya


“ aku ini -,”


“ cukup, itu tidak akan pernah terjadi, sekarang keluar dari sini” ketus Alex yang membukakan pintu


Rachel dengan muka asam nya pergi dari kamar Alex ‘BRUUGH’ Alex membanting pintu, ia berbaring dan manatap langit – langit kamarnya Alex bersedih teringat kembali kenangan dengan ibunya kenangan menicicpi masakan ibunya, dan juga belajar dan bermain bersama Ayahnya ia memejamkan matanya Air mata pun mengalir di pipinya ia merasa hidupnya kosong tanpa kedua orangtuanya hingga berfikiran untuk berhenti bertahan hidup di dunia ini, lantas wajah Lisa tiba – tiba terlintas di fikirannya dengan kata – kata yang masih Alex ingat dengan jelas “kau boleh menyerah pada dunia, meyerah pada orang disekitarmu tapi jangan pernah menyerah pada dirimu sendiri walau dunia seperti ini kita tidak pernah tahu kedepannya seperti apa jadi jangan menyerah hingga saat itu tiba” itu yang dikatakannya untung saja pada saat itu ia masih mengenakan earphone penghubung bahasa saat ia pergi dari markas jadi apa yang dikatakan oleh Lisa ia masih bisa memahaminya namun saat itu Lisa yang tidak menggunakan alat komunikasi hanya bisa mengerti apa yang Alex pergakan jika mereka ingin mengutarakan sesuatu.


Mengingat kenangan bertemu dengan Lisa membuatnya tersenyum dan kembali bersemangat mencari tahu apa yang sebenarnya I.V.V lakukan hingga merenggut kedua orangtuanya, terdengar suara sirine dari landasan pesawat terbang yang ada di pulau Alex beranjak dari tempat tidurnya ia melihat keluar jendela yang tepat mengarah ke sana dan juga pelabuhan “siapa yang baru datang?” gumamnya


TOK,TOK


Ada yang mengetuk pintu kamar Alex “ ada apa?” tanya nya pada pelayan apartemen “ada tamu penting untuk tuan ditunggu di meeting room VIP” jawan pelayan itu, Alex berfikir siapa yang mau bertemu dengannya apa ini ulah Rachel lagi


“ hm..” singkat Alex lalu menutup pintunya ia segera mengenakan jaket miliknya lalu pergi ke ruangan VIP itu, Alex cukup lama menunggu sekitar satu jam ia menunggu, akhirnya Alex beridiri dari duduknya memtuskan untuk pergi dari ruangan VIP itu saat akan berjalan keluar seseorang yang sangat familiar dengannya pun datang “ hai nak, bagaimana keadaanmu?” sapa Komandan


“kau, kemana saja kau hah? Aku pikir sekarang aku benar – benar sendirian” nada Alex sedikit meninggi


Komandan terkejut dengan perkataan Alex ia tak mengira cucu nya ternyata khawatir terhadapnya “ maaf nak aku harus mengurus sesuatu” jelasnya dengan berjalan mendekat


“ cih seolah – olah kau sangat dibutuhkan” ketus Alex


“ terimakasih kau sudah mengkawatirkan ku” senyum lebar nya terlihat


Komandan memeluk Alex dan memasukan sebuah kertas ke kantung celana Alex “ aku mau memberitahumu sesuatu tapi tida disini”


Komandan melepas pelukannya


“ aku cukup senang melihat cucuku baik – baik saja, kalau begitu aku pamit untuk pemeriksaan kesehatan karena sistem disini sama ketatnya dengan di markas” senyumnya lalu pergi keluar ruangan, Alex melihat sekitar ruangan ia paham mengapa Komandan tidak langsung berbicara kemungkinan ruangan ini sudah disadap dan pasti bukan hanya ruangan ini saja semua akses yang dimiliki Rachel sudah dibawah pengawasannya lantas ia pun pergi dari ruangan itu.