
Traang...
Hanna menjatuhkan nampan berisi pisau medis saat diruang operasi mendengar kabar putrinya menghilang disebuah hutan saat itu Hanna yang akan melakukan sebuah operasi pada pasien namun ia mendapat telepon dan terkejut akan berita itu dokter pendamping yang ada bersama nya pun menyarankan ia lebih baik pulang dan mengecek kondisi putrinya namun Hanna menolak
“bagaimana jika kau tidak fokus, bisa berbahaya untuk pasien lagipula aku tau kau sangat cemas sekarang” tegas dokter pendamping itu
Dengan tangan bergetar ia berusaha tenang dan mengiyakan saran temannya itu “baiklah aku serahkan padamu” Hanna bergegas keluar dari ruang operasi
Ia melepas pakaian pelindung dan sarung tangan nya lalu berlari keluar dan segera menuju rumah.
Grap..
Alif menahan Lyta yang hendak menaiki bus “kau mau kemana? Kau pikir bisa mencarinya dalam keadaan kau panik”
“kau ini siapa hah? Lepaskan” Lyta memberontak
“kami sudah menghubungi tim pencari mereka hanya menemukan sebuah buku disana” sahut
ibu Sania
“mungkin itu milik Rara” Lyta menepis Alif dan berlari menuju halte tak jauh dari sana untuk menuju pelabuhan
Biiip.... suara kelakson dan sorot cahaya lampu
mobil menyilaukan mata,
“AWAAAAS” teriak Alif refleks karena Lyta hampir tertabrak
Pengemudi mobil itu keluar dengan kaki gemetar “Lyta kau baik – baik saja?” tanya nya sembari memeluk Lyta
“Hanna, kemana saja kau... aku mencoba menelpon tapi” suara Lyta tersendat karena menahan tangis dan khawatir
Semua berkumpul di rumah Hanna “Lyta aku tidak mengizinkanmu pergi kesana”
“Hanna, Rara sendiri di hutan, kedinginan, kelaparan, ketakutan”
Hanna mencoba tegar dan tidak menambah panik suasana walau hatinya hancur dan meneteskan air mata “ aku tau, tapi tidak akan ada hasil disana sedang berkabut dan tim pencari pun juga masih berusaha mencari” jelas Hanna
Lalu Ben datang tanpa memberi salam “sayang” Hanna memeluk Ben
Ben sudah tahu apa yang terjadi dan ia memeluk Hanna mereka saling menguatkan “aku ini ayah yang buruk” gumam Ben
“tidak, aku yang lalai sebagai ibunya” mereka menangis.
Malam berlalu terasa lama karena mereka ingin cepat bertemu pagi dan segera mencari keberadaan Rara, Hanna tak lepas berdoa semalaman begitu pula dengan Ben dan Lyta.
Pagi pun datang mereka bergegas pergi ke pualu itu sedari dini hari
Di pelabuhan sudah bersiap Alif dengan kapalnya “kalian lama sekali” teriaknya sembari melambaikan tangan.
...****************...
Alex sudah sampai di wilayah timur ia segera menuju lokasi rumah sakit dimana pedagang itu di tangani, ia segera mengunjungi dan melihat langsung kondisi nya ditemani dokter dan para ahli yang ada
“kami sudah meneliti di lab namun ada satu formula yang tidak kami miliki jadi hasilnya kabur, kami meminta pada rumah sakit wilayah lain namun mereka bilang juga tidak ada karena formula itu langka”jelas peneliti
Alex nampak berusaha mengingat formula apa itu
“kau tahu formula itu, selain menjadi faksin itu juga bisa mengindikasi jika seseorang terjangkit virus itu bahkan lebih” sahut Arya di samping peneliti
Alex mengingatnya “ namun I.V.V pun tidak mempunyai originalnya hanya tiruan saja dan juga tidak dihasilkan dari sumber bahan yang sama untuk formula nya
“benar , kami ada namun sudah tidak se original yang asli karena jika ingin membuat formula itu agar akurat bekerja maka harus mengambil sel lagi dari-“
“tapi kita bisa mencobanya bukan, coba saja pakai formula kami walau mungkin hanya 30% keakuratannya” potong Alex yang tidak senang mendengar kelanjutan penjelasan dari Arya karena merujuk kepada sample percobaan manusia yang dialami Lisa
Graap...
Pasien itu meraih tangan Alex ia mulai meraung dan mengamuk berusaha mengigit, Arya menahannya dan membantingkan pedagang atau pasien lebih tepatnya
“cepaat!!!” teriak Arya yang mulai kewalahan agar para peneliti itu segera membawa penenang
Brugh
Arya terjatuh didorong oleh pasien itu, Alex dengan sigap menangkapnya dari belakang menahan agar ia tidak menyerang Arya
Pasien itu terus memberontak hingga kepala Alex terkena besi penyangga untuk infusan yang jatuh menimpanya, Alex terjatuh kepalanya terasa sakit
“ARRRRGH” pasien itu menggila dan siap melompat menyerang Alex namun para peneliti itu segera menahan dan menyuntikan penenang padanya sehingga ia perlahan tak sadar kan diri
“lex, kau tidak apa apa?” Arya membantu Alex namun pandangan Alex kabur dan menjadi gelap
...****************...
Lisa dan Rara berhasil keluar dari rumah itu tanpa diketahui oleh penjaga disana, Lisa segera mengantar Rara ke bibir pantai
“kenapa kita pergi pagi sekali ka?” Rara yang masih mengantuk
“lihatlah langit itu, indah bukan” Lisa dan Rara melewati sebuah hamparan bunga ilalang terlihat langit di pagi hari itu sangat indah masih dihiasi bintang dan siluet karena baru menunjukkan pukul 5 pagi
“waaah, bagaimana langit bisa secantik itu” Rara tidak berkedip takjub melihat indahnya langit subuh
“apa di rumahmu tidak seperti ini?”
“kota?”
“hm.. kota I.V.V, ikutlah denganku ka, akan ku tunjukan tempat menarik”
Rara bercerita tentang berbagai hal seru di kota dari mulai makanan enak, toko mainan, dll ia bercerita dengan riang selama perjalanan menuju ke pantai.
Lyta nampak menyimak dengan serius,
Rara menjentrikan jarinya “haloo, kaka? Kau serius mendengarkanku atau melamun kenapa tidak ada suara darimu”
“aku mendengarkanmu” mereka berhenti sejenak
“dulu sekali di dunia ini banyak sekali kota bahkan kota itu hanya sebagian kecil wilayah saja, Negara sebutan untuk suatu wilayah besar”
“ya aku tau itu” sahut Rara
“ hei gadis kecil, saat seumuranmu aku sedang sibuk bermain kenapa kau malah ada di hutan dan menyusahkan ku ?”
Rara terdiam ia nampak murung “maaf jika aku merepotkan” lirihnya
Lisa sedikit merasa bersalah ia tidak bermaksud seperti itu hanya saja cerita Rara mengingatkannya akan masa kecilnya yang menyenangkan dan itu membuat Lisa merasa sedih, tangan Lisa seperti akan mengusap kepala Rara namun ragu
Srk.. srk..
Terdengar suara dari balik semak besar yang ada disamping mereka, refleks Lisa menarik Rara sembunyi dibalik sebuah pohon besar yang ada disana “kaka aku takut” lirih Rara memeluk Lyta
Ngiiing... kepala Lyta pusing terlintas suatu adegan yang sama namun disebuah kota yang berantakan ia dan seorang anak lelaki berpelukan bersembunyi dari sesuatu
“ingatan apa itu” Lisa tak sadar meneteskan air mata dan dadanya serasa sesak
“kakak kenapa?” panik Rara
“sstt.. jangan berisik” lirik Lyta
Terdengar langkah kaki seseorang “keluarlah, aku tau kau bersembunyi dibalik pohon itu” ucap nya
“suara itu”
“kenapa? Kau mengenalinya?”
“entahlah ka tapi suaranya familiar namun aku juga sedikit ragu”
“iiish sudahlah coba kau intip”
Rara menggelengkan kepala tanda menolak, “penakut” ujar Lisa ia mengintip sedikit
Nampak seorang pria dengan senapan berbadan tegap gagah bekulit putih “dia bukan petugas” gumam Lisa
“sepertinya mungkin dia orang yang mencarimu” ujar Lisa
“benarkah? Tapi bagaimana jika bukan”
“coba saja dulu, jika ia akan berbuat sesuatu padamu aku ada dibelakangmu”
Rara perlahan memberanikan diri keluar dari persembunyian ia menutup wajahnya karena takut “hei, sedang apa kau disini nak?” sapa pria itu
“tunggu, jangan – jangan kau Rara?” lanjutnya
Rara mengangguk dan perlahan membua wajahnya “aku sepertinya pernah melihatmu” kata Rara
“tentu saja, aku Alif kita pernah bertemu dulu bukan” ujar Alif memeluk Rara
“ra, orang tua mu sangat khawatir Lyta juga sangat khawatir” Alif mengusap kepala Rara dan menggendongnya ia segera membawa Rara
“tunggu, aku harus pamit pada kakak cantik”
Langakah Alif terhenti “ siapa? Kakak cantik?”
“iya dia yang menjagaku selama disini” Rara turun dari gendongan Alif dan berlari mengampiri pohon itu
“kakak keluarlah paman ini aku mengenalnya dia orang baik”
Namun tidak ada sahutan dari Lisa
“Rara siapa sebenarnya kakak cantik ini?”
“dia ada di..” Rara mengajak Alif ke balik pohon itu namun tidak ada siapa siapa disana
“kemana kakak cantik itu, kakak!!” Rara berteriak
Alif mencoba menenangkan Rara
“ra mungkin dia sudah pulang”
“enggak, kakak !!” Rara menangis
Lisa yang memperhatikan dari jauh mendengar teriakan itu “Lisa.. apa memang namaku Lisa?” ia memegang dada nya yang masih terasa sesak karena ingatan nya tadi
“kenapa hanya potongan tidak jelas, sebenarnya siapa mereka" yvm