DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 29 Gedung pusat I.V.V



Alan yang baru saja datang seusai pulang kerumahnya untuk sekedar mandi dan beristirahat karena sudah 2 hari belakangan ia berjaga mengawasi Lisa, sangat terkejut karena baru mengetahui Rachel sudah mengambil tindakan tanpa sepengetahuannya ia sudah mengambil sel dan cairan sum sum tulang belakang milik Lisa itu sangat beresiko untuk nya , dia memasuki ruang penelitian untuk menemui Rachel agar mau menunda pengambilan sel itu tapi sudah terlambat


“ kalian sedang apa?” Alan melihat lab sangat sibuk karena sedang meneleti sel milik Lisa


“ kami sudah mengambil sel sample yang baru datang itu” jawab salah satu profesor disana


“ APA, tidak itu sangat beresiko”


“ maaf prof, tapi kami hanya menjalankan intrupsi Lady” kata Prof itu


“ iiissh” Alan berlari keruangan Lisa ia sangat cemas dengan kondisinya, Alan adalah adik Rachel yang juga sama – sama meneliti vaksin tapi Alan tidak pernah mau sejalan dengan kakak dan ayahnya karena ia tahu mereka hanyalah mencari keuntungan dan tidak memprioritaskan yang lain termasuk para sample yang seharusnya di jaga dengan baik


DRAP


DRAP


Langkah kaki Alan yang tergesa- gesa di lorong menuju ruangan Lisa, “kau, sudah membuatku muak” Alex mengangkat senjatanya mengarahkannya pada Rachel, mata Alex merah menahan marah dan sedih melihat kondisi ku yang terbaring lemah dengan pucat pasih seperti mayat “ apa yang kau lakukan Rachel” Alan berlari menghampiriku ia memeriksa kondisi dan tubuhku “ nadinya lemah sekali” kata Alan, ia menengok dan tidak sadar jika ada Alex disitu saking paniknya dengan keadaan ku “Alex, ada apa ini?” tanya Alan


“diam kau, jangan coba - coba melindunginya karena aku akan menghabisi kakamu” mata tajam Alex menatap Rache


“ kau tidak perlu mangancamnya seperti itu, dia tidak akan melindungiku, sama sepertimu dia juga membenciku, jadi tembak saja” Rachel berjalan mendekati Alex


Alan menarik tangannya “ apa yang kau perbuat, kau bisa membunuh sample ini”


Tiba – tiba alaram berbunyi tanda peringatan waspada, Alex kira itu sirine karena dirinya akan membawa ku tapi itu salah, Alex segera membopong tubuhku “ aku tahu jalan keluar dari sini” kata Alan mereka pergi meninggalkan Rachel ‘Srkk’ suara sambungan earphone terdengar “ kota I.V.V hancur pemberontak menyusupkan Kroon kedalam” lapor salah satu anak buah Rachel. “ sial apa yang dia mau” gumam Rachel. Alan dan Alex segera keluar melewati lubang ventilasi udara


“tunggu dua temanku masih didalam” kata Alex


“ biar aku yang jemput mereka” Alan bergegas pergi mencari Arya dan Luna


Alex menyandarkan tubuhku di samping gedung I.V.V “ maafkan aku Lisa, aku sudah gagal melindungimu” peluk erat Alex


DUAAAAR


“ suara ledakan terdengar dan keriuhan dimana – mana “ apa ini, kenapa kota menjadi seperti ini” Alex melihat kondisi jalan didepan matanya sangatlah kacau


“Alex kau sudah menemukan Lisa” teriak Arya yang baru keluar gedung


Arya melihat kondisi ku yang sudah tidak sadarkan diri dengan muka pucat pasih seperti mayat “ tidak, Lisa sadarlah” Arya menepuk pelan pipiku


“ ia belum mati, hanya sedang kritis karena pengambilan paksa sel dan cairan sum sumnya” sahut Alan


Luna pun menangis melihat kondisiku karena ia tahu betul bagiamana rasanya menjadi sample percobaan untuk menemukan vaksin, Alan yang baru dikabari lewat earphone miliknya baru tahu jika kota tengah diserang oleh pemberontak “ alaram tadi salah, tadi alaram peringatan untuk pemberontak bukan untuk kalian” Alan menunjuk anak buah Marko yang tengah menghancurkan fasilitas di sekita jalan “ mereka juga menyusupkan Kroon kesini” lanjut Alan


“ apa, sialan monster itu lagi” gerutu Arya


Luna memeluk erat lengan Arya ia sangat ketakutan karena baru lagi dia melihat monster itu sejak berpisa dari Arya 3 bulan silam di camp karena diambil untuk penelitian imun nya, Alif yang baru saja mau masuk ke dalam gedung melihat Alex dari kejauhan beserta yang lainnya “ Alex apa itu kalian?” teriak Alif menedekati mereka “ kau darimana saja Alif kenapa baru kelihatan?” tanya Arya


“ maaf aku dihadang oleh petugas saat mengikuti kalian masuk gerbang kota ini” jelas Alif


Suara Alif terdengar oleh ku membuat mataku perlahan terbuka “ Alif, itu kau?”


“ Lisa kau sudah sadar?” Alex tersenyum lebar


“Lisa kau kenapa, pakaianmu sudah kuduga kau menjadi sample mereka” sahut Alif mengepalkan tangannya emosi melihat kondisiku


Suara mobil terdengar mendekat, itu Rachel berserta anak buahnya ‘Srrk’ suara sambungan earphone “ kau dimana, cepat naik pesawat datanglah bersama adikmu” Letnan menghubungi Rachel untuk pergi dari kota ini “ aku akan mengambil barang miliku, aku tidak janji akan datang bersamanya” singkat Rachel keluar dari mobilnya diikuti oleh anak buahnya yang bersenjata


“ bawa Alex” komando Rachel pada anak buahnya, mendengar itu aku berusaha berdiri sembari meringis kesakitan, Alex berusaha untuk melawan para pengawal yang akan menangkapnya dibantu oleh Alif dan Arya.


Para pengawal itu mengngkat senjata mereka “ ikutlah kami tidak akan melukaimu” bujuk salah satu pengawal


“ Rachel cepat peirntahkan mereka mundur dan kau segera pergilah dengan para pengawalmu” teriak Alex


“ aku tidak akan meningalkan barang berharga miliku Alex, cukup setengah tahun aku kehilangan miliku sekarang kau tidak akan pernah lepas lagi” tatapan tajam Rachel dengan senyum tipisnya yang menghiasi wajah cantiknya.


“ kau benar – benar, - ” kalimat Alex terhenti karena satu tembakan bius mengenai bahunya pandangan nya mulai buram dan tubuhnya kehilangan keseimbangan “ Alex kau baik – baik saja?” Alif memastikan ‘Bruugh’ Alex terduduk lemas “ Aleex” Aku menghampiri Alex yang terkulay lemas dan melihat peluru bius di bahu kananya “ bius, Alex cobalah untuk tetap terjaga” aku mencabut peluru


itu dari bahunya


“ sialan kita kecolongan” gerutu Arya


Dua dari perngawal itu berusaha mengambil Alex namun aku cegah Arya dan Alif yang melihat itu segera membantuku tapi mereka dihadang oleh beberapa pengawal lainya, baku tembak pun tak terelakan “ minggir kau gadis lemah” pengawal itu membating tubuhku ke samping dan membawa Alex pergi


Melihat itu Alan berlari menghampiriku “Rachel bisa kau berhenti melakukan ini semua” teriak Alan pada kakanya


Rachel hanya menatap datar Alan, “ Lisa kau baik – baik saja” Alan mencoba membatuku berdiri, “jangan tinggalkan Luna sendirian, kau jaga saja dia” kataku


“ baiklah, ini kau pegang satu” Alan memberikan senapan miliknya


Petarungan Arya dan Alif dengan para pengawal itu semakin sengit lalu datanglah Marko dengan Kye menghampiri Rachel “Lady, aku kemari ingin menagih janjimu” kata Marko


“ Kye, sedang apa dia dengan Marko” gumam Alif


“ tenang saja aku selalu menepati janjiku, kemarilah” kata Rachel


“ tentu Lady” Marko menghampiri Rachel yang sebenarnya akan menusuk dirinya namun dengan gesit Marko menghindar “SIALAN, kau memang wanita licik” bentak Marko ia menarik pedang miliknya ‘SRIING’ mengayunakn pedang miliknya tapi ayunan pedang itu terhalang oleh pedang milik pengawal Rachel, Marko terluka di bagian lengannya dan pedang itu terpental jatuh tak jauh dari tempatku berdiri


“ cih, kau pun sama Marko” sahut Rachel


Di saat yang sama para mata – mata Rachel membawa beberapa pegawai yang tidak diizinkan menaiki pesawat padahal mereka sudah memiliki tiket, alasannya mereka dianggap sudah membocorkan data milik I.V.V


“ Lady mereka ini yang sudah berkhianat” ucap salah satu mata – mata Rachel


Ada lebih dari 20 orang yang diabawa oleh mata – mata Rachel. Aku mencoba untuk membidik pengawal yang sedang memegangi Alex dengan senapan milik Alan dan tidak sadar jika salah satu pengawal yang sedang bertarung dengan Alif dan Arya juga mengarahkan senapanya padaku, Lyta yang baru saja sampai di gedung melihat kegaduhan ini ia melihat pengawal itu mengarahkan senjatanya padaku, Lyta berlari dengan tenaga yang tersisa ia mengambil pedang yang jatuh tak jauh dari ku tanpa ku sadari karena terlalu fokus pada Alex


DUAAAR


Lyta mendorongku agar tidak tertembak lalu kami terjatuh “ Lisa jangan fokuskan dirimu pada satu titik saja” kata Lyta dengan nada tersengal karena lelah berlari


“ Lyta kau tidak apa apa kan” cemasku


Ben dan Hanna ternyata berada dalam kelompok orang yang dianggap penghianat, Ben menyadari Lyta yang datang “Lyta ya, namanya Lyta aku baru ingat sekarang'' gumam Ben


“ siapa Ben?” tanya HANNA


“ anak yang menyelamatkan kita di Toserba” jawab Ben


Hanna pun menengok dan benar saja dia pun mengenali Lyta


“ hosh, hosh ya aku baik” jawab Lyta,


melihatku memakai baju serba putih seperti yang dikenakan Rachel saat menjadi kelinci percobaan di hutan ia berlinang air mata “maafkan aku, aku egois dan memilih untuk meninggalkan kalian” Lyta tertunduk meneteskan airmata bersalah


“ Lyta kau bicara apa,” aku berusaha menenangkan Lyta


“ dramatis sekali, sebuah pertunjukan opera yang sangat mengharukan “ sahut Rachel melihat aku mencoba menenangkan Lyta


“Rachel berhentilah menyakiti orang – orang disekitarmu” teriaku


Rachel menatap tajam diriku “ kau tahu apa tentang orang – ornag disekitaku, sebaiknya kau segeralah memilih pilihan yang tepat untuk keselamatan dan kelangsungan hidup manusia”


“ jangan egois, untuk memiliki imunitas itu hanya untukmu Lisa. Serahkan dirimu datanglah ke pulau I.V.V kau dapat menyelamatkan semua orang termasuk keluargamu”


“ kau pilih untuk mati atau hidup” senyum jahatnya dan tatapan mata Rachel membuatku gentar karena dua pilihan itu sangat membingungkan


Salah satu mata – amta menghampiri Rachel “ Lady hukuman mereka bagaimana?” tanya mata mata itu


“ bunuh mereka semua” singkat Rachel


Para pengawal itu segera mengarahkan senjata mereka untuk menembaki para pegawai yang di cap pengkhianat Lyta melihat ada Ben dan Hanna disana “Ben, Hanna” gumam Lyta terkejut ia berlari dengan mengayunkan pedangnya mencoba melawan para pengawal yang menghalangi jalanya.


Melihat itu aku mencoba membantu Lyta walau tidak tahu siapa yang dia maksud dengan senapan yang ku punya aku berusaha melindungi Lyta dari belakang, salah satu pengawal yang sedang baku tembak dengan Alif dan Arya berlari menghampiriku ia mengganti senjata dengan pedang berniat menebasku secara diam – diam namu Alif segera berlari dan menendang tubuh pengawal itu “ BRENGSEEEK” teriak Alif melayangkan tendangan mautnya tubuh pengawal itu terpental jatuh ke aspal, deru napas terdengar dari kami yang sudah mulai kelelahan.


Beberapa dari pegawai itu sudah tertembak mati, terdengar jeritan anak kecil dalam pelukan ibunya “ BEEEN, bawa Hanna dan Rara kebelakang barisan. LISAA tembak pengawal itu” terik Lyta, aku segera membidik pengawal yang sedang menembaki para pegawai itu


DUAAR


DUAAR


Ben pun sudah berlari dengan Hanna menghampiri Lyta “ cepat pergi ke sisi gedung” intruksi Lyta pada mereka, Ben pun membawa keluarganya pergi ke sisi gedung dimana ada Alan dan Luna disana. Tubuhku tiba – tiba terasa lemas dan sakit dibagian pinggang, pandanganku mulai kabur melihat Alex yang tengah diseret masuk ke mobil


Rachel berjalan dengan santainya


menghampiri Alan “ kau ikutlah denganku, ayah menunggu kita “


“aku tidak akan pergi dengan kalian” jawab ketus Alan


Luna ketakutan dan bersembunyi di belakang Alan


“ huh, terserah” Rachel pergi meninggalkan Alan


“pengawal kita pergi” komando Rachel


‘Bruug’ tubuhku ditangkap oleh Alif “Lisa apa kau terluka, LISAA” cemas Alif, pengawal yang sedang berhadapan dengan Arya pun mundur karena bos mereka sudah pergi Arya segera berlari menghampiriku begitu juga Alan dan yang lainnya,


“biar ku periksa” Alan memeriksa nadiku dan suhu tubuhku “ ia kembali kritis karena imunya menurun drastis” jelas Alan


“kita harus membawanya ke tempat aman, Luna juga butuh istirahat” saran Arya


“ ya kondisi Luna kemungkinan bisa drop juga” sahut Alan


“ tapi dimana?” tanya Lyta menatapku cemas


“bagaimana jika dirumahku saja, kebetulan rumahku tidak jauh dari sini” Ben memberi tawaran


“siapa dia?” tanya Alif


“ sudahlah, dimana rumahmu?” sahut Alan


kami pun pergi mengungsi ke rumah Ben dan Hanna, Alif yang membopongku membaringkan tubuhku di tempat tidur, Alan masih diluar rumah ia sedang berkoordinasi dengan Komandan melewati earphone


“ disini tidak ada peralatan medis juga infusan pun tidak ada bukan” cemas Lyta


Alan sudah tahu jika ia membutuhkan peralatan itu jadi ia memeberi informasi dan meminta bantuan pada Komandan “tenang saja aku sudah mendapat bantuan, mereka akan membawakan perlatannya kemari” sahut Alan yang baru masuk ke dalam rumah


“ Lyta bisa kau bawa Rara ke kamarnya” pinta Hanna


“ baiklah, ayo Ra”


Hanna membantu membenarkan posisi tubuhku dan memeriksa kondisi Luna karena ia juga seorang Imunty Human “ tarik napas perlahan lalu buang secara perlahan” insrtuksi Hanna pada Luna


“ kau seorang perawat?” tanya Alan yang sedang mengecek nadiku


“ ya” singkat Hanna


‘Srkk” suara earphone nya tanda bantuan sudah datang “ kau bantu aku memasangkan infus pada mereka berdua” Komando Alan


Datang beberapa pengawal yang membawa serta alat medis dan beberapa obat – obatan ke dalam rumah disusul oleh Komandan di belakangnya “ kau kenapa ada disini? Kapal sudah take of dari tadi” Alan terkejut melihat Komandan


“ aku ingin mengecek keadaan kalian, mana Alex?” suara serak dan berwibawa itu menanyakan cucunya


Arya, Alif dan Alan tertunduk mereka merasa sudah gagal melindungi teman mereka “ dia dibawa oleh Rachel” sahut Arya


Komandan menghela nafas, ia berjalan mendekatiku dan Luna “ kenapa dia tidak sadarkan diri” cemasnya melihatku


“ ini semua perbuatan Rachel ia mengintruksi para dokter dan Ilmuan agar segera mengambil sel pembuluh vena serta cairan sum sumnya, itu sangat vatal” jelas Alan


“ para tikus itu hanya bisa mengikuti perintah tanpa menggunakan hati mereka” geram Komandan


Ia melihat Luna yang tengah tertidur di sofa dengan infusan dilengannya “ bukankah anak itu” Komandan teringat bahwa ia pernah melihat Luna di lab milik I.V.V saat itu Luna adalah pemilik imun terbaik sebagai sample pembuatan vaksin


“ ya dia juga sama dengan Lisa “ sahut Alan


Di kamar Rara Lyta terfikir ucapan yang dilontarkan Rachel saat di gedung I.V.V tadi “apa maksudnya Lisa harus memilih mati atau hidup dan pergi ke pulau I.V.V” gumamnya,


Komandan segera meminta mereka menyusun rencana untuk pergi ke pulau I.V.V


“ kalian sudah ada rencana apa?”


“ kami masih bingung tidak tahu harus memikirkan rencana apa” sahut Arya


“ memangnya rencana untuk apa? Bukankah sudah selesai” sahut Alif


“ heem, ini belum selesai nak justru markas ini sebenarnya hanyalah tempat untuk menguji dan menemukan vaksin itu yang akan diproduksi dipulau pribadi I.V.V di pulau itu I.V.V juga membangun sebuah perkotaan tapii lebih luas dari yang sekarang, disana banyak pejabat dan orang penting dunia diungsikan mereka menunggu vaksin yang sedang di buat” jelas Komandan yang memandang ke luar jendela


Semua mendengarkan dengan seksama suasana menjadi hening Lyta juga mendengarkan dari kamar sebelah


“ vaksin itu sudah ada sebenarnya dari sample yang lain selain Lisa dan Luna mereka hanya akan memakai dan menyimpannya untuk diri mereka sendiri, padahal bukan itu rencana awal kami . I.V.V ingin membuat vaksin itu tersebar ke seluru penjuru bumi dengan cara merubahnya menjadi partikel asap dengan menggunakan media tower untuk penyebarannya tapi mereka yang memgang kuasa terpengaruh oleh Letnan sialan itu hingga berubah haluan untuk menyimpan vaksi itu secara pribadi dan menjadikan sebagian bumi tetap terpapar virus untuk tujuan bisnis mereka yang aku pun tidak mengerti mau mereka apakan nantinya. anak – anak kalian sangat cerdas dan mampu mengalahkan para manusia licik itu, kalian juga teman yang baik juga berharga untuk cucuku, selamatkan bumi dan lindungi Lisa juga Luna karena jika imun mereka berhasil di dapatkan oleh I.V.V maka bukanhanya akan kehilangan Lisa dan Luna tapi imun mereka akan dipergunakan secara tidak bijak nantinya” Komandan menatap Arya dan Alif


“ apa Alex tahu semua itu?” tanya Arya


“ dia hanya mengetahui perihal asap vaksin dan tidak tahu jika rencananya berubah” jawab Komandan


Alif menggaruk kepalanya hingga berantakan


“ yaaah, kami juga harus menyelamatkan Alex bukan dan sepertinya aku juga ingin sekali mencium Rachel”


Semua menatap Alif “ ma- maksudku bukan mencium itu tapi memberinya pelajaran” kikuk Alif


“ maafkan aku Alan tapi,” Komandan merasa tidak enak karena Alan adalah adiknya


“ tidak apa Komandan aku mengerti mereka memang sudah diluar batas” jawab Alan


Arya berdiri dari duduknya ia menghampiri Komandan “ tapi aku sedikit ragu karena Alex biasanya yang mengomandokan kami, aku sendiiri bingung jika tidak ada yang memberi arahan”


“ aku yang akan menggantikan Alex” Arya menengok dan memandang ragu Alif


“hey kenapa kau menatapku seperti itu, aku bisa menjadi leader distrik kalian karena aku sudah terbiasa untuk memimpin distrik yang menyerang kalian waktu itu” perlahan nada suaranya menurun karena merasa tidak enak sudah menyerang distrik 4


“ ya, ya, tapi bagaimana jika kau berkhianat?” sinis Arya


“ jika aku mau berkhianat kenapa juga aku tinggalkan Kye yang sekarang memihak pada pemberontak itu” jelas Alif


Lyta keluar dari kamar Rara meninggalkan Rara yang sudah tertidur “ tidak, kami tidak bisa pergi ke pulau itu” tegas Lyta