
“tempat apa ini?” Alan bersembunyi dan melihat sebuah gedung yang nampak sudah tua ia melihat kedua orang itu membawa seorang gadis secara paksa, Alan pikir mereka akan berbuat jahat pada gadis itu.
Di tempat lain Arya masih berbincang dengan Alex ia mempertanyakan keadaannya setelah Lisa tiada karena mereka sudah lama tidak bertemu setelah Lisa dikebumikan
“aku hanya merasa perlu melindungi orang – orang yang ada disini setelah melihat pasangan tadi, namun ada yang berteriak didalam diriku jika aku tidak pantas melindungi mereka”Alex murung
“karena kau gagal melindungi Lisa?”
Alex terkejut dan menoleh ke Arya “sudah lah kau masih beruntung jasadnya ada, seharusnya aku yang gila disini adikku yang kau lihat tidak bernyawa jasadnya tidak ada sampai hari ini”
“bukan hanya Lisa, tapi aku juga tidak bisa menjaga kalian”
“lex kau itu bukan malaikat pelindung kami, kami semua punya takdir masing – masing sekeras apapun kau berusaha agar semua tidak terjadi jika tuhan berkehendak kau bisa apa?”
“...” Alex terdiam
“tuhan tidak butuh siapapun untuk membantunya, kau pikir ia mengambil Lisa tanpa alasan?”
“kau benar, Lisa tidak perlu merasakan sakit didunia yang kelam ini”
Arya hampir lupa tujuan dia bertemu dengan Alex karena pembahasan yang dalam tentang Lisa dan orang – orang yang gugur di pertempuran tower vaksin itu
“lex sebenarnya aku senang bisa bernostalgia, namun aku punya tujuan bertemu denganmu”
Arya menceritakan pertemuan nya dengan Alan di pulau itu
Alex nampak tak terkejut mendengar kabar Alan “lalu? Kenapa kau memberitahuku?” tanya Alex
“ kenapa? Dia pernah berjuang dengan kita saat itu, sekarang dia terjebak di pulau sendirian”
“baiklah aku akan menyuruh orang untuk menjemputnya”
Arya berdiri dan hendak pamit kepada Alex , namun ia berbalik sebelum pergi “ apa selama ini kau sudah mengetahui kondisi keluarga Alan?”
“mereka pembelot dan penghianat yang memilik niat terselubung menguasai I.V.V, mereka diasingkan” singkat Alex
Di pulau itu Alan masih berusaha mengendap endap memasuki gedung, Ia berhasil membekap salah satu pengawas dan mengambil baju pengawas itu untuk berkamuflase, walau seorang ilmuan ayahnya dulu adalah Letnan sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam bela diri
“apa ini” gumamnya melihat isi rumah itu yang seperti gedung I.V.V dulu, Alan berpikir jika I.V.V mungkin masih mengembangkan penyempurna vaksin secara menyeluruh namun siapa yang mereka bawa kesini, apa mungkin di era order baru I.V.V masih menggunakan cara yang sama
itu semua terlintas di benak Alan yang terus menelusuri lorong dengan berhati – hati banyak ruang kosong yang ada
“LEPASKAAN AKU SIALAAAN” teriak seseorang yang terdengar di lorong
“suara itu” Alan sangat familiar dengan suara yang ia dengar segera ia berlari mencari sumber suara. Dimana, siapa, apa yang terjadi, itu yang berputar di kepala Alan karena suara itu mengingatkannya pada seseorang
DRAP...
DRAP..
DRAP..
Dengan napas tersengal ia melihat ruangan yang ia lewat “suara nya bergema aku tidak tau dimana sumbernya” gumam Alan
BRUUGH.. terdengar dari ruangan didepan Alan dengan perlahan ia menghampiri ruangan itu, terlihat dari kaca seorang wanita yang tengah terduduk sembari tertunduk memeluk kedua kakinya
Tuk tuk Alan mengetuk kaca “hei..” namun wanita itu tidak menggubris
Alan mencoba membuka pintu namun terkunci, terdengar suara seseorang datang
“kenapa dia diam saja” gerutu Alan
Tuk tuk Alan mencoba mengetuk kaca lagi
“apaan ini, kenapa dia ada disana” guamam Alan dengan wajah terkejut
Ia terkejut karena mengira I.V.V sudah tidak mengekang atau memaksa siapapun dalam hal mencari vaksinasi dan penelitian ia kira orde baru akan lebih manusiawi, ditambah lagi siapa yang ada di hadapannya sekarang membuat nya lebih marah lagi “bagaimana kau ada disanaa!!” bentak Alan dari luar dengan mata berkaca – kaca melihat sosok wanit itu, suara itu terdengar oleh petugas yang sedang berjalan di lorong
“siapa kau?!!” bentak petugas
Alan menoleh dengan wajah emosi dan menghampiri petugas, belum sempat mengeluarkan senjata api Alan sudah menghantam wajahnya dan mereka berkelahi, Alan melempar pistolnya lalu menghajar pertugas itu sampai tidak sadarkan diri
Ia meraba siapa tau petugas ini membawa kunci atau semacamnya, Alan berusaha membuka pintu itu dengan kunci yang ia temukan namun pintu itu masih tidak bisa dibuka. Alan melihat ke kaca wanita itu sudah tidak ada di tempatnya Alan mengedor kaca tapi tidak ada respon lalu ia mencoba mendobrak pintu itu
Satu, dua, tiga kali dobrakan yang cukup membuat bahunya sakit akhirnya terbuka dan wanita berambut pendek sebahu itu terlihat terjatuh “apa kau menahan pintunya?” tanya Alan
Wanita itu nampak kesakitan ia merangkak mundur menjauhi Alan “pergii, siapa kau? Aku tidak mau lagi memberikan darahku” ujar wanita itu sembari menodongkan pisau kecil
Alan kebingungan dengan sikapnya “ada apa denganmu? Kau tidak mengenalku? Dan ini tempat apa?”
“PERGII!!!”
“dengar, aku bukan bagian dari mereka” Alan melihat dirinya dari pantulan kaca, mungkin karena ia memakai seragam yang sama denga petugas itu karena ia mengambil dari petugas yang ada di depan tadi agar berkamuflase dengan baik
“aku akan membawamu pergi dari sini” lanjutnya
Alan menatapnya ia tak kuasa menahan sedih melihat kondisinya “bagaimana ini masih terjadi padamu?” dengan suara bergetar ia mencoba mengusap wajah wanita itu
Grap... tangannya nya di tahan oleh wanita itu “siapa kau? Jangan berlaku so baik padaku” mata wanita itu memerah dan berkaca – kaca
“Lisa...” Alan meneteskan air matanya “kau benar – benar lupa denganku, apa yang sudah mereka perbuat padamu”
Terdengar kegaduhan di lorong sepertinya petugas lain sudah menemukan petugas yang tadi dikalahkan oleh Alan “sial” Alan kelimpungan mencari tempat sembunyi, Lisa menarik bajunya dan mencekik Alan “siapa kau sebenarnya?”
“Lisa aku bukan bagian dari mereka”
BRUGH suara pintu terdengar
Para petugas itu melihat kondisi sample yang ternyata adalah Lisa yang masih hidup sedang tertdur di atas ranjangnya , semua mengecek kamar itu namun tidak ada yang mencurigakan salah satu petugas melihat ke arah selimut Lisa ia mendekat dan mencoba membuka “mau apa kau?” sinis Lisa
“sejak kapan tubuhmu menjadi besar?”
“apa sekarang kalian mau melihat tubuhku hah!!?” bentak Lisa
Tiba – tiba Lisa mimisan semua mundur karena takut jika ada apa – apa dengan Lisa mereka bisa kena hukuman berat oleh Pemimpin mereka “apa yang kau lakukan!!” salah satu dari petugas itu memarahi petugas yang mencoba membuka selimut Lisa
“cukup pergi kalian, aku lelah” kata Lisa sembari kembali tertidur
Ternyata yang ada di dalam selimut itu adalah Alan yang bersembunyi, setelah semuanya pergi Alan pun membuka selimut itu dan mencoba memeriksa kondisi Lisa
“kau tidak apa – apa?” melihat Lisa yang berdarah
“jauhkan tangannmu dariku” Lisa menepis
“pergilah” lanjut Lisa
“apa? Lisa kita harus pergi sekarang”
“pergi, sebelum mereka kembali jika kau tertangkap mereka akan membunuhmu” muka Lisa nampak pucat dan suaranya menjadi lemah
Alan menggelengkan kepala “dengan keadaanmu seperti ini kau pikir bisa aku meninggalkanmu?”
“ayolah Lisa kita harus..” saat Alan menarik Lisa agar mau ikut tubuh Lisa terjatuh dan ia tidak sadarkan diri “LISAA!”