
Alan yang selesai mandi menuju ruang tamu terkejut karena ada Ben dan Hanna yang sedang berbincang dengan Lyta
Alan bersembunyi di balik tembok, “ keluar lah” sahut Ben
Alan keluar dengan mengenakan baju milik Ben “hei baju itu belum pernah kupakai baru ku beli seminggu lalu”
Hanna menyenggol Ben tanda untuk Ben berhenti membahas baju nya “aku memberikannya, maaf tidak izin dulu padamu” kata Lyta
“tidak apa – apa” sahut Hanna
“aku tidak masuk kekamar kalian ko” lanjut Lyta
Hanna tertawa kecil “aku tau itu”
“maafkan aku karena sudah mengganggu kalian aku disini karena dibawa oleh Alex” sahut Alan
dengan suara bass nya yang khas lalu ia melihat keluar jendela “setelah hujan reda aku akan pergi”lanjutnya
Ben menarik dan mendudukan Alan di sofa dengan Ben yang duduk disebelahnya “ kau mau pergi kemana?” tanya Hanna
Alan hanya menatap mereka bergantian
“ceritakan apa yang sebenarnya terjadi” kata Lyta
Tatapan Alan berubah menjadi serius
“sebelumnya aku mau bertanya pada kalian, dimana Lisa?”
Semua terdiam dan menarik napas, Lyta mengerutkan dahi “aku tau kau diasingkan sejak kejadian itu tapi apa kau benar benar tidak tahu kabar kami setelahnya?”
Lalu Ben menyeruput kopi itu “ kurasa dia memang tidak tahu, aku dibawa dengan Arya lalu disiksa diruang bawah tanah milik ayahnya saat itu kami sempat melihat Alan yang sudah tidak sadarkan diri dibawa entah kemana” jelas Ben
Hanna menatap sedih Ben mengingat suaminya pernah mengalami hal itu, Ben yang menyadari itu mengangguk dan tersenyum pada Hanna tanda ia memberitahu jika semua sudah berlalu
“kau benar saat itu aku tidak ingat apa yang terjadi setelah ayahku yang akan menebasku itulah ingatan terakhirku dan tidak ada informasi apapun tentang kalian saat itu, karena saa itu pun aku benar – benar bingung dengan kondisiku dimana ayahku yang dinyatakan tewas dalam keadaan berkhianat dan kakakku yang menjadi gila”Alan tertunduk
Lyta terkejut mendengar kabar Rachel, lalu Hanna memberitahu jika Lisa sudah tiada mereka menceritakan kejadian tower vaksin saat itu, Alan mengusap muka lantas menghela napas
“sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa juga kau bisa bertengkar dengan Alex?” tanya Lyta
“aku melihat Lisa”
Semua saling tatap “aku tau apa yang ada dipikiran kalian, terserah kalian mau menganggap ku gila atau apapun” kata Alan
“mungkin kau berimajinasi karena dehidrasi yang kau derita” Hanna mengecek nadi dan kelopak mata Alan
“hentikan, aku tidak separah itu” Alan menjauh dari Hanna
“apa perlu aku menunjukan makamnya?” sahut Lyta
“tidak perlu” Alan bergegas pergi
“kau mau kemana?” Lyta pun ikut berdiri
Alan akan kembali ke pulau itu dan mencari Lisa namun Lyta menghalangi pintu “ kau gila, kau itu dilarang masuk ke ibu kota lantas jika kau keluar apa menurutmu yang akan terjadi?”
“minggir” ketus Alan
“aku tidak begitu mengenalmu namun aku tau kau banyak membantu Lisa jika Lisa tau dia pasti akan melakukan hal yang sama denganku”
...****************...
Alex nampak lesu dan terduduk di meja kerja yang ada dikamarnya jam menunjukan pukul 10 malam, dering telepon terdengar “kenapa?” Alex mengangkat telepon itu
“misi selesai mereka sedang menuju ke timur dan akan kembali minggu depan” lapor seseorang
“apa ini tentang pedagang yang bersama Arya?”
“benar pak”
Alex menutup telepon, ia teringat kembali pada kata – kata Alan walau memang itu mustahil karena ia yakin Lisa sudah tiada lantas siapa yang di lihat oleh Alan pikirnya
“kau sedang apa disana” gumamnya sembari mencium selendang milik Lisa yang jadikan kerudung saat kejadian tower vaksin itu
Ia menatap ke luar jendela nampak langit malam yang sepi dan gelap lagi – lagi Alex merasa kesepian ia mengingat semua memori tentang orantuanya dan juga Lisa lalu terlelap dalam tangisan kerinduan.
Pagi hari terdengar suara riuh di arah dapur Alan terbangun sembari berusaha membuka matanya ia berjalan lalu tejatuh karena merasa tubuhnya sangat lemas “kenapa dengan badanku” gumamnya yang berusaha berdiri
Lyta dan Ben pun nampak datang “ada apa?”
Hanna membuka baju Alan nampak memar dimana – mana “apa yang kau lakukan” Alan nampak malu karena Hanna tiba – tiba membuka bajunya
“ kau harus istirahat di kasurmu, kau menderita dehidrasi dan cedera otot di beberapa bagian tubuhmu karena mungkin akibat benturan dan kelelahan” jelas Hanna
“aku tidak punya waktu berbaring disini aku harus membujuk Lisa untuk keluar dari sana” kata Alan
Mukanya merah karena demam, “ bagaimana bisa dengan kondisimu seperti ini? Kau bisa menyelamatkannya jika tubuhmu sembuh” kata Hanna
“kenapa kau mengiyakan ocehan anak itu sayang? Jelas dia berhalusinasi” bisik Ben
“dia sedang sakit apa perlu aku mendebat nya?”
Ben mengangguk dengan jawabannya istrinya, Hanna meminta Lyta membawakan alat – alat medis seperti infusan dan lain lain dalam ruangan kerja Hanna
“kalian tidak melihat kondisinya seperti apa, dia lebih kurus dari sebelumnya namun matanya tetap terlihat indah dia nampak kehilangan selendang jilbabnya namun ia tidak lupa akan siapa penciptanya” Alan berkata dengan serius dengan suara nya yang serak
Hanna nampak menatap mata Alan “dia nampak tidak berbohong namun tidak mungkin juga yang ia lihat itu Lisa” pikir Hanna
Alex nampak masuk ke kamar “dia mengoceh lagi” sahut Alex mengejutkan Ben dan Hanna
“kenapa tidak menyapa” ujar Ben
“maaf, aku hanya kesal dengan dia” kata Alex sembari melihat Alan
“dia hanya berhalusinasi karena dehidrasi dan kelelahan” jelas Ben
“jangan sampai dia mengoceh didepan Adam” Alex pun pergi
“anak itu apa dia menyuruhku untuk menjaga anak ini” gerutu Ben
Namun Hanna membenarkan perkataan Alex jika sampai Alan bicara ia bertemu Lisa di pulau itu maka Adam akan mencari dan berupaya menemukan nya walau ia sudah melihat makam kakaknya itu ada dan menyaksikan kematian nya.
Lyta yang datang membawa beberapa perban ia sudah mendengar dari luar tadi ia juga berpikir mungkin Adam tidak akan se ambisi itu karena ia sudah melihat jelas mayat kakaknya
...****************...
Di wilayah timur Arya dan para pedagang serta pasukan khusus yang Alex kirim akan segera kembali namun mereka mendapati salah satu dari pedagang itu tiba – tiba jatuh sakit hingga harus singgah dahulu di sebuah klinik di sana
Pedagang itu nampak demam tinggi dan meraung – raung gejalanya mirip dengan perubahan Kroon namun ini lebih parah
Arya segera menghubungi markas namun sinyal mereka buruk disana karena sedang ada badai, “bagaimana ini? Ada apa dengannya?” kekhawatiran dari pedagang lainnya
Arya mengusulkan rencana untuk pasukan khusus dibagi menjadi dua yang lain membawa pulang pedagang yang ada dan sehat lalu sisanya ikut menunggu kondisi pedagang yang sakit itu
Akhirnya ketua pasukan itu mengusulkan untuk tetap bersama Arya dan yang lainnya diperintahkan untuk pulang agar bisa mengabari kondisi yang ada
Arya meminta pada pemerintah wilayah timur untuk menyediakan ruang isolasi bagi pedagang itu tentunya tidak di klinik namun di rumah sakit yang lebih besar
Setelah pemindahan selesai Arya meminta untuk seorang dokter memeriksa kondisi pedagang itu secara signifikan karena Arya berjaga – jaga jika ini bukan penyakit biasa
“apa kau lihat dia digigit?” tanya Arya pada komandan pasukan khusus bernama Bravo
“tidak aku tidak melihat para pedagang terluka”
“kecuali, jika dia menyembunyikannya” lanjut Bravo
Arya bergegas masuk namun ditahan oleh Bravo “sebaiknya anda meminta dokter saja yang mengecek apa ada luka di tubuhnya, terlalu berbahya jika anda yang mengecek sendiri” tahan Bravo
Kemudian seseorang datang membawa dengan telepon di tangannya “permisi tuan ini ada telepon dari Lentan I.V.V” ujar pria dengan jas hitam itu
“halo” Arya mengangkat telepon itu
“ saya sudah dengar kabar itu, tolong berikan status terbaru dari pasien saya akan segera berangkat kesana”
“oh iya dan kurasa pasukan serta pedagang yang baru tiba sebaiknya dicek kesehatannya, untuk berjaga – jaga” saran Arya
“oke” Alex menutup telepon
Hanna selaku direktur dari rumah sakit sains milik I.V.V pun di minta menangani pemeriksaan terhadap pedagang dan pasukan yang akan seger tiba dari misi ke wilayah timur, serta Letnan alias Alex pun segera memberitahu par pemimpin termasuk Rey selaku president I.V.V saat ini
Mereka pun mengadakan rapat penting segera dengan dihadiri eksekutif dan para pemimpin I.V.V guna membahas apa yang sedang terjadi.