DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 42 Chapter 2 - The Last Mission : game over (revisi)



Hari semakin sore saat kami baru tiba di langit Indonesia atau Nusantara sekarang namanya, kami harus segera mendarat karena jika sudah malam akan sulit untuk mencari landasan mendarat helikopter ini, “ kau tahu jalur udara kan?” Ben memastikan sembari melihat peta


“ tenang saja sebelum gelap kita sudah mendarat, kau bantu aku nanti untuk mencari lapangan atau lahan kosong karena tidak mungkin kita landas di hutan terlalu berbahaya” sahut Alan


Alif tertidur sejak awal perjalanan kurasa ia memang membutuhkannya sebaliknya aku tidak bisa memejamkan mata sedikitpun banyak sekali fikiran yang datang di kepalaku, benar saja hari sudah mulai gelap perlahan helikopter ini turun di sebuah ladang rumput yang luas “ Alan apakah suara desingnya tidak akan mengundang Kroon?” tanyaku karena suara helikopter sangat berisik ketika mendarat


Alan pun menoleh setelah berhasil mendaratkan helikopter dengan aman “ tidak juga, kemungkinan besar mereka akan datang menyerang” jawabnya


Kami pun bergegas pergi menuju hutan terdekat sebelum Kroon itu datang, sebelum memasuki pulau kami harus menyebrang lagi dengan kapal air yang sudah disiapkan oleh Komandan kami harus melewati hutan ini untuk sampai di pelabuhan yang berada di sebuah desa, karena hari sudah gelap kami pun memutuskan untuk beristirahat dengan satu orang berjaga


Di kediaman Letnan, Rachel yang sedang berada disana karena tidak di izinkan untuk tinggal di gedung apartemen miliknya lagi pun mendengarkan rencana Letnan dari balik pintu ruang kerjanya , ia sudah memberi perintah pada pembunuh bayaran yang ia sebar di hutan dengan telpon miliknya, hutan pinus ini menjadi medan ajang pembunuhan keji bahkan ia juga sudah menyusun strategi agar membuat kami terpencar dengan begitu lebih muda untuk membunuh orang yang tidak menguntungkan untuk nya


Di hutan aku yang baru terbangun hanya melihat Luna, Alan, Alif tanpa adanya Ben dan Arya mungkin mereka sedang mencari makanan fikirku, lalu tak lama yang lainpun terbangun hingga beberapa lama kemudian Arya dan Ben tidak juga muncul “ kau yakin mereka sudah tidak ada sejak kau bangun?” tanya Alifa


“ mereka memang sudah tidak ada” jawabku sembari menenangkan Luna yang mulai panik


“ siapa yang jaga semalam?” tanya Alif


“ Ben” sahut Alan


“ kenapa tidak kau saja, orang sepertinya tidak bisa untuk ditugaskan menjaga” kata Alif


“ maaf aku tertidur begitu saja” kata Alan


Kami kebingungan sekarang harus bagaimana dan kemana mencari mereka, kami pun mulai mencari keberadaan mereka walau entah dimana “ kita cari saja sembari menuju pelabuhan” kata Alif


“apa kalian akan meninggalkan kakaku?” Luna menghadang jalan di depan kami


“ kami akan cari tapi jika mereka tidak ditemukan maka-,”


“ kami akan berusaha menulusurinya” potongku


“ Lisaa berhentilah memperlakukan dia seperti anak – anak” ketus Alif


“ Alif kau tidak mengerti, Arya kakaknya dan dia sangat berharga untuknya” kataku menatap tajam


“ hei Luna bersikaplah dewasa kau tidak bisa bergantung terus pada kakakmu” ketus Alif


Alan menahan Alif dengan menarik bahunya memberi kode untuk berhenti berbicara, sikap Alif menjadi lebih tegas dan galak apa ini efek dari racun didalam tubuhnya. Sudah cukup lama kami berjalan tapi tidak ada juga tanda – tanda dari Arya dan Ben, “ jangan jangan ayah sudah tahu keberadaan kami” batin Alan


Di Pulau I.V.V


Di ruang rahasia Lyta menunggu Komandan untuk mempertanyakan sesuatu yang mengganjalnya tanpa ada Alex disana karena dia harus menghadiri konferensi yang diadakan oleh Letnan untuk menggantikan Komandan


Terdengar pintu ruangan terbuka “ ada apa Lyta, apa kau mendapatkan informasi penting?” tanya pak tua itu


“ aku lupa satu hal, saat konferensi seminggu yang lalu Letnan membahas soal kedatangan Lisa dan yang lainnya itu artinya dia sudah tahu jika mereka akan datang?” tanya Lyta


“ yah kau benar, dia sudah mengetahuinya kurasa itu dari orangku yang berkhianat” jawab Komandan


“ apa? Lantas percuma saja kita melakukan ini” kata Lyta


“ tenang saja aku dan Alex baru saja menjalankan rencana lain”


“ lalu bagaiaman nasib Lisa dan temanku yang lain, jika mereka sudah sampai di hutan mereka akan mati” cemas Lyta, Komandan tidak menjawab dan hanya terdiam sembari menatap layar monitor besar disana.


***


kondisiku dengan yang lain sangatlah kacau kami sempat berdebat hebat karena Alif dan Luna yang bertengkar aku tidak bisa membenarkan sikap Alif yang menyerah begitu saja dan memutuskan meninggalkan Arya dan Ben tapi disisi lain kami juga bingung harus bagaimana. Hari sudah menjelang siang terasa cahaya matahari yang sudah berada diatas kepala


“ aku haus” kataku terduduk


Alan menoleh “ aku akan carikan air kalian istirahat saja dulu”


“ tidak perlu” Alif pun pergi mencari air


Alan pun duduk disebelah Luna “ kenapa dengan nya ya, sikapnya random sekali sama seperti Alex” gerutuku


“ mungkin dia sedang mengkhawatirkan kawanya” sahut Alan


“ kenapa selalu kakaku yang menghilang dan dalam bahaya kenapa bukan dia saja” Luna menggerutu tentang sikap Alif


“ hei tidak baik bicara seperti itu” kataku


Alif pun kembali dengan membawa air akhirnya kami bisa melepas dahaga ini, “ apakah ini aman?” tanyaku


“ tenang saja sebelum kau minum aku sudah meminumnya, tidak mungkin aku memberimu sesuatu yang berbahaya” jawab Alif


“ wah sikapmu sangat berbeda pada ka Lisa” sindir Luna


Alif yang melamun tidak menggubris sindiran itu dia memikirkan seseorang dengan senjata yang ia lihat di tepi sungai tadi siapa dia apakah dia seseorang seperti kami yang selamat atau jangan – jangan rencana kami sudah tercium oleh Letnan fikir Alif


“ lif apa yang kau pikirkan, jangan kau bebani dirimu sendiri cerita kan pada kami” sahut Alan menyadarkan lamunan Alif, Alif hanya terdiam lalu terdengar suara tembakan kami terkejut dari mana asalnya tapi jika dari suaranya itu sangatlah jelas dan dekat


“ ka Lisa apa lagi itu” Luna ketakutan


“ aku akan memeriksanya” kata Alif


Ia bergegas “ tunggu” disusul oleh Alan, aku dan Luna tidak di izinkan untuk ikut dengan mereka padahal menurutku lebih baik kami tidak berpencar lagi aku masih curiga dengan hilangnya Arya dan Ben, sesampainya di sumber suara Alif dan Alan menemukan seseorang dengan darah di kakinya Alan yang hendak menolong di tahan oleh Alif “ kau ditembak?” selidik Alif pada pria itu


“ ya aku ditembak” jawab pria itu


Alan segera mencari dedaunan yang bersih lalu membantunya menutupi lukanya dengan itu, “ siapa yang menyerangmu?” tanya Alan


“ entahlah mereka membawa senjata”


“ kau siapa kenapa kau ada ditengah hutan seperti ini” selidik Alif


Alan pun berdiri lalu Alif menariknya dan berbisik untuk membiarkan orang itu setelah mengobatinya karena mereka tidak bisa membawa orang dalam misi ini, aku dan Luna tengah cemas karena Alif dan Alan tidak kunjung datang jangan – jangan mereka juga menghilang sama seperti Ben dan Arya,


“ ka sebaiknya kita susul mereka” kata Luna


“ baiklah”


Saat aku hendak melangkah untuk menyusul Alif dan Alan beberapa pria bersenjata berbaju hitam menghaadang kami dari depan dan belakang kami, “ jangan buat luka serius, mereka target utama kita” perintah salah satu pria yang mengenakan topi senada dengan warna bajunya


“ apa lagi sekarang” gerutu Luna


“ hei nona bisakah tatapanmu lebih sopan sedikit” Pria itu melangkah maju


Walau dengan rasa ragu dan takut menghadapi mereka aku coba menguatkan diri terlihat berani didepan Luna agar dia tidak bertambah gusar karena kehilangan kakaknya “ jika aku tanya kalian siapa, percuma bukan kalian juga tidak akan menjawabnya?” sahutku


“ HA- HAHAHAHA, jika sudah tahu mengapa masih bertanya?” Pria itu segera memberi kode untuk menangkap kami


Dengan sigap aku berusaha melawan dengan pisau belatiku mereka memang bersenjatakan senapan tapi aku ragu jika mereka berani menyakitiku jika mendengar ucapan pria bertopi tadi, “Luna, LARII!!” kataku mendorog Luna ke samping agar dapat lolos “ ta-tapi” ragu Luna


“ CEPAAAT!!” bentaku


Aku bergelut dengan mereka melihat Alif dan Alex yang selalu bertarung didepanku membuatku sedikit belajar gerakan bela diri ini, aku memukul wajah mereka lalu kakiku menendang perut yang satunya


“ sial, gadis ini tangguh juga tak kusangka seorang surviver memang mampu bertahan” batin pria bertopi itu


“ hosh-hosh, wah aku tidak menyangka bisa bertarung” gumamku dengan senyuman diwajah sampai lupa harus melarikan diri, segera aku menyusul Luna tapi salah seorang dari mereka berhasil mengejar Luna dari belakang terlihat Luna yang berlari kepayahan mencoba kabur dari kejaran orang itu, aku pun segera menyusul mereka dan menusuk orang itu dari belakang menggunakan pisau belati miliku “ AAAARRGH” teriaku gemas, Luna terhenti karena mendengar teriakanku “ ka Lisa cepat” katanya, kami pun berlari


“ HEI, dasaar gadis nakal” teriak pria bertopi dengan beberapa anak buahnya


Sial mereka tidak habis – hiabs fikirku, kami pun berlari terus menghindari mereka dengan nafas tersengal hingga sampai diamana kami bingung karena jalan nya dipenuhi rungkun atau sampah kayu yang menghalangi membuat sulit untuk berjalan salah sedikit saja kami bisa tertusuk , dari kejauhan terdengar suara mereka yang masih mengejar kami


Melihat ada jurang yang tidak cukup dalam kami memutuskan untuk loncat kesana namun Luna menolak


“ ka itu jurang, kita bisa mati” katanya


“ Luna ini tidak dalam hanya beberapa meter kita bisa lolos dan mencari Arya juga Ben”


“ bagaimana ka?, Aif dan Alan saja menghilang kan, lantas bagaiaman kita bisa selamat?” tangisnya


Aku menoleh kebelakang mereka semakin mendekat “ jangan merengek Luna” aku menarik Luna dan lompat bersama kebawah jurang


BRUGG


“ a-aau, sakit sekali” kata Luna


“ hah- hah, cepat masuk ke goa itu” kataku yang juga meringis kesakitan


Kami mencoba merangkan karena masih terlalu sakit untuk beridiri setelah jatuh dari atas jurang, “kemana mereka?” terdenag suara pria itu,


“ sepertinya mereka loncat” sahut anak buahnya


“ ini lumayan dalam untuk ukuran wanita yang meloncat, mereka akan pingsan” kata pria itu


“ bukankah mereka surviver, mungkin mereka bersembunyi disekitar sini”


“ BERISIIK, kalian hanya menduga – duga, menangkap seorang gadis saja tidak bisa” bentak pria itu


Lalu samar – samar terdengar mereka pergi karena tidak ada lagi suara orang yang berbicara, kami pun mencoba keluar goa perlahan dengan hati – hati “ ayo, kita harus pergi dari sini” ajaku


Pria yang sedang ditolong oleh Aif dan Alan ternyata hanya berpura – pura terluka dengan menggunakan darah palsu dikakinya ia adalah salah satu anak buah kelompok pembunuh bayaran yang tadi menyerangku dan Luna “hehehe, kalian memang gampang sekali untuk di kecoh” sahut lelaki itu, Aif dan Alan menoleh dan terkejut melihat kondisi lelaki itu yang bisa berdiri seperti sedang tidak terluka “ hei bukankah kau terluka” kata Alan


“ kami pikir akan perlu strategi khsusu untuk membunuh kalian ternyata begini saja sudah terkecoh?” kata Lelaki itu


Alif yang baru sadar jika mereka dijebak pun bergegas berlari kembali ketempat Lisan dan Luna berada “ sial” gumamnya, langkahnya terhadang oleh Pria bertopi yang mencoba menangkap Lisa dan Luna tadi, “ kau mau kemana?” kata si Pria itu


Batin Alan “ sial, ini pasti kerjaan ayah”, langkah pria itu semakin dekat ia menarik sebuah pedang dari anak buah nya “ tenang saja kalian juga target khsusu karena orangtua kalian yang memintanya jadi kalian akan kami biarkan hidup” kata pria itu


“ huh, kau pikir bisa membunuhku, kau tidak lebih dari tikus pengerat, cuh” Alif menantangnya dan meludahinya “ DIMANA TEMAN – TEMAN KU!!” bentak Alif


Dengan menahan emosi wajah pria bertopi itu nampak masam “ KAAAU!!, seharusnya aku memang membunuhmu”, ia merapihkan bajunya dan menghela nafas “ tidak usah buang tenagamu mencari mereka, karena mereka sudah MATI” lanjut si Priaa


Alif pun mengeluarkan pedang penanya lantas menebas lelaki yang berpura – pura terluka yang ada di belakang kami “ Alif tenanglah dulu, kita butuh informasi darinya” bisik Alan,


“ untuk apa Lisa dan yang lain saja sudah tidak ada” emosi Alif


“ hey kau ini kenapa biasanya kau yang paling realistis dan berlogika dari yang lain, fikirkan kau juga pasti sudah menebak jika ini kelakuan Letnan maka Lisa dan Luna aman mereka tidak akan dibunuh memang untuk Arya dan Ben aku juga tidak tahu pasti tapi jangan terbawa emosi” jelas Alan


“ tunggu , sepertinya mukamu familiar, diamana aku pernah melihat mu” Pria itu nampak mengusap dagu berfikir “ aaah, yah kau anak tuan Domani, kau menyebutku pengerat lalu julukan apa yang pantas untuk orangtuamu?”


Alan nampak bingung dengan apa yang dibicarakan oleh pria itu, Alan seperti pernah mendengar nama itu “ apa maksudmu? Dia adalah seorang surviver” sahut Alan


Alif nampak mengepalkan tangan dengan wajah merah padam, “ hei profesor, kau ini anak dari orang yang licik kenapa informasi latar belakang orang disekitarmu saja kau tidak tahu?” kata si pria


Alan menarik baju Alif “ keparat, saipa kau sebenarnya?, apa kau menyembunyikan sesuatu selama ini ?”


“ Lepaskan, aku tidak pernah menyembunyikan apapun, lagipula tidak ada yang perlu aku jelaskan padamu” ketus Alif


“ memang bukan padaku, tapi Lisa dan Arya bagaimana dengan mereka?” kata Alan dengan nada tinggi


“ cukup berbincang hangat nya hari ini para tuan muda” kata si pria tanpa disadari mereka sudah menembakan peluru bius pada Alif dan Alan mereka mulai sempoyongan penglihatan pun kabur


“ aku akan membunuhmu” kata Alif dengan mata teler


“ kalian sudah GAME OVER” gumam si pria bertopi pimpinan kelompok pembunuh bayaran itu


Mereka pun tak sadarkan diri lalu dibawa oleh para pembunuh bayaran itu.