DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
DIFE or LIFE SEASON 2



Alex memperketat keamanan rumah terutama di ruang kerja dan kamar Komandan ia segera bersiap untuk berangkat ke wilayah timur untuk menguji darah pasien, saat dalam perjalanan menuju pelabuhan ia mendapat telepon dari Adam, adam bertanya tentang kondisi terbaru pedagang yang tak lain adalah karyawannya


Alex menjelaskan semua rencana nya pada pasien ia memastikan jika pasien bisa sembuh. “kau yakin? Jangan membuat janji apapun padaku dan keluarganya kami disini menunggu hasil terbaik” kata adam


“baklah” Alex menutup telepon


Alif nampak sedang berbincang dengan Lyta di ruang tamu Rara hanya lewat tanpa menyapa “Rara kenapa kau tidak menyapa?” Lyta menegur


Namun Rara tidak menggubris ia hanya terus jalan dan masuk ke dalam kamarnya


“Ra!” Lyta mulai berdiri


“sudahlah dia mungkin lelah habis bermain” sahut Alif


“aku sebenarnya khawatir pada anak itu, dia banyak kehilangan kebersamaan dengan orangtuanya” kata Lyta


“sebenarnya apa yang mereka kerjakan?”


“kau serius bertanya padaku? Maskudku tidak mungkin kau tidak tahu sama sekali”


“ aku tahu sekarang I.V.V sedang mengembangkan vaksin kedua yang aku bingung kenapa dengan orangtua Rara?”


Lyta menjelaskan jika Hanna dan Ben memiliki peran penting selain mereka menjadi saksi dan mengetahui kekebalan imun dari Lisa dulu mereka juga memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh Negara apalagi sekarang I.V.V dalam proses berkembang sebagai Negara baru pertama di dunia setelah wabah besar yang membinasakan seluruh Negara di dunia


Rara yang mengintip Lyta dan Alif yang sedang asik berbincang pun diam diam memasuki kamar Alan ia membuka dan menutup pintu kamar dengan perlahan, Rara mendapati Alan yang tengah tidur ia memeriksa ruangan sekitar dan duduk disebelah Alan


“kenapa kau tidur terus sih, apa jika aku bangunkan dia tidak apa apa ya?” gumamnya dengan wajah berpikir


Alan yang sebenarnya tidak tidur tidak tahan menahan tawanya mendegar Rara bergumam dan melihat ekspresinya “hhaha hop” Rara menutuk mulut Alan dengan tangan kecilnya


“sst..”


“kenapa”bisik Alan


“nanti ka Lyta dengar, aku susah payah menyelundup kesini”


“kenapa kau menyelendup?”


“aku mau bertanya pada mu ini tentang wanita yang menyelamatkan ku di pulau”


Alan segera membetulkan posisinya kali ini dia serius mendengarkan Rara


“apa kau juga melihatnya?” Rara memastikan


Alan mengangguk, “ ceritakan padaku bagaimana dia menyelamatkanmu?”


Rara menceritakan dari awal ia bertemu dengan wanita yang mirip dengan Lisa di pulau itu Rara juga bercerita jika ia dibawa ke sebuah rumah besar yang sudah tua namun didalamnya bukan seperti rumah pada biasanya


“ kakak itu memberiku tempat tidur dan makan tapi aneh saat aku di lantai atas suasanya layaknya rumah biasa tapi kenapa saat di lantai dasar seperti bau rumah sakit” jelas Rara


“kau juga kesana”


“iya”


Alan termenung artinya apa yang ia lihat bukanlah ilusi yang disebabkan oleh dehidrasi yang ia alami “aku harus kesana” gumamnya


“aku ikut” sahut Rara


“apa? Tidak aku tidak mau membawamu”


“kenapa? Aku menceritakan semuanya hanya padamu agar aku bisa pergi kesana”


“maksudnya?”


“aku bisa saja menyelundup ke kapal yang akan berlayar tapi setahuku jarang ada yang sengaja pergi kesana nelayan pun tidak ada yang mau memancing dan istirahat disana”


“jadi aku mau memanfaatkanmuagar bisa pergi kesana?”


“yaaah seperti itu”


“anak nakal, lagi pula untuk apa kau ikut”


Tiba – tiba Lyta menerobos masuk “ apa yang kau lakukan disini?”


“kenapa kau tidak mengetuk ?! kau tidak sopan” Rara marah


“kau marah? Seharusnya aku yang marah disini, apa perbuatanmu sekarang termasuk sopan?”


Rara mengerutkan dahinya “ kau menyebalkan” ketusnya


“apa? Kau belajar kata itu darimana?”


Alan mencoba melerai “Lyta sudahlah, Rara kamu tidak boleh seperti itu pada kakakmu”


“dia bukan kakakku!” bentaknya


“Rara!” nada Lyta meninggi


Mendengar kegaduhan didalam Alif pun menyusul dari ruang tamu ia melihat Lyta dan Rara sedang bersitegang


“apa?” benarkan kau memang bukan kakakku aku muak dengan semua ini kalian boleh menganggapku anak – anak tapi yang sebenarnya anak – anak disini itu kalian !”


Alif mencoba melerai “Rara ada apa?”


“kalian yang selalu ribut dan bertengkar hanya karena wanita sample itu membuatku sesak dan muak apalagi kedua orangtuaku yang sibuk seperti orang gila mencari sesuatu yang mungkin tidak ada dan tidak akan mereka temukan”


Plak…


Lyta refleks menampar Rara “ cukup kau mengoceh dan menyebutnya sample”


“Lyta!” sahut Alan


Rara pergi dan mengunci kamarnya


Tangan Lyta gemetar, ia pergi dari rumah Alan mencoba menahannya “apa kau menganggap serius anak – anak yang memberontak?”


Lyta terus berkemas dan pergi, Alan menghela napas “ kenapa jadi begini”


Alif sudah menghubungi Hanna dan Ben memberitahu keadaan Rara sekarang, Hanna meminta Alif menjaganya sementara Hanna akan pulang ke rumah besok


“ Rara kau belum makan malam ayo makan dulu” Alif berkali kali mengetuk dan membujuknya


“biar saja dulu dia masih marah” sahut Alan


Paginya hanna sudah berada di rumah ia berterimakasih pada Alif karena sudah menjaga Rara “ apa Lyta bilang dia mau kemana?” tanya Hanna


“ dia tidak mengatakan apapun, rencananya habis dari sini aku juga mencari Lyta” jelas Alif


Hanna mengangguk “ suruh dia pulang katakan aku tidak marah”


Alif mengangguk dan pamit, Hanna mengetuk pintu Rara “Rara ini mamah ayo bicara”


Tidak ada sahutan dari dalam kamarnya juga dikunci sepertinya dia tertidur pikir Hanna


Hanna membuat secangkir teh dan duduk di ruang tamu “Hanna” sahut Alan


“jika dia bangun jangan dimarahi, aku juga mau minta maaf karena Rara mungkin seperti itu karena kehadiran ku juga disini”


Hanna menyeruput teh hangatnya


“ kau tidak perlu menyalahkan diri seperti ini yang seharusnya disalahkan adalah aku dan Ben kami sebagai orangtua terlalu sibuk “ kata Hanna


“ dia masih terlalu kecil mungkin jika dia sudah dewasa ia akan mengerti apa yang orangtuanya lakukan sekarang “


Hanna senyum “terimakasih”, Alan pun membalas dengan senyuman ia berdiri dan hendak kembali ke kamar “tunggu” sahut Hanna


“aku boleh bertanya sesuatu?” lanjutnya


Alan mengangguk “ kemari lah” Hanna menyuruh duduk lagi


Sembari menyeruput teh nya Hanna menanyakan perihal apa yang dilihat oleh Alan saat ia di pulau itu


“bukankah kau sudah tahu jawabannya, kau sendiri yang mendiagnosis ku jika aku hanya mengalami halusinasi karena dehidrasi” jawab Alan


Hanna mengangguk “jika kau tidak mau menceritkannya tidak masalah, aku akan memeriksa kondisi Rara” Hanna tersenyum


Dibalas senyum oleh Alan “kenapa dia seperti berubah pikiran padahal kemarin ia yang mendiagnosis ku” pikir Alan


Rara yang sedari tadi berdiri bersembunyi di dekat sofa membuat Hanna terkejut “Rara kau sedang apa nak?”


“dia tidak berhalusinasi, aku juga diselamatkan oleh Lisa” sahut Rara


Hanna senyum dan memeluk anaknya itu “sini kau pasti lelah dan lapar ya nak”


Rara menolak pelukan ibu nya itu “ dengar mah, aku serius dia memang masih hidup”


****


Alex sudah sampai di wilayah timur ia sudah menyerahkan formula itu pada pihak peneliti disana “jika saja I.V.V tidak egois kita tidak akan serepot ini dan mereka itu malah membuat bocor formula jika seperti ini caranya “ gerutu Arya


“kau mengomel pun percuma saja mereka memang keras kepala” kata Alex


“ kenapa dia hanya tertidur?” lanjutnya


“entahlah tapi mereka memberikan nya Sesuatu seperti obat yang disuntikan setiap setengah jam sekali” jelas Arya


“obat apa?”


Arya mengangkat tangan tanda tidak tahu, Alex segera meminta pertemuan dengan para perwakilan medis dan peneliti disana


Mereka berkumpul segera di sebuah ruangan dengan meja berbentuk bulat dengan monitor ditengahnya


Alex berdiri dan memberi salam “ selamat siang maaf jika sudah menganggu waktu kerja anda semua”


Semua berdiri “selamat siang Letnan”


Lalu mereka duduk kembali, Alex melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan “ saya disini ingin membahas tentang kondisi terbaru pasien, dengan apa yang saya lihat kondisi nya nampak sangat tenang dari sebelumnya dan rekan saya bilang para tim medis memberikan sebuah suntikan setiap 30 menit sekali saya penasaran apa yang kalian berikan?”


Perwakilan dokter disana bediri untuk menjawab “ izin menjawab, ia betul sekali kami memberikan obat penenang setiap 30 menit sekali”


Alex menggaruk tepi alisnya “ huh, maaf bukan nya aku meragukan keahlianmu atau tim mu atau para tim medis dan peneliti disini tapi apa kalian tidak memikirkan efek samping dari pada dosisi yang kalian berikan padanya ?” nada Alex mulai meninggi


“ kami sudah memepertimbangkan semua nya dan kami berani memberi dosis ini karena pasien sudah bukan lagi manusia” jelasnya


“apa?”


kepala sekaligus perwakilan dari tim peneliti pun berdiri “maaf izin bicara biar saya bantu menjelaskan yang dimaksud bukan manusia disini ialah system pencernaan dan juga organ dalam nya sudah mati jadi kami pikir ini tidak berefek sama seperti manusia normal lainnya makanya kami berani memberi dosis itu”


“ prof jika pencernaannya mati atau organnya sudah mati bagaimana dia menyerap obat yang kalian berikan selama ini ? bukankah penyerapan itu terjadi di bagian pencernaan”


Mereka saling menatap pertanda bingung bagaimana menjawab Alex “hm.. kami sudah mengecek semua kondisi tubuh pasien sebelum memberi atau mengambil tindakan dan memang dari hasil ronsen dan semua nya system pencernaan nya dan beberapa organ dalam sudah tidak berfungsi”


“ dan saya rasa karena virus nya itu tidak akan berefek parah jika kami berikan dosis lebih padanya” lanjut nya


“ aku mengerti kau berpikir ia sudah mati dan hanya sebagai mayat hidup saat ini, tapi jika ada kemungkinan sekecil apapun tolong jangan abaikan itu dan jangan memberikan dosis tanpa persetujuan kami, memang dia terlihat seperti mayat hidup saat ini namun kita tidak pernah tahu bisa jadi ia sedang melawan virus itu sekarang dan berusaha untuk sembuh, keluarganya sangat menunggu kepulangannya dan berharap ia baik baik saja” jelas Alex


Alex pergi dengan wajah emosi ia menyuruh Arya untuk menghubungi Hanna secara pribadi lewat ponsel miliknya


“ kenapa kau tidak menggunakan ponselmu?” tanya Arya


“ aku tidak tahu ponsel ku dimana” kata Alex


Arya terheran dengan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan temannya itu “ halo, Hanna orang gila ini mau bicara denganmu” memberikan ponselnya sembari meledek


Alex menatap tajam Arya sembari menerima ponselnya karena Arya menyebutnya orang gila “Hanna ini aku Alex”