
Aku melihat kearah kapal itu terlihat Alan dan Ben baru sampai dan sedang menaiki tangga menuju kapal itu “ mereka sudah sampai” kataku, Luna pun ikut memperhatikan
Srkk sambungan masuk “ kami baru saja sampai” lapor Alan
“ yah aku melihat kalian” jawabku
“ kalian hati – hati dan waspada ya” lanjutku
Tanganku gemetar keringat dingin Luna menjadi cemas melihat ku seperti menehan rasa khawatir yang besar “ ka kau baik – baik saja kan, ka jangan membuatku jadi semakin panik dan cemas ka” katanya
“ maaf Luna kali ini aku benar – benar khawatir, takut, cemas karena mereka pergi tanpa Alif dan tidak ada Arya disini. Memang Alan sudah mengetahui semua tentang Kroon tapi ia belum pernah terjun langsung menghadapinya lalu Ben dia gampang sekali gugup dan cemas mungkin jika saja ada Alif dan Arya kemungkinan safety nya lebih besar” jelasku
Terpikir oleh Luna yang kukatakan benar dua orang itu yang paling berpengalaman, kami harap – harap cemas sekarang “ kalian diamlah jangan berisik kami jadi tidak fokus” sahut Alan
“hah kau mendengar percakapan kami?” tanya Luna terkejut
“ sebenarnya bisa tapi jika menekan tombol pada erphone saat mencari sinyal” sahut Ben
“ maaf, kondisi disana bagaimana?” tanyaku
“ sepi sekali disini, sepertinya ada beberapa Kroon dan tidak ada yang masih hidup” jelas ben
Mereka berdua segera menyusuri kapal dengan perlahan agar tidak membuat Kroon yang ada disana menyadari keberadaan mereka “ Lan, mereka diamana?” saat Ben bertanya terdengar suara Kroon yang menyeramkan
Langkah mereka terhenti “Ssst” kata Alan ia mencoba melihat sekitar takut jika ada yang tiba – tiba muncul “ aman lan lanjut” kata Ben
“ dimana sih ruang mesinnya” gerutu Ben
“Ben, lihatlah mereka berkumpul disana” Alan melihat gerombolan kroon yang dahulunya mereka penumpang dan awak kapal ini sedang berkumpul di bagian depan kapal
“ cepatlah cari dimana ruangan mesinya” kata Ben
“ iya iya”
Mereka pun masuk kedalam kapal ke kabin penumpang yang cukup luas karena kapal ini termasuk kapal untuk penginapan juga ya bisa dibilang mirip pesiar lah, lalu ada ruang disana bertuliskan teknik mesin, mereka masuk dan disambut oleh dua Kroon awak kapal
Kwrkkk
Dengan sigap Alan menebas kedua Kroon itu dengan pedang penanya
“ huuuft, refleksmu bagus” kata Ben yang terjatuh karena kaget oleh Kroon itu
Tidak membuang waktu lagi mereka segera mencari keberadaan Bahan bakar cadangannya “ Alaaan” teriak Ben menemukan beberapa bahan bakar itu
“ hey jangan teriak kau mau mati disini hah?”
“ ada banyak nih yang mana kira – kira?” tanya Ben
Terdengar sambungan masuk “ Lisa tolong cek warna di tangki bahan bakar diruang mesin ya” kata Alan
Aku pun segera menuju ruang mesin dan mengecek warna tangki disana “ hijau” kataku
“ okeh”
Mereka pun mengambil 2 dirigen bahan bakar berukuran sedang dan besar, Alan dan Ben bergegas pergi dari sana tapi Ben menjatuhkan dirigen berukuran sedang miliknya karena lantai yang licin akibat air sirup disana sontak para Kroon itu mengendus keberadaan mereka
KWRRKK
“ Lariii, cepat ambil dirigen itu” teriak Alan yang pergi lebih dulu
“ tunggu, kakiku lemas Alaan” Ben pun mengambil dirigennya lalu berupaya berlari dengan kaki yang lemas karena terjatuh dan panik meliha gerombolan Kroon itu, Alan mengecek penutup dirigen lalu ia lemparkan dirigen itu ke laut di susul dengan dirinya
Mendengar kegaduhan mereka aku dan Luna panik melihat mereka dari kejauhan “ Alaan mana Ben?” tanyaku melalui earphone karena yang terlihat menjatuhkan diri hanya Alan
BYUUUR
Suara air terdengar ketika Alan menjatuhkan diri tak lama Ben menyusul ia melempakan dirigen yang hampir mengenai Alan lalu berisap melompat tapi dari belakang ada Kroon yang menyergapnya
“ BEEEN” paniku melihat kejadian mengerikan itu dari jauh
Luna hanya terdiam kaku karena ia sudah ketakutan dan cemas sedari tadi
“ Been pakai pedangmu” kataku
Ben mencoba melepaskan diri disana ia berontak Alan berusaha kembali menaiki tangga kapal berusaha menolong Ben “ Alaaan cepat kemarii” tiba – tiba Luna berteriak
“ jangan kau coba menaiki kapal itu lagi” bentak Luna
Alan tetap berusaha menaikinya , lalu Ben berhasil melepaskan diri dari Kroon itu dan menjatuhkan diri ke Laut, mereka segera menjauh dari kapal yang dipenuhi oleh Kroon itu. Ben menyerahkan dirigen miliknya “ Ben Alan kenapa?” tanyaku karena Alan terdiam di tengah lautan mukanya terlihat pucat
Ben pun kembali berenang dan menghampiri Alan “ kau kenapa nak?” tanya Ben, melihat air disekitar nya keruh dengan warna merah juga muka Alan yang pucat
“ kau terluka!!” Ben pun segera membawa Alan ke kapal
Aku dan Luna panik melihat Alan yang berlumuran darah di perutnya saat di naikan ke kapal “ Luna cari kain atau apapun untuk menutupi lukanya “ kataku dengan menekan luka Alan untuk menghentikan pendarahannya
“ Ben bagaimana ini kita tidak punya obat” kataku panik
“ ada, kita punya” Ben berlari ke gudang dan kembali membawa kotak obat
Disusul Luna yang membawa kain “ itu obat darimana?” tanyanya
“ sudahlah cepat tolong dia” kata Ben
“ LISAA, kenapa kau hanya diam” sadar Ben
“ ma-maaf tolong berikan aku kasa”
Aku terus menguatkan diri untuk menolong Alan walau Phobia ku semakin menjadi, karena tidak ada alat untuk menjahit lukanya aku hanya memberi salep luka dan menutup nya dengan kasa dan kain setelah pendarahannya berhenti, Ben membopong Alan ke kamar penumpang yang ada dikapal bersama Luna
Aku terkulay lemas karena berhasil menghentikan pendarahan dan mengobati seseorang dengan phobia ku ini, sebelumnya Arya yang selalu menangani kasus luka besar seperti tadi aku hanya dibolehkan menangani luka kecil saat mereka tahu aku memiliki phobia terhadap darah “ oeeeek” sudah tidak tahan lagi aku pun muntah, Ben yang kembali dari kamar penumpang melihatku yang tengah muntah dan tubuhku yang bergemetar hebat
Ben berlari “ Lisa kau kenapa, ada apa denganmu?” panik Ben
“ ooooeeek, hah-hah-hah akuh tidak apa – apa” kataku dengan lemah
Ben pun membantuku berdiri ia membawaku ke panel kemudi “ Lisa beritahu aku kenapa kau seperti tadi?” desak Ben
Tanganku terus gemetar dan masih berlumuran darah, aku hanya terdiam dengan wajah pucat pasih melihat darah ditanganku
“ maaf Ben aku harus mencuci tanganku” aku pun bergegas membersihkan tanganku
Ben mengela nafas panjang “ bagaimana Alan bisa terluka”, Ben khawatir luka Alan disebabkan oleh Kroon jika benar maka itu sangat berbahaya untuk Alan juga kami yang berada satu kapal denganya tapi jika itu luka yang disebabkan oleh Kroon Ben tidak melihat Alan diserang atau digigit oleh Kroon dibagian perut
Di kamar penumpang Luna menangis melihat kondisi Alan yang tak sadarkan diri, “ Luna dia akan segera sadar” kataku yang baru dari datang melihat kondisi Alan sehabis membersihakn tangan
“ ka, lukanya bagaimana jika itu perbuatan kroon” tangsinya
“ bukan, aku tadi melihatnya itu bukan luka baru” kataku
“ bukan luka baru, maksudnya bagaiaman ka?” selidik Luna
“ jadi-,” belum selesai kalimatku Ben sudah memintaku membantunya mengisi bahan bakar ke ruangan mesin melalui earphone “ aku harus membantu Ben kau jaga dia” kataku lalu pergi
Luna masih bingung dengan maksudku “ bukan luka baru lantas luka ini kena apa?” gumamnya
“ akhirnya kau datang juga bantu aku mengangkat dirigen besar ini” kata Ben, aku pun segera membantunya, dirigen ini memang berat lalu kami masukan lagi setengah dirigen berukuran sedang barulah tengki bahan bakar ini penuh
“ hm, Lisa,, luka Alan”
“ tenang itu bukan karena kroon” kataku yang sudah menduga jika Ben juga khawatir jika Alan terluka akibat kroon
“ ooh sukurlah, tapi apa itu luka goresan atau bagaimana masalahnya saat di kapal aku tidak melihat dia diserang oleh Kroon juga menabrak atau tergores sesuatu” kata Ben
Aku sendiri tidak tahu itu luka apa saat Ben bertanya aku juga memikirkan hal yang sama darimana luka nya itu “ Lisaa kau dengar tidak?” kata Ben
“ hah, ya bagaimana aku tahu kau yang bersama nya tadi” kataku
“ tunggu, bahasa universalmu sudah semakin lancar Lisa, sebelumnya aku pusing karena kau selalu mencapur bahasa ibumu dengan bahasa universalmu kupingku pengang karena transletor di earphone ini hahaha” Ben mulai menjahiliku
“ yaah, ada hikmah dari bencana pandemi ini bukan, aku jadi bisa berbahasa universal” sahutku
*****
Arya dan Alif sedang berusaha mengubungi kami melalui earphone nya, “ Ben, Lisa masuk” Alif mencoba
“ mungkin sinyal di laut berbeda dengan sinyal didarat” sahut Arya
Mereka pun membicarakan rencana apa yang harus dilakukan saat sampai pelabuhan nanti, di belakang mereka Marko merencanakan pembunuhan terhadap Arya dan Alif agar mereka bisa mengambil alih kapal
“ kau bersiaplah setelah aku membunuh mereka tugasmu untuk membuang mereka” kata Marko
“ kau ini benar – benar manusia licik dan kejam” sahut Kye
“ kenapa kau tidak mau membantuku, baiklah kalo begitu kau yang akan kubunuh terlebih dahulu” ancam Marko
“ tidak, terserah saja hanya kau tidak mau ikut campur” Kye menyandarkan dirinya lalu terlelap
“ aku akan bawa mayat mereka kemari setelah itu kau urus mayatnya” Marko pergi ke ruangan dimana Arya dan Alif berada
Kye membuka matanya mengintip ‘kau pikir aku akan membiarkanmu membunuh adiku” batinnya, kye pun mengikuti Marko diam – diam tanpa sepengetahuannya
Di ruangan Alif kembali mencoba menghubungi kami “ Lisaa siapa saja tolong jawab aku jika kalian dengar”
Aku yang sedang menenangkan diri setelah mengobati Alan dengan memandang langit yang gelap lautan mendengar suara sambungan earphone ' Srkk', suara sambungan terdengar. Itu suara Alif walau terdengar samar dan tidak jelas namun aku kenal dengan suara ini “ Alif masuk ini Lisa” sahutku
“ Li-sa su-ara tidak Je-las” samar suara Alif terdengar
Lalu sambungan terputus kembali , aku sontak berdiri dan tidak tahu harus apa karena Alif bisa menghubungiku itu artinya mereka masih hidup rasa senang dan haru bercampur mendengar sepatah kata dari Alif aku segera mengabari ini pada yang lain
“ tersambung ?” Arya berdiri antusias
“ yah tapi tidak jelas” jawab Alif
“ itu artinya mereka selamat” sahut Arya lagi dengan senyum leganya
Arya yang kembali duduk sembari menatap langit kapal tidak sadar jika di belakang Alif Marko sedang mengendap dengan pisau belati nya bersiap mencari celah untuk menusuk Alif dibagian fatalnya, namun kecerobohan Marko terdeteksi oleh Alif yang melihat Marko di kaca penel kemudi Kye yang selangkah lagi akan masuk dan menghentikan Marko keduluan sama Alif yang menyadari keberadaan Marko ia sudah berbalik dan mengejutkan Marko sembari mengunci lengan dan lehernya
“ Marko, dasar keparat” Arya terkejut melihat Marko dan juga karena Alif langsung bertindak tanpa memberi kode
Alif semakin kuat mengunci Marko hingga Marko kesulitan bernafas namun gejala racun dari lukanya timbul lagi membuat ia melemah karena pandangan yang kabur dan kepala yang nyeri akibatnya pegangan Alif melemah dan Marko berhasil lepas dan langsung menyerang Alif yang sempoyongan
“ MATII KAU” teriak Marko dengan menusukan pisaunya