DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 22 pria kucel itu kau?



Arya datang memberi info jika disini masih ada penduduk yang menetap ia sempat bertanya apakah ini markas I.V.V tapi tanggapan warga sekitar menjadi agresif dan emosional akhirnya kami putuskan untuk pergi ke salah satu gedung yang sudah rusak agar Alex bisa memulihkan konidisinya sembari mencari info dimana letak markas itu,


ini seperti sebuah pedesaan yang habis dilanda peperangan walau memang terbebas dari Kroon, tapi kondisinya hampir sama dengan kota tempat kami mencari kartu di babak awal , memang hanya ada rumah dan gedung kantor yang tidak setinggi gedung di kota


akhirnya kami menemukan sebuah rumah yang terbengkalai sudah rusak memang tapi cukuplah untuk kami beristirahat dan memulihkan kondisi Alex, Rumah dengan halaman yang tidak begitu luas dengan teras depan yang berantakan, kami letakan Alex di salah satu kamar untungnya masih ada tempat tidur disana walau hanya satu,


air dan listrik disini sudah tidak ada, kami harus mencari sumber air lain semoga ada sungai di pedesaan ini, desa ini cukup banyak perumahannya dan penduduknya tapi mereka terlalu sinis dan enggan untuk membantu pendatang baru.


aku sedang terduduk di depan teras Lyta dan kye sedang mencoba mencari lampu atau senter yang masih berfungsi di rumah itu, "kita telusuri saja pagar tadi pasti ada sungai dan beberapa kayu untuk menghangatkan badan" terlihat Alif berjalan dengan Arya


"hey kalian" aku menghampiri mereka


" kalian mau mencari kayu?, aku bantu ya" baru saja mau jalan Arya sudah menghalangi ku dengan badan nya " kenapa sih "tanyaku


" kau disini saja rawat Alex" kata Arya


"sudah ada Rachel" aku memalingkan wajah


" Lisa aku tahu kau merasa bersalah tapi setidaknya bicaralah dengannya, dia sudah menyelamtkan nyawamu dan jangan terlalu menyalahkan dirimu" Alif mencoba memberiku saran


"Kye jaga para wanita ya juga Alex, kami mau mencari kayu dan bahan makanan" Alif menghampiri Kye yang baru keluar dari rumah


"ayolah kenapa kita harus urusi mereka" jawab Kye


"HEY, jika bukan karena mereka kita mungkin sudah mati tadi, lagi pula dari awal aku tidak pernah mau membunuh kawanku lagi" tegas Alif


"Lisa kami pergi" pamit Arya


aku mengangguk


Kye berjaga diluar aku mencoba untuk berbicara dengan Alex walau rasanya masih tidak sanggup melihatnya karena rasa bersalah ini,


"Alex apa ucapanmu yang mulai menghargaiku itu tanda kau sudah memaafkanku? " suara Rachel terdengar aku bersembunyi di luar kamar Alex dan mencoba mendengarkan


" aku memang berterimakasih padamu dan menghargai apa yang kau lakukan, tapi untuk masalah itu aku masih belum bisa melupakannya" Alex menjawab


" lex waktu itu aku-," belum selesai Rachel menjelaskan Alex sudah menepis penjelasan itu


" sudah lah jangan buat aku ingat lagi kejadian itu dan membuat rasa terimakasih ini hilang" ketus Alex


Rachel mengepalkan tangan " baiklah, tapi aku tidak ingin hanya ucapan terimakasih darimu, kau harus membalasnya"


sebenarnya ada apa dengan mereka dulu hingga Alex tampak begitu marah pada Rachel, aku memutuskan untuk masuk ke kamar


" permisi, Rachel aku ingin bicara dengan Alex" kataku


Rachel pergi dengan muka masamnya, aku duduk di samping Alex


"maafkan aku" aku masih tertunduk masih tidak mau menatap Alex


" maaf lagi? kau ini sebenarnya punya salah apa sih Lisa? " jawab Alex dengan senyumnya


" seharusnya aku tidak berkata kasar padamu, padahal kau sudah menyelamatkan ku" lanjutku


" ini hanya luka kecil" Alex menggengam tangnku dia selalu mencoba menenangkanku


"tangan ini hangat, aku tidak ingin tangan ini menjadi dingin karena terus melindungiku" batinku


" Lex tolong berhenti untuk terus melindungiku dan berbuat baik padaku bersikaplah biasa saja, karena itu hanya akan membuatku tersiksa, aku bisa melindungi diriku" kata ku dengan suara bergetar


" kau ini kenapa? aku melindungimu bukan karena aku bersikap baik padamu, melainkan tubuhku yang menginginkannya, hati ini tak mau kehilanganmu, otak ini memerintahkan seluruh anggota tubuhku untuk melindungimu" Alex mengangkat wajahku yang tertunduk karena merasa berasalah


" kau bilang bisa melindungi diri? bagiku wanitaku yang selalu menangis dan takut jika melihat darah" lanjuntnya


aku menepis tangannya dari wajahku


"sejak kapan aku menjadi wanitamu? dan aku tidak selalu menangis"


" wah, wah dia marah" Alex tertawa jahil


" sejak kapan kau bilang, ya sejak aku pertama bertemu denganmu, apa kau masih belum ingat juga?" tanya nya


" iya aku memang sekilas teringat tapi tidak begitu jelas, aku lupa" kataku


"baiklah coba ingat ini" Alex mengambil tanganku lalu menaruh di wajahnya " kau boleh saja menyerah pada dunia, pada orang orang sekitarmu tapi jangan pernah menyerah pada dirimu sendiri. mungkin saat ini kondisinya memang seperti ini tapi kita tidak tahu besok, lusa dan seterusnya mungkin akan lebih baik jadi jaga dirimu hingga saat itu tiba " tatapan Alex sangat dalam


" kau ingat?" tanya nya lagi


aku termenung menatapnya, "hey aku tanya kau sudah ingat?" Alex mencubit pipiku


"aaw" aku mengusap pipiku " kau tidak mungkin kau pria kucel yang suram itu kan?"


Alex mengerutkan dahi " apa, pria kucel yang suram, apa aku sejelek itu? "


" iya yang aku lihat penampilan mu seperti itu, oh iya pada saat itu juga kau mencoba bunuh diri dengan memancing gerombolan Kroon dijalan raya itu kan, pada akhirnya gara gara aku menyelamatkanmu aku juga ikut di buru oleh Kroon itu"


Alex mencoba membenarkan posisi duduknya dengan wajah meringis menahan sakit , melihat dia meringis kesakitan membuatku khawatir dengan kondisi lukanya


" apa sakitnya semakin parah?" aku memastikan


" yah tapi masih bisa ku tahan, maaf ya jika waktu itu aku membuatmu sulit"


aku tersenyum " justru aku mau berterimakasih karena dengan adanya kau saat itu aku merasa lebih percaya diri untuk menghadapi kondisi ini, saat kau memilih pergi sendiri tanpaku dan adiku rasanya aku sedikit takut karena harus kembali berjuang melindungi adiku sendirian"


Di sungai Arya dan Alif mencoba mencari bahan makanan entah itu buah atau rusa, mereka juga memastikan jika air ini bersih dan layak konsumsi, ada hikmahnya juga dengan kami mengalami masa sulit dan harus bertahan hidup dengan memanfaatkan alam sekitar, kami jadi bisa membedakan air jernih dan makanan layak konsumsi.


di sekitar sungai pagar itu terbentang menghalangi jalur masuknya para Kroon, Alif mencoba mengambil persediaan air dengan beberapa wadah yang ia bawa


Arya mencoba mencari buah atau rusa mungkin untuk makan malam, " sebenarnya markas itu dimana? jika memang masih ada rintangan lain seharusnya sudah ada info dari Letnan" fikir Arya, "Aryaa, kau sudah dapat apa?" teriak Alif


Arya pergi menghampiri Alif " kau tidak usah teriak" tegurnya " kenapa? tenang saja disini bebas Kroon" jawab Alif


" jangan kau pikir aku akan menerimamu begitu saja, kau itu musuh kami jadi jangan so dekat dan akrab dengan ku" sinis Arya


"huh, Arya kau dan aku juga Lisa pernah saling mengenal sebelumnya, aku dari awal tidak pernah mau menembak Lisa, apa kau masih berfikir aku ini musuh? "


" itu dulu, tapi sekarang kau musuhku, aku tidak seperti Lisa yang mudah percaya pada orang lain" Arya pergi meninggalkan Alif


''dia berubah menjadi sangat menyebalkan'' sinisnya


Setelah bicara dengan Alex perutku mulai terasa lapar, "kau mau kemana?" Alex menahanku yang hendak pergi keluar mengecek Arya dan Alif sudah pulang atau belum " aku mau melihat Arya dan Alif mereka sudah pulang dari mencari bahan makanan atau belum, kau tidurlah istirahatkan tubuhmu''