
Kami sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan terdekat semoga saja ada kapal yang layak pakai dan tidak ada Kroon di sana, butuh 2 jam waktu menempuh jarak ke pelabuhan dengan mobil ini sebenarnya kami agak cemas dan khawatir mendengar pernyataan Alif yang tahu bahwa itu zona merah dunia lantas kenapa juga Komandan bisa lupa dengan berkas penting miliknya. Sesampai nya kami di pelabuhan kondisinya lumayan berantakan beberapa kendaraan berserakan di dekat pelabuhan juga beberapa kapal yang terparkir disana, ada yang berukuran sedang untuk penumpang hingga berukuran besar untuk mengangkut barang – barang import atau ekspor, kami memilih ukuran sedang dan tidak akan membawa serta mobil ini
Alan melihat kondisi ruang kontrol dan kemudi bersama Ben dan Arya sedangkan Luna, aku dan Alif memindahkan barang keperluan kami seperti senjata dan bahan makanan dengan mencoba untuk tidak membuat kebisingan yang dapat terdengar oleh Kroon karena kami pun belum tahu jika disekitar sini bebas Kroon atau tidak yang pasti waspada itu harus dalam kondisi seperti ini kecil kemungkinan tempat yang bersih dari kroon
“ bagaimana ini aku tidak bisa mengemudikan sebuah kapal” kata Alan
Ben sangat serius melihat dan mengecek kondisi kemudi kapal “ tenang saja untuk masalah mesin dan kemudi sepertinya masih aman untuk di kendarai” jelas Ben
“ benarkah?” kata Arya
“ ya setelah ku cek tadi” jawab Ben
“ baik kalo begitu kau yang mengemudi” kata Arya
“ hah kenapa?, Alan kau saja” kata Ben
“ aku tidak bisa mengemudi kapal” sahut Alan
“ aku juga belum pernah” kata Ben dengan keringat dingin
“ aku lihat kau mengerti soal mesin dan panel kemudi kapal, belum pernah bukan berarti kau tidak bisa” Arya pergi begitu saja
“ hah bagaimana ini” Ben mengacak acak rambutnya
Di luar kapal aku dan Luna juga Alif masih sibuk mengepak barang kami dari mobil ke kapal, aku melihat Luna yang kesulitan mengangkat box berisikan makanan lalu aku menyuruhnya untuk segera naik ke kapal dan aku yang akan mengangkat box itu awalnya ia menolak tapi akhirnya ia mau mendengarkanku, Box ini memang berat seharusnya para pria yang mengangkutnya “ uuuh berat sekali” aku pun kepayahan membawanya dan menaruh sebentar Box itu untuk sekedar menarik nafas. Marko dan para petarungnya masih mengikuti kami hanya saja mereka tidak tahu apa tujuan kami salah satu petarungnya atau sebut saja anak buahnya membekam mulutku dan mencoba menariku menjauh dari kapal aku mencoba berontak dan melawan
“ Luna mana box makanan yang kedua?” tanya Alif
“ ah ada sama ka Lisa tadi aku mau bawa tapi ka Lisa ngotot mau dia yang bawa katanya” jelas luna
Alif pun segera menyusulku dengan niat mau membantuku tapi ia melihat marko yang sedang berusaha membawaku secara diam – diam “ sial” Alif berlari dan menghajar orang yang membekam ku lalu marko dan beberapa petarungnya serta Kye menghhampiri kami , Alif menarik lenganku mencoba menyembunyikanku di belakang badannya “ayolah, berikan saja dia padaku” ucap Marko
“ Lisa pergi ke kepal sekarang” kata Alif
Aku berlari mencoba masuk kekapal tapi dihadang oleh dua orang petarung Marko “ sial” kataku, aku pun melangkah mundur “ sudahlah kita hadapi saja” kataku pada Alif
“ kau tidak memegang senjata Lisa” sahut Alif
“ ada” singkatku yang menodongkan pisau belati milik petarung yang membekam ku tadi ia pun baru sadar jika aku mnegambil senjatanya, dua orang petarung itu tidak menggunakan senapan mereka hanya menggunaka pedang pena dan saat saling menyerang denganku pun mereka seperti berhati – hati agar tidak meninggalkan luka yang berarti padaku berbeda dengan Alif ia dihadang dengan para petarung Marko dengan senapan juga ada yang menggunakan pedang pena.
“ dimana Box makanan satu lagi Luna?” tanya Arya
“ sama ka Lisa, tapi ko lama banget ya” Luna curiga
Arya keluar dari kapal ia melihat aku dan Alif yang kewalahan bertarung melawan Marko dan anak buahnya “ aah ada saja penghalang ini” gumamnya dengan segera mengambil senjata dan berlari membantuku dan Alif “ Luna katakan pada Ben untuk tetap di panel kemudi dan bersiap untuk berangkat kapan saja” teriak Arya lalu Luna pergi untuk menyampaikan pesan kakanya pada Ben
Petarung itu menarik dan menahan tanganku kebelakang rasanya sakit sekali tapi aku tidak kehilangan akal untuk membalas perbuatan mereka, aku berputar kearah yang sama dengan tanganku yang di tahan di belakang lalu menusukan pisau belati ini ke punggung belakang si petarung, satu ambruk tinggal satu lagi lawanku Arya yang datang dari arah kapal memukul keras si petarung yang membelakangi nya hingga pingsan “ clear” kata Arya
“ belum masih banyak” sahutku
Arya menendang patarung Marko yang berada di belakangku ia lantas segera membatu Alif menghadapi Marko “ Lisa kau pergi ke kapal sekarang” teriak Alif
Marko mengatakan sesuatu pada anak buahnya mereka lantas mengganti senjata menggunakan pedang pena “ huh, kau punya rasa takut juga Marko” sinis Alif yang tahu apa yang Marko maksud dengan menyuruh anak buahnya mengganti senjata karena jika sampai suara baku tembak terdengar oleh Kroon maka habis sudah, kami pun belum tahu pasti disini terdapat Kroon atau tidak
SRIIING
Mereka mengayunkan pedangnya Alif dan Arya mencoba menghindar beberapa anak buah Marko mencoba masuk ke kapal “ Been nyalakan kapal sekarang!!” teriak Arya, mendengar itu Ben segera menyalakan kemudi dan Alan masih menembaki para petarung Marko yang mencoba menerobos kapal “JALAN SEKARAANG!!” teriak Alif
“ apa mereka gila” sahut ku mendengar komando Alif “ Been kau -,” belum selesai aku bicara Ben sudah memajukan kapal ini “TIDAAAAK” teriak Luna histeris “ kakaku masih ada disana, jangan pergi dulu kumohon” tangis Luna aku mencoba menenangkan Luna yang histeris “ Ben kau yakin?” tanya Alan
“ mereka tahu apa yang mereka lakukan” jawab Ben
Saat kapal sudah menjauh dari pelabuhan terlihat ada Kroon yang menyerang mereka melihat itu semua tubuhku lemas dan hanya bisa menutup mulut menahan teriakan karena takut membuat Luna semakin histeris, Alan yang tadinya bersikap tenang kini mulai gusar ia menjabak rambutnya sendiri dan berteriak nampanya ia pun kesal dengan ulah Marko
Kapal pun semakin menjauh dari pelabuhan kami hanya bisa melihat petarungan Arya dan Alif yang semakin tak terlihat karena kapal semakin menjauh, Luna berlari ke ruang kemudi “ kau gila, kenapa kau dengarkan perintah mereka” Luna marah dan menarik baju Ben aku mencoba melerai begitu pula dengan Alan yang menahan Luna agar ia tidak memukul Ben “Alan bawa dia pergi” kataku
Luna yang masih memberontak karena emosi pada Ben lantas di angkut oleh Alan untuk ditenangkan “ lepaskan aku kalian egois” berontak Luna pada Alan
“ Luna tenangkan dulu dirimu okey” kata Alan
“ diam kau, kakaku apa kau jamin dia akan selamat hah?” tangis Luna
“ LUNAA” bentak Alan yang membuat Luna terkejut karena selama ini Alan terlihat tenang belum pernah ia memperlihatkan wajah marah nya “ kami hanya mengikuti instruksi dari ketua tim ini yaitu Alif dan kakamu juga sependapat dengan nya, kau tidak bisa bersikap seperti ini terus Luna kau harus dewasa untuk menanggapi semua hal yang terjadi padamu” lanjut Alan
Luna terdiam dengan masih menyisakan tangis nya ia melepaskan genggaman Alan lantas pergi ke kabin tempat yang biasanya dipakai untuk penumpang kapal laut beristirahat, Alan pun hanya bisa menghela napas panjang dan terduduk dilantai kapal “ bagaimana ini” gumamnya sembari membenturkan kepala nya
Ben yang masih di ruang kemudi menangis karena ia merasa bersalah “ maaf aku harus melakukan ini, aku hanya mengikuti kata mereka” kata Ben
“aku mengerti kau tidak bermaksud, Luna juga pasti akan mengerti” kataku
Ben pun mengganti mode kemudi ke mode otomatis kami pun turun ke bawah untuk bertemu dengan Luna, kami bermusyawarah dalam kabin untuk merencanakan apa yang harus kami lakukan tanpa Alif dan Arya dengan mata sembab nya Luna berusaha tegar dan sudah memaafkan apa yang sudah Ben lakukan ia mengerti kenapa kakaknya melakukan hal itu.
“ sekarang bagaimana Alan?” tanyaku
“ aku belum pernah memimpin operasi lapangna seperti ini” sahut Alan
“ jangan kau suruh aku untuk memimpin” kata Ben
Luna masih tertunduk
“ kau yang tahu lokasi tepatnya dimana, kau juga tahu medannya seperti apa, kau juga tahu tempat berkas itu dimana” kataku dengan menatap peta yang ada di meja
“ kau pasti orang kepercayaan Komandan, kau bisa menujukan jalan pada kami Alan” kataku menatap Alan
Alan menghela nafas “ yah baiklah aku akan menggantikan Alif sementara”
“ jika hanya pria itu mungkin Alif dan Alex bisa segera menyusul kita tapi tadi ada segerombolan Kroon yang juga ikut menyerang mereka” gumam Alan
Mendengar itu Luna mengangkat kepalanya ia kembali membasahi pipinya” Alan kau bicara apa, mereka bukanlah amatir mereka terlatih” sahutku sembari mengusap Luna agar ia lebih tenang
“ yah mereka akan selamat” kata Ben