
Lisa memperhatikan Alif dan Rara dari jauh dan tiba – tiba saja ada yang menarik tangannya, dengan refleks yang bagus Lisa mengunci orang itu namun ia bisa mengunci balik Lisa “siapa kau” tangan Lisa terkunci ia tidak bisa bergerak
“kau memang nakal ya, kenapa pagi buta ada di tengah hutan” sahut orang itu lalu melepaskan tangan Lisa yang ia kunci Lisa meringis kesakitan
“Doni, kau sudah kembali” senyum Lisa walau sembari meringis
“memang sesakit itu? Kenapa jadi lemah?” Doni mengejek
Mendengar ada nya kegaduhan Alif mencari dimana suara itu, karena lumayan membuat suara gaduh Lisa menutup mulut Doni dan menariknya untuk bersembunyi
“Siapa kalian?” teriak Alif
Doni menyangka Alif itu adalah musuh yang mengincar keberadaan Lisa, ia berdiri menghampiri Alif dan menodong kan senapannya
“hei kau gila” sahut Lisa mengejar Doni yang sudah berdiri di depan Alif dan Rara yang bersembunyi di belakang Alif
“siapa kau?” Doni menodong kan senapan
Alif memperhatikan baju dari pria yang ada di hadapannya “ini bukankah seragam kemiliteran I.V.V” dalam hati Alif
“mungkin kau tim yang di kirim Alex, aku Alif tim pencari anak ini juga” jelas Alif
“tim apa? Aku tidak mengerti maksudmu” Doni semakin maju dan tidak menurunkan senapanya
Lisa datang ia menutupi sebagian wajahnya dengan kain kerudungnya yang ia pakai
“maaf dia baru pulang, kami..”
“kakaaak kau kamana saja aku mencarimu” Rara memeluk Lisa
“jadi kau yang sudah menjaga ponakanku?” tanya Alif
Lisa mengangguk, “terimakasih sudah menjaganya, maaf sebelumnya kupikir pulau ini tidak berpenghuni jadi kukira kau adalah bala bantuan untuk mencari ponakanku ini” Alif menjelaskan pada Doni
Lisa kahwatir jika Doni akan memanggil anak buahnya untuk menghabisi Alif dan Rara
“sudahlah, tidak apa – apa ini hanya kesalah pahaman saja ehm.. Rara kakak pergi dulu ya kau sudah bertemu dengan pamanmu bukan”
Alif terus memperhatikan wanta yang ada di hadapannya “suara ini kenapa bisa sangat mirip dengan Lisa” hatinya berkecamuk mendengar suara yang begitu mirip dengan wanita yang ia sayang
Doni yang memperhatikan Alif tidak suka dengan tatapannya pada Lisa “jaga pandanganmu” ketus Doni yang menarik Lisa lalu pergi.
***
Lyta yang masih mencari dan menyusuri hutan menemukan sebuah rumah besar yang dijaga oleh beberapa penjaga “rumah apa ini, bukankah pulau ini tidak berpenghuni” gumamnya.
Lyta pensaran namun ia tidak ada niatan untuk mencari tahu ia pikir mungkin itu hanya salah satu bagian dari penelitian ilmiah untuk perkembangan geologi dan hutan di wilayah I.V.V lalu ia kembali fokus untuk mencari Rara.
“jadi kau menyelamatkan anak itu? Kau bawa dia ke kerumah?”
“rumah? Maksudmu tempat penyiksaan itu hahahaha” Lisa tertawa namun bukan karena menganggap perkataan Doni itu omong kosong
“maksudku..”
“sudahlah aku tau bagimu itu rumah tapi tidak untukku, yaah walau sejauh ini aku masih tetap kembali ke tempat itu karena aku sendiri memang tidak tahu tempat pulang”
Doni menjadi tidak enak karena bagi Lisa tempat itu seperti penjara “aku sudah kembali, aku akan menjaga mu”
“sudahlah Don itu bukan tugasmu, lagi pula kau tidak bisa melawan pak tua sialan itu. Oh iya kau sebenarnya diberi tugas apa sih sama dia?”
Doni menceritakan apa yang dia lakukan dalam kemiliteran I.V.V dan Lisa orang yang Doni percaya dalam menceritakan apapun bahkan tentang misinya
“kau menyusup dan menyamar menjadi anggota kemiliteran disana, lalu apa yang kau cari”
“aku tidak bisa menjelaskan nya lebih detail”
Lisa mengangguk tanda mengiyakan untuk berhenti membahas nya, ngiing.. kepalanya terasa berputar lagi sekilas wajah Alif terlintas di memorinya
“ada apa? kau sakit?”
Lisa sempoyongan terputar di memorinya seperti film ingatannya saat Alif menodongkan pistol di padang rumput saat itu dada
“hosh.. hosh..” Lisa jatuh terduduk memegang dada nya mukanya pucat pasih
“apa ini efek obat yang mereka berikan” Doni kebinguan sembari terus mengusap punggung Lisa
“aku tidak tahan seperti ini terus, aku harus mencari tahu” batin Lisa ia berdiri mengatur napas lalu kembali untuk menemui Alif, Doni mencegahnya “kau mau kemana?”
Lisa menepis tangan Doni yang menahannya “lepaskaaan”namun tenaga Lisa menjadi lemah Doni menariknya untuk pulang
“DONIIII!!”
“aku tersiksa dengan suntikan itu, dengan selang yang mereka masukan kedalam tubuhku, aku menderita setelah apa yang mereka lakukan BAHKAN saat mereka tidak melakukannya efek dari semua yang mereka suntikan padaku masih kurasakan”
Hening sejenak
“kau bicara padaku apa yang sakit? Aku akan bicara pada tuan agar memberikan obat padamu”
“jika hanya itu kau pikir aku tidak bisa menahannya, rasa sakit di fisik ku sudah sering mereka berikan tapi ini tentang memoriku aku tersiksa setiap ada potongan adegan yang terlintas di kepalaku tapi aku tidak tahu mereka yang ada di memoriku itu siapa rasanya membuat dadaku sesak”
Doni menghela napas “baiklah jadi apa maumu sekarang?”
“kau kembali saja, aku akan menyusul pria tadi”
“kau gila? Jika mereka tahu siapa kau-“
“kenapa? Jika mereka tahu dan ternyata mereka adalah bagian dari masa laluku bukankah bagus? Bukankah kau juga ingin aku lepas dari penjara pulau ini?” ketus Lisa dengan wajah marah
“tau dari mana mereka bagian dari masa lalumu?”
Lisa pergi tanpa menggubris lagi, Doni ia berlari menuju arah pantai, Doni hanya bisa mengikuti dan mengawasi dari jauh berjaga – jaga jika orang yang akan Lisa temui adalah orang yang mungikin saja mengincar Lisa
Napasnya tersengal karena takut mereka sudah pergi dari pulau ia berjalan perlahan masih sembunyi di balik pohon melihat keramaian orang dengan pakaian orange sembari mencari pria yang ia temui tadi “mana sih pria bernama Alif itu” gumamnya
Setelah mengamati ia berhasil menemukan Alif “itu dia” namun ia ragu untuk mendekati kerumunan itu Lisa tidak biasa dengan kerumunan asing baginya langkahnya maju mundur ragu untuk mendekat
Kresek .. kresek…
Suara beberapa orang terdengar bergerak tak jauh dari ia berdiri “jangan – jangan itu pasukan penjaga” pikirnya, dan benar saja mereka sudah mengamati sembari mengarahkan senapan jarak jauhnya
“sial pria tua itu sudah tahu ada manusia lain di sini, aku harus segera memberi tahu mereka untuk segera pergi dari pulau” pikirnya
Saat Lisa mau melangkah berlari ia ditarik oleh Doni “apaan ini, Doniii!!”
“kau sudah melewati batas, jika kau memberitahu mereka itu akan membongkar siapa tuan – “ ucapan Doni terpotong oleh Lisa
“masa bodoh, kau tidak lihat disana para penembak itu sudah siap menembak mereka”
Doni mengangkat Lisa ke pundaknya seperti mengangkat karung beras, “LEPASKAAAN!!!”
Samar Alif mendengar teriakan itu ia menoleh dan mendekati sumber suara “ kau ini kenapa lif?” Lyta menghampirinya
“kau sudah kembali?”
“yah aku dihubungi oleh mereka lewat walkie talke jika Rara sudah kau temukan, aku akan menemui Rara dulu” Lyta yang baru saja keluar dari hutan
Alif mengangguk namun pandangannya masih melihat kearah hutan “ini pulau yang aneh” gumamnya
***
Nampak buram dan silau pandangannya ia baru saja tersadar dari pingsannya, Arya Nampak khawatir dengan kondisi Alex begitu juga dengan para dokter dan profesor disana
“jika dalam pemeriksaan terakhir ia hanya mengalami geger otak ringan saja tidak begitu berbahaya karena akibat benturan dari lampu” jelas Dokter yang menangani nya
“lalu apa ada luka akibat serangan dari pasien pedagang itu selain luka benturan?”
“sejauh ini tidak ada pak”
Seorang perawat berlarian di lorong “Letnan sudah sadar” ujarnya
Drap
Drap
Langkah kaki mereka bergema di lorong rumah sakit ini, “Alex bagaimana ada yang kau rasakan?” kata Arya
Kedua Dokter yang ada segera memeriksa kondisi nya “semua normal” ujarnya
Alex bangun dan mencoba terduduk “sebaiknya kau berbaring dulu tuan” saran Dokter itu
Alex mencopot paksa semua alat deteksi yang ada ditubuhnya “aku tidak punya waktu untuk ini, Arya maaf aku butuh bantuanmu lagi bisakah kau tetap disini bantu aku mengawasi pasien itu, aku akan kembali dengan membawa formula itu”
“baiklah, tapi bukankah yang kita miliki sudah berbentuk vaksin?”
“kita memang sedang menjalankan pembuatan vaksin dosis kedua walau entah kapan bisa terwujud karena memang sulit membuat vaksin yang sesuai dengan retensi yang sama dengan yang pertama”
“lalu ? menurutmu apa kita punya formula itu?”
“itu urusanku dengan para petinggi”
Arya mengangguk dan mengerti jika Alex tidak bisa membiarkan sesuatu mendetail di wilayah orang lain karena informasi penting bisa saja tidak sengaja terungkap