
Sesaat sebelum Marko berhasil menusuk Alif, Kye memukul punggung Marko hingga ia tak sadarkan diri begitu juga dengan Alif yang terjatuh pingsan “ Alif” Kye panik, mereka pun berpindah tempat untuk membaringkan Alif dan Marko di kabin penumpang
“ kenapa dia selemah ini?” tanya Kye pada Arya
“ sebelum aku menjawab pertanyaan mu, aku ingin memastikan satu hal” jawab Arya
“ apa”
“ kau ini tergiur hal apa hingga bisa mengikuti manusia bejat seperti ini” menunjuk kearah Marko
Kye memalingkan wajahnya ia nampak menghela nafas lalu Arya melihat beberapa pembuluh darah dekat bahu kirinya refleks Arya memegang lengan Kye dan menurunkan sedikit bajunya agar bisa melihat luka nya “ luka ini” gumam Arya
Kye segera menepis Arya dan kembali menutupi lukanya ia nampak frustasi
“ jika kau tidak mau memberitahu alasanmu itu bukan masalah untuku” Arya pergi
“ aku terpaksa mengikuti kemauannya” sahut Kye
Arya menghentikan langkahnya, Kye pun menceritakan semuanya pada Arya
“ kau sudah lihat lukanya kan, Marko memiliki serum untuk memperlambat penyebaran dan perubahan ku menjadi Kroon itu alasanku mengikuti kemauannya” jelas Kye
“ apa dia tahu masalahmu?” tanya Arya
“ tidak jangan beritahu Alif aku selalu membebani hidupnya jangan sampai aku membuatnya merasa terbebani karena kondisiku”
“ berapa lama efek pelambatan virusnya bekerja?” kata Arya
“ seminggu untuk sekali pakai, dia masih punya 2 serum lagi waktuku tinggal 3 hari lebih dari itu virus ini akan menyebar denga cepat” kata Kye
“ kau belum menjawab pertanyaanku” sahut Kye
“ adikmu terkena racun saat terluka di pertarungan yang ia lakukan dengan anak buah Marko, pedang yang digunakan petarung Marko sudah diolesi racun” jelas Arya
Mendengar itu Kye tertunduk dan ia menyesali kelakuannya yang tidak menghentikan petarungan Alif saat itu, ia merasa gagal melindungi adiknya. Arya pun pergi kembali ke panel kemudi ia mencoba mencerna informasi yang didapatnya dari Kye, serum yang dimiliki Marko darimana dia mendapatkannya
Berbeda suasana di kapal kami yang tengah bergembira mendengar saura Alif, ternyata bukan hanya aku yang mendengarnya tapi Ben dan yang lainnya pun sama, Luna menangis haru berharap kakaknya juga selamat bersama Alif, malam itu kami makan dengan lahap karena rasa lega mengetahui Alif selamat, Alan belum juga terbangun seharusnya ia di infus tapi karena tidak ada kami hanya berharap dia bisa kuat dan sadar
Malam semakin larut seperti biasa aku tidak bisa tertidur rasanya melihat Ben yang tertidur pulas membuatku ingin merasakan rasanya tidur seperti itu lagi, sudah lama sekali sejak pendemik ini memburuk dan menyebar hingga aku harus bertahan bersama adiku selama hampir setengah tahun yang lalu, aku keluar dan duduk di tempat biasa aku memandang gelapnya lautan yang diterangi cahaya bulan, ku penjamkan mata berusaha melupakan sejenak masalah yang sudah menunggu ku di depan sana.
Alan yang terbangun dari tidurnya melihat Luna yang menemaninya hingga tertidur dengan beberapa potong roti dan sosis di samping tempat tidur, Alan bangun dan mengambil makanan itu ia tahu jika aku pasti tidak bisa tertidur
Berjalan sembari meringis kesakitan membawa makanan ditangannya ia duduk di sampingku “ternyata benar kau tidak tertidur” sahutnya
Aku terkejut menoleh “ Alan sedang apa kau disini, kau sudah sadar rupanya”
“ hei,hei, kenapa heboh sekali sih, aku lapar ingin makan sembari menikmati laut malam” jawabnya
Aku menarik lengannya “ balik kekamar lan, ada yah orang dengan luka tusuk yang lumayan parah santay menikmati angin dingin disini”
“ ayoolah kita ini sedang berpetualang jangan terlalu dibawa tegang” santainya
Aku kembali duduk “ berpetualang, sepertinya kau dan Ben sangat menikmati perjalanan ini”
Alan yang tidak menyadari kekhawatiranku ia menjawab dengan santainya “ yah, perjalanan ini bagus untuk melatih jantung”
Aku menoleh Alan dan menatap tajam kearahnya “ Alan pernahkah kau melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana orang – orang mati diluar sana?”
Aku menahan air mataku agar tidak jatuh dan terlihat lemah dengan sesekali menghela nafas dalam “ ditebas, dibakar, ditembak, bahkan ada yang sengaja dijadikan umpan, Alan kau tahu sulitnya bertahan hidup dari Kroon dan sasaran politik yang kacau saat itu, mereka sudah tidak punya pilihan selain membakar orang yang terinveksi atau yang selamat harus bertahan hidup sendiri tanpa bisa bergantung atau meminta tolong pada siapapun” tanganku bergemetar
Alan tertunduk mendengar pernyataanku “maaf Lisa maksudku untuk membuatmu lebih rileks saja tidak untuk merendahkan perjuangan kalian”
“ yah, mungkin aku terlalu sensitive tapi kau harus tahu seperti apa itu dan bagaimana rasanya, mungkin sekarang aku bersama kalian melewati Kroon dan rintangan yang ada tapi dulu aku harus bertahan hidup dengan adiku rasanya sungguh sakit melihat adiku tertidur didalam hutan bersamaku berlindung dari serangan yang ada, melihatnya letih berjalan yang kami pun tidak tahu mau kemana dan kadang ia mengeluh atas apa yang terjadi tapi aku selalu bilang padanya jika ini seperti soalan matematika saat dia ujian memang sulit dan membuatnya furstasi tapi semua akan berakhir jika kau mengerjakan soal yang paling mudah terlebih dahulu” kini airmataku tidak terbendung lagi terbayang wajah adiku
Alan menggenggam tanganku “ aku akan melindungimu dan memastikan kau bertemu dengan keluargamu lagi”
“ kau tidak perlu merasa tidak enak lan, jangan menjanjikan apapun dalam kondisi seperti ini” kataku dengan suara lirih
“ ini bukan janjiku tapi ini sudah menjadi misiku selain membawa kalian ke pulau itu” Alan menatapku dengan sungguh – sungguh
Luna yang terbangun dan mencari keberadaan Alan melihatku dan Alan yang sedang berbincang ia melihat Alan mengenggam tanganku ‘sepeduli itukah kau padanya’ batin Luna lalu ia pergi dengan kecewa kembali ke kamar penumpang, esoknya hari dimulai seperti biasa aku belum terbangun dari tidurku karena sangat larut sekali aku tertidur semalam Ben dan Alan sudah ada di panel kemudi karena kemungkinan kami akan tiba di pelabuhan hari ini, dalam tidurku aku bermimpi hingga membuatku terbangun dengan keringat dingin di tubuhku “hah-hah-hah, apa tadi itu” gumamku
Dengan muka pucat aku keluar kamar dan mencari keberadaan yang lainnya, Luna masih tertidur aku termenung mengingat mimpi tadi sembari menatap lautan di pagi hari ini, mimpi itu sangat membuatku takut aku melihat Alif yang tertembak karena melindungiku lalu terlihat Arya yang mengambil sesuatu dariku dan mengotak ngatik tower itu, sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi aku sudah terbangun karena shock melihatnya jatuh mengingat mimpi itu membuatku gemetar dan cemas
Ben yang sedang menuju ruang mesin melihatku “ Lisa kau sudah bangun, kata Alan hari ini kemungkinan kita sampai pelabuhan” sahutnya
Aku tidak menggubris Ben dan hanya termenung memikirkan mimpiku tadi, “ kasihan anak ini dia pasti memikirkan banyak hal” batin Ben
“ Lisa hey, kau sudah makan?” tanya Ben kali ini ia mengguncangkan bahuku
“ hah, oh paman Ben kenapa?” sadarku
“ paman lagi, aku tidak tahu apa yang sedang membebani pikiranmu tapi kau harus memberikan ruang untuk dirimu dan jangan terlalu memaksakan diri” nasehat Ben
Aku mengangguk lalu Ben pergi ke ruang mesin, kini giliran Luna dan aku yang memasak makanan, Luna pamit pergi untuk menemui Alan di ruang panel kemudi saat kami sedang memasak
“ ka kau mau sosis atau roti isi?” tanya Luna
“ apa saja yang kau dan Lisa hidangkan akan kumakan” jawab Alan yang masih fokus dengan petanya
“ baiklah”
“ hei kau tidak bertanya padaku?” sahut Ben
“ paman pasti akan memakan semua nya jadi untuk apa aku bertanya” ledek Luna
“ waah anak ini, kemari kau” Ben bersiap mengejar Luna
“ aaaaaa, ka Lisaa” Luna pun berlari sembari tertawa
Ben yang merasa perlakuan Alan sebaiknya lebih pengertian kepada Luna membuatnya jadi lupa koordinasi yang ia hitung tadi
“ Ben cukup aku jadi tidak fokus” kata Alan
“ jika kau tidak suka padanya maka jangan memberinya harapan” tegas Ben
“ aku tidak memberinya harapan apapun, wajar bukan jika aku baik dan mengurus para sample saat di markas itu sudah tanggung jawabku memberikan mereka pelayanan dan perhatian khusus, anak itu saja yang salah tangkap” nada Alan mulai meninggi
“ oh begitukah, artinya sama halnya dengan Lisa”
Kali ini Alan menoleh dan menjawab “ aku tidak ada waktu untuk mengurusi hal seperti itu” kemudian Alan pergi dengan raut wajah bete