
Alex sendiri sudah mempunyai hunian pribadi karena sebenarnya Alex sudah pernah tinggal disini sebelum kehilangan kedua orang tuanya dan disinilah kenangan buruk itu terjadi, hingga ia memutuskan untuk pergi merasa marah dan kecewa karena perbuatan orang orang disekitarnya yang telah membuat kedua orang tuanya meninggal dunia, ia pergi jauh dengan berbekal senjata saja karena memang saat memutuskan pergi ia bertengkar hebat dengan komandan dan Letnan. Dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Lisa untuk pertama kalinya, Lisa yang sudah menyelamatkannya dari percobaan bunuh diri dengan menyerahkan diri ke gerombolan Kroon saat itu, dan Lisa membuatnya sadar akan pentingnya menghargai dirinya sendiri dan tidak mudah menyerah pada diri nya sendiri. Dari situ ia terus mengikuti Lisa hingga akhirnya mereka berpisah karena Alex mencoba menyelamatkan Lisa saat mereka berjalan di hutan ia mencoba menggiring para gerombolan Kroon agar Lisa dapat berlari menjauh bersama adiknya dari situ mereka tidak pernah bertemu lagi hingga sampai Alex berhasil lolos dari gerombolan Kroon itu dan pergi ke salah satu camp yang ada di pojok perkotaan yang sudah terbengkalai sesampainya disana Komandan sangat senang mengetahui cucunya berada di salah satu camp milik I.V.V
Hingga Alex mengetahui Lisa masuk ke perkotaan dekat camp ia segera menyusul Lisa dan membawanya ke camp, selama 3 bulan ia mencemaskan Lisa dan adiknya akhirnya ia bisa lega karena sudah menemukan mereka,
Lalu sekarang ia harus menyelamatkan Lisa bagaimanapun caranya, ia merasa Lisa adalah tujuannya bertahan hidup sekarang setelah kedua orangtuanya tiada
“ AAAARRG, SIALAAN” Alex membanting apapun yang ada di depannya, ia tak menyangka jika Arya akan berbuat sejauh itu. Emosinya benar –benar sedang memuncak ia cemas , Khawatir, takut, marah semua bercampur menjadi satu karena ia tahu persis apa yang akan dialami Lisa disana
“ wanita licik sialan, aku tidak akan membiarkanmu” ia mencari senapan dan perlatan lainya dan bergegas pergi ke gedung pusat I.V.V
Gedung pusat I.V.V
Alex sempat mengetahui letak ruangan eksekusi itu, sesampainya disana ia segera masuk dan menuju ruangan itu, namun yang ia dapati ruangan itu kini menjadi ruang unit kontrol “ apa ini, aku tidak mungkin salah” gumamnya, ia mencoba mengingat karena sudah cukup lama ia tidak berada di kota ini, “apa mereka memindahkan atau merubah lokasinya” fikir Alex
“ kak, bagaimana ini banyak penjaga di pintu masuk dan di dalam gedung, jika kita tidak punya kartu maka abislah kita” Luna mengamati sekitar
“ aku sudah tahu itu, pegang ini” Arya memberi dua kartu tamu yang diberikan Rachel sebelumnya
“ apa ini sama dengan kartu penduduk atau identitas?” tanya Luna
“ jangan banyak tanya, cepat ikuti aku” Arya berjalan diikuti oleh Luna dibelakangnya
Mereka berhasil melewati penjaga
“ Luna cepat kau tunjukan arahnya” bisik Arya, Luna mengangguk lalu Arya melihat Alex berjalan melewati mereka “ tunggu Luna, ikuti aku” Arya mengikuti Alex
“ kenapa ka, kita tidak punya banyak waktu”
“ Ssst, diamlah” Arya mendekati Alex dari belakang dan mencoba menepuknya
Alex refleks berbalik kaget
“kau sedang apa disini hah?” ketus Alex
“ aku dan Luna sedang menuju ruang eksekusi untuk membawa Lisa pergi” bisik Arya
“ aku tadi sudah kesana tapi ruangan itu sudah berubah sekarang” celingak cilinguk mengawasi keadaan sekitar
“ memang ruangan itu sudah dipindahkan sekarang, aku tahu lokasinya” sahut Luna
“ kenapa kalian ingin membebaskan dia” tanya Alex
“ aku memang bodoh lex, aku egosi tapi aku juga masih memikirkan temanku. Lisa itu temanku aku sudah membuat kesalahan besar dan harus mendapatkan maaf darinya” jelas Arya
“ kalian nanti saja bahas nya, kita harus segera pergi sekarang, jika penjaga disini mulai mencurigai kita itu bisa sangat berbahaya” kata Luna
“ kau tunjukan jalannya” sahut Alex, mereka pun pergi dengan Luna yang memandu jalan mereka ternyata gedung eksekusi ini memang berbeda gedung dengan gedung utama jalannya cukup rumit banyak lorong dan cabang mungkin sengaja dibuat seperti itu agar penyusup dan sampel pusing dan kebingungan saat akan melarikan diri
\*\*\*\*\*
Para ilmuan dan dokter sedang merundingkan tindakan tepat untuk Lisa karena saat Lisa masuk ruang eksekusi Rachel sudah memberi kabar bahwa ada gadis imunity yang memiliki imunitas sangat baik dibanding sample terakhir yang mereka uji yaitu Luna, dalam sidang ini ada beberapa perbedaan pendapat juga Prof. Dok, Alan yang menangani Lisa langsung menentang apa yang diusulkan oleh Rachel sebagai ketua bagian research dan penelitian, ia mengusulkan pengambilan sel darah dan sum sum tulang yang harus dilakukan seintens mungkin
Layar monitor menunjukan skala keberhasilan dan grafik
“ tidak kau sudah gila, kau pikir dengan otakmu jika kita melakukan itu maka sample ini akan mati. Lalu kita harus menunggu lagi sample baru? Huh kau sebut dirimu ketua research?” Alan berdiri dengan mengajukan pendapatnya
Dokter dan Porfesor Yang lain mengamati perdebatan agar dapat memberi suara untuk memutuskan mana keputusan yang akan diambil.
“ lalu, timku harus menunggu berapa lama lagi untuk meneliti. Jika kau hanya membuang – buang waktu ku merawat mereka dengan alasan pemulihan agar sel dapat diambil dengan baik. Atau jangan – jangan kau hanya mengulur waktu” selidik Rachel melalui Video Call karena ia masih ada dirumah perawatan miliknya
“ Lady Rachel kita disini untuk meneliti dan menemukan vaksin untuk menyelamatkan kelangsungan hidup manusia bukan sebagai organisasi tak bermoral yang memaksakan kehendak dengan membunuh manusia lain” Alan mengatupkan gerahamnya wajahnya terlihat amat marah dengan intrupsi dari Rachel
“ begini saja, kita lihat kondisi daripada sample jika memungkinkan kita lakukan uji pengambilan tahap pertama dengan mengambil sel darah dari pemubuluh vena dan 3 persen cairan sum sum nya” sahut salah satu Profesor disana yang berusaha mengambil keputusan
“ baiklah kabari tim ku jika sudah ada bahan uji cobanya, aku pamit sekarang karena banyak yang harus ku lakukan” Rachel mematikan Video Call nya
Rapat selesai dengan keputusan yang Rachel ajukan karena memang I.V.V sudah tidak memiliki waktu lagi untuk terus menguji dan mencari vaksin karena pemberontakan di luar markas sudah semakin menjadi dan juga beberapa pejabat memutuskan untuk pergi ke pulau terpencil itu, dengan berat hati Alan harus melakukan apa yang ia tidak inginkan karena ia mengetahui akibatnya sangat fatal untuk sample
“ disitu ruangannya itu pintu masuk nya” tunjuk Luna “ ada penjaga disana, bagaimana cara melewatinya” ketika Arya sedang berfikir tiba – tiba Alex menembak kedua penjaga itu dengan senapan kedap suara di bagian tubuh yang hanya melumpuhkan saja tidak begitu fatal. Alex berjalan dan memasuki ruangan diikuti oleh Luna dan Arya lorong serba putih dan kaca kaca besar di samping kiri dan kanan mereka yan memperlihatkan sample sample yang tengah tertidur di dalamnya
“ lex kita berpencar saja agar lebih cepat” saran Arya
Alex mengangguk
Mereka berusaha menemukan Lisa tapi hampir saja lupa jika tempat ini diawasi oleh cctv “tunggu ka, kita lupa mematikan cctv di ruang kontrol” Luna menunjuk ke arah cctv “ sudahlah, itu memakan banyak waktu kau berpura pura saja jadi tawananku kita menyamar” saran Arya. Segera mereka menelusuri lorong – lorong itu dengan melihat ke setiap ruangan yang mereka lewati, dalam cctv terlihat Alex yang sedang celingukan melihat ke setiap kaca ruangan di lorong itu pengawas cctv tidak begitu curiga karena Alex adalah bagian dari I.V.V hanya saja salah satu dari mereka adalah kuping dan mata Rachel yang sengaja ditempatkan menjadi petugas pengawas cctv
“ ada yang masuk ke ruang eksekusi aku akan melapor” petugas itu segera mengirimkan video nya melewati email
“ sudahlah biarkan saja dia itu cucunya komandan bagian dari I.V.V juga jadi dia termasuk pengecualian” petugas lainnya menahan untuk melaporkan
Mengetahui Alex memasuki ruangan eksekusi petugas yang sekaligus mata – mata Rachel segera melapor kepada Rachel tentang Alex “hm,, jadi dia sudah sampai sejauh itu. Baiklah terimakasih infonya” Rachel menutup sambungannya dan langsung bergegas pergi ke ruangan Lisa mengetahui Alex yang tengah mencarinya
Alex terus menelusuri lorong dengan teliti hingga ada satu ruangan dengan pintu yang terbuka, langkahnya terhenti sejenak menengok kearah kaca besar di sebelah kanannya, dan ternyata itu Lisa yang tengah berbaring lemah tak sadarkan diri dengan seorang wanita yang membelakangi kaca besar itu
“ Lisa” Alex segera masuk keruangan itu ia mengangkat senjatanya “ siapa kau” selidik Alex, wanita dengan rambut yang terurai dan dress selutut berwana biru dongker itu membalikan badanya “Rachel” gumam Alex dengan sedikit menurunkan senjatanya