
Kroon yang ada di pelabuhan itu ternyata berasal dari sebuah desa yang yang ada disana, desa itu terserang oleh beberapa kroon liar yang tersisa. Karena tidak ada nya pertahanan dan perlindungan, desa itu hancur dan warganya berubah menjadi kroon lantas mereka berjalan hingga sampai di pelabuhan. Keadaan pelabuhan juga sangat kacau sepertinya kroon itu membuat pedagang lain dan pelaut yang singgah ketar ketir hingga barang mereka berantakan dimana – mana
“kami masih memantau pergerakan para kroon itu” lapor Bravo pada Alex
“ apa tidak ada kemungkinan bisa melewati pelabuhan?”
“ kemungkinan sangat kecil, namun jika hanya beberapa pedagang saja mungkin bisa”
“aku akan membawa beberapa pedagang serta pangannya untuk ke wilayah timur namun mereka harus melewati pelabuhan itu dan untuk bahan bakar selanjutnya menuju ke timur”
“maaf Letnan tapi kenapa tidak bawa bahan bakar lebih saja dari sana agar tidak perlu mengisi disini?”
“itu dia, tangki tidak bisa memuat lebih dan kita tidak bisa bawa itu dengan dirijen besar atau tempat lain karena bisa membahayakan jika terpantik api”
“ah benar, maaf Letnan”
“mereka akan tiba 1 hari lagi, jangan sampai kalian lengah ya ketika mereka sampai segera kawal mereka karena ditakutkan kroon akan langsung menyerang”
“siap”
Lautan nampak biru nan indah para pelaut yang membawa barang sedang berlayar ke suatu tempat
“hei nak jangan hanya memandangi lautan saja!” teriak seorang pria
“iish dia sangat berisik, namun pemandangan ini mengobati rinduku padanya” ujar seorang seorang lelaki denga kulit putih dan badan tegap tinggi
Mereka sibuk menyelamatkan barang karena kapal mereka mengalami kebocoran “kita harus segera menepi” teriak seseoarng pada pengemudi kapal
Mereka melihat sebuah pulau padahal mereka belum lama berlabuh dari I.V.V, sesampainya disana para pedagan itu menurunkan barang barang mereka dan hendak memperbaiki kapal terlebih dahulu.
1 jam kemudian semua barang sudah berhasil diturunkan, “waaah lelah sekali” ucap salah satu pedagang
“hosh... hoshh benar” sahut lelakiu berkulit putih itu
“hai nak kau itu cukup tampan untuk bekerja di gedung I.V.V, kenapa juga kau mejadi buruh pedagang seperti kami” ledek seorang pedagan mereka semua tertawa dan membenarkan ucapannya
Lelaki itu hanya tersenyum tanpa menjawab, “pria itu terasa familiar dari jauh” gumam nya
“kau ini kenapa? Kami sedang bicara
denganmu?” kata pedagang
“ah siapa mereka?” menunjuk kapal yang datang
“ooh mereka bisa membantu kita, kapten kapal ini memanggil kawannya tadi untuk memperbaiki kapal” jelas pedagang
Lalu semakin jelas dari dekat “ bagaimana? Ada apa dengan kapal mu?” suara itu sangat tidak asing di telinga lelaki berkulit putih itu
Ia nampak terkejut melihat sosok itu begitu pula sebaliknya mereka berdua terdiam “kau..”
“Aryaa... kau lama sekali kami sudah selesai menurunkan barang” kapten kapal itu menyapa
Ternyata pria itu Arya sekarang ia terkenal sebagain kapten kapal laut yang mahir bahkan untuk menemukan dan memperbaiki masalah pada kapal, Arya menghampiri lelaki berkulit putih itu
“bagaimana kau ada disini?” tanya Arya
Para pedagang itu menarik Arya agar segera membenarkan kapalnya, butuh waktu karena lubang perlu penambah yang cukup kuat mereka pun mencari kayu yang kokoh di sekitar hutan
“ Alan” Arya berlari menghampiri nya yang sedang mencari kayu
“bagaimana kabarmu?” lanjut Arya
“ aku baik, sudah lama ya.. bagaimana kabar yang lain?”
“mereka baik” Arya nampak menunduduk
“ tepat nya membaik setelah semua yang kami lewati” lanjutnya
“aku dengar I.V.V menjadi sebuah negara besar sekarang”
“begitulah, kau kemana saja? Kenapa tidak mengunjungi kami?”
Alan berjalan diikut oleh Arya “ kau tau keluarga penghianat seperti aku akan diasingkan, saat itu Rey naik menjadi presiden lalu surat resmi datang ke rumah pengasingan kami lantas kami dilarang untuk berada disekitar I.V.V lagi”
“tunggu aku memang sudah tidak melihatmu sejak kita tertangkap oleh mereka, aku dibawa keruang bawah tanah dengan ben”
Alan hanya menangguk
“tapi menurutku kau bukan penghianat, itu ulah ayah dan kakakmu sajakan mereka –“
“mereka tetap keluargaku” Alan memotong
Arya diam dan hanya mengangguk “maaf”
“ heei, kau tidak mau membantuku?” teriak Arya pada Alan
Alan pergi tanpa menjawab, ia menyusuri lagi hutan ini melihat keatas pemandangan pepohonan dengan sinar matahari yang menembus disela sela daun ia menemukan sebuah tebing dengan pemadangan indah wajahnya diterpa angin sejuk lautan tiba – tiba ia ingat memorinya dengan Lisa mereka sempat sering bicara berdua di malam hari sembari menatap lautan di kapal saat itu, Lisa sampai tertidur karena menangis
Alan tersenyum “sedang apa kau?” gumamnya
“Alan?...” terdengar suara perempuan
Alan menoleh mencari sumber suara ia memperhatikan sekitar terlihat dua orang berbaju abu tergesa gesa pergi dengan membopong seseorang
“hei tunggu ..” Alan mengejar mereka
“hosh... hosh” Alan mengejar mereka namun tidak dapat menemukannya tapi mereka membuat jejak yang mudah diikuti, dulu Alan merupakan seorang Dokter dan ilmuan ia dengan mudah mengenali bau obat obatan “sepertinya mereka lewat sini” ia mengikuti instingnya
Sementara yang lain sudah bersiap untuk berangkat karena kapal sudah selesai diperbaiki
“masih ada satu lagi tertinggal” sahut Arya
“bairkan saja dia, anak itu juga tidak berguna” sahut seorang pedagang
“kalian akan meninggalkannya?” Arya nampak emosi
Ia menghela napas “pergi sana!!” bentak Arya
“kenapa kau bicara seperti itu” tegur kapten kapal itu pada pedagang
“Arya mereka tidak bermaksud, ayolah mungkin anak itu sudah ada dikapal kita cari saja sambil berlayar ya”
“kapten kapalmu kehabisan bahan bakar” ucap anak buah Arya lalu mereka memutuskan untuk naik kapal pedagang itu “kami akan naik-“
“tidak kalian saja” potong Arya
“kapten kita kan harus berangkat ke timur untuk mengantar pedagang utusan Letnan” jelas anak buah Arya
Arya baru ingat itu “ oke tapi aku minta bahan bakar setidaknya untuk sampai ke pelabuhan I.V.V, lalu kau taruh di kapalku”
Dengan berat hati Arya pergi dari pulau itu ia harus segera kembali untuk mengantarkan para pedagang ke timur sebelum itu ia meminta untuk bertemu dengan Alex untuk membicarakan perihal masalah ini
“anda harus membuat janji dulu pak tidak bisa sembarang” Asisten di kantor kemiliteran menghalangi Arya untuk masuk
“apa aku harus membuat janji dengannya? Kurasa tidak perlu” ia menerobos masuk
Arya melihat Alex yang sedang menatap keluar jendela ruangan dengan senyum tipis nya, Arya berjalan mendekat dan mencoba melihat apa yang sebenarnya Alex perhatikan diluar jendela itu.
Lalu terlihat sepasang suami istri yang sedang berjalan, sang istri tengan hamil dan sang suami memeluk nya sembari mengelus perut sang istri
“hei, aku kesini untuk protes dan marah padamu” sahut Arya
Alex yang tak sadar keberadaan Arya karena larut dalam lamunannya melihat pasangan suami istri itu terkejut
“sejak kapan kau masuk?”
“ada orang diluar? Tolong siapkan teh dan kudapan” lanjut Alex
Arya menyeruput teh itu “ kau serius ingin mengirimku juga kesana? Kau sangat membenciku ya?”
Alex tertawa “jika aku membencimu untuk apa aku menjamu mu?”
“jika aku menolak membawa pedagang itu bagaimana?”
“sudah cukup menghadapi Adam, jangan sampai kau juga menolakku”
“kau bisa menghadapinya? Hebat”
“aku hampir kelepasan karena emosi, anak itu sangat dingin”
Alex melihat tajam Arya dan Arya tahu maksudnya “ baiklah aku akan membantumu” sahut Arya
“kau sudah lama tidak mengunjungi ku dan yang lainnya bukan? Apa kau sangat suka melaut?”
“setidaknya itu mengingatkan ku pada Luna” Arya nampak sedih
“setidaknya kau harus mengunjungi Lyta dan Hanna” saran Alex
“lalu bagaimana denganmu?”
“aku baru saja kemarin mengunjungi mereka”
“bukan, maksudku apa kau masih merindukannya?”
“...”