
Alan mencoba menghampiri Lyta ke toko pastry miliknya, ia memesan segelas teh dan roti lantas ia juga meminta pada pelayan untuk memberi tahu jika ia menunggu Lyta di bangku pengunjung
“ Alan kau sudah pulih ?”
“ Lyta roti ini enak sekali, yah aku sudah lebih baik”
“ maaf aku pergi begitu saja”
Alan menggelengkan kepala “ aku mengerti, hanya saja kurasa aku tidak bisa menjaga Rara sendiri kau tau aku tidak mengerti caranya mengasuh anak perempuan” Alan tertawa kecil “hehe, jadi bisakah kau kembali”
Lyta tersenyum “ tentu saja tadinya sore ini aku memang akan pulang dan meminta maaf padanya karena sudah kasar, juga aku khawatir jika Rara akan makan sembarangan jika ia hanya tinggal denganmu” senyum Lyta terlihat
Mereka berdua tertawa “kau benar” sahut Alan
“dan juga aku akan pergi untuk beberapa waktu kedepan” lanjut Alan
Lyta yang sedang menyeruput teh nampak terkejut “ kau mau kemana?”
“maaf Lyta aku tidak bisa terus menerus tinggal di kota ini, kau tau aku ini buronan karena ayah dan kakakku”
“ kau tidak bersalah apapun, jadi tidak ada lasan untuk ..”
“Lyta walaupun memang kenyataan nya seperti itu tapi kau sendiri tau undang- undang yang dikeluarkan I.V.V kan, aku baik – baik saja Lyta aku sudah biasa mengembara”
Lyta nampak tertunduk sedih…
“aku menunggu kesempatan bertemu denganmu” gumam Lyta dengan suara kecil sembari termenung seperti membayangkan sesuatu
“ kau bicara apa?”
“hah, tidak aku hanya lupa menaruh sesuatu” Lyta pergi ke belakang
Alan berencana untuk pergi ke pulau itu lagi dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi juga ia mengingat cairan yang ditemukan dalam laci Alex saat itu, Alan sudah mempunyai beberapa spekulasi dalam kepalanya namun ia mencoba menepisnya dengan membuktikan dan pergi ke pulau itu memastikan semuanya
Ia kembali ke rumah Hanna dan menunggu Lyta hingga datang saat Lyta pulang maka ia akan segera pamit dan pergi ke pulau itu, Alan sangat yakin jika wanita yang ada di pulau adalah Lisa
Alan termenung menyusun rencana di kepalanya untuk bisa sampai di pulau itu ia beberapa kali menghela napas “ kau ini kenapa sih? Baru sehari menjagaku sudah furstasi” kata Rara sembari meneguk jus buah
Alan menghela napas “ kau benar, aku tidak tahu kenapa Lyta bisa kuat menjagamu”
“ish, kau saja yang lemah kami wanita memang dirancang untuk mengurus rumah baru saja sehari, tidak tapi setengah hari kau menjagaku dan mengurus rumah sudah seperti orang yang habis pulang tempur”
“anak ini, umur dan ucapanmu tidak sinkron”
Mereka berdua membuang muka “ah, apa kau tahu dimana adik Lisa tinggal?” tanya Alan
“woaah juss ini enak”
“hey, kau dengar tidak”
“ iya aku tahu, kenapa? Kau mau kesana? Aku mager keluar rumah”
Rara selesai meminum jus kesukaannya ia pun kembali ke kamar
“tidak perlu diantar, sebutkan saja alamatnya” bujuk Alan sembari mengikuti Rara
Brugh
Rara menutup pintunya, “ anak ini sudah banyak berubah” gerutu Alan
Suara ketukan pintu dari luar terdengar sepertinya Lyta yang ada di depan pintu Alan membuka dan benar itu adalah Lyta “kukira kau akan pulang sore”
Lyta masuk lalu menaruh barang dikamarnya “mana Rara?”
Mata Alan menunjuk pada kamar Rara, Lyta mengetuk pintu kamarnya “Ra ini aku, maaf kemarin sudah kasar padamu, jika kau masih-“
“tidak masalah, aku tidak begitu memikirkannya” sahut Rara di dalam kamar
“anak ini kenapa seperti itu, seharusnya dia keluar dan-“ Alan menggerutu
“sudahlah tidak apa, dia masih butuh waktu mungkin” potong Lyta
Lyta segera masuk kedapur kondisi nya sangat berantakan “hehe aku baru membuat cemilan untuk dia dan yaah belum sempat ku bereskan” Alan menyeringai
Lyta hanya tersenyum kecil “ yah lelaki memang seperti itu, tapi aku kagum kau memikirkan Rara sampai mau membuatkan cemilan” Lyta membereskan kondisi dapur yang berantakan mulai dari mencuci piring kotor dan alat masak
“lalu kau akan pergi kemana?” tanya Lyta
“aku akan ikut dengan para pedagang atau mungkin dengan para pelayar di kapal seperti sebelumnya”
“ Alan, apa kau sudah punya seseorang yang kau suka sekarang?”
Alan terkejut dengan pertanyaan Lyta “u-uhm, aku tidak memikirkan hal itu”
Lyta menghela napas “ baiklah”
“ bagaimana denganmu?”
“ entahlah sepertinya hal semacam itu hanya membuat ku menjadi lelah”
“ lalu kenapa kau bertanya hal seperti itu?”
“ hanya ingin tahu saja”
Alan sebenarnya tidak enak membohongi Lyta tapi ia harus kembali ke pualau itu demi rasa penasarannya. Tanpa sepengetahuan Lyta dan Alan Rara ternyata diam – diam pergi dari kamar nya dan hanya meninggalkan surat ia berpesan jika ia akan pergi kerumah temannya di pinggir kota untuk menginap disana
Alan yang hendak pergi dari rumah menemukan surat itu Lyta nampak percaya pada surat itu dan tidak begitu curiga akhirnya Alan berpamitan dan pergi dari rumah Hanna
“hati – hati , jangan lupa kau masih punya rumah pulanglah kemari jika sempat” pesan Lyta
Alan nampak menatap Lyta “ terimakasih Lyta”
Lyta tersenyum dan melambaikan tangan
“aku akan membawanya pulang bersamaku Lyta kau tunggu disini aku tak akan lama” ucap Alan dalam hatinya saat melambaikan tangan pada Lyta
Alan mencari setiap kapal yg ada di pelabuhan untuk berlayar ke pulau itu namun tidak ada yang melewatin jalur ke sana, ia berusahan membujuk setiap nelayan hingga kapten kapal untuk mengantarnya kesana namun mereka menolak dengan alasan sibuk dan tidak melewati jalur ke arah dimana pulau itu berada
Nama itu familiar di telinga nya ia berpikir sejenak mengingat nama itu jika tidak salah itu adalah nama adik Lisa ia memang ingin pergi kerumah adiknya Lisa namun tidak diberi tahu alamatnya oleh Rara
“apa kau tau di mana alamat rumahnya?”
“kau bisa ikut denganku, aku salah satu pegawai beliau dan sekarang aku akan pergi untuk memberikan hasil daganganku padanya”
Alan mengangguk dan ikut dengan sang kakek
Sepanjang jalan Alan memikirkan untuk memberitahu apa yang ia lihat di pulau itu namun mungkin adam juga sama seperti yang lain ia pasti sudah meyakini jika Lisa sudah meninggal
“kurasa belum waktunya” gumam Alan
“ada apa nak?”
“ah tidak, hm… apakah kau yakin dia akan membantuku?”
“ia masih muda mungkin lebih muda darimu namun anak itu cerdas dan berhasil untuk mengembangkan pakan dan perkonomian masyarakat sekitarnya ia pandai namun rendah hati dan sopan” kakek terlihat temenung matanya sayu
“ada apa?”
“entahlah aku hanya merasa kadang saat tidak ada mata yang sedang memperhatikannya ia terlihat sedih dan melamun, kakakknya adalah seorang pahlawan di Negara I.V.V ini ia berkorban untuk penyebaran vaksin saat lima tahun lalu dan ironisnya saat kejadian dimana tuan muda Adam bertemu kakakknya untuk pertama kali saat terakhir mereka terpisah pada saat itu pula kakakknya terbunuh” jelas kakek dengan air mata nya yang berlinang
“walau kesan pertama mu nanti mungkin dia akan sedikit terlihat galak dan tidak peduli namun aslinya ia sangat dermawan bahkan dengan kami para pegawainya ia tidak membuat batasan ia menganggap kami seperti keluarganya sendiri, haha” senyum kakek sangat lebar
“kenapa aku tak ingat kejadian itu” pikir Alan
Mendengar itu ia langsung memikirkan Lisa betapa sakitnya yang Lisa rasakan hingga merenggut nyawa namun jika benar Lisa meninggal pertanyaannya siapa yang ada dipulau itu dan jika ia Lisa bagaimana ia bisa hidup. Itu semua memenuhi kepala Alan
Alan menghela napasnya
“kau tahu pulau itu kosong tidak ada apa apa, untuk apa kau kesana?”
“hm, aku sempat terdampar disana kek dan sepertinya ada yang tertinggal disana”
“ooh apakah sangat berharga hingga kau harus kembali kesana?”
Alan mengangguk “sangat berharga” raut wajahnya nampak serius mengingat yang ia maksud adalah Lisa yang tertinggal disana
Mereka sampai di rumah besar dengan halaman yang luas kakek itu bertanya pada temannya apakah Adam ada dirumah atau tidak “ia sedang berkuda di halam belakang”
“berkuda?” gumam Alan
“yah itu hobi tuan muda” sahut Kakek
Ia pun membawa nya pada Adam
“tuan muda aku membawa seseorang yang perlu bantuan” kakek melambaikan tangannya pada Adam
Adam segera menghampiri dan memberhentikan kudanya di depan Alan dan kakek, “ ooh kakek bagaimana penjualan minggu ini?” Adam memeluk dan menyapa kakek itu
“ ah kita untung lagi”
Mereka bercengkarama dengan sesekali tertawa
“ah ini, anak muda ini butuh bantuan”
Adam menoleh “kau”
Alan berusaha menjabat tangannya dengan menawarkan tangannya terlebih dahulu namun Adam bereaksi dingin ia tidak membalas jabatan itu
“kakek kau boleh pergi sekarang”
“tunggu ia ini pemuda yang ingin pergi menumpang ke pulau yang ada disektor 19 ia ingin pergi kesana bisakah kau membantunya?”
Adam mengangguk “ ini urusanku sekarang kau boleh pergi kek”
“baiklah” kakek menurut dan pergi
Adam maju mendekat “mau apa kau?”
“apa kabar Adam, yah kau tidak mau menyapaku”
Adam menatap dengan tajam
“iya iya seperti yang kakek bilang aku butuh tumpangan”
“cih, kau kira aku akan membantumu? Seharusnya jika mereka tahu kau sudah masuk kedalam penjara sekarang karena melanggar aturan bukan” ketus Adam
“dengar aku kesini bukan karena kemauanku tapi Alex yang membawaku bahkan Lyta yang menyembuhkanku, jadi sliahkan saja jika kau mau memberi laporan pada pihak berwajib maka dua orang terdekatmu akan terseret juga” ancam Alan
“ aku tidak peduli dengan Alex tapi jika kau sentuh kak Lyta aku tidak segan menebas kepalamu” ketus Adam
“tidak perlu repot – repot menebasku dan mengotori pedang mu aku juga hanya ingin keluar dari sini dan menuju pulau tujuanku kau hanya perlu memberikan tumpangan saja”
“aku tidak perduli tujuanmu, kau bisa ikut kapal dengan kapal miliku mereka akan lewat jalur yg kau tuju, 30 menit lagi mereka akan berlayar”
Senyum terlihat di wajah Alan “terimakasih aku tahu kau sebenarnya anak yang baik”
Sembari berbalik dan membelakangi Alan “jangan salah paham aku hanya ingin kau pergi dari I.V.V secepatnya. Melihat mu membuatku mengingat Letnan sialan itu melepaskan tembakan pada kakakku”
"tembakan? Apa ayahku menembak Lisa saat itu?" Alan nampak terkejut
Adam mencekram kerah Alan "kau ini bodoh atau memang pura pura, kau tidak tahu kejadian saat itu?" Adam meradang
Alan yang sedari tadi mencoba sabar mulai lepas kendali ia menepis tangan Adam "dengar! Aku tidak tahu kronologinya bagaimana aku menerima hukuman bersama ayah dan kakakku karena kupikir itu akibat mereka menyalah gunakan sample percobaan dan praktek manusia serta bersekongkol untuk menguasai I.V.V"
Adam nampak berlinang dan mukanya merah menahan emosi "benar, itu semua kejahatan yang dilakukan pada kakakku dan kau tau hingga kakakku mati, Ayahmu tidak puas menyiksanya menjadi sample hingga harus menembaknya sampai meninggal" dengan wajah marah tak kuasa air matanya menetes mengingat kejadian 5 tahun yang lalu
terkejut bukan main Alan mengetahui ayahnya membunuh Lisa, Alam mencoba tenang di depan Adam
Alan menghela napas “mungkin percuma aku mengutarakan maafku padamu walau berkali – kali, tapi aku akan meminta maaf dengan caraku sendiri” kata Alan lalu pergi kembali menuju pelabuhan“dia belum meninggal” batin Alan
Ia bergegas dengan cepat dan menaiki kapal milik Adam.