
Kepalaku terasa sakit saat terbangun semua nampak gelap. Ruangan apa ini?, segera aku mencoba berdiri dengan meraba sekitar dan membuka pintu ruangan ini, suara baku tembak dan ledakan terdengar dimana – mana
Kenapa aku ada diruangan itu?, aku mengingatnya ini semua ulah Alif, aku pun mencoba mencari keberadaannya , Alif sedang dalam bahaya ia di kerubuni oleh orang – orang dengan baju merah marun, “ siapa mereka” gumamku. Segera aku membuka pintu ruang rawat Alif dan mencoba memukul salah satu pria disana “ HEY!!” bentak pria yang lainnya hendak memukulku
Adam yang refleks menoleh pun menahan tangan Elang yang hendak memukulku “jangan,” Adam melihat kearahku
“ kaka, kau selamat” ia memeluku dengan erat sembari berurai air mata, kawannya yang lain nampak senang akhirnya ia bertemu dengan kakaknya karena mereka tahu kelemahan dan apa saja masa lalu masing – masing jadi wajar jika Gold, Elang, Bravo, dan Loop merasakan haru melihat ini.
Begitu pula dengan ku tubuhku terasa lemas melihat adikku masih hidup dan selamat, ia sekarang berubah drastis tubuhnya berisi dan kekar, terlihat gagah “ Adam maafkan kakak” aku pun balas memeluk adikku
“ jangan minta maaf ka, kakak yang sudah menyelamatkan kami namun kami tetap tidak bisa hidup tanpa kaka”
Kami pun melepaskan pelukan
“ bagaimana kau ada disini? Kau pakai baju apa sih, seragam begini warnanya?”
“ ceritanya panjang ka, aku harus mencari kakak bagiamana pun caranya, aku tidak bisa menerima kehidupan aman dan nyaman sedangkan kakak berkorban nyawa selama ini” tangisnya pecah kembali
“ sudahlah, aku lega sudah bertemu denganmu jadi tahu jika kau dan yang lainnya selamat”
Aku pun meminta Alif untuk dilepaskan, terlihat sepertinya ia sudah dipukuli oleh grup adikku “apa yang kau lakukan Alif, kenapa kau membuatku pingsan dan manaruh ku di ruangan gelap itu?”
“ maaf aku melakukan itu untuk menyelamatkanmu,”
Adam pun menarik lenganku dan berniat membawaku pergi “ ayo ka. Aku harus membawamu pergi dari tempat bedebah ini, kalian bawa pria itu kita taruh dia didepan rumah Rey”
“ Rey?” sahut Alif
“ ayahmu yang mengirim kami untuk membawamu dan Lisa, tapi aku tidak akan menyerahkan kakak ku, karena tujuanku mengikuti ayahmu adalah untuk membawa kakak ku kembali”
DUAAAR
Tembakan terdengar lagi, “ tidak bisa Adam, ada yang harus kulakukan kau pergilah dulu” aku menolak ajakannya
“ tapi ka kau mau apa lagi?”
Aku tidak mau membuat dia khawatir lagi “ aku harus menolong kawanku yang ada disini, kau bisa membantuku?”
“ tidak, aku akan membantumu dengan caraku kau pergi bersama Elang keluar dari gedung ini”
“ kau tidak mengerti Adam” kataku
“ cukup ka, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi”
“ benar kata Adam” sahut Alif
gawat, Adam tidak mau membiarkan ku pergi. tanpa sepengetahuan mereka aku mengambil obat bius yang ada di dekat meja Alif, namun mat Alif sepertinya lebih cepat tanggap.
Elang pun membawaku terlebih dahulu, aku mengambil sebuah benda tanpa sepengetahuan siapapun yang dapat membantuku nanti melepaskan diri dari Elang,
“kau bawa dia belakangan setelah Elang memberikan kode lewat earphone” komando Adam pada Loop untuk membawa Alif pada Rey
Alif yang melihatku mengambil sesuatu sebelum pergi tadi “ Adam biarkan aku bersama kakakmu dia pasti tidak akan menurut begitu saja padamu”
“ kau akan keluar dari gedung ini, tenang kau juga akan selamat” kata Adam
“ bukan itu maksudku, aku tidak peduli jika aku mati namun kakakmu itu juga nekat” Alif mengepalkan tangan tanda emosi dengan sikap Adam yang tidak tahu apa – apa namun mencoba menghalanginya
“ dengar kau itu anak kemarin sore, jadi kakakmu tidak akan semudah itu menurutimu, dia punya rencananya sendiri”
"Rencan? sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?" selidik Adam
"kakakmu akan nekat menjadikan dirinya tameng untuk keberhasilan misi vaksin ini" jelas Alif "aku tidak bisa menjelaskan lebih detail nya, tapi aku harus menahan kakakmu" lanjutnya
Adam mulai terlihat berfikir, mungkin Alif ada benarnya “ kau pergi ke sisi lain gedung ini disana sudah ada penembak jarak jauh yang dapat membahayakan Lisa dan lainnya”
“ kau ini tidak sedang menjebakku bukan, karena tabiat ayahmu pasti melekat pada dirimu juga” ketus Adam
“ aku tidak bisa kehilangan seseorang yang aku sayangi” Alif menatap Adam.
“bagaimana bisa aku membiarkan dia mati hanya karena keraguanmu itu Adam!!” bentak Alif yang sudah gemas dengan sikap Adam
Melihat tatapan Alif yang penuh dengan kepercayaan diri, Adam pun membiarkan ia menyusul Elang yang membawa Lisa. Elang berjalan tepat di depan Lisa ketika ia membuka Lift “ ini kesempatanku” fikir Lisa , namun Lisa terlihat menengok kearah luar gedung. Rasa ragu mulai menyelimutinya “ Lisa sadar!!! kau tidak boleh hidup dalam penyesalan karena meninggalkan teman – temanmu” hati Lisa berkecamuk, ia pun membulatkan tekad nya untuk memilih pilihan itu, seketika perkataan Rachel terngiang di kepalanya
“ Lisa kau harus memilih mati untuk menyelamatkan semuanya atau hidup dengan terus melihat penderitaan ini” kata – kata Rachel itu membuatku memilih untuk mengakhiri penderitaan ini, penderitaan dimana semua manusia berjuang hidup.
DUAR
suara itu membuat Lisa berlari dan melihat lebih jelas ke arah kaca besar gedung ini, ia melihat berkali kali tembakan dari atap seberang gedung ini mengarah ke atas gedung dimana Lisa berada "mereka sedang menembaki siapa? diatap, jangan - jangan tower!!" fikir Lisa, diarah gedung tower disana Arya sedang kewalahan menghadapi para sniper milik Letnan
Lisa dengan cepat menusukan suntikan yang ia temukan di ruang rawat Alif, suntikan itu berisikan obat bius yang membuat Elang pusing lalu jatuh pingsan. Melihat nya sudah pingsan Lisa kabur ke arah tower.
***
Lyta mencoba mengulur waktu agar Arya dapat meretas dengan benar, seharusnya Lyta yang bertugas dalam hal peretasan namun Arya sudah bersikeras berlatih dan belajar untuk meretas itu , ia tidak tidur sama sekali karena ingin membalas kematian adiknya dengan kesuksesan penyebaran vaksin ini. Suasana semakin mencekam mereka terpojok, bagaimana tidak 2 banding lima orang penembak handal tentu tidak seimbang bukan.
Merasa situasi semakin berbahaya.
SRKK.. "masuk Lyta, Alex" Arya terdengar kewalahan, "masuk ada apa?" jawab Alex sembari menembaki terus lawan
" kau bisa kemari, disini banyak sniper mengarahku" kata Arya
" Apa!? sniper, letnan sialan!!!" gumam Alex
jika Alex pergi Lyta bisa mati menghadapi musuh ini, mungkin kah dia bisa membantu Arya? Alex tidak begitu paham tentang peretasan hany Lyta yang bisa membantu jadi Alex memberikan komando kepada Lyta agar naik ke tower membantu Arya
" Lyta pergi, Arya butuh bantuan!!" teriak Alex
" bagimana dengan mu?"
"pergi kau lebih mengerti peretasan bukan"
Lyta mengangguk lalu ia pergi dengan kode dari Alex agar Lyta tidak tertembak Alex melindungi nya
DUAR
DUAR
Situasi semakin mengerikan dengan suara senapan yang begitu keras, Alex semakin terpojok dan kewalahan menghadapi para penembak suruhan Letnan itu. "Aryaa!!" Lyta berusaha menaiki anak tangga menuju tower "Lyta awas!!" beberapa peluru menghujani Lyta, ia bersembunyi di bagian pegangan besi anak tangga.
DUAR
Peluru itu terus mengujani Alex ia berusaha membalas lalu berlindug agar tidak terkena peluru musuh
DUAR
satu musuh berhasil kalah, Alex menghela nafas menyeka peluh didahu meringis menahan goresan luka akibat peluru yang meleset namun sempat mengenainya
DRAP
DRAP
DRAP
Aku berlari setelah berhasil kabur dari Elang dan tepat saat aku datang hendak menuju tower, peluru itu menebak tubuh Alex.
di depan terdengar suara tembakan, aku semakin mempercepat langkahku. " pengecut, barani nya keroyokan" Alex mencoba mengisi amunisi, nafasnya tesengal keringat mengucur menghadapi 3 musuh sekaligus
"seperti nya dia sudah menyerah" kata salah satu penembak pada teman nya yang lain
si penembak itu pun maju dari persembunyiannya di balik tembok ia melangkah dengan berhati hati mengacungkan senjata kedepan
tap...tap...tap
suara langkah kaki itu terdengar,"heh, cari mati!!" gumam Alex
DUAR
Alex pun berdiri dan menembak musuh yang mendekat tadi, "sial kita salah!!!" sahut musuh yang lainnya melihat kawan mereka tertembak.
Langkahku terhenti melihat Alex yang tengah melawan musuhnya, "Lisa" gumam Alex yang melihatku datang, mataku memerah menahan tangis dari kejauhan rasanya rindu ini sudah memuncak sama seperti rindu pada kedua orangtuaku. Alex lengah karena melihatku ia menurunkan senjatanya lalu
DUAR
peluru itu mengenai perut Alex "brugh" Alex terjatuh terududuk melihat kearahku, waktu terasa berhenti Alex mentapku ia tersenyum walau menahan sakit. Melihat itu aku hampir teriak dengan menahan mulutku mataku tak kuat menahan tangis. "jangan kemari" itu yang ku tangkap dari bibir Alex ia mencoba memberitahuku untuk pergi
"uhuk uhuk" Alex kesakitan menahan perutnya sendiri nampak nya peluru itu mengenai area vatal milik Alex sampai ia muntah darah.
panik! itu yang kurasakan lalu aku melihat ada sebuah bom geranat milik para penembak karena mereka masih belum menyadari keberadaanku aku pun mendekat lalu mengambil dan mundur beberapa meter lantas ku gelindingkan bom itu pada penembak disana
BOOM
Mereka tewas seketika, " ALEEEX!!" aku berlari melewati genangan darah para penembak ini, kini lantai ini berjejak kaki kan darah, aku segera membantu Alex untuk bersandar di tembok "pendarahan!!" segera aku merobek bagian jilbabku yang terjuntai untuk pengganti kain kasa, dengan menahan sedih juga phobiaku terhadap darah aku berusaha menghentikan pendarahan nya
" kemana Lyta dan Arya?" tanyaku
" seharusnya kau segera keluar dari sini, mana Alif? " lirihnya
"jangan menangis, kau memang cengeng ya, uhuk"
" Alex jangan banyak bicara!!, dimana Lyta?"
srk.. sambungan masuk dari earphone yang menggantung di leher Alex " Alex bahaya disni sangat sulit untuk memasukkan sel Lisa, tinggal setahap lagi namun para sniper itu terus menyerang!!!" kata Arya
"masuk Arya, kau dimana?" tanyaku
" Lisa? kau masih hidup?"
"iya baru sampai detik ini, mana Lyta?"
" ada dia sedang bersamaku di tower, kenapa? mana Alex?"
"Alex terluka parah, tolong suruh Lyta kemari aku akan menggantikan posisi nya membantumu. Lyta kau bisa mendengar ku?"
"biar aku yang sampai kan kurasa earphone Lyta sudah rusak karena terjatuh tadi"
Alex pun menepis earphone yang ku pegang "Lisa dengar!!! jika kau pergi kesana lalu kau terluka lantas untuk apa aku berjuang menyelamatkan mu selama ini?"
Drap
Drap
Drap
"Lisaa!!* Lyta memelukku, "Alex, kenapa ini?" tanya Lyta "Lyta bisa kau tahan lukanya, jika ada obat berikan untuk penanganan pertama. aku tidak bisa menahan nya karena"
" aku tahu, kau memang selalu berani Lisa bahkan disaat memiliki phobia kau tetap melawan rasa takutmu itu"
aku pun berdiri hendak pergi membantu Arya, Alex sudah tidak sadarkan diri karena banyak kehilangan darah, " kau mau kemana?" kata Lyta
" gantikan posisiku ya, aku akan menggantikan posisi mu membantu Arya" senyumku
"jangan terluka Lisa"
***
Adam pun pergi mengikuti instruksi Alif disusul dengan tim bunglon yang keluar dari gedung itu karena perintah Adam walau sebenarnya mereka tidak ingin meninggalkan Adam pergi sendiri.
Aku berdiri hendak pergi ke tangga menuju tower namun Alex yang tersadar menggenggam tanganku “Lisa jangan pergi, uhuuk”
“aku mencoba memalingkan wajah menahan air mata agar tidak jatuh dan melepaskan genggamannya “ maafkan aku, aku sudah membuat kalian khawatir dan membuat kalian dalam bahaya”
Alex menarikku, aku kembali terududuk "dengar ini semua bukan karena mu, kami mengkhawatirkan mu karena kami menyayangimu Lisa" lirih Alex
" lepaskan Alex, walau ini bukan salahku kalian sudah menanggung sakit bahkan semua orang didunia ini sudah menanggung sakit yang luar biasa, sakit fisik, mental"
“ Lisaaaaa!!!” teriak Alex itu membuat luka nya semakin banyak mengalami pendarahan
Dengan berlari dan mengambil senjata milik salah satu penembak jitu tadi aku siap menyelasaikan misi ini, terdengar suara tembakan namun entah siapa yang menembak aku mencoba mencari tahu dimana penembak itu berada, “ LISAAA!!” suara itu terdengar
Arya sedang bersusah payah bertahan dari serangan snipers sembari meretas tower itu, "sedang apa dia, kemana Alex dan Lyta” gumam Arya
“ Arya, kau fokus saja pada tugasmu, aku akan melindungimu” teriaku
Dapat!!. Mereka ada disisi lain gedung satunya, aku melepaskan tembakan namun seperti meleset. Siapa itu?? Letnan terkejut dengan tembakan yang hampir mengenainya
“ sapa itu!!” geram Letnan
Minggir!! Rey pun melihat melalui teropong yang ada di senapan “ LETNAAAN, bagaimana sample berharga miliku ada disana!!” Rey mengamuk
Letnan pun melihat dan benar saja “ sial, kenapa dia ada disana” gumamnya, Rey pun mencoba menghubungi bunglon tim namun tetap terputus “ mereka berani mengkhianatiku” batin Rey
DUAAAR
DUAAAR
Baku tembak semakin sengit beberapa tembakan hampir mengenai Arya dan Lisa, “Arya cepatlah sebarkan vaksin itu” kini Lisa sudah berada beberapa meter dari Arya “sedikit lagi. Tidak akan kubiarkan!! Letnan mengambil alih dan menembak tepat di kepala Arya namun Lisa berhasil mendorongnya sebelum mengenai Arya “ sialan ia berniat membunuh kita”,
Vaksin yang terlepas dari genggaman Arya hampir jatuh ke bawah, melihat itu Lisa berlari dan meraih vaksin sebelum terjatuh, terlihat dilayar berukuran kecil 98 persen progresnya selesai dan hanya tinggal memasukan vaskin itu saja “ Lisa cepat masukan itu, kau pasti mengerti caranya kan” teriak Arya yang sibuk dengan menembaki balik para sneepers itu
Lisa menakan tombol kecil dan keluarlah tempat untuk tabung vaksin berukuan kecil ini, aku masukan dan ‘complate’ menghitung mundur penyebaran vaksin, “ ahahahaha berhasiil” teriak senang Arya
Adam juga tengah berlari menaiki tangga darurat yang berada di luar gedung menuju para sniper berada ia pun menyaksikan aku yang tengah berjuang “ kakak, kenapa kau membohongiku” gumamnya ia pun meneruskan menaiki anak tangganya, tower terus menghitung mundur Alex tersenyum dengan meringis kesakitan dan Lyta juga menangis bahagia sembari memeluk Alex
Namun Letnan naik pitam begitu juga dengan Rey, “ beraninya kau!!!” Letnan pun melepaskan tembakan jitunya pada ku
DUAAAR
TIDAAAAK!! Melihat arah tembakan nya tertuju padaku Adam teriak dan berlari cepat agar sampai di atas gedung dimana Letnan dan para sniper berada. Aku yang menyadari itu menutup mata, Arya yang berlari mencoba melindungiku pun berhenti melangkah ia terkejut,
DUAAR
“ ada apa ini kenapa tidak sakit?” fikirku, aku menoleh ternyata Alif yang melindungiku dari tembakan Letnan
“ Lisa, uhuuuk” ia memuntahan dara dimulutnya tanda tembakan itu mengenai bagian vital yang parah, melihat Alif melindungi ku dan menangkap tubuhnya yang terkulay lemah dengan tembakan yang mengenai punggungnya menembus organ dalam, ia terbata – bata “ Li-sa maafkan aku, aakh uhuk uhuk”
“ jangan banyak bicara, diamlah Alif” Arya mencoba menahan pendarahannya
“kenapa kalian selalu meminta maaf, untuk apa kau melindungi ku Alif!!” aku memeluknya
“ a- ku tahu –, kau mencintainya bukan” Alif tersenyum dengan mulut penuh darah
“ apa?, saipa?” tangis ku
“ kita berteman dekat kau, aku dan Arya walau memang tidak lama kita bersama, namun kalian sangat berarti untukku, aku menyukaimu maaf karena sudah memiliki perasaan itu dan aku tidak mau kau pergi Lisa, aku akan menggantikan mu untuk memilih pilihan itu, pilihan untuk Mati biarlah aku yang lakukan dan kau pilihlah Hidup untuk melindungi bumi Lisa” dengan suara berat karena menahan sakit nya, lalu dengan tatapan sendu ia menatapku dan Arya bergantian Alif pun tak sadarkan diri
“ ALIIIF, jangan pergi kenapa kau berfikir bisa menanggung pilihanku hah, memangnya kau siapa? lagi pula pilihan ku juga belum tentu menjadi benar kenyataan bukan, manusia hanya bisa memilih dan berencana” histeris ku
“banguun sekarang Aliif, banguun” suaraku semakin lemah
“ sudah kubilang jangan banyak bicara Alif, hey banguun” Arya mencoba menepuk pipinya
Air mataku membasahi pipi Alif “ kenapa kau meminta maaf untuk perasaanmu itu, kau tidak perlu meminta maaf, Aliif banguun” kataku
Melihat Anaknya tertembak Rey pun menyerang Letnan dengan senapannya "beraninya KAU”
DUAAAR,
dan Letnan pun tertembak di bagian kepala namun bukan oleh Rey melainkan Adam yang sudah menarik pelatuknya di belakang Rey
“ selanjutnya kau” dengan dingin Adam mengarahkan senapanya ke Rey
Tiba – tiba terdengar suara tembakan lagi
DUAR
Tembakan itu tepat mendarat di belakang punggungku tepat dimana jantungku berada, seketika aku pun memuntahkan darah dari mulut. Arya yang menyaksikan kedua sahabatnya tertembak berteriak dan panik karena aku dan Alif sudah dalam kondisi parah
“ KAKAAAK!!” Adam berteriak suaranya menggema sehingga Lyta dapat mendengarnya
Seorang wanita dengan baju serba hitam ia tersenyum “ kau sudah mengambil semuanya, aku sudah memenuhi pilihanmu Lisa” gumam wanita itu yang sangat menginginkan kematian Lisa agar tidak menganggu hubungan nya dengan Alex ialah Rachel, ia pun pergi dan meninggalkan senapannya di gedung
“ siapa yang melepas tembakan?” teriak Rey
Adam terjatuh dan terduduk lemas melihat kakaknya tertembak ia menangis dan berteriak “ AAAAA”, Hanna berlari dengan menyeka air mata di pipi ia mendapati Alex yang sudah tidak sadarkan diri sendiri karena Lyta refleks berlari ke arah tower
Lyta berlari menaiki tangga “ tidak, itu tidak mungkin” gumamnya sembari menyeka air mata di pipi
Sesampainya ia di tower, Lyta mengambil tubuhku ia memelukku dan menangis sejadi jadinya. Arya sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi ia hanya menatap kosong tubuh Alif yang bersimbah darah
***
Terdengar suara langkah seseorang “ kau?” langkahnya terhenti dan itu adalah Komandan yang ada di depannya, “ segeralah pimpin tim medis yang ada bersamaku untuk menyelamatkan anak – anak itu” sahut Komandan, Hanna pun berlari kembali dengan diikuti oleh tim medis dan orang – orang kepunyaan Komandan.
“ sebagian bantu aku mengurus Alex” arahan Komandan, melihat cuucnya berlumuran darah dan tak sadarkan diri ini menjadi trauma bertubi – tubi bagi nya karena harus kembali terancam kehilangan cucu satu – satunya sebelumnya ia sudah kehilangan anak dan menantunya, hanya Alex yang ia punya “ kau benar – benar berniat membuatku tersiksa secara perlahan?” Komandan mengusap wajah Alex yang pucat pasih dengan suara yang bergetar sakit melihat cucunya terluka.
“ maaf aku terlambat, kakekmu ini sudah sangat gagal menjagamu nak” tangisnya pecah
BUSSSHH
Asap gas vasksin pun keluar dan tersebar keseluruh bumi ini, tower besar ini menyebarkan vaksin secara menyeluruh. Tubuhku semakin dingin Lyta terus memelukku lalu datang Komandan dan beberapa bantuan medis yang ia bawa, adam berlari menerobos kerumunan tim medis dan merebut tubuh Lisa dari Lyta “ kakak, aku sangat merindukanmu, kakaaak jangan kau tingalkan aku kaa” ia larut dalam kesedihan yang dalam Lyta mencoba memeluk Adam “ Adam, maafkan aku”
Adam pun di tarik oleh Arya agar mau melepaskan Lisa, beberapa tim medis memeriksa dan memasangkan alat bantu pernafasan pada Lisa mencoba menghentikan pendarahan namun semua sudah terlambat tubuh Lisa sudah sedingin es mukanya sudah pucat pasih “ catat tanggal kematian” kata salah satu tim pada yang lainnya, Adam berontak sejadi jadinya seperti anak kecil ia menangis sejadi jadinya “ jangan berbohong, atau kau ku habisi!!” ancamnya mendengar pernyataan bahwa Lisa sudah tiada
“ diam dengarkan aku Adam” bentak Arya
“ bukan hanya kau yang kehilangan disini, aku dan yang lainnya pun sangat kehilangan. Tolong hargai perjuangan kakakmu” bentak Arya
Hanya dengan Arya ia bisa lebih tenang sekarang, “ korban disini masih bernafas” teriak seorang tenaga medis yang sedang memompa dada Alif, ia membuka matanya perlahan namun tidak terbuka sempurna terdengar sayup suara seseorang olehnya “ Alif bangunlah, kau harus sadar” samar ia melihat Lisa berada di sampingnya “ Lisa” katanya lemah dan terbata bata. Bayangan Lisa menghilang saat Lyta datang tepat di mana Lisa berada ‘puush’ menghilang begitu saja
“ ti-dak jangan pergi” Aif pun kembali tak sadarkan diri dengan air mata jatuh di pipinya.
Cepat bawa pasiennya!!, mereka pun membawa korban yang ada termasuk Alif dan Alex juga. Semua mengenang hari itu sebagai insiden terbesar dan sejarah untuk manusia di bumi, pengorbanan seorang gadis dan kawan kawannya yang berusia sekitar 20 hingga 25 tahun itu merubah dunia menjadi lebih baik tentu itu tak luput dari campur tangan sang maha pencipta yang maha esa.