DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 41 Chapter 2 - The Last Mission : jebakan



Kami masih sibuk mencari solusi dimana letak lubang itu berada lalu Kye tidak sengaja bersandar di tembok gorong – gorong itu ia merasakan ada yang aneh dengan tembok yang ia sandari temboknya seperti terdorong ke belakang lalu Kye mencoba memperhatikan tebok itu yah tembok itu jika di perhatikan ada yang membentuk sebuah sandi morse “ hei, ini hanya penglihatanku saja atau memang tembok ini memiliki beberapa pilihan sandi morse?” sahut Alan


Kami pun memeriksa dengan seksama memang benar ada belahan yang seperti membentuk sebuah sadi morse “ ini morse untuk sebuah angka” gumam Arya


“ benar kau lebih tahu karena dulu pernah ikut kelas pramuka bukan” sahut Alif


Semua menatap Alif “ bukankah itu pelajaran ekstra yang di wajibkan?” kata Ben bingung, aku tertawa mendengar Ben yang kebingungan dengan Alif “ yah maklum dia itu sering bolos” sahutku


Semua pun kembali fokus pada tembok yang kami temukan kira – kira apa kode yang cocok untuk kode morse ini. Kami pun mencoba berbagai kemungkinan nomor hingga tanggal lahir Alex pun bukan kode dari tembok ini karena ini urnag rahasia yang hanya diketahui oleh Komandan kemungkinan saja tanggal Alex yang digunakan, Luna yang sedari tadi hanya memperhatikan peta lalu kembali memperhatikan tembok pun maju untuk mencoba sesuatu yang ia ketahui sebuah kode panjang yang ia coba dan tinggal satu nomor lagi namun tembok dengan ukiran kode morse terakhir sulit di tekan karena keras, saat kami mencoba menekan kode terakhir terdengar suara monster menyebalkan itu lagi yang menggema di sekitar gorong – gorong semua panik para pria mencoba menekan dengan lebih kuat lagi terlihat batu bata berukiran kode morse itu bergerak sedikit


“ ayo kerahkan tenaga kalian” histeris Luna


Tanganku keringat dingin suara itu semakin dekat “ tekaaan” teriak para lelaki berusaha menyemangati diri mereka untuk mengerahkan tenaga yang ada


Sudah terlihat beberapa kroon berjalan kearah kami “ cepatlah” kataku


Akhirnya kode terakhir itu berhasil terdorong tembok itu terbuka terlihat sebuah pintu brangkas besar kami mencoba membuka memutar pintu brangkas ini dengan panik karena Kroon itu sudah semakin dekat entah darimana mereka datang


“ DOROOOONG” kata Alif


Pintu pun terbuka segera kami masuk dan kembali menutup pintu brangkas ini terlihat dicelah pintu yang hampir tertutup Kroon itu sudah berada di luar kami sekarang sedikit lagi kami telat maka entah apa yang akan terjadi mungkin kami akan tewas. Semua terduduk lemas saling menatap mencoba menguatkan diri bernafas tersengal karena tadi kami hampir tidak merasakan apapun saking paniknya seperti menahan nafas panjang dengan jantung berdebar hebat


Alif berdiri ia melihat sekeliling dan mulai mencari keberadaan dokumen itu “ dimana dia” gumamnya, kami pun mulai mencari bahkan Alan pun tidak mengetahui letak pastinya dimana ia hanya mengetahui lokasi gedung ini dan brangkasnya


Setelah setengah jam kami mencari tapi tidak ada hasil juga “ sebenarnya dokumen itu seperti apa?” tanya Arya


“ yang pasti dokumen itu ada denah struktur suatu bangunan yang entah apa itu” jawab Alan


“ kau pernah melihat dokumen itu?” sahut Alif


“tidak aku hanya pernah dengar dari Komandan”


Luna menemukan sebuah router yang pernah kami miliki ia menunjukan router itu padaku lalu aku mencoba menekan tombol yang ada di router ini ‘zing,zing’ sebuah layar besar dan kecil yang ada disana tiba – tiba menyala dengan tulisan menghubungkan “ kenapa ini” gumam Alan


“ maaf aku menekan tombol ini tadi” sahutku menunjukan router yang aku pegang


Alan menghampiriku “ ini router” belum selesai kalimat Alan tiba – tiba terdengar suara seseorang tapi terputus – putus tidak jelas


Di Pulau I.V.V


Lyta, Alex, dan Komandan sedang berkumpul di rumah ruang rahasia milik Komandan mereka sedang membahas soal distrik 4 yang kini di ketuai oleh Alif apakah bisa menemukan dokumen itu atau mereka gagal dan lebih parahnya lagi Alex berspekulasi jika distrik 4 sudah tewas,


“ Alif tidak selemah itu lex, kau jangan meremehkan kemampuannya” tegas Lyta yang memukul meja tidak terima dengan pernyataan Alex


“ benar kau harus berfikir baik, janga terbawa suasana dan perasaan” sahut Komandan


“ perasaan, apa maksudmu Komandan?” tanya Alex


“ aku tahu kau sangat mencemaskan kekasihmu Lisa tapi diluar itu dia juga kunci kita jadi aku tidak akan mengambil keputusan mengirimnya jika tahu keberhasilannya minim. Aku melihat anak – anak yang hebat, tangguh, dan cerdas” jelas Komandan


Tepatnya saat kami menemukan sebuah router yang ternyata penghubung atau jalur komunikasi pada ruang rahasia milik Komandan yang ada di pulau tepat di rumahnya saluran itu terhubung membuat Lyta, Alex dan komandan terkejut dengan menerima sinyal itu


Alex yang sibuk mengotak ngatik komputer dengan layar besar disana mencoba menjernihkan jaringan agar lebih jelas dibantu dengan Lyta yang mencoba membersihkan virus dari kodingan program routernya


“ kau mengerti hal seperti ini Lyta?” tanya Komandan


“ yah lumayan” singkatnya


“ kalian memang selalu membuatku terkejut” gumam Komandan


“ ayolah bukan saatnya untuk bangga padanya, mungkinkah mereka menemukan routermu” sahut Alex


“ itu artinya mereka jeli dalam menyelidiki sesuatu bukan” jawab Komandan


“ hehe, hanya orang yang rasa penasaran nya tinggi saja” sahut Lyta


Alex terus mencoba berbicara dan hanya terdengar suara samar seseorang yang menyahut, kondisi kami sekarang antara senang karena berhasil menghubungkan sinyal komunikasi pada Alex juga disertai kebingungan mencari dokumen yang kami tidak tahu bentuk fisiknya seperti apa,


“ Alex kau bisa dengar kami?” teriak Alif


“ i-ya ha-nya ter-p-utus” jawab Alex


Kami terus mencari walau badan mulai terasa sakit semua, “ halo, apakah sudah jelas?” sahut Alex


“ yah, sudah jelas”


Terlihat wajah Alex dilayar besar itu terlihat juga Lyta disana yang sedang mengkoding program jaringan agar tetap jernih, melihat sahabatku selamat sampai pulau aku sangat senang “ Lyta” sahutku


Namun Lyta tidak bisa menengok karena ia harus fokus menjaga program itu, “ dia sedang membenarkan jaringan saat ini agar komunikasi kepada kalian jernih” jelas Alex


“ dokumennya dimana?” Alif langsung pada intinya


Terdengar suara Komandan “ dokumen itu ada di sebuah kotak yang terkunci disana, kalian harus membukanya” Komandan mulai menampakan dirinya di layar, Alif langsung mencari kotak itu tiba – tiba Komandan berteriak “ TUNGGU, jangan dulu aku belum selesai menjelaskan bisakah kalian mendengar perkataan ku hingga akhir karena jika tidak kalian bisa celaka”


“ ada apa memang nya?” tanyaku


“ jika kalian sudah menekan itu segera geser tembok yang warnanya tampak lebih mengkilat disitu adalah tombol pembuka lift menuju atap gedung itu ada helikoper disana kalian pergi dari Zona merah itu sekarang juga”


“ hanya itu?” tanya Arya


Arya menunjuk ke arah kotak yang ada dibalik kain, saat Alif akan membuka kotak itu langkahnya sempoyongan lalu terjatuh “ Aliif” refleksku dan Arya


“ kau semakin lemah” sahut Arya


Muka Alif semakin pucat badannya dingin “ Alif ini sudah parah” kataku panik


“ FOKUS” bentak Alif “ Arya kau buka kotaknya tapi sebelum itu Alan carikan tombol liftnya” lanjutnya


Alex melihat semuanya ia melihat kekhawatiran ku pada Alif yang membuatnya teringat saat bagaimana sikapku ketika ia terluka waktu itu “seharusnya kau tidak bersikap seperti itu” batin Alex


“ ketemu” Alan pun membuka pintu Lift tersembunyi yang ada di balik tembok


Kami pun memasuki Lift dan hanya Arya yang masih di dekat kotak untuk membukanya, Alex masih memperhatikan kami dari layar besar itu aku ingin sekali mengatakan jika aku rindu padanya tapi yang ku bisa hanya meihatnya di layar monitor besar itu dan entah kami bisa bertemu kembali atau tidak jika aku selamat jika tidak maka ini akan menjadi pertemuan terakhirku dengannya, meneteskan airmata di pipi ku melambaykan tangan padanya tanda rinduku


Arya berhasil membuka dan mengambil tas yang ada di dalam koper itu ia segera berlari menuju lift saat itu juga Alan segera menekan tombol paling atas pada panel yang ada di lift itu di depan kami tepatnya di atas kepala kami terlihat hitungan mundur dari angka 10 hingga pada saat hitungan ke 8 pintu Lift mulai tertutup aku masih menatap layar monitor seperti mengerti lambayan tanganku Alex juga menitihkan airmatanya sembari menggerakan bibirnya “ I love you” walau tidak bersuara namun gerakan bibirnya sangatlah jelas aku hanya bisa tertunduk setelah meneriman pesan itu darinya tak lama asap berwarna biru terlihat mengembul diruangan ini kami terkejut bukan main layar monitor pun mati


“ jadi ini alasan Komandan tadi, pantas saja ia sampai berteriak seperti itu” gumam Ben


Hitung mundur pun habis lalu kami berasa seperti terbang keatas seketika kami sampai di atap gedung ini “ waah, ahahaha cepat sekali” gumam Ben kegirangan seperti habis menaiki wahana permainan


“ kau itu sudah tua tapi kelakuanmu seperti bocah” ketus Alan


Sesampai nya di atap kami tidak melihat helikopter disana “ mana helikopternya” kata Luna, Alan pun segera mengecek sektar landasan helikopter disana lalu ia menginjak sebuah lampu yang ada disana terbukalah lantai landasan dan helikopter nya, kami segera menaiki helikopter itu dengan Alan sebagai kemudi kami


“ kau bisa mengendarai apa selain mobil dan ini?” tanya Ben


“ entahlah” singkatnya


Ben menatap heran Alan, “ semua siap” sahut Alan, kami mengangguk ia pun mulai lepas landas “Alan kau bisa kan?” raguku


Alan terkekeh “ ia Lisa aku bisa” jawabnya


Aku menghela nafas “ jika kau takut jangan lihat kebawah” sahut Alif


“ tidak usah so peduli” ketusku yang kesal karena dibentak olehnya padahal aku khawatir dengan kondisinya


Arya dan Luna yang mendengar jawabanku menoleh kearah kami


“ maaf aku tadi membentakmu, kau tidak boleh terbawa suasana disaat genting seperti itu” jelas Alif


“ yah maafkan aku juga yang selalu mengkhawatirkan orang yang lebih mementingkan suasana daripada dirinya sendiri” ketusku


Alif tersenyum kecil ia menyandarkan kepalanya “ dasar bocah” celetuknya


“ apa lu bilang gua apa tadi?” kataku ngegas


Arya tertawa mendengarku membalas ejekan Alif dengan bahasa indonesia, “ kau juga kenapa tertawa?” tanyaku pada Arya


“ hey gunakanlah lagi bahasa kita” sahutnya


“ kalian ini jangan bicara campur seperti itu aku pusing dan tidak mengerti apa yang kalian bicarakan” sahut Ben yang berada di bangku sebelah kemudi