DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
DIE or LIFE SEASON 2



Menelusuri jalanan kota dengan sedikit sempoyongan ia mencoba mencari informasi terbaru tentang I.V.V, sudah lama semenjak ia memutuskan untuk ikut terbuang dengan kakakknya ia memilih menjaga kakaknya namun Rachel yang mengalami frustasi sudah meninggal dunia, Alan merasa tidak ada lagi yang harus ia jaga dan memulai perjalanan dalam hidupnya dengan berlayar bersama para pedagang


Alan belum pulih sepenuhnya ia masih mengalami dehidrasi dalam tubuhnya namun wajah Lisa terus terngiang dibenak Alan, ia melewati sebuah gedung besar lalu terduduk disebuah halte yang ada di depan gedung itu


“ aku benar – benar tidak punya petunjuk apapun” gumamnya


Alan melihat Alex yang baru saja keluar dari gedung itu dengan menaiki sebuah mobil pribadi ia mengikuti dengan menaiki sebuah taksi “ikuti mobil didepan”


Alan sesekali batuk dan Ia lupa jika tidak mempunyai uang saat ini lagipula uang tidak lagi berguna I.V.V menggunakan system kartu tanda kependudukan untuk membeli atau menggunakan fasilitas yang ada


“apa kau baik baik saja tuan?” tanya supir taksi itu


Alan tidak menjawab ia nampak pucat dan lemas, mobil taksi ini berhenti didepan sebuah rumah besar “pak bisa kau tunggu sebentar disini aku akan kembali” kata Alan


Ia mencoba masuk kedalam rumah itu dengan mengikuti segerombolan pelayan pria yang membawa alat bersih kedalam ia mengambil salah satu alat kebersihan itu dan berkamuflase untuk masuk kedalam rumah karena penjaga yang cukup ketat di luar rumah


“andai kau tau dia ada di hutan itu, apa masih bisa kau tinggal dirumah besar ini” gumam Alan dengan wajah sinis


Ia menaiki tangga dan mencari apa saja yang bisa dijadikan informasi untuknya karena ia benar benar gelap dan tidak tahu apapun yang sudah berubah selama ia diasingkan


Ia memasuki ruangan yang ada satu persatu dan sampai pada ruang kerja milik Alex nampak rapih dengan beberapa document menunumpuk di meja yang terdapat laptop telepon dan alat tulis lainnya ada foto Alex dengan seragam pangkat yang dahulu dikenakan oleh ayahnya Alan


“cih, khekhekhe dahulu kau mengutuk posisi ini bukan” alan melihat foto Alex itu


Ia mulai menggeledah meja kerja dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, cukup lama ia membaca dokumen yang ada dan mengetahui jika Rey adalah president I.V.V saat ini dan beberapa jejeran kepiminan lainnya


Braak


Ia melempar beberapa dokumen “sial mereka memanfaatkan ayah dan sekarang menjabat sebagai pemimpin? Hah ha ha ha” ia tertawa


Namun bukan karena senang ia benar benar marah karena Rey menjadi pimpinan padahal ia juga dulu mendukung Letnan


Ia kembali mencari sesuatu di laci meja itu entah apa yang Alan cari tapi ia masih merasa penasaran “ apa ini” ia menemukan botol kecil berisi cairan


Mendengar suara seperti seseorang ia segera pergi dari ruangan itu saat hendak menuruni tangga Alex berada di depannya tengah menaiki anak tangga itu, Alam segera kembali dan memasuki sebuah ruangan untuk bersembunyi langkahnya perlahan mundur dari pintu


“s-siapa kau?” suara lirih seseorang


Alan berbalik dan ternyata itu Komandan yang tengah terbaring lemah dengan berbagi alat dan selang yang menempel ditubuhnya


“Komandan”Alan kaget dan menghampiri nya


“ada apa denganmu? Kau sakit?”


Komandan melirik lemah Alan “rupanya kau, bagaimana bisa kau disini nak?”


Alan terdiam tanpa menjawab hanya menunduk


“syukurlah kau ada didalam I.V.V, terlalu berbahaya jika kau hidup diluar sana”


Dengan raut wajah sedih dan bingung “kenapa kau peduli padaku?”


“nak, kau anak baik bagaimana aku tidak peduli padamu aku sudah mendengar kabar bahwa sekarang kau hidup sendiri”


Alan kaget bahkan informasi di luar I.V.V pun kakek tua ini tau “dalam kondisi seperti ini kau masih mengumpulkan informasi diluaran sana?”


“sebentar lagi Alex akan kemari kau sebaiknya pergi”


“aku masih ingin bertanya padamu”


“nak aku sudah tidak sanggup untuk menjawab semuanya aku terlalu lelah sekarang''


Terdengar keributan di luar Alex berteriak, nampaknya ia sudah melihat ruang kerja yang berantakan “sebaiknya kau pergi sekarang”


Alan terjun dari semak semak dari jendela kamar Komandan diruang kerja Alex ia memeriksa semua berkas yang berantakan “cairan itu” Alex memeriksa laci dan menghela napas “ini juga tidak hilang, seharusnya kumasukkan ke brankas”


Lalu ia ingat dengan kondisi Komandan “ apa sudah ada yang memeriksa kondisi kakek?” tanya Alex pada pelayan yang membantu nya membereskan kekacauan di ruang ini


Semua nampak saling menatap “iiish” Alex segera memeriksa Komandan.


“kakeek, kau tidak apa apa? Apa ada yang masuk kemari?” cemas Alex


Komandan nampak tidak merespon ia tertidur Alex memeriksa alat bantu dan tubuh Komandan “kakek jawablah setidaknya membuka mata saja” cemas Alex


“aku baik baik saja” jawabnya dengan mata tertutup


Alex menghela napas ia melihat jendela yang terbuka “kakek kau tidak melihat ada yang masuk kemari?”


“aku mengantuk dan tidak melihat siapapun”


Alex kembali menyelimuti Komandan beberapa orang datang “kalian jaga ketat kamar komandan dan ruang kerja ku” komando Alex pada bawahannya yang datang


“kakiku” Alan meringis ia berusaha kabur dari rumah itu


...****************...


Tok tok


Alan tapi tidak ada respon dari nya ia terus mengetuk lagi namun tidak ada respon lalu Lyta akhirnya masuk menerobos kamar Alan


“sudah kuduga dia terlalu tenang didalam kamar” Lyta melihat infusan dan tempat tidur yang berantakan segera Lyta bergegas pergi


“kakak kau mau kemana?”


Lyta lupa jika ia sedang menjaga Rara sekarang karena orangtuanya tengah sibuk, ia menelepon Alif “lif kau dimana? Aku butuh bantuan”


Alif segera membantu mencari Alan ia menyusuri kota dengan motornya “tolong dia tidak punya kartu identitas aku khawatir jika ia tertangkap oleh pihak kepolisian”


Itu yang dikatakan Lyta saat menelepon Alif “kemana sebenarnya dia” gumam Alif


Lyta dirumah mondar mandir khawatir dengan kondisi Alan selama setengah jam ia seperti itu dan Rara hanya duduk memperhatikan Lyta sembari memakan cemilan “ayolah ka, dia akan baik baik saja” sahut Rara


Tok tok


“Alif bagaimana” Lyta membuka pintu dan ternyata Alan yang ada di depannya sekarang


Lyta segera menelpon Alif untuk memberitahu jika Alan sudah pulang, di kamar Rara mencubit Alan “kau sudah membuat ka Lyta khawatir”


“maafkan aku” Alan menunduk


“ih minta maaf sama ka Lyta”


Alan mengangguk dengan memasang wajah memelas“ berhenti itu tidak akan mempan apalagi pada ka Lyta”ketus Rara


“ kau benar” Alan seketika merubah ekspresinya menjadi datar


“Tapi tidak datar seperti itu juga”sahut Rara


“ huft.. jadi kau ini mau nya apa” tanya Alan


Lyta masuk dan memotong percakapan mereka “Rara kau boleh keluar kamar sekarang”


“tidak kau pernah bilang jika pria dan wanita tidak boleh bersama dalam satu ruangan”


“aku tahu tapi percakapan ini juga tidak boleh didengar oleh mu''


Alan hanya senyum –senyum melihat Lyta dan Rara berdebat “ benar Ra aku tidak akan menyentuh kakakmu”akhirnya Rara pun menuruti perkataan Lyta dan keluar dari kamar


Alan menatap wajah Lyta “ aku tahu kau marah tapi aku hanya…”


“diam” Lyta mendorong Alan ketempat tidur lalu memsangkan infusan dan merawatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun


“ lebih baik kau mengomel daripada diam seperti ini” sahut Alan


Lyta tidak merespon ia hanya memberikan perawatan pada Alan lalu pergi “tunggu Lyta” Alan berdiri dan menahan Lyta “Lyta aku benar – benar minta maaf tapi aku tidak tahan karena ketidaktahuan ku tentang apa yang terjadi saat itu”


“jika kau mau aku bisa menceritakannya” lirih Lyta


“aku keluar mencari informasi karena tidak mau membuatmu bercerita hal yang menyakitkan, aku tahu kisah itu pasti tidak menyenangkan”


“jika kau ingin tahu tanyakan saja, jangan membahayakan dirimu kau harus berada di tempat tidur dalam sebulan” Lyta pergi


Didapur Lyta termenung ingatan 5 tahun lalu terlintas seperti film di kepalanya airmatanya menetes tanpa disadari suara ketukan menyadarkan Lyta dari lamunan “yaa sebentar” mengusap air matanya dan membukakan pintu


“mana dia” Alif masuk


“dia sedang istirahat dikamarnya” Lyta mengikuti Alif


Lyta menarik Alif “aku minta maaf sudah merepotkan mu”


“aku marah bukan karena itu, aku hanya ingin mengahajar dia untukmu” tegas Alif


“jangan lif dia sedang sakit”


Alif menghela napas “ kenapa kau begitu peduli padanya” gerutu Alif


“ ngomong – ngomong kemana Rara?” lanjut Alif


...****************...


“kakak kau tahu mereka selalu bertengkar dan rumah rasanya sangat sesak apalagi kedua orangtuaku selalu sibuk” Rara menaburkan bunga di makam Lisa


“aneh apa mungkin wanita yang ku lihat itu hanya mirip denganmu ka? Karena orang meninggal tidak bisa hidup lagi kan ka, tapi aku sungguh yakin itu kau aneh bukan.


Apa kau punya kembaran? Jika kau benar masih hidup maka hidupku akan lebih tenang, tidak berisik dirumah mamah dan ayah mungkin tidak sesibuk ini untuk menemukan vaksin yang akurat” lanjut Rara


Rara berdiri “tadinya aku kagum padamu tapi kini aku marah kenapa semua orang hanya peduli padamu, setiap hari mereka membicarakan kau lagi kau lagi”


Rara teringat akan wanita di hutan itu “dia sangat mirip denganmu bagaimana jika aku membawanya kemari mungkin mereka akan lebih tenang dan kedua orangtuaku tidak akan sesibuk ini” gumamnya.