
Sudah tiga hari berlalu sejak Lisa di masukkan keruang eksekusi untuk para human imunity di lain tempat Alex baru tersadar dari masa kritisnya karena luka tembak itu, perlahan ia membuka mata buram terlihat lalu ia melihat di sampingnya ada seorang wanita samar samar semakin jelas itu Rachel yang sedang memeriksa infusannya “ k-kau, aa-a kepala ku sakit sekali” Alex resadar
“ Alex kau sudah sadar, pelan –pelan lex kepalamu sakit karena kau tidak sadarkan diri selama 3 hari” Rachel mencoba membantunya menaikkan sandaran tempat tidurnya, Rachel adalah seorang ilmuan juga dokter yang pernah meneliti di lab milik I.V.V selama 3 hari ini Rachel yang dengan sabar dan teliti merawat Alex “ aku akan panggilkan komandan, kau tak apa ya ku tinggal” senyum hangat Rachel hanya dibalas anggukan oleh Alex, Rachel pergi mengabari komandan atas sadarnya Alex
“ aku tiga hari berada disini, lalu bagaimana dengan Lisa dan yang lainnya” fikir Alex yang mengkhawatirkan keadaan yang lainnya Rachel mencoba membantunya menaikkan sandaran tempat tidurnya, Rachel adalah seorang ilmuan juga dokter yang pernah meneliti di lab milik I.V.V selama 3 hari ini Rachel yang dengan sabar dan teliti merawat Alex “aku akan panggilkan komandan, kau tak apa ya ku tinggal” senyum hangat Rachel hanya dibalas anggukan oleh Alex, Rachel pergi mengabari komandan atas sadarnya Alex
“aku tiga hari berada disini, lalu bagaimana dengan Lisa dan yang lainnya” fikir Alex yang mengkhawatirkan keadaan Lisa dan yang lainnya, tak lama datanglah komandan alias kakek dari Alex
“Alex kau sudah sadar nak, kau baik baik saja nak” cemas Komandan
Alex hanya terdiam “ lex sapalah kakekmu dia sangat mengkhawatirkanmu” bujuk Rachel
“kau lebih baik pergi, aku ingin bicara dengannya” dengan datarnya Alex mengusir Rachel yang sudah menemani dan mengurusnya selama tiga hari, Rachel menatap Komandan “ baiklah, jangan lupa tekan tombol ini jika kau butuh sesuatu” Rachel pergi meninggalkan Komandan dan Alex, “tenang Rachel, kau akan mendapatkan hasilnya nanti, dia akan kembali menyayangimu seperti dulu” dengan senyum getirnya ia mencoba menguatkan diri
Di kamar itu sekarang hanya ada Alex dan Komandan
“ lukamu bagaimana, apakah sudah membaik?” tanya Komandan
“ tidak usah banyak basa basi” ketus Alex
“aku hanya membutuhkan informasimu sekarang” lanjutnya
Dengan wajah murung karena sikap cucunya yang masih belum memaafkannya “ kau butuh informasi apa?”
“kau pasti tahu distrik yang datang bersamaku, distrik 4 aku mau tahu mereka sekarang diamana?” selidik Alex
“ distrik 4” Komandan berjalan mengambil kursi didekatnya “ setahuku mereka sudah ada di rumah yang disediakan markas untuk mereka sekarang”
“ aku mau kesana berikan aku alamatnya”
“ untuk apa kau menemui mereka, biasanya setelah kau sampai dan berpisah dengan anggota distrikmu yang dulu saja kau tidak peduli”
“ kau tidak perlu menyelidiku, berikan saja alamatnya” Alex memaksa
“ huuft,, baiklah akan ku beri tapi tidak sekarang setelah kau benar benar pulih”
“ aku sudah pulih sekarang, kau tidak perlu memperdulikan aku berikan saja alamatnya”
“ Aleex, aku ini masih kakekmu kau ini cucuku mana bisa aku tidak peduli denganmu” bentak Komandan
Alex turun dari tempat tidurnya dengan mencoba berdiri tegak “ apalagi yang kau sembunyikan sekarang, apa kau tidak cukup membuatku kehilangan papah dan mamah ku hah” Alex marah karena Komandan seperti mencari alasan untuk tidak memberikan alamat itu
“ aku tidak menyembunyikan apapun darimu, aku akan berikan jika kondisimu sudah pulih”
“ aku sudah pulih, kau ini tidak lihat aku sudah bisa berdiri seperti ini kau mau berkelit apa lagi hah, bahkan aku saja dirawat di rumah pribadi bukan di gedung milik I.V.V itu saja sudah membuktikan bahwa ada yang kau sembunyikan dari ku komandan”
“ yang membawa kau kesini adalah Rachel bukan aku bahkan aku saja baru tahu kau ada di kota ini ketika kau sudah berada di rumah ini”
Komandan berusaha memeluk dan memasukan sepotong kertas bertuliskan alamat dimana Arya tinggal “ kau harus kesana diam daim, aku tidak bisa memberitahu secara lisan karena ruangan ini sudah di sadap oleh gadis licik itu” bisik komandan pada Alex
“nak maafkan lah kakekmu ini, aku tidak bisa memberi tahu mu sekarang” Komandan mengalihkan perhatian agar Rachel yang mendengar dari luar terkecoh “ pergi lah sekarang” bisik komandan lagi
“lepaskan kau memang tidak berguna” Alex pergi dari kamarnya
“ heh, aku rasa dia berkata seperti itu bukan bagian dari aktingnya” gumamnya dalam hati sembari menggelengkan kepala melihat sikap cucunya
Di ruangannya Rachel bergumam “ mau kemana dia “ menatap layar monitor cctv, “ kalian ikuti kemana Alex pergi” perintah Rachel pada bawahannya menggunakan earphone jarak jauh, dua anak buah Rachel pun mengikuti Alex diam diam,
Alex mencoba menuju ke alamat yang di berikan oleh Komandan kepadanya, ia mulai menaiki kendaraan umum di kota I.V.V jadi markas ini memang sebuah kota yang khusus untuk para pejabat dan pemegang perusahaan besar dunia dulunya. Selama di perjalanan ia merasa ada yang aneh dengan kendaraan di belakangnya yang terus mengikuti kendaraan yang Alex tumpangi “sepertinya aku harus merubah jalur sedikit, pak tolong lewat jalur kanan di belokan depan ya” instruksi Alex pada pengemudi
Kendaraan yang mengikutinya mulai keteran mengikuti Alex karena kendaraan Alex muali menyelinap di tengah kenadaraan lainnya dalam kesempatan ini Alex langsung merubah lagi jalur ke araha semula dengan berbelok ke arah sebelumnya tanpa di ketahui anak buah Rachel
Tok tok
“ yah sebentar” Arya membuka pintu rumah nya “ Alex, kau sudah pulih?” Arya terkejut melihat Alex ia kembali teringat kejadian tiga hari lalu sebelum meninggalkan gedung itu
Sebelum meninggalkan Lisa sebenarnya Arya merasa sangat bersalah pada Lisa tapi ia tidak punya pilihan lain karena ingin sekali membawa adiknya pergi dari tempat itu, mereka sekarang menuju rumah yang sudah disiapkan pihak kota I.V.V oleh Rachel
“ ayo kita pulang Luna” Arya menggenggam tangan kecil adiknya
Luna melepas genggaman Arya “ kau, kenapa bisa membawaku pergi dari tempat itu?” selidik Luna menatap Arya dengan wajah pucat nya
“ tentu saja aku ada koneksi disini makanya aku bisa sampai kemari dan membawamu” senyum Arya yang berusahan menutupi alasan sebenarnya
“ kau pikir aku bodoh ka, gadis yang bersamamu tadi langsung di tarik oleh penjaga setelah kau membawaku dan itu artinya kau menukarku dengan sample baru” matanya berkaca menatap Arya
Arya mengusap wajahnya dan mengacak acak rambutnya tanda ia tak tahu lagi harus berkata apa “ kenapa ka, kenapa menjadi seperti mereka yang tidak peduli dengan nyawa orang” tangis Luna
“ LALU AKU HARUS APA?” bentak Arya “ aku juga tak punya pilihan lain, dan kau bilang apa? peduli nyawa orang lain? Lantas apa mereka peduli padamu dan juga aku?” Arya merasa marah dan tidak dihargai oleh adiknya karena memang niatnya ingin membebaskan sang adik namun caranya salah
Kembali pada Arya dan Alex yang masih belum dipersilahkan masuk oleh Arya yang termenung mengingat hal itu
“ hei kau kenapa Arya?” Alex mencoba menyadarkan lamunan Arya
“ ah, maaf silahkan masuk”
Rumah ini minimalis tapi sangat rapih dan tertata rapi, “ kemana yang lainya?” tanya Alex sembari duduk di bangku ruang tamu
“ yang lain, ehm” Arya merasa sangat kebingungan harus menjawab apa jika ia bertanya soal Lisa “ bagaimana jika aku buatkan kau minum dulu agar lebih enak kau jauh datang kemari kan pasti haus” Arya mencoba mengalihkan topik, ia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman sembari berfikir apa yang harus ia jawab.
Ketika sedang membuat minum Luna turun dari kamarnya ia ingin ke dapur mencari air tidak tahu jika ada tamu di bawah, Alex refleks berdiri karena kaget ada seorang gadis dirumah itu di dapur Arya mencoba mengatur diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya, kemudian ia datang dari arah dapur membawa minuman
“ Arya, jangan bilang kau sudah” Alex menduga jika Arya sudah memiliki kekasih padahal itu adiknya sendiri
“ tidak tidak, dia bukan “ menaruh minuman di meja “ duduklah” Arya menawari Alex pun kembali duduk di tempatnya
“ Luna dia adikku” kata Arya
“ adik, kau punya saudari rupanya” Alex
melirik Luna “ jadi kemana yang lain ya?” lagi lagi Alex bertanya
“ Lyta semenjak ia dipisah saat kita masuk ke kota ini, sampai saat ini belum ada kabar darinya” jelas Arya
“ hm,, lalu Lisa, dimana dia? Apa dia juga tinggal bersamamu?”
Arya saling menatap dengan Luna, Luna sudah marah dengan Arya sejak tiga hari yang lalu ia selalu mengurung diri di kamar dan hanya sesekali keluar kamar nya jadi Arya sudah pahan tatapan Luna yang mengatakan jika dia harus mengatkan yang sebenarnya
“ ada apa dengan kalian, aku sedang menunggu jawabannya?” desak Alex
“ lex, kau harus tetap tenang saat aku memberi tahumu dan sebelumnya aku sangat menyesal juga maafkan aku karena ke egoisanku” pembuka dari Arya sudah membuat Alex membenarkan firasatnya jika ada sesuatu yang terjadi dengan Lisa “ apa maksudmu, kau sudah melakukan apa Arya?” muka Alex menjadi serius
“ akan ku jelaskan jadi..” Arya menceritakan awal kerjasama dia dengan Rachel di sungai hingga saat menyerahkan Lisa tiga hari yang lalu, mendengar itu semua ia sontak naik pitam “ kau dasar KEPARAT” dan hampir menghabisi Arya saat itu juga namun terhalang oleh tubuh mungil Luna
“menyingkir kau, jangan halangi aku atau kalian berdua aku habisi” ancam Alex dengan emosi
“ aku juga tidak pernah mau ditukar oleh sample lain, karena aku tahu sakitnya berada disana” air mata Luna menetes
Alex mencoba meredam amarahnya ia menurunkan tinjunya “ maaf lex, aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku memang egois tapi selama ini aku mencoba mendatangi gedung itu mencari tahu informasi yang ada tentang dimana Lisa berada aku merasa sangat bodoh dan bersalah aku ingin membebaskan dia” Arya tertunduk di lantai
“ Lisa maafkan aku, aku tidak bisa melindungimu” Alex menatap kosong langit
rumah sembari memegang luka di dada nya” gegara luka sialan ini, aku jadi tidak bisa melindunginya, AAARGGH” Alex memukuli lukanya, melihat itu Arya segera menghentikan apa yang dilakukan oleh Alex karena beresiko untuk kesehatanya
“ Alex hentikan jangan bertindak seperti ini” Arya berusaha menahan lengan Alex
Alex mendorong Arya hingga terjatuh ke lantai “ kau ini tidak pantas untuk menerima perasaan Lisa, yah huh benar, untung saja kau mengabaikannya dulu tapi begitu polosnya ia selalu memikirkan mu walau kau tidak pernah melihatnya sedikitpun bahkan selama perjalanan kemarin ia selalu mengkhawatirkanmu, tapi itu tidak akan terjadi lagi karena kau sudah menunjukan siapa dirimu sebenarnya” Alex melangkah pergi meninggalkan Arya
Arya termenung menyesali perbuatannya apalagi mengetahui bahwa Lisa selama ini selalu perhatian padanya tanpa ia sadari '' aku akan pergi membawamu Lisa'' Arya berdiri segera bersiap untuk pergi
'' aku ikut, aku bisa membantumu mencari kak Lisa'' Luna menawarkan diri
'' tidak, kau disini saja terlalu berbahaya''
''aku tahu lokasi dimana ruang eksekusi itu''
'' lalu kenapa kau tidak memberitahuku dari kemarin'' Arya menyiapkan senjatanya
''kau tidak bilang jika mau menyelamatkannya''
Arya melirik Luna '' huuft, baiklah''
Di ruang eksekusi
Aku terbangun dengan membuka mata terlihat buram cahaya di depanku, lama kelamaan cahaya itu semakin jelas itu lampu unutuk operasi pemebedahan yang biasa digunakan di rumah sakit “ a-aah, kepalaku pusing sekali” aku terperanjat duduk, “ prof dia sudah sadar” kata salah satu dari tiga orang itu mungkin dia seorang perawat “ tunggu sebentar “ pria yang di panggil prof itu masih membelakangiku entah ia sedang apa, aku baru teringat kejadian Arya yang menyerahkan ku begitu saja lalu aku melihat pakaianku sudah berubah menjadi pakain serba putih seperti pakaian yang di kenakan oleh Rachel saat menjadi kelinci percobaan di hutan itu “ kenapa pakaianku seperti ini” tanyaku “ kami sudah membersihkan badanmu dengan mengelapnya agar kau nyaman dan mengganti pakaianmu” jelas salah satu perawat itu “ artinya pria itu juga melihat tubuhku?” kataku dengan muka panik
“ tidak aku tidak melihat apapun, saat aku sampai disini kau sudah berpakain seperti itu” pria itu berbalik menghadapku menggunakan masker medis
“ kau mau apa hah, mau membedah tubuhku?” aku memasang wajah garang
“ tidak aku hanya akan menyuntikan vitamin padamu karena kau kekurangan nutrisi dan kelelahan karena melewati medan yang begitu berbahaya bukan?” katanya dengan lembut
Jarum itu masuk kedalam tubuhku “ a-aa “ aku meringis “ tenang ini hanya sebentar, dan sudah” prof itu seperti sedang menyuntik anak kecil saja
Ia membuka maskernya “ kau harus berbaring jangan paksakan dirimu untuk banyak bergerak karena kau baru saja tersadar selama tiga hari ini” Prof itu memberi saran, ia masih tampak muda dan sepertinya umurnya 24 atau 26 entahlah yang jelas diumur seperti ini dia sudah menjabat sebagai profesor, “ aku akan mengecek mu lagi selama 2 jam sekali” ia meninggalkan kamar ku dan diikuti oleh dua perawat lainnya
“ sial aku terjebak disini, aku harus segera bangkit dan melupakan rasa sakitku sejenak agar bisa meloloskan diri dari sini” fikiku