DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
Ep 52 Chapter 2 - The Last Mission (tamat)



Hari pemakaman Lisa diselimuti cuaca yang mendung seperti ikut berkabung, Hanna dan Ben sibuk mengurusi pemakan Lisa. Adam menatap sendu lubang kubur itu “ka, apa yang ada di pikiranmu saat itu?” Adam bergumam dalam hatinya “ apakah kau membenci aku? Apa kau membenci kami?” Adam berlari ke arah gedung I.V.V, para penjaga disana menghalanginya masuk


“minggir kalian, aku keluarga Lisa” kata Adam dengan menatap tajam petugas


“ kami diberi perintah untuk mensterilkan tempat ini hanya petinggi yang boleh masuk” jawab salah satu petugas


“ petinggi sialan, mereka yang membunuh kakakku lalu sekarang berlaga peduli”


Arya yang baru saja keluar dari gedung I.V.V melihat kegaduhan itu ia segera melerai Adam yang bersitegang dengan petugas “ADAAM, cukup!!!”


Ia menahan dan menarik Adam yang terus berusaha berontak dan hendak memukul para petugas “ada apa Adam, jangan seperti ini” kata Arya


“hei pria brengsek, kenapa kau bisa masuk kesana?” ketus Adam


Arya kaget karena Adam memanggilnya begitu “aku tau kau kehilangan, semua juga begitu tapi bisakah kau dewasa saat ini?”


“tau apa kau tentang bersikap dewasa? Umurmu saja yang lebih tua dariku, tapi kelakuan seperti sampah”


Arya mengepalkan tangan menahan emosi “ kau mau melihat kakakmu? Dia sudah siap untuk di kebumikan” Arya meninggalkan Adam namun langkahnya terhenti


“kau masih bisa melihat makamnya sedangkan aku bahkan tidak bisa melihat makam adikku yang keberadaan jasadnya saja aku tak tau dimana” Arya menahan air matanya dan pergi


“AAAAAA” Adam memukul tembok ia merasakan ketidak adilan bahkan di pemakaman kakakknya sendiri


Adam menatap lantai “apa yang mereka lakukan lagi, apa yang mereka sembunyikan lagi”


Di pemakan sudah berdatangan sahabat dan sisa warga yang selamat memenuhi pemakaman, hanya mereka dibatasi tidak dapat masuk ke dalam area penguburan.


Ada Komandan yang baru datang dengan pengawalnya, ia tampak muram menatap lubang tempat Lisa akan di kebumikan, disapa oleh Hanna dan Ben ia menanyakan keberadaan Adam


“bagaimana anda bisa tahu tentang adiknya?” tanya Ben


“aku ada saat kejadian dimana kakakknya tertembak, Hanna juga ada disana”


Hanna mengangguk “saat itu beliau yang membantuku untuk menyelamatkan Lisa dan lainnya”


Arya datang dengan muka menahan emosi, “Arya bagaimana? Kau kondisi Lisa apa kau bisa mengambil fotonya? Aku ingin melihatnya” Hanna berlinang air mata


“ jangankan memfoto aku tidak bisa masuk ke dalam ruang jenazah”


“bukankah kau diizinkan masuk ke gedung?” tanya Ben


“ tapi mereka mengunci ruang jenaza dengan alasan mensterilkannya”


“itu yang membuat wajahmu merah karena emosi?” sahut Komandan


“kenapa dia disini?” sinis Arya


Komandan hanya bisa diam menerima sikap sinis Arya, Hanna melihat Komandan “tidak apa apa nak, aku memang pantas mendapatkan perlakuan itu” senyum ketir komandan


Terdengar suara alat medis dari ruang rawat yang ada di gedung I.V.V itu adalah Alif yang terbaring di ranjang rawat lagi, karena ia mendapatkan luka cukup serius dari tembakan sniper saat melindungi Lisa di tower vaksin saat itu. Mulutnya terpasang alat bantu pernapasan sedangkan Alex masih dirawat walalu ia sudah sadarkan diri namun Alex belum sembuh total ia dilarang datang ke pemakaman karena dikhawatirkan akan mengalami serangan kecemasan atas apa yang pernah ia alami dulu ketika kehilangan kedua orangtuanya


Alex menatap keluar jendela kamarnya ia memandang pemandangan yang ada, karena ia berada di apartemen milik Komandan, dengan mata sembab dan tatapan kosong itu terlintas lagi moment perjalanan mereka sebagai surviver, dari Liam yang berkorban menjadikan dirinya tameng untuk menghalangi kroon lalu kehilangan Lisa yang sangat menyakitkan, Lisa gadis yang menyelamatkan dirinya dari kesalahan bodoh yang hampir merenggut nyawanya. Lisa menghalanginya untuk bunuh diri dengan menyerahkan diri menjadi santapan kroon saat itu, lalu sekian lama mereka berpisah akhirnya mereka dipertemukan lagi di sebuah camp


Memori itu sangat menyakitkan karena terkait dengan kematian orangtua Alex karena kesalahan Komandan membuatnya sangat sedih, namun juga memberi penawar saat Lisa ada di sisinya sekarang Lisa telah pergi “ kau mencampakkan ku lagi, kau pergi meniggalkan ku lagi seperti dulu saat kita pertama kali bertemu” gumam Alex


Air matanya jatuh “ kenapa kau pilih untuk pergi?”


“dimana Lyta?” tanya Arya pada Hanna yang sibuk menyiapkan kedatangan jasad Lisa, “ dia ada di kamarnya, katanya dia benci melihat orang orang yang terlibat dalam pengambilan sel Lisa”


Arya mengeluh atas ketidak dewasaan sikap Lyta dan Adam “ seharusnya mereka disini untuk melihat Lisa terakhir kali”


“dengar Arya setiap orang punya kenangan dengan Lisa dan kita tidak tahu betapa sakitnya ini untuk Adam dan Lyta” saat Hanna sedang menceramahinya ada seorang petugas bermasker melewati mereka ia tak sengaja menyenggol Hanna


“ hei perhatikan langkahmu” tegur Arya


Petugas itu hanya mengangguk tanpa menoleh


“sudahlah dia tidak sengaja” kata Hanna


Arya memeperhatikan petugas itu “hei, Arya kau dengar apa yang tadi aku katakan? Jangan samakan..” belum selesai Hanna bicara


“iyaa ibuuuu Hanna” sahut Arya


Terdengar suara petir disertai kilat ternyata petugas itu adalah Lyta yang menyamar untuk melihat keadaan pemakaman dan ternyata Lisa belum dikebumikan maka ia berniat untuk menyelinap ke gedung I.V.V agar bisa melihat Lisa untuk terakhir kalinya


Lyta sudah mengetahui denah gedung ini karena ia sempat menyelidiki sesuatu untuk Komandan dan menyelundup ke gedung I.V.V ia berhenti berlari karena melihat Adam yang terduduk lemas di trotoar depan gedung I.V.V dengan kepala tertunduk, tak terasa air mata mengalir di pipi Lyta melihat adik sahabatnya yang begitu kehilangan kakaknya, Lyta mengusap air mata dan menghampiri Adam


Lyta memeluk pundak Adam dan mengusap pelan punggungnya dengan suara bergetar “kau tidak sendiri, aku ada disini” kata Lyta


“memang nya kau siapa?” suara serak Adam


“ Lyta, aku Lyta”


“ka Lyta?” Adam menoleh “kenapa kau disini? Percuma kau tidak akan bisa masuk para bedebah itu melarangku untuk masuk” suara serak Adam


Lyta mengusap kepala Adam “kenapa suara mu menjadi seperti ini, suaramu habis”


“...”


“ ayo berdiri, aku akan membawamu pada Lisa” bisik Lyta


“sepertinya semua orang sudah menggila termasuk kau” ketus Adam


“kau tidak dengar? Aku bilang apa tadi” lanjut Adam


Lyta menarik Adam dan pergi menuju belakang gedung disana ada jalur menuju lab dengan lewat pentilasi yang hanya diketahui Lyta.


“ masuk”


Adam mengikuti perintah nya memang Lyta memilik sikap yang seram jika sudah sangat serius, “kenapa tidak kau saja yang memimpin jalannya” kata Adam sembari merangkak


“belok kanan” Lyta memberi arahan


“...”


“ jika aku didepan kau bisa melihat bokongku, enak saja dasar anak nakal” sahut Lyta


Adam tersenyum “kau pikir aku tertarik denganmu?”


“iish jaga sikapmu anak muda”


Setidaknya suasana menjadi cair sejenak, “ apa kau benar – benar tau dimana kakaku?


“mereka menaruh nya di ruang steril, aku memiliki kecurigaan karena hanya orang tertentu yang bisa masuk “


“aku tadi bertemu dengan kawanmu, dia bilang sampai saat ini tidak bisa menemukan jasad adiknya” lanjut Adam


“yah, kami berusaha mencari setelah kejadian tower saat itu, namun sudah ditelusuri tetap tidak ditemukan” jawab Lyta dengan suara lirih


Mereka sudah sampai sekarang dan tepat ada di ruangan dimana Lisa berada.


“lapor, tuan ada penyusup – “


Pria itu sedang melihat monitor ia mengetahui jika Lyta dan Adam sudah berada di ruang steril itu “biarkan mereka, aku akan memberi mereka hadiah dengan melihat wajah Lisa sekali lagi setelah itu mereka tidak akan melihat nya”


“baik tuan” penjaga itu keluar


“lihat saja sepuas kalian, agar kalian bisa melupakannya” gumam pria itu


‘brug’ mereka mendobrak pintu pentilasi yang ada di ujung bawah ruangan steril itu “ kakak!!” seru Adam dengan berlari menghapiri tubuh yang terbujur kaku di atas meja medis yang ditutupi kain putih, langkah Adam semakin pelan saat mendekati meja itu tangannya bergetar membuka kain penutup jenazah


Lyta sudah menangis dengan tangan gemetar, sedikit demi sedikit terlihat wajah Lisa yang pucat pasih dengan rambut panjangnya, Adam menangis lagi sejadi jadinya ia mengelus wajah yang sudah dingin itu “kau selalu berkorban untuk adik adikmu, untuk ayah dan mamah”


Adam terdiam tak sanggup bicara karena sesak “kakak, jika saja kau izinkan aku untuk balas dendam aku akan melakukannya dengan tuntas” kata Adam


“ Lisa ingin bertemu dengan adikmu yang lain dan orangtuan kalian” sahut Lyta dengar suara serak karena menangis sembari mengelus kepala Lisa


Adam mengepalkan tangan dan jatuh terduduk, “Adam!!” Lyta terkejut


“ka Lyta, aku benci merekaaa yang menyiksa keluarga ku, huaaaaa”


Lyta memeluknya “ada apa sebenarnya? Kemana ayah dan ibu mu serta adik mu yang lain”


“mereka...” Adam tidak bisa melanjutkan kata – kata itu namun Lyta mengerti maksudnya


“ AAAAA, huaaa” Lyta ikut menangis ia


merasakan sesak seperti Adam karena Lyta sudah menganggap Lyta sebagai saudari nya sendiri.


“ aku... aku gagal menjaga dan melindungi mereka” kata Adam


Sekitar 15 menit berlalu Lyta dan Adam menatap sendu mayat Lisa, “ada yang aneh” sahut Lyta


“ kenapa mereka tidak datang juga, untuk segera membawa Lisa ke pemakaman” lanjutnya


“benar, kenapa juga kakak masih di meja ini"


‘grudug grudug..


Terdengar suara roda dari lorong “sepertinya itu mereka” Lyta dan Adam segera bergegas kembali masuk ke lubang pentilasi itu, Adam berbalik dan melihat untuk terakhir kali nya.


Adam mengintip dan melihat pemindahan jenazah yang dilakukan oleh perawat wanita


Semua berkumpul dan menyaksikan pemakaman itu, Lyta dan Adam melihat dari kejauhan “kenapa kau tidak kesana” tanya Lyta


“aku muak dengan bedebah yang ada disana” telihat sejumlah petinggi dan juga ada Rey disana


Mereka membukakan peti dan memasukan Lisa kedalam tanah, satu persatu pemakaman itu ditinggalkan hanya ada Hanna disana yang masih terlihat sembari mengusap nisan Lisa, Adam masih memperhatikan makam itu dari kejauhan bersama Lyta yang sudah tertidur.


Adam membangungkan Lyta menyuruhnya pergi karena nampak Hanna sudah pergi dari makam


“ kau juga harus pulang”


“ aku masih mau disini” kata Adam sembari


melihat makam Lisa yang sudah sepi


“ tidak, kau juga harus ikut aku” Lyta menarik Adam


Tak lama mereka pergi terlihat seorang pria berjalan dengan tertatih menghampiri makam Lisa.


Ia terduduk dimakam itu mengelus nisan “AAAAA....” ia melihat ke langit “tuhan tidak cukupkah kedua orangtuaku kau panggil, lalu sekarang wanita yang ku sayang juga kau panggil” ia menangis


“...”


“ tidak ini memang salahku, kau sudah memberiku kesempatan melindungi mereka tapi aku yang tak mampu, maka itu kau ambil mereka dariku tuhan” lirihnya


Lalu hujan turun sangat deras “ Lisa aku bawa payung, tadi saat aku kemari sudah terlihat mendung” Alex menaruh payung itu di nisan Lisa sembari tersenyum ketir


Komandan yang baru saja sampai rumah mencari keberadaan Alex namun tidak ada, pelayan disana memberi tahu jika Alex keluar untuk menemui seseorang, Komandan tahu jika Alex pergi menemui Lisa “tidak usah dicari biarkan saja” ucap Komandan dengan mengusap muka tanda turut sedih dengan apa yang menimpa cucunya “anak malang” gumamnya. Tiba – tiba datang seorang pria


“ lapor Komandan, ia sudah berangkat keluar pulau”


“keluar pulau?” tanya Komandan


“ya nusantara memiliki banyak pulau, entah dia pergi ke pulau mana”


Komandan terdiam dengan menghela napas mencoba menebak apa yang akan diperbuat oleh nya kali ini.


***


Di rumah sakit I.V.V Alif yang masih lemah mulai menunjukan kesadarannya ia menggerakkan jarinya dan meneteskan air mata seperti tahu apa yang sudah terjadi pada Lisa, “kau bangun nak?” sontak sang ibu yang menemaninya terkejut melihat anaknya


“bawa dengan hati – hati, dia sample ku yang berharga” ujar seorang pria berbaju hitam


Dengan dikawal oleh puluhan anak buahnya mereka pergi membawa sesuatu di sebuah peti besar, sesampainya di pulau yang mereka tuju pria itu segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan peti besar itu, terdapat sebuah bangunan milik pria itu. Bangunan ini terlihat sudah tua didalamnya terdapat ruang rawat, kamar operasi dan ruang steril dilantai atas terlihat seperti rumah pada umumnya


Mereka membawa peti itu ke suatu ruangan dimana ada meja bedah, lampu dan aroma berbau alkohol yang sangat pekat, peti itu dibongkar dan ternyata isi dari peti itu ialah seorang manusia lebih tepat seoarng wanita, mereka menaruh tubunya ke meja bedah itu lalu memasangkan alat ke tubuhnya dan selang ke dalam mulutnya dari kaca yang gelap seorang pria memperhatikan


“laporkan padaku setiap perkembangannya”


“baik tuan” jawab seseoarng yang nampak


seperti dokter atau ilmuan


“perlakukan sample ini dengan hati – hati, ia sangat berharga untuk penelitianku”


Setelah alat dipasang dan sebuah cairan mengalir di selang pada tubuh sample itu oleh peneliti disana lalu ditinggalkan sendiri, tubuhnya mulai menghangat dan ia membuka matanya setelah 30 menit dengan terkejut dan bernapas tidak beraturan,


‘KREET...’ suara pintu terbuka


“kenapa juga aku ditugaskan dipulau kecil ini, sudah enak kerja di pusat” gerutu seorang perawat


Ia bertugas untuk memeriksa kondisi sample namun, ‘TRAANG’ perawat itu menjatuhkan sesuatu saat melihat sample itu ia terkejut.


“d-dia bukankah sample ini... ” tangannya gemetar menutup mulut tak percaya


Langit terlihat masih mendung dengan rintik hujan yang tersisa, Alex yang masih menatap makam Lisa, Alif yang berjuang untuk sadar dari komanya, Lyta dan Adam yang begitu terpukul serta Hanna, Ben, dan Arya yang mencoba untuk menerima semuanya. Namun ada hal aneh yang tercium oleh Lyta dan Adam begitu dengan komandan yang sudah mendapatkan informasi terkait sesuatu. Juga penyebaran vaksin yang belum sempurna walau sudah hampir semua tercakup masih ada kroon yang berkeliaran disana.