DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 47 Chapter 2 - The Last Mission : day 3 (revisi)



Seorang perawat memasuki ruang rawat Alif, ia memeriksa kondisi nya setiap dua jam sekali, saat memastikan cairan infusan nya tidak bermasalah Alif membuka matanya secara perlahan, perawat itu pun segera berlari keluar untuk segera memanggil Dokter yang menangani Alif setelah semua pemeriksaan di lakukan Alif dinyatakan memasuki tahap pemulihan walau sudah tersadar namun ia harus memulihkan organ – organ vitalnya dan Dokter pun harus mengetahui kecacatan akibat racun itu berdampak pada bagian mana, dengan muka pucatnya Alif nampak menatap kosong kamar itu setelah semua perawat dan Dokter pergi ia tidak mau disuruh untuk kembali berbaring, Alif memilih bersandar pada tempat tidurnya, ia menoleh pada kaca besar yang menuju jalanan koridor, nampak beberapa perawat dan staf yang berlalu lalang sesekali lalu ia melihat sebuah dokumen yang ada di bangku sebelahnya.


Alif berusaha turun dari tempat tidurnya namun karena masih lemah ia sempat terjatuh, karena rasa penasaran nya Alif kembali mencoba berdiri walau dengan bergemetar , Alif mencoba duduk di kursi itu dan membaca kedua dokumen yang ada


Ia membuka map dengan tergesa – gesa “jangan – jangan” lalu apa yang ia duga benar, Lisa juga sedang dalam pengambilan sel itu “sialaan” Alif pun berdiri sekuat tenaga, ia memaksakan kakinya untuk kuat berjalan walau sempoyongan, Alif membuka pintu kamarnya terlihat beberapa tim medis berkerubun pergi ke salah satu ruang isolasi tak jauh dari ruang rawat miliknya, ia dengan sekuat tenaga berjalan dengan menyandar pada tembok lalu terlihat di kaca aku yang sedang terbaling lemah karena biusan tadi


“ TIDAAK!!, LISAA” Alif memukul kaca dan mencoba membuka pintu namun pintu itu sudah dikuci oleh salah satu tim medis yang melihat Alif mengikuti mereka.


Aku mulai tersadar sebenarnya hanya masih samar pandanganku, aku melihat Alif yang ada di luar kaca “ Alif, apa itu kau, selamatkan aku A-lif” kataku yang kembali tertidur karena mereka meyuntikan kembali obat bius itu


“ apa yang dia lakukan, kalia bertiga tenangkan pasien itu” perintah salah satu Dokter itu


“ baik”


“ tapi bersikaplah baik dia adalah anak tuan Rey” sahut asisten Doker


Mereka pun keluar dan mencoba menghentikan juga membawa Alif kembali ke kamarnya “LEPASKAAN!!, kalian mau apakan Lisa?” berontaknya


“ cepatlah” kata salah satu perawat itu


Alif yang di pegangi oleh dua orang perawat pun terkulay lemas karena disuntik bius oleh perawat itu, mereka mengembalikan Alif ke ruang rawatnya lalu salah satu perawat mengabari jika pasien mencoba mengganggu pengambilan sel pada Dokter yang menangani Alif, segera Dokter itu pun menghubungi tuan Rey tentang anaknya. Tak lama berselang Rey yang baru saja dari Lab langsung menuju ruang rawat Alif


“ katanya dia sudah sadar” sahut Rey yang memasuki ruangan


Saat Rey masuk Dokter yang menangani Alif sudah berada di ruang rawatnya, “ yah, tadi perawat memberinya obat penenang karena Alif berusaha mengacaukan pengambilan sel sample kami” jelas Dokter


“ HA-HAHAHAHA, itu artinya dia sudah pulih bukan, kau bilang ia akan mengalami kecacatan tapi baru siuman saja dia sudah bisa membuat keributan itu” tawa Rey


“ kemungkinan ia memaksakan dirinya, sebaiknya pemeriksaan tetap dilanjutkan” kata Dokter


Rey pun melihat anaknya yang sedang terbaring itu “ kau ini, kenapa sepeduli itu hah?, jangan – jangan kau sudah menyukainya” batin Rey


“ maaf, tuan saya harus kembali ke bekerja” pamit Dokter


“ hem” singkat Rey


*****


Lisa pun menjalani operasi pengambilan sel darah dan cairan sum – sum miliknya, operasi itu berjalan selama 10 jam dan berjalan lancar, setelah setengah jam pasca operasi Lisa mengalami penurunan drastis dalam tubuhnya, ia pun drop lalu dinyatakan kritis mendengar itu Rey yang mengawasi langsung pengambilan sel pada Lisa. Ia marah pada tim medis yang menanganinya, khawatir jika sesuatu terjadi padanya karena Lisa adalah calon mantu yang berharga baginya selain itu jika Lisa masih hidup maka imun itu akan tetap ada selama Lisa menjaga kesehatannya,


Alif yang tampak disebelah Lisa hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca – kaca “Lisa, ini semua salahku, seharusnya aku tidak meninggalkan kalian sendirian saat itu, aku bodoh malah terpancing para pembunuh bayaran itu” ia memegang tanganku


“ tanganmu dingin sekali Lisa, Lisa kau harus bisa melewati masa kritis ini, kau harus bertemu dengan keluargamu bukan” Alif terus menyemangati ku


Rey yang memperhatikan anaknya dari luar pun merasakan jika Alif sangat tidak bisa kehilanganku, fikir Rey jika Lisa bisa jadi pendamping Alif, mungkin Alif tidak akan terlalu membenci dirinya, Rey menarik nafas dalam


Alex, Lyta dan Arya sudah menyusup ke dalam gedung untuk menyelamatkan Lisa, mereka sudah membagi tugas dan tempat Alex mengirim Lyta ke bagian Lab untuk memantau pergerakan disana, sebenarnya ia sudah memantau Lab saat Lyta disuruh untuk menyelidiki lagi dimana Lisa berada, alasan Alex agar Lyta dapat mengambil vaksin yang dihasilkan dan sel Lisa dan Luna untuk mereka amankan karena saat penyebaran dilkukan mereka harus merubah sistemnya terlebih dahulu baru memasukan Vaksin tersebut, lalu Arya bertugas mengawasi situasi dan sistem keamanan menuju tower itu, Alex sendiri ia akan membawa Lisa.


Mereka mulai memencar sesuai ke tempat mereka bertugas, Alex menelusuri lorong koridor berwarna putih itu, karena sistem cctv sudah diperbaharui oleh Arya ia mendapatkan kode peretasnya dari Lyta dan hanya menjalankan sisanya saja, Alex berjalan perlahan mengecek setiap ruangan padahal Lyta sudah memberitahu letak pastinya dimana sepertinya Alex masih juga sembari mencari informasi lain tentang I.V.V


Sesampainya di belokan lorong yang menuju keruangan Alif yang juga tidak jauh dari ruangan Lisa, langkah Alex semakin cepat ia menoleh kearah ruang rawat Alif “ sebenarnya kau ini siapa?” fikir Alex lalu ia melanjutkan langkahnyanya menuju kamar Lisa saat ia akan masuk terlihat seorang pria yang sedang bersama Lisa, ia memandangi Lisa yang sedang tertidur tak sadarkan diri “ siapa pria itu?” gumam Alif


Pria itu adalah Rey yang entah sedang apa ia disana, Rey pun berjalan menuju keluar ruang rawat, Alex pun bergegas sembunyi di balik tembok. Lyta berhasil menyamar dengan jubah putih miliknya ia seperti dokter yang ada di Lab itu, diam – diam Lyta mendengarkan percakapan mereka mencoba mencari informasi apakah mereka sudah mengambil sel Lisa, lalu Lyta pun mlihat seorang perawat membawa tabung vaksin “ jangan – jangan itu vaksinya” fikir Lyta,


lalu ia pun menghampiri perawat itu “ apa itu vaksin dari sample?” tanya Lyta yang sedang menyamar


“ ah iya, baru saja di ekstrak” jawab perawat


“ aku di perintahkan untuk membawanya pada profesor yang di sana” Lyta asal tunjuk


“ benarkah?, barusan aku disuruh untuk memasukan ini ke brangkas” jawab Perawat


“ sial” batin Lyta, “ yah, sebelum dimasukkan mungkin profesor akan mengeceknya dulu” Lyta mencoba mencari alasan


Perawat itu memandag Lyta dengan sedikit kecurigaan namun ia memberikan vaksin itu, setelah mendapatkannya Lyta tidak langsung pergi dia berpura- pura menghampiri seorang porfesor di dekat pintu keluar lalu saat pandangan perawat itu sudah tidak memperhatikannya ia berbelok langsung keluar pintu “huuftt, hampir saja” gumamnya, Lyta pun pergi menuju Arya berada


Alex tidak bisa membawaku karena tubuhku sekarang sedang dalam kondisi kritis jika ia mencopot alat dan oksigen di tubuhku itu sangat beresiko besar, Srkk, terdengar sambungan dari earphone


“ ada apa?” tanya Alex yang masih memandangi ku yang terbaring


“ cepatlah, mereka sudah mulai curiga, akan bahaya jika sirine dibunyikan” kata Lyta


“ baiklah, kalian segera pergi dari gedung ini, aku akan mengecek tower diatas”


“ Alex, lebih baik kau juga pergi sekarang jika kau pergi keatas mereka akan menangkapmu” kata Lyta


Tapi Alex tidak mengindahkan peringatan Lyta, ia tetap akan pergi ke tower itu ada yang ingin ia pastikan


“ ah, menyebalkan” gumam Lyta


Arya sudah selesai berbenah peralatan penyadapnya, mereka pun pergi dari gedung. Alex mencari sebuah alat tulis disana ia berencana untuk meninggalkan pesan pada ku, saat ia mencari kesisi lain dari tempat ku tertidur, gorden yang menutupi kaca pembatas ruangan antara ruanganku dengan Luna pun tersingkap karena tidak sengaja tertarik oleh Alex, saat Alex akan menutup kembali ia melihat seorang mayat yang terbujur kaku di sana. Mayat itu ditutupi oleh kain, Alex baru ingat jika Lisa seharusnya datang bersama Luna adik dari Arya, Alex mulai berfikir negatif mukanya mulai pucat, Alex pun mencoba untuk membuka pintu yang terhubung pada ruang itu namun pintu itu terkunci “ sial, jangan – jangan itu adiknya Arya, bagaimana ini” gumamnya panik, saat masih mencari cara masuk ke ruangan itu ia mendengar suara seseorang di koridor, Alex pun segera pergi dari ruangan itu dan menuju atap gedung ini,


Di luar gedung Arya dan Lyta masih menunggu Alex “ kemana dia” cemsa Lyta


“ Arya kenapa kau diam saja,?” tanya Lyta


“ jelas saja bahkan Lisa saja sudah mereka ambil selnya begitu dengan Luna” kata Lyta


Arya terperanjat “ tunggu, jika Luna sudah menjalani pengambilan itu kenapa kau hanya mengambil satu vaksin?” tanya Arya


Mendengar itu Lyta baru sadar, kenapa vaksin itu hanya satu lalu Lyta berfikir mungkin baru Lisa yang menjalani pengambilan lebih dulu, itu membuat Arya agak tenang “ yah mungkin kau benar” kata Arya


Alex terus menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di tower gedung itu, tower yang berbentuk seperti jarum suntik itu sangat tinggi lalu Alex mengamati tombol – tombol yang ada pada tower itu, ia menemukan sebuah slot kartu yang bentuknya seperti chip, “ ini untuk apa?” gumamnya , Alex terus mengamati dengan teliti.


Kepalaku terasa sakit terdengar bunyi ‘ngiing’ ditelingaku samar terlihat lampu ruang rawatku, aku mencoba terduduk dan melepaskan oksigen dan alat pendeteksi organ vital yang menempel di tubuhku “ sepi, ini kesempatan untuku” gumamku, mencoba untuk berdiri namun kakiku mati rasa aku pun terjatuh lalu aku berusaha meluruskan kakiku dan mencoba menggerakkan jari kakiku, sangat sulit dan aku hampir tidak merasa kan apapun “ tidaak, bagaimana ini” kataku panik


“ huuuft, tenaaang Lisaa kau harus tenaang” aku mencoba berfikir dingin, saat aku mencoba merangkak kembali ketempat tidur tiba – tiba pintu terbuka itu membuatku kaget bukan main sontak aku menoleh,


“ Lisaa!!, kau sudah sadar, bagaimana bisa kau ada di bawah” walau masih lemah Alif mencoba menggendongku kembali ke tempat tidur, aku masih bengong melihat Alif yang ada di didepan mataku “ ba- bagaimana bisa, kau”


Alif memeluk ku dengan erat “ A-lif lepas-kan” kataku dengan nafas yang sesak


“ ah maaf, kau sudah siuman kau berhasil melewati masa kritismu” kata Alif menatapku sedih,


“ Alif jawab aku, bagaimana kau bisa ada disini” kataku menatap Alif dengan penuh rasa penasaran


Alif tidak menjawab ku ia hanya menatapku dan mencekram kedua bahuku “ dengar Lisa aku punya rencana untuk kita bisa meloloskan diri dari sini, aku akan membukakan jalan untukmu agar bisa keluar gedung dengan aman”


“ tidak, aku akan mengambil apa yang menjadi hakku”


“ apa?, kau harus segera pergi jika tidak-,”


“ APA?, kau lihat disana” aku menunjukan gorden yang ada di ruanganku “ disana,, disana Luna terbujur kaku sekarang” aku tak kuasa menahan tangisku


“ Lisa tapi-,”


“ aku bilang TIDAK!!, dengar Alif aku akan merebut vaksin itu dan membawanya pergi, aku akan menyelesaikan misi ini” kataku dengan tatapan yakin


Alif menepuk jidatnya “ Lisa aku juga akan menyelesaikan misi ini, tapi situasinya bisa membuat semuanya gagal. Jadi tolong dengarkan aku”


“ maaf Alif mengetahui kau berada didepanku saat ini saja sudah membuatku memikirkan banyak hal, dengan kau memaki baju pasien artinya kau bukanlah bahan percobaan mereka berbeda denganku yang memakai baju mengerikan ini memang hanya sebuah dress berwarna putih tapi jika sudah mengenakan baju ini artinya dia sudah megalami penyiksaan hingga merenggut nyawa” tegasku dengan tatapan tajam berkaca – kaca


Alif mendengar Rey yang mencarinya “ tidurlah berpura – puralah kau masih koma, pasang alatnya” kata Alif yang membantuku memasakngkan Alatnya,”tidak bisa, jika ada kesalahan ia pasti akan curiga” kataku


Rey pun masuk keruangan “ sedang apa kau disini?” tanya Rey, “ aku ingin melihatnya” jawab Alif


“ kau baru saja siuman tadi, baru kutinggal sebentar sudah ada diruangan anak ini” kata Rey, “tunggu, kenapa alatnya terlepas” lanjut Rey


“ baru saja perawat mau merapikan alat – alat itu karena-,”


“ karena apa?, dia sudah mati?” selidik Rey


“siapa pria itu, sepertinya dia dekat sekali dengan Alif?” tanyaku dalam hati


“ tidak, dia baru saja melewati masa kritis namun belum sadar, perawat melepas semua alat dari tubuhnya” jelas Alif


Ekspresi Rey terlihat lega mendengar itu semua, “ ada apa denganmu, kenapa kau peduli dia tewas atau tidak” selidik Alif


“ itu bukan urusanmu, kembali lah kekamarmu akan ada pemeriksaan fisik dari Dokter” Rey pun menarik lengan Alif menyeretnya kembali ke ruang rawat


Aku kembali membuka mata dan terduduk melamun mengingat kemungkinan tentang Alif “ siapa itu ya, kenapa Alif bisa berada disini dengan baju pasien” kataku


“ ah terserah saja, aku harus merebut vaskin itu dan merubah sistem tower yang ada di gedung ini, walau aku tidak tahu caranya bagaimana tapi akan ku coba” gumam ku


Alex yang berhasil kabur dari gedung pun menemui Lyta dan Arya yang sudah menunggu di samping gang dekat gedung


“ hoosh-hooosh. Lyta aku menemukan sesuatu, lebih baik kita pergi dulu sekrang” Alex yang datang dengan terengah – engah


“ dari tadi juga kami mau pergi, hampir saja kami tinggal” ketus Lyta


***


Di rumah megah milik Letnan tidak seperti tampilannya yang mewah dan indah,


didalam rumah itu terasa seperti neraka bagi Rachel, ia sudah beberapa hari mencari keberadaan adiknya tapi nihil ia dapatkan, ia takut jika Letnan berbuat hal yang bahkan tidak bisa difikrkan oleh Rachel, dengan cemas luar biasa ia terus mondar – mandir didalam kamarnya, sembari memegang sebuah pisau belati ditangannya, lalu terdengar seorang pelayan masuk ke kamar gadis itu


Sontak Rachel menoleh terkejut dikira nya itu Letnan “ ada apa kau kesini?”


“ maaf nona, nona belum makan sedari kemarin saya takut dimarahi oleh tuan” kata Pelayan itu


“ jika dia tanya kau bilang saja aku sudah makan” ketus Rachel


“ tapi nona-,”


“ sudahlah!!, pergi sekaraang” bentak Rachel


“ sial, dimana lagi kemungkinan dia menyekap Alan” gumam Rachel