
Suasana semakin tegang dan menakutkan bukan karena Marko dan anak buahnya tapi kedatangan Kroon yang dipicu oleh tembakan dari salah satu anak buah Marko ia melepaskan tembakan saat Alif tepat akan menebasnya namun bukannya mengenai Alif tapi malah menjadi pemicu para Kroon untuk datang mengerubuni mereka, melihat Kroon yang begitu tidak terkontrol Alif segera lari ke salah satu kapal yang ada disana
DRAP
DRAP
Suara langkah Alif terdengar panik di dalam kapal ia mencari panel kemudi untuk menyalakan kapal tersebut “ bagaiamana cara menyalakannya” paniknya dengan menekan semua tombol yang ada “kenapa tidak berfungsi” Alif melihat kondisi Arya dan yang lainnya mereka tengah sibuk mengulur waktu beberapa anak buah Marko sudah tewas diterkam oleh Kroon itu, Alif yang tengah panik dan kebingungan melihat kunci yang tergeletak di bangku kemudi lantas ia segera mencoba memasukan kunci itu ke lubangnya dan benar saja kapal itu menyala “ kenapa gue bego banget sih jelas ini harus pake kunci” gerutu Alif dalam bahasa informalnya
Srkk, suara sambungan earphone terdengar di telinga Arya “ kau dimana ?” teriak Arya yang tengah menebasi para Kroon itu
“ cepat lari ke kapal berukuran sedang berwarna biru putih” kata Alif dengan melambaikan tangannya
“baiklah” Arya menebas Kroon terakhirnya
Ia segera berlari menuju kapal Marko yang melihat itu mencoba mencari cara agar dapat ikut dengan Alif dan Arya “ aku tidak mau mati konyol disini” gumam Marko
Ia berlari mengikuti Arya tapi salah satu kakinya ditarik oleh Kroon “ sial, lepaskan” Marko menginjak Kroon itu
“ Marko kau mau kemana?” teriak Kye yang tengah sibuk di atas mobil pick up milik kami melawan para Kroon dari sana
“ aku tidak mau mati konyol disini” Marko pergi menyusul Arya
Melihat Marko pergi meinggalkannya begitu saja Kye mengatupkan rahang emosi dia pun tidak mau mati sedangkan Marko selamat lantas Kye pun menaiki bagian kepala mobil lalu meloncati Kroon yang berkerumun di sekitaran Mobilnya “ tunggu aku Marko teriak Kye yang diikuti oleh gerombolan Kroon dibelakangnya
Arya segera mengangkat jangkar kapalnya ia melihat Marko, Kye dan para Kroon yang menuju kearah kapal “ Alif cepatlah” teriak Arya
“ okeh” saat Alif mau menarik tuas untuk memajukan kapal ia melihat Kye yang tengah berlari mendekati kapal melewati kaca yang ada di ruang kemudi
“ Aliif apa yang lakukan” teriak Arya lagi
“ tunggu , tunggu aku” Marko berusah naik kekapal tapi Arya mendorongnya
“ mati saja kau bersama para Kroon itu” kata Arya
Arya bingung mengapa Alif tidak juga membuat kapal ini menjauh dari pelabuhan ia melihat Alif yang tengah memperhatikannya dari pantulan kaca lalu Arya melihat ada Kye dibelakang Marko, menyadari perasaan Alif ia pun mengizinkan Marko dan Kye menaiki kapal dan para kroon pun semakin mendekat
DUAAR
DUAAR
Arya mencoba mengulur waktu dengan menembaki Kroon itu “ ALIIF” teriak Arya, Alif pun kaget dengan keputusan Arya yang membiarkan Marko dan Kye masuk ke kapal ia lantas menjalankan Kapal itu dan segera menjauh dari pelabuhan beberapa Kroon terjatuh ke laut karena berusaha mengejar kapal yang dinaiki Alif dan Arya. Mereka mencoba bernafas sekarang setelah serangan Kroon tadi, Arya menodongkan senjata yang ia pungut saat menuju ke kapal tadi “ kalian cepat berdiri” ketus Arya karena mereka tidak memegang senjata sama sekali akhirnya Marko dan Kye menuruti perintah Arya “ jalan” kata Arya
Alif mencoba mencari cara agar kapal ini bisa berjalan tanpa pengemudinya lalu ia menemukan tombol pengalihan mode otomatis segera ia menghapiri Arya karena telah mengizinkan Kye menaiki kapal
“ Arya, kenapa lu biarin mereka naik?” tanya Alif
Mendengar Alif yang berbicara menggunakan bahasa informal atau bahasa teman ia terkejut karena selama ini Alif hanya berbicara bahasa formal sesuai dengan bahasa yang di gunakan transletor earphone mereka “ kalo engga lu gak akan jalankan?”
“ maaf tadi maksud gua gak gitu” kata Alif
“ gua ngerti mau gimana juga dia kakak lu” kata Arya yang masih menodongkan senjatanya
“ HEEEI, bocah kalian ini bicara apa hah gunakan bahasa universal” bentak Marko
Arya memojokan Marko dengan menodongkan senapan ke kepalanya “ kau bisa diam tidak, jika terus meracau akan kubuang kau ke laut” ancam Arya yang kini kembali menggunakan bahasa universal
“ tidak ada yang mudah di dunia ini” sahut Alif menatap tajam Kye
“ kalian harus memiliki jaminan untuk layak terus menumpang hingga daratan yang kami tuju” lanjut Alif
Marko pun berdiri “ okey okey kami akan menghentikan penculikan Lisa selama perjalanan,” Marko mendekat dan berbisik pada Alif “ hanya sampai kami tiba di pelabuhan selebihnya aku tidak menjamin apapun” senyum liciknya
Alif mengepalkan tangan “ heh, silahkan saja tapi camkan ini sebelum kau mendapatkan apa yang kau mau maka disitulah kau akan mati” ia pergi kembail ke panel kemudi,Arya yang penasaran dengan apa yang Marko bicarakan pada Alif sedangkan Marko mangatupkan rahang geram dengan apa yang Alif katakan
“ apa yang akan kau rencanakan?” tanya Kye
“ bocah itu dia masih tidak mengerti berhadapan dengan siapa” gumam Marko
Di panel kemudi Arya memberi peringatan pada Alif karena apa yang sudah Marko ucapkan bisa saja bukan ancaman biasa
“ tenang saja kau pikir di zona merah mereka bisa melakukan apa” santai Alif
“ tetap saja kita harus waspada dengan gerak gerik mereka jangan sampai kecolongan” kata Arya
Hari ini begitu melelahkan energi kami terkuras di kapal kami menyantap makanan, Ben yang memasak entah ia menemukan dapur dan kompor di kapal, malam itu kami masih bisa menyantap makanan walau fikiran tidak karuan memikirkan nasib Arya dan Alif, Luna juga terlihat masih sering melamun kata Alan butuh waktu 3 hari untuk sampai di pelabuhan yang kami tuju,
“ hem” singkat Ben yang sedang asik mengunyah makannya
Aku pergi ke ruang panel kemudi karena Alan tadi bilang akan memeriksa mesin kapal katanya takut ada kerusakan yang gak terdeteksi nanti malah akan berdampak buruk pada perjalanan kami , di ruang panel Alan tidak ada disana lantas dia kemana aku berfikir sejenak akhirnya aku kembali ke Ben yang sedang makan dan bertanya ruang mesin kapal ini dimana
“umumnya pasti ada dibawah kapal” jelas Ben
Aku pun pergi ke pintu kabin bawah kapal dan benar saja disana adalah ruang mesin dan penyimpanan barang terlihat Alan yang sedang berdiri disana ia terlihat tengah mengutak ngatik mesin
“ Alan sedang apa, makan dulu yu” ajak ku
“ ini gawat, tengki bahan bakarnya sudah kering” kata Alan
“ lalu bagaimana jika mati ditengah jalan” aku mulai panik
“ dari tadi aku mencoba mencari cadangan bahan bakar biasanya kapal selalu mempunyai cadangan itu tapi aku tidak menemukan apapun dari tadi” jelasnya
Aku kembali ke Ben dan Luna dengan memberitahu kondisi kapal kami yang terancam berhenti di tengah laut, Ben yang tengah makan pun berlari menuju ruang mesin
Terdengar helaan nafas dari Luna “ Luna kau tidak makan” kataku karena melihat piringnya masih penuh Luna hanya terdiam aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana agar Luna mau kembali semangat, Alan dan Ben pun keluar dari ruang mesin muka mereka tampak pucat dan cemas
“ ini benar – benar gawat, kita harus segera berpapasan dengan kapal lain untuk meminta bantuan” jelas Alan
“ masalahnya apa ada yang berlayar setelah setengah tahun lebih pandemi ini” sahut Ben
Aku hanya bisa menyenderkan diri dan terduduk lemas mendengar masalah baru yang kami hadapi aku tertunduk mencoba menyembunyikan tangisku didepan Luna
Alan memeluk ku mencoba menenangkan “pasti ada kapal yang masih berlayar walau tanpa awak atau walau mereka sudah menjadi Kroon aku akan pastikan kapal ini hidup lagi” katanya
Melihat Alan yang mencoba menenangkanku Luna semakin bete, moodnya semakin memburuk melihat pria yang ia kagumi lebih memilih menenangkan wanita lain
“ kau tidak perlu so tegar, kita juga akan mati pada akhirnya” ketus Luna
“ memang kita semua akan mati pada akhirnya, tapi tidak disini kita masih harus memperjuangkan misi ini” sahut Alan
Luna pergi ke kabin penumpang, kami hanya bisa pasrah berharap ada kapal yang lewat agar dapat dimintai tolong jikapun ada mungkin saja sudah tidak berawak dan berpenumpang tapi kami masih bisa mengambil sisa bahan bakar milik kapal tersebut.
Di kapal yang Alif dan Arya berada suasananya lebih tenang, sepertinya mereka belum terfikir bagaimana bahan bakar kapal yang mereka pakai saat ini. Alif dan Arya tengah menyantap makanan mereka membawa box yang tidak terbawa oleh Luna di pelabuhan Kue dan Marko pun diberi makan oleh mereka, Alif sebenarnya menyimpan amarah yang dalam pada kakaknya karena ia sangat membenci perilaku kakaknya yang lebih mementingkan dirinya sendiri
Ditengah heningnya malam Arya dan Alif duduk sembari menyantap makanan mereka yang sama seperti Ben mereka memasak didapur kapal tersebut, mereka mulai mencemaskan kondisi yang lainnya lalu baru terfikir oleh Arya soal bahan bakar kapal yang mereka naiki, ia segera mengecek ke ruang mesin dan tengki mereka masih full ini sebuah keberuntungan terlintas dibenaknya bagamana jika kapal yang Luna naiki mengalami mati mesin karena kehabisan bahan bakar
“bahan bakar aman” sahut Arya yang baru saja datang dan duduk kembali
“ baguslah jika tidak kita jadikan saja dua manusia itu sebagai bahan bakar kapal” kata Alif yang menatap lautan
“ gua kepikiran sama kapal Luna gimana kalo mereka kehabisan bahan bakar” kata Arya yang tiba – tiba beralih bahasa
“ itu yang daritadi gua lamunin, kita gak bisa berbuat banyak ditengah lautan kaya gini semoga aja kita bisa berpapasan dengan kapal mereka” kata Alif
Arya menghela nafas memikirkan kondisi adiknya, malam itu pun aku sedang menatap langit yang kosong tanpa gemerlap bintang juga luatan yang gelap tanpa adanya cahaya, kapal kami pun gelap dan hanya mampu menayalakan lampu lentera yang ditemukan oleh Alan digudang kapal karena untuk menghemat bahan bakar yang menipis kami tidak bisa menyalakan lampu di kapal ini sesekali terdengar suara air laut dan hembusan angin yang menerpa kulit. Terputar kembali memori bahagia dalam hidupku saat bersama keluargaku. Melihat senyum dan tawa mereka bercanda gurau bersama, pipiku kini basah oleh air mata “ bagaimana kabar kalian” gumamku dengan suara bergetar
Alan datang menyelimutiku “ dingin” katanya sembari duduk disebelahku
“ Lisa menangislah sesukamu keluarkan semua rasa gelisah dan takutmu” kata Alan
Melihatku mengusap air mata ketika ia datang Alan tahu jika aku sedang tidak baik – baik saja
“ Luna sudah tidur?” tanyaku
“ yah dia sudah tidur”
“ aku mengerti kau orang yang baik pada saat dirimu sendiri membutuhkan perhatian kau malah lebih mementingkan orang lain, tapi Lisa kau juga harus memperhatikan dirimu jika bukan kau siapa lagi? Semua itu berawal dari diri sendiri” kata Alan
“ aku hanya teringat dengan adiku dia seumuran dengan Luna, aku tahu rasanya terpisah dengan anggota keluarga rasanya sakit sekali Alan” suaraku bergetar
“ aku juga tahu bagaimana rasanya ditambah lagi dengan kelakuan abstrak kakaku yang dapat membahayakan dirinya dan orang lain itu sangat membuatku gila” suara Alan menurun
Aku menatap Alan yang tengah tertunduk “ kau orang baik Alan, kau pasti bisa menyadarkan kakakmu” kataku
Aku kembali menatap lautan gelap dan kali ini tangisku pecah karena tidak kuat dengan pembicaraan ini, mungkin jika Alan sedang sendiri ia pun akan menangis tapi karena ada aku ia hanya tertunduk dengan mata berkaca – kaca.