DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
Episode 39 chapter 2 - The Last Mission : Zona merah



Arya terus berusaha menghubungi kami melewati earphone ia ingin sekali memastikan kondisi adiknya baik – baik saja, karena Alif belum sadar dari pingsannya kemarin dan ia pun tidak memegang peta apapun Arya menjadi sangat bingung sekarang, Kye menghampirinya di ruang panel kemudi


TOK, TOK,


Arya terlihat ragu untuk mengizinkannya masuk “ tenanglah aku tidak akan berbuat macam – macam” kata Kye dari luar ruangan


Akhirnya Arya membukakan pintu untuknya “mau apa kau?” ketus Arya


“ kau butuh ini?” Kye memberikan sebuah peta


Arya membuka peta itu lalu ia mulai mencoba mengingat koordinasi dan lokasi yang pernah ditandai oleh Alan yaitu lokasi tujuan kami sekarang


“sebenarnya aku mendengar pembicaraan beberapa hari lalu saat aku sedang mencari toliet, kenapa kalian menuju tempat berbahaya itu?” selidik Kye


Arya tidak bisa percaya begitu saja pada Kye karena dia masih termasuk anak buah Marko juga kapapun ia bisa saja berkhianat ataupun keceplosan masalah dokumen berharga itu


“ kau tidak perlu tahu itu urusan kami” singkat Arya yang sibuk dengan petanya


“ mungkin kau pikir aku sedang menggali informasi darimu, tapi aku hanya ingin tahu kenapa Alif juga bergabung dengan kalian?”


“ adikmu sepertinya memang suka hal yang menantang, dia juga tidak pernah mau kehilangan seseorang yang ia sayangi”


“ maksudmu dia sedang jatuh cinta?” Kye menaikan halisnya


“ kau tanya saja pada adikmu”


Srkk, terdengar suara sambungan dari earphone suara nya samar tapi seperti orang yang sedang menangis itu membuat Arya terkejut sekaligus panik “ halo, siapa ini”, jika mendengar dari suaranya sepertinya itu suara perempuan ''siapa yang menangis Lisa atau Luna'' batinnya


“ kenapa” tanya Kye


Arya berlari keluar ruangan siapa tahu sinyal nya lebih bagus “ halo, masuk Lisa, Luna siapapun” kata Arya dengan nada panik


Di kabin penumpang Alif terbangun “ LISAAA” ia mengalami mimpi buruk melihat Lisa yang terkapar disebuah Lab lalu ia juga melihat Lisa yang sedang menangis, Alif pun keluar dari kabin dan melihat Arya yang mondar – mandir sembari berbicara sendiri


“ kau sedang apa?” tanya Alif yang masih sempoyongan


“ kau sudah baikan, ini tadi aku  mendengar suara tangisan seseorang melalui earphone tapi setelah kucoba hubungi lagi sambungannya terputus” panik Arya


“ apa, siapa yang menangis, kenapa?”


“ entahlah” kata Arya


Alif teringat dengan mimpi yang baru saja dialaminya, mereka pun terus mencoba menghubungi, Ben yang tengah mengecek mesin kapal mendengar suara tangisan itu ia pun mencari yang lainnya, saat sedang mencari ia mendapati aku dan Alan yang sedang berbicara pada Luna


“ kalian, siapa yang menangis?” tanya Ben


“ Luna” singkatku


“ kenapa?”


“ entahlah, Luna kau masih tidak memberi tahu kenapa? Aku khawatir kau sakit” selidikku


“ tidak apa – apa, maaf sudah membuat kalian cemas” Luna pun pergi


“ aku tidak mengerti ada apa dengan anak itu” gumamku


“ sudahlah bairkan saja, masa pubertas” kata Alan yang kembali keruang kemudi bersamaku


“tunggu ada apa sebenarnya” Ben yang baru datang pun celingukan karena tidak ada satupun yang menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya


Terlihat di depan kami samar – samar sebuah pelabuhan dengan bayangan gedung – gedung tinggi


“ sebentar lagi kita sampai” Alan menatap lautan


“ huuuft, yah ini dia” kataku gugup


Alan melihatku ia memegang tanganku berusaha menenangkan, aku melepaskan gengamannya. Ben yang melihat itu berfikir Luna menangis karena hal ini


“ ehem” kode Ben


Aku mengajak Alan untuk berbicara diluar ruangan “ paman tolong jaga dulu kemudi” kataku


“ Ben!!, kenapa kalian selalu saja memanggilku paman” gerutunya


Di tempat biasa kami saling berbincang semalaman suntuk aku mencoba menjelaskan pada Alan untuk bisa menjaga sikapnya padaku karena bagaimanapun aku tahu perasaan Luna padanya


“ Alan, mungkin kau pikir dia hanya gadis remaja, tapi perasaannya juga patut kita hargai” tegasku


“ kau dan Ben sama saja, bair kutegaskan sekali lagi dia hanya salah paham aku tidak pernah memberinya harapan apapun”


“ kalau begitu kau bisa lakukan hal yang sama padaku, jangan terlalu menunjukan kau berusaha membantuku itu akan membuatnya berfikir jika aku merebutmu darinya” jelasku


Raut  wajah Alan terlihat sangat terganggu dengan ucapanku ia menatapku dengan tatapan marah langkahnya semakin mendekat membuatku terpojok hingga menabrak dinding kapal “ Alan jaga sikapmu” kataku


Ia mendekatkan wajahnya hingga aku bisa berkaca di kelopak matanya “ sudah kukatakan aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal seperti ini, kau tidak berhak mengatur siapa yang harus ku perhatikan dan memaksaku untuk menyukai seseorang” katanya


Dari atas kapal Ben berteriak “ kita sampaai”


Benar pelabuhannya sudah terlihat jelas sekarang, dari jauh saja kota itu terlihat sangat menyeramkan dibalut kabut yang tebal “ tunggu bukankah seharusnya disini bersalju” gumam Alan


Ben menghampiri kami “ butuh waktu untuk cuaca salju tersebar ke wilayah yang seharusnya, ini poin bagus untuk kita karena medan bersalju bisa menyulitkan untuk bertahan dari Kroon”


Apa yang Ben katakan memang masuk akal tidak semua musim berjalan bersamaan pasti ada jeda waktu tertentu, kami pun bergegas mengambil keperluan seperti senjata, beberapa obat – obatan juga beberapa roti jaga – jaga jika ada yang lapar disana.


Kami mendarat di pelabuhan dengan sempurna, suasana semakin terasa mencekam padahal kami belum turun dari kapal karena Alan dan Ben turun lebih dulu baru aku dan Luna yang turun kami berjalan perlahan berusaha tidak membuat kebisingan walau sulit melihat karena kabut ini kami tidak bisa menyalakan senter atau apapun itu bisa mengundang Kroon untuk datang, memasuki jalanan aspal dengan dipenuhi mobil yang berserakan dimana – mana memperkuat suasana ketakutan karena pasti sulit untuk berlari menghindari Kroon dengan medan seperti ini, Alan dan Ben berada di depan, Luna ditengah dan aku dibelakang, terlihat sangat hening disini bukankah katanya ini zona merah seharusnya banyak Kroon yang berkeliaran disini


Melihat kondisi yang tenang seperti ini bukan membuatku senang melainkan khawatir sesuatu yang buruk diluar ekspetasi kami akan terjadi,


“ Ben kau berjalan paling belakang” komando Alan


Ben mendengar itu tapi ia malah fokus pada sesuatu yang ada di dalam sebuah gedung atau bekas toko roti tepatnya disana ia melihat mayat seorang anak kecil mungkin umurnya sama dengan Rara anaknya mayat itu sangat mengenaskan, Ben yang termangu melihat itu teringat dengan anaknya


“ Ben apa kau mendengarku” Alan masih fokus memperhatikan jalan didepannya


Aku merasa seperti ada yang sedang memandang kami, ternyata suasana senyap disini bukan karena tidak ada nya Kroon melainkan mereka sudah mengawasi kami sedari tadi di balik kabut – kabut ini Kroon yang ada di sini sudah bermutasi atau bisa dibilang mereka lebih cerdas dibanding dengan Kroon di wilayah zona biasa.


Terdengar suara sesuatu di belakangku, aku refleks berbalik tapi tidak ada apapun disana rasanya terhalang kabut seperti ini membuatku gemas karena jantungku berdetak lebih kencang khawatir Kroon itu tiba – tiba muncul, aku tertinggal jauh dari yang lainnya segera aku menyusul mereka dengan berlari kecil


KWRRRK


“AAAAA” teriaku terkejut


Kroon itu muncul di hadapanku rupanya lebih menyeramkan dibanding kroon yang biasa ku temui, ia mendorongku aku pun terjatuh sekarang Kroon itu tepat berada di atas tubuhku dengan bau amis dari kroon itu tercium ia mencoba mencabik tubuhku aku menahannya sekuat tenaga


Luna yang melihatku pun histeris “ ka LISAA”


Saat Alan dan Ben hendak berlari membantuku kroon itu sudah tertembak tepat dikepalanya tentu senapanya dilengkapi dengan peredam suara semua senjata kami dilengkapi dengan itu agar tidak mengundang  Kroon lebih banyak lagi “ LISAAA” Alif segera menghampiriku begitu juga dengan yang lainnya


Alif membantuku berdiri terlihat putih pucat wajahnya yang marah ia berlari kearah Alan menarik bajunya “ kau-“ Alif terhenti karena mendengar suara Kroon yang begitu banyak dari bergabagai arah, kami semua panik Arya segera berlari menghampiri Luna dan membawanya berlari kembali ke pelabuhan begitu juga dengan Alif segera ia tunda amarahnya lalu ia bawa aku pergi diikuit oleh Ben, Kye, dan Alan saat akan berbelok menuju jalan pelabuhan ada segerombolan Kroon disana Arya menghentikan larinya “ arah yang lain” katanya


Semua lari terbirit-birit, lalu Ben melihat sebuah lubang yang biasa ditutupi di tengah jalanan yaitu lubang gorong – gorong kota “ Alan bantu aku membuka ini” teriaknya, Alan pun berbalik untuk membantunya “satu, dua aaaargh” semangat mereka membuka penutup gorong – gorong


“ tunggu” kata Kye melihat Ben dan Alan  yang sedang membuka sebuah lubang


Di belakang kami, didepan dan dari berbagai arah kami sudah terkepung mereka semakin mendekat, dengan panik Arya dan Alif pun membantu membuka penutup yang sangat berat itu, aku sudah bersiap dengan pedang penaku, “ Kyee lindungi mereka!!” teriak Alif, Kye pun berdiri didepanku


“ minggir kau lindungi saja dia” kata ku


Kye pun mendekat kearah Luna, tinggal beberapa meter jarak para Kroon itu “ terbuka Luna, Lisa cepat kemari” teriak Arya, kami segera berlari dan masuk ke dalam gorong – gorong kota itu Kye yang terakhir berupaya untuk menggeserkan kembali penutup berbentuk bulat itu “ aaargh, ayolaah” teriak Kye


Hampir tangan kye ditarik oleh Kroon itu namun Kye berhasil menutup lubangnya kembali, perlahan ia pun turun kebawah melalu tangga gorong – gorong


Semua mengehela nafas dalam tidak menyangka kami akan selamat dari serangan besar tadi, Alif yang melihat Alan kembali teringat dengan amarahnya “kenapa kau membiarkan mereka berdua dibelakang seharusnya  mereka ditengah kalian, apa begitu saja kau tidak paham?” emosi Alan suara nya pun menggema di dalam gorong – gorong”


Ben memisahkan mereka “ sudahlah Alif ini bukan salahnya”


“ bukan salahnya, lantas apa, kau juga salah Ben” bentaknya


“ yah ini memang salahku, dia sudah menyuruhku berjaga di belakang namun fokusku teralihkan melihat mayat seorang anak didalam toko yang ada disana” suara Ben bergetar mengingat putrinya


Arya memukul pelan pundak Alif memberi kode untuk memaklumi Ben, amarah Alif pun mereda melihat wajah Ben yang sedih mengingat anaknya


“sudahlah lebih baik kita cari dimana dokumen itu” sahutku


Kami pun mulai membuka peta “ ini peta jalanan bukan gorong – gorong “ sahut Kye


“ kau diam saja” ketus Arya


Kye pun menatap sinis Arya, “ kita ada disini sekarang, kita harus melalui arah sini” jelas Alan


Kami pun mulai bergerak menyusuri gorong – gorong gelap ini untung saja ada senter kecil milik Kye


***


“ ka aku sulit berjalan gelap” kata Luna


“ pegangan saja pada tanganku” sahut Arya


“ tapi aku terus tersandung”


“ baiklah, kau naik kepunggungku”


Luna pun digendong oleh Arya, mendengar mereka membuatku tersenyum ternyata Arya bisa begitu manis pada adik nya ia sangat menyayangi adiknya “ kau mau digendong juga?” sahut Alif yang memperhatikanku senyum – senyum sendiri


“hah, ti-tidak aku bisa berjalan” kataku terkejut dengan pertanyaannya


“ tidak apa – apa sini ku gendong kau pasti lelah kan?” kata Alif


“ hei sok – sok an mau gendong, dikapal aja pingsan lu” sahut Arya meledek


Alif pun menjitak Arya “ diam kau” katanya


“ pingsan, Alif apa racunnya masih bereaksi apa tidak apa kau berjalan seperti ini?”cemas ku


Arya pun memalingkan wajah dengan senyum kecil nya


“ kenapa malah kau yang mengkhawatirkanku” Alif mempercepat langkahnya


Dibelakangku ada Alan dan Ben yang berjalan ‘cit,cit’ aku menginjak sesuatu “aaa, aapa itu” refleks ku memeluk Alan yang ada dibelakang


Semua menoleh “ ada apa?”


Kye pun menyenter bawah kakiku “ itu hanya tikus paling” sahut Alan


“ ehem” kata Arya


“ ayo jalan jangan penakut, cuman tikus” ketus Alif


Kenapa sikap nya tiba – tiba dingin, sekitar 30 menit kami berjalan menyusuri lorong gorong – gorong ini akhirnya kami terhenti disuatu jalan buntu itu membuat kami bingung sebenarnya Alan menunjukan arah yang benar atau tidak


“ hei apakah kau benar – benar bisa membaca peta?” sindir Alif


“ ini aneh seharusnya disini lubang tepat di bawah gedung itu” gumam Alan  


Kami berusaha berfikir dimana letak lubang keluar nya, “ aneh mengapa peta berbeda dengan aslinya” kata Luna yang melihat petanya


Kami saling menatap “ jangan – jangan Komandan membohongi kita , dia sengaja menjebak kita ke kota zona merah ini” sahut Arya dengan nada marah


“ untuk apa dia melakukan itu, disini ada Luna dan Lisa mereka aset penting bukan” kata Ben


Alif mengerutkan halis “ mereka bukan aset”


“ i-iya ma-maksudku mereka penting , kenapa kau ini selalu mudah tersinggung mereka saja tidak masalah” gugup Ben


 


Di pulau I.V.V


 Lyta yang baru bangun bersiap untuk pergi sebelum itu ia dipaksa oleh Hanna untuk setidaknya sarapan terlebih dahulu menu sederhana roti bakar isi, dan teh “ kau sudah mau pergi lagi?” tanya Hanna


“ yah aku harus bertemu Komandan” singkat Lyta yang memakan rotinya


“ kau selalu pulang larut bahkan hingga pagi hari, informasi apa yang kau cari?” selidik Hanna


Lyta berhenti mengunyah “ aku tidak bisa memberitahumu” raut wajahnya seakan – akan ingin memukul seseorang


“ sepertinya dia sedang marah” gumam Hanna


Lyta pun pergi kekediaman Komandan, sesampainya disana ia diarahkan oleh Komandan unutk memasuki ruang rahasia miliknya “ kau masuk lah aku akan menyusul” kata Komandan lalu pergi


Lyta memasuki ruangan itu dia takjub dengan alat – alat canggih yang ada disana maklum lulusan Multimedia memang selalu tergiur dengan teknologi baru, aku dan Lyta dulu menekuni pendidikan jurusan Multimedia, didalam ia bertemu dengan Alex yang ternyata belum mengetahui keberadaan Lyta yang ada di pulau selama ini


Alex yang melihat Lyta terkejut karena fikirnya Lyta bersama dengan rombongan Lisa


“ kau sedang apa disini? Kenapa, kau tidak bersama Lisa” Alex mencengkram kedua bahu Lyta


“ lepaskan, aku diperintahkan oleh Alif untuk menyelidiki informasi dan situasi disini” jawab nya


“ Alif? Memangnya dia siapa berani bersikap seperti itu”


Lyta menuju bangku yang ada didekatnya “siapa? Dia menggantikan posisimu dalam tim sekarang” ketus Lyta


Muka Alex tampak gelisah “ seharusnya kau menjaga Lisa” nada Alex mulai meninggi


“ kenapa lex, kenapa kau sangat gelisah?, sebaiknya kau jauhi dia”


“ apa maksudmu?”


“ lex, lex, aku ini sudah mengetahui informasi yang ada termasuk masa lalumu, kau dengan Rachel memang memiliki hubungan yang belum selesai bukan”


Alex mendekat dengan wajahnya yang cemas “apa yang kau tahu, itu mungkin rumor yang selama ini ada”


“ yah mungkin kau bisa menilai ini rumor atau bukan setelah kau mendengarnya, dulu sebelum pandemi tersebar dan membuat semua orang kehilangan akalnya kalian sudah menemukan imun yang bagus bukan tepat setelah acara lamaran mu dengan Rachel digelar naas sebelum kalian menikah dia membuat kesalahan yang disebabkan juga oleh calon mertuamu Letnan si biadab itu, lantas kau membencinya lalu melarikan diri” jelas Lyta


Alex yang mendengar itu hanya terdiam sembari menatap layar monitor yang besar didepannya ia tertunduk seperti tidak ada yang dapat ia sangkal dari cerita Lyta


“ lalu ada satu lagi kau juga pernah tidur dengannya sebelum pernikahan kalian tepatnya saat malam setelah lamaran digelar” suara Lyta menahan emosi


Alex terkejut dengan apa yang Lyta katakan ia tidak menyangka jika Lyta mengetahui soal itu juga, “aku mencintai lisa, itu hanya masa laluku” kata Alex


“ kau fikir lex!!, apakah tidak sakit jika Lisa tahu hal ini”


Alex hanya terdiam dan tertunduk, apa yang ia khawatirkan saat Rachel yang tiba – tiba muncul di hutan akhirnya dimulai, dari Lyta yang mungkin akan memberitahu semua nya pada Lisa lantas bagaimana dengan reaksinya nanti