DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 48 Chapter 2 - The Last Mission : keraguan (revisi)



Tengah malam yang hening Lisa tengah memandangi Luna dari sebalik tirai melihat tubuhnya yang kaku dengan cairan yang menetes dari jasadnya “ kenapa mereka tidak mengebumikannya, dan cairan apa itu” gumam Lisa.


Lisa kembali duduk di kasurnya “ aku tidak bisa diam saja disini” dengan meremas bajunya sendiri ia bulatkan tekadnya untuk keluar dan mencari dimana vaksin itu berada lalu segera menuju tower untuk memperbaharui sistemnya, Alif tengah menjalani pemeriksaan karena ia mengalami panas tinggi setelah manjalani penyedotan racun itu, aku berjalan di koridor sangat sepi sekali mungkin karena ini sudah larut malam “baguslah, jika mereka sudah pulang semua” gumamku , aku terus mencari dan mengingat dimana aku pernah melihat Lab itu saat aku pergi ke ruang scaner untuk cek up kesehatanku terakhir kali.


Ada beberapa pintu namun beberapa di kunci dan tidak bisa dibuka lalu terdengar suara seseorang yang seperti sedang mendorong sesuatu, aku panik harus sembunyi dimana akhirnya aku memasuki sebuah ruangan yang ada di koridor itu dan mengintip sedikit ke arah koridor “ Huuuft, mereka mau kemana sih jam segini” gerutuku


Saat aku hendak pergi dari ruangan itu tak sengaja sesuatu tersenggol oleh ku, saat aku berbalik “ruangan ini, jangan – jangan ini Lab nya”, aku pun mulai menyusuri ruangan itu dan tidak menemukan apapun disana, walau tidak tahu bentuk vaksin itu seperti apa tapi pasti ada nama atau kode sample yang tertera, namun tetap saja tidak ada apapun disini, hanya ada sebuah pintu yang lagi – lagi juga terkunci namun di pintu itu ada kaca untuk melihat kedalamnya, ada beberapa orang yang sedang tertidur dengan bantuan pernafasan juga selang yang sedang menyedot darah mereka, aku masih berfikir ini apa lalu ketika melihat selang itu aku terhentak terkejut jangan – jangan mereka juga sample yang disimpan, tubuhku lemas karena takut dan gugup melihat semua kekejaman ini, aku berusaha berjalan dengan kaki gemetar keluar ruangan ini, aku terjatuh saat berhasil keluar ruangan itu tepat didepan pintu nya


DRAP


DRAP


Terdengar suara seseorang mendekat aku pun menoleh dan itu Alif yang berlari menghampiriku ia membantuku berdiri , beberapa petugas pun terlihat menghampiri kami dengan refleks Alif memelukku untuk menutupi wajahku dari para petugas “ ada apa tuan?” tanya petugas itu


“ tidak apa – apa ini bukan urusan kalian” ketus Alif


“ tapi, tuan kami harus tahu karena kondisi di gedung saat ini sedang genting” sahut petugas


“ apa harus aku mengatakan jika istriku menangis karena kondisiku?” tegas Alif


Tubuh Alif terasa panas saat memeluku


“ ah, maaf tuan dia hanya takut dimarahi oleh atasan kami” sahut petugas yang lainnya


Mereka pun pergi meninggalkan aku dan Alif, “hey, main seenaknya saja mengaku – ngaku” kataku ketus


Alif tidak menggubrisku ia menarik ku kembali ke ruang rawatku, “ apa kau tidak mengerti apa yang aku bicarakan?” Alif tampak marah


“ kenapa kau marah?, seharusnya yang marah dan frustasi disini adalah aku!!” aku pun emosi


“ Lisa aku tahu rencanamu tapi-,”


“ kau tidak berhak memerintahku, apa kau tidak mengerti Alif, aku tidak tahu kau ini musuh atau kawanku sekarang” tegasku


“ apa?, kau fikir aku berkhianat?”


“ mengetahui kau ada disini saja dengan fasilitas dan mereka yang mengenalimu itu semua sudah menjadi alasan kuat untuku menjadi ragu pada mu” aku menyudutkan Alif hingga tubuhnya mentok di tembok, aku menatapnya tajam


“ apa hanya karena itu lamanya pertemanan kita tidak membuatmu mengerti juga Lisa, akan sikapku dan perangaiku selama ini hingga kau meragukanku?”


“ aku sudah lelah Alif bahkan saat bertemu dengan Arya saja aku samar mengingat ia siapa jika kalian memang sahabatku seharusnya memoriku tentang kalian sangatlah bagus dan kuat untuk mengingat identitas kalian, sekarang aku hanya perlu melakukan satu hal terakhir yaitu menyebarkan vaskin itu dengan sukses, karena aku tidak mati dalam pengambilan sel itu, maka artinya aku masih harus mencari jalanku untuk memilih Mati atau Hidup”


Alif mencengkram kedua bahuku, dengan sorotan mata itu ia terlihat tahu apa maksud ku “ Lisa sebelum kau mati, maka aku harus mati terlebih dahulu jadi jangan coba – coba kau memilih mati sebelum aku”


“ hey, kau ini bukan pemilik takdir seseorang jadi kau pikir semua akan sejalan dengan rencanamu untuk mati sebelum aku?,” kataku


Lalu aku tersenyum kecil “ Alif lagi pula daripada kau mati lebih baik kau mencari partner hidup selain Arya, jangan kau jadikan Arya sebagai pendampingmu itu menggelikan” mencoba menggoda Alif agar suasana sedikit lebih mencair


Alif melepaskan cengkramannya, “ kau tidak mengerti juga ya, aku sudah memilikinya Lisa” Alif tertunduk memandang lantai


“ benarkah?, siapa?”


Alif kembali menatap ku “ kau” katanya


Aku tertawa karena perkataanya baru kali ini aku kembali tertawa “ lucu sekali, kembali lah kekamarmu” kataku sembari berjalan menuju tempat tidur


Alif pun tiba – tiba menghilang saat aku berbalik melihatnya “ cepat sekali dia” gumamku, sembari merebahkan tubuhku dengan memandangi langit kamar “ sudah dicuri ya, itu pasti Alex dan yang lainnya, baguslah aku sedikit tenang” gumamku.


DRAP


DRAP


Rey berjalan cepat untuk menuju gedung I.V.V, karena ia mendapat kabar kondisi Alif yang menurun, “ jika Letnan melakukan itu maka rencanaku menyimpan gadis imun itu akan terhalangi bahkan bisa gagal, aku akan menjadikannya mantuku dan menyimpannya sebagai keluarga Prakarsa” batin Rey


Ia pun sampai dan melihat kondisi Alif yang kembali menurun, “ ini sepertinya efek atau kecacatan yang ditimbulkan oleh racun itu” jelas Dokter disampingnya


“ jelaskan lebih detail” kata Rey


“ putramu, tidak menunjukan kecacatan fisik seperti kasus kebanyakan, namun itu bukanlah hal yang baik, karena jika kecacatan itu tidak ada pada fisik nya. Saya khawatir efek atau kecacatannya terdapat dalam organ dalamnya” jelas Dokter


“ kenapa kau tidak bisa menyembuhkannya sepenuhnya?” Rey nampak gusar


“ aku sudah berusaha tuan, namun racun itu terlalu lama hidup di ditubuh Alif, memang sudah tersedot tapi efek atau mungkin racun yang masih ada didalam tubuhnya yang membuat kerusakan itu”


“ lalu organ mana yang rusak?” tanya Rey


“ sejauh pemeriksaan, yang paling lemah adalah jantung dan lambungnya” jelas Dokter


Rey menarik nafas dalam ia mengusap jidatnya, “ tapi dia masih bisa bertahan kan?”


“ bisa namun stamina dan juga daya tahan fisiknya akan melemah jika dia sering melakukan hal berat” jelas nya lagi


****


Alex, Lyta dan Arya pun baru sampai dirumah Hanna, mereka nampak sumringah karena berhasil mengamankan vaksin tanpa ada yang tahu jika mereka yang mengambil. Hanna menyambut mereka dengan membuatkan secangkir minuman hangat dan kudapan,


Alex menyeruput minuman itu “ aah, enak sekali Hanna, oh iya aku bisa meminta bantuan mu?” tanya nya


“ ada apa?” tanya balik Hanna


“ aku sudah melihat kondisinya dia tidak bisa kubawa karena alat yang menemple pada tubuhnya, aku takut jika aku memaksa membawanya tanpa alat bantu itu, khawatir jika terjadi sesuatu padanya saat diperjalanan” jelas Alex


“ Alex jika aku ikut pun, bagaimana bisa membawanya tanpa peralatan itu jika kondisi nya masih belum stabil aku juga tidak bisa Alex” kata Hanna


“ kurasa Lisa tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali stabil, ingat saat di markas hanya butuh 3 hari. Dia kritis saat hari pertama lalu siuman di hari kedua kemudian kritis untuk tahap kedua dan tidak emmakan waktu sehari dia sudah kembali siuman” sahut Lyta


“ tapi tetap aku butuh bantuanmu, hanya kau yang mengerti masalah medis disini” kata Alex


“ baiklah, tapi bagiamana dengan Ben dan Rara?” tanya Hanna


“ benar juga” sahut Lyta


Arya terlihat hanya terdiam mendengarkan sembari termenung menatap air dicangkirnya “kalian hanya membahas soal Lisa, Lisaa, dan Lisaa. Sebenarnya kalian peduli tidak pada adikku?, jika tidak aku akan pergi menyelamatkannya sendiri” ketus Arya


“ benar juga, lex kau pasti melihat Luna disana kan, kenapa kau hanya membahas Lisa?” Lyta memberi kode dengan matanya


“ apa, kenapa kau hanya diam saja saat membahas adikku?” kata Arya


Suasana menjadi tegang sekarang, “ Arya biarkan Alex menjelaskan situasinya” sahut Hanna


Alex menghela nafas “ baiklah tapi kalian jangan dulu langsung berspekulasi, saat aku memasuki ruangan Lisa disana hanya ada Lisa lalu aku mencoba mencari sesuatu untuk meninggalkan catatan namun tidak ada apapun disana, tidak sengaja gordeng kaca yang ada di sanah tersingkap olehku ternyata ruangan itu terhubung dengan ruangan lainnya, dari kaca terlihat seorang mayat namun aku tidak tahu itu siapa pintu menuju ruangan itu pun dikunci, aku tidak bisa mengatakan jika itu adikmu” jelas Alex


Hanna menutup mulutnya dan Lyta hanya meremas bajunya mendengar penjelasan Alex, Arya nampak semakin gelisah dan murung, “dengarkan aku Arya, benar kata Alex kita tidak bisa mengambil kesimpulan jika itu Luna, mungkin dia dan Lisa dipisahkan bukan” kata Lyta


Arya hanya terdiam dan pergi menuju kamar tamu, semuanya menghela nafas disitu “ bagaimana ini, jika-,”


“ Lyta,” Alex memotong dan mencoba memberi kode dengan menggelengkan kepalanya agar Lyta tidak mengatakan hal apapun yang bisa terdengar oleh Arya dan membuatnya naik pitam dan emosi


“ baiklah, lalu untuk masalah Ben dan Rara bagaimana?” lanjut Lyta


“ aku akan membawa mereka ke rumah Komandan, disana tersedia pelayan dengan pengetahuan medis sama seperti Hanna juga perlengkapan medis yang sama seperti dirumah sakit tersedia disana” kata Alex


“ tidak!!, aku tidak akan membawa Ben dan Rara ke tempat itu” tolak Lyta


“ Lyta aku tahu kerguanmu, dia memang berkhianat tapi aku sudah berbicara padanya dan memberinya pelajaran, kurasa dengan pembicaraan ku yang terkahir kali dia sudah bisa membuka matanya” jelas Alex


“ tap-.”


“ benar Lyta, kau tidak perlu curiga pada Alex, kurasa Komandan tidak akan lagi berani menyentuh kita” sahut Hanna


“ baiklah terserah saja” ketus Lyta


Malam itu juga, mereka mengemas barang dan pindah ke rumah Komandan,sejak pembicaraan Alex terakhir kali dengannya ia tidak pernah keluar kamar. Alex pun menyuruh pelayan untuk mengurus Ben dan merawatnya, setelah Hanna memastikan kondisi Ben mereka pun berkeumpul di ruang rahasia milik Alex yang ada di rumah itu.


Lyta yang sedang menuju ke ruang rahasia pun melihat Alex keluar dari sebuah ruangan, lantas Lyta pun melihat isi ruanga yang belum tertutup rapat betapa berantakan sekali ruangan itu, lembaran kertas bertebaran di lanta dan juga vas bunga yang pecah namun vas ini sepertinya buka jatuh akrena tersenggol seperi sengaja di lempar ke tembok dan serpihannya berserakan diamana - mana


Tak lama kemudian ada seorang pelayan yang masuk ia pun terkejut dengan kondisi ruangan ini, “ aah bagaiaman ini berantakan sekali” pelayan itu mengeluh karena pasti sangat melelahkan merapihkan itu semua


“ maaf aku tidak bisa membantumu, apa kau tahu kenapa ini terjadi?” tanya Lyta


“ entahlah nona, biasanya jika ruangan nya seperti ni itu artinya tuan Alex atau tuan Jun sedang dalam emosi yang besar” jelas pelayan itu


Mendengar penjelasan pelayan Lyta yang bergegas ke ruang rahasia pun hendak menanyakan lah itu namun suasana disana tidak mendukung karena konflik tentang penyelamatan Lisa dan Luna.


Mereka duduk di meja rapat itu, “ baiklah, rencana penyelamatan Lisa kita mulai besok Hanna kau pergi denganku sedangkan Lyta dengan Arya kalian harus bisa sampai di tower dan segera mengaktifkan sistem penyebaran itu, dan masalah sistem penyebarannya aku sudah menemukan caranya”


“ bagaimana?,” tanya Lyta


“ aku menemukan sebuah slot seperti untuk sebuah chip, kemungkinan dengan kita meretas sistem nya dan memasukan cips yang berisi sistem untuk memuat ulang sistem tower ke pengaturan sebelumnya maka penyebaran jangka tertentu bisa kita perluas” jelas Alex


“ yah , kau benar aku akan mencoba meretasnya” sahut Lyta


Arya masih terdiam, Hanna pun mencoba memahami rencana itu, Lyta segera duduk di bangku kerjanya untuk mencoba meretas sistem di gedung I.V.V. Arya berdiri ia pergi ke luar ruangan rahasia itu, Lyta yang melihat Arya sudah pergi pun mulai membahas Luna


“ hey, Alex aku fikir mayat itu adalah Luna” kata Lyta sembari mengotak – atik layar didepannya


“ entahlah, menurutku juga begitu” suara Alex terdengar sendu


Hanna pun menghela nafa, seketika walke talkie milik Alex berbunyi, “ lapor tuan, teman tuan mencuri senapan di ruang senjata” lapor penjaga rumah


“ APA!!, tahan dia” kata Alex


Alex pun segera pergi keluar ruangan, Lyta yang tengah sibuk berusaha untuk fokus pada peretasan nya “ Lyta apa kau tidak mau ikut?” tanya Hanna


“ Alex bisa menangani nya, lebih baik kau juga tetap disini Hanna, Arya sedang kalang kabut sekarang dia bisa saja melukaimu tanpa sengaja” jelas Lyta dengan mata berkaca – kakca menahan tangsinya berusaha tegar didepan Hanna yang tidak melihat ekspresi wajahnya karena Lyta sedang memprogram peretasan


Di luar sangat ricuh pelayan dan pegawai menahan Arya yang sudah menodongkan senjatanya pada siapa yang menahannya, Alex datang ke gudang persenjataan itu “ ARYAA!!, hentikan semua ini” teriak Alex


“ kau marah karena aku mengambil senjatamu?” sinis Arya


“ Arya kau tahu maksudku bukan itu, kau tidak bisa mengamuk pergi ke sana untuk menyelamatkan Luna”


“ lalu BAGAIMANA!!, apa aku harus terus menjadi pesuruhmu mengikuti semua rencanamu, bahkan aku hampir mati gara – gara melindungi dokumen itu” bentak Arya


Alex melangkah maju dan menyuruh pelayan serta para penjaga disana untuk mundur, ia terduduk di depan Arya “ baiklah, lampiaskan padaku Arya, ayo” kata Alex


“ kau pikir aku akan termakan omonganmu hah, tidak aku akan memanfaatkan ini” Arya pun kembali menodongkan senapan itu kearah kepala Alex, perasaan Hanna yang semakin tidak enak membawanya keluar ruang rahasia ia terus mencari keberadaan Alex dan Arya dengan bertanya pada para pelayan, para pelayan yang ada di disana histeris ada juga yang memalingkan wajah merasa ngeri dengan apa yang akan dilakukan Arya


“ HENTIKAAAN” teriak Hanna


Arya mulai menarik pelatuk pada senjatanya itu secara perlahan, seorang pelayan berbicara pada pelayan lainnya “ kau laporkan ini pada Komandan” katanya, lalu tiba – tiba Lyta pun datang menyusul “ tidak usah, lebih baik kalian diam saja” sahut Lyta pada kedua pelayan itu, Lyta terus berjalan dengan tatapan marah pada Arya “ Lyta” sahut Hanna melihat Lyta yang menghampiri Arya


DUAAAR


Semua menjerit, Hanna pun menutup wajahnya dan menangis, suasana hening sesaat lalu mereka kembali membuka mata begitu juga dengan Hanna betapa terkejutnya mereka melihat Lyta yang mengarahkan pistol itu ke atas agar tidak mengarah ke Alex,


Alex pun membuka matanya “ Lyta, sedang apa kau” tanya nya terkejut melihat Lyta yang sedang memegang pistol yang ditodongkan Arya ke langit langit ruangan disana, Lyta meremas pistol itu lalu Arya menariknya hingga tangan Lyta terluka, Lyta menatap tajam Arya “APAKAH PEMIKIRANMU SEPENDEK INI HAH!!” Lyta membentak Arya hingga menggema.


“ AKU TAHU DIA SUDAH MATI” bentak Arya lalu ia membantingkan senapan itu dan meremas rambutnya frustasi


“ dia sudah tiada, kalian menutupinya dariku dengan mengulur waktu dan mengalihkan pembicaraan” tangis Arya


Beberapa pelayan memilih keluar ruangan mereka takut terimbas amukan Arya nantinya, Lyta pun berjalan mendekat dengan menarik pisau belati dari saku pinggangnya , “ Arya kau pikir hanya kau yang kehilangannya, aku pikir kenapa kami menunda memberitahumu, karena kami memikirkan perasaanmu dan juga kondisi Luna, bukan karena tidak peduli “ kata Lyta


Pipi Arya basah dibanjiri air matanya mengetahui adiknya sudah tiada “ aku sudah gagal menjaganya, selama ini aku bertahan hanya untuk kembali bertemu dan berharap kami akan hidup dengan damai lagi walau tanpa kedua orangtua kami” isak tangis Arya


Lyta kembali memasukan pisaunya, “ Arya jika Lisa pun bernasib sama seperti Luna, kita tetap harus melakukan misi ini hingga akhir, jika gagal maka pengrobanan Lisa dan Luna akan sia – sia” kata Lyta


“ apa kau bisa menerima kematian Lisa dengan cara mengenaskan dan tidak adik seperti itu hah?”


“ tentu saja tidak Arya, maka satu –satunya untuk membalas mereka ialah dengan berhasil menyebarkan vaksin ini secara merata” kata Lyta


***


Di ruangan nya Rey mendapat telpon dari seorang yang melaporkan sesuatu padanya, sembari menyeruput minumannya ia pun menyimak percakapan si penelepon, “ hmm,, bagus. Buang langsung hp mu itu” kata Rey , lalu ia menutup telepon nya


TRAAANG


Rey melempar cangkirnya hingga pecah, ia emosi mendengar laporan anak buahnya itua, “ternyata cucu dari Komandan yang melakukan ini semua, hehehehe dia memang cerdas seperti ayahnya, lihat saja” gumam Rey sembari meremas tangannya emosi