
Rara sangat senang ia tersenyum dari awal berangkat hingga kapal berlayar menuju pulau yang tak jauh dari ibu kota I.V.V itu, mereka melakukan study alam pada semeseter 2 sekarang Rara sudah mau lulus sekolah dasar, sesampainya di pulau semua anak riuh turun dari kapal karena ada dua kelas yg ikut study alam itu. Melihat muridnya sangat antusias ibu guru pun segera memberi arahan pada anak anak muridnya melalui pengeras suara ia menghimbau agar semua berkumpul di area yang sudah diarahkan ada dua guru pengawas dari dua kelas tersebut .
“anak – anak mohon berkumpul di area bendera hijau disana ada bapak Eky, jangan mendekati bibir pantai atau air laut ya” himbau ibu Sania
Anak anak itu pun segera berkumpul di tempat yang sudah diarahkan, mereka mulai menelusuri hutan dengan dibagi 2 kubu lalu mereka berpencar
“ingat jangan jauh – jauh dan tetap di dekat ibu ya” kata bu guru Sania
Rara berada dalam rombongan bersama Ibu Sania mereka mulai menjelajahi alam yang ada dari mulai tumbuhan, serangga, hingga ke aliran sungai mereka sangat antusias mengenal alam secara langsung
Namun Rara nampak membuka sebuah jurnal buku usang itu ia baca ditengah riuh ramai anak anak yang antusias bermain dengan alam, ia memperhatikan sekitar sudut pandangnya membayangkan kejadian yang ia baca di jurnal itu, kejadian 6 tahun silam sebelum I.V.V berevolusi dan membangun orde baru
Dimana semua berjuang hidup dengan keras, Rara anak yang memiliki pandangan berbeda dari anak seumurannya, dari sebuah tulisan itu ia dapat merasakan gambaran kesedihan kesulitan yang dialami oleh si pemilik jurnal
“hari dimana kami berjuang dan beristirahat di pinggir sungai, beberapa saat saja tidak bertemu kroon rasanya hidup ini bagaikan normal seperti semula namun tak bertahan lama kembali terdengar suara erangan itu” isi dari jurnal itu
“Ra kesini lihat ada ikan” sahut temannya yang sedang bermain di sungai
Rara tersenyum dan segera menyusul teman – teman nya namun tanpa disadari buku jurnal itu terjatuh saat Rara hendak memasukan ke dalam tasnya
“kau tau katanya dulu tempat ini dipakai untuk permainan mematikan” sembari mencuci muka teman Rara bercerita dibalas rasa penasaran oleh teman – teman yang lainnya
“benar aku juga mendengar nya dari ayahku tapi bukan pulau ini” sahut yang lain
Rara hanya mendengarkan sembari melihat ikan yang berlalu lalang di dalam air “Ra bukankah ibu dan ayahmu juga pejuang? Oh dan siapa itu namanya kakakmu mereka juga pejuang kan Ra?” tanya temannya
Rara hanya menjawab dengan anggukan “woaah benarkah?” anak lain yang mendengar itu pun mengerumuni Rara mereka penasaran dan ingin dengar cerita aslinya
“aku tidak tahu apa yang mau kalian dengar, tapi apa menurut kalian kisah itu keren? Kalian mungkin akan menangis mendengarnya” Rara menjawab dengan wajah masam ia pun pergi menjauhi teman – temannya, Rara tidak suka temannya yang lain menganggap cerita atau kejadian itu seperti dongeng aksi yang seru untuk mereka padahal itu sangat menyeramkan dan menyiksa yah inilah Rara perspektif nya sudah lebih dewasa di banding dengan anak lain di usianya ini
Ia menjauh dan menyendiri di tepi sungai merogoh tasnya mencari buku jurnal itu “loh ko gak ada” gumamnya sambil kebingungan kemana buku jurnal yang ia bawa itu ia panik karena buku itu milik Lyta yang ia temukan tergeletak di ruang tengah ia bawa dan ia baca setelah sampai di pulau, Rara takut jika buku itu hilang Lyta akan marah padanya
Rara mencari dan menyisiri tempat dimana dia berdiri tadi tapi tetap tidak ada “apa mungkin jatuh ke sungai” pikir Rara
...****************...
1 jam sebelum kedatangan rombongan pelajar...
Petugas yang menjaga gedung dimana Lisa berada menghalangi Lisa saat akan keluar untuk berlatih di hutan dengan perlengkapan seperti pistol, pedang pena dan baju serba hitam ia tidak lupa dengan scraft yang menutupi rambutnya “kau mau kemana?” tanya salah seorang petugas
Dengan tatapan tajam ia tidak menjawab lalu kedua petugas itu mendapat pesan masuk melalui walkie talke “biarkan dia, tuan sudah mengizinkannya” kata seseorang di walke talke
Lisa diberi kebebasan keluar dalam seminggu sekali saat itulah ia bisa menikmati alam dan mencari cara untuk keluar dari pulau ini sudah berkali – kali ia mencoba hasilnya tetap nihil dan terlintas ajakan pria yang bernama Alan ada rasa penyesalan kenapa ia tidak ikut dengan Alan saat itu karena ia terlalu takut dan bingung akhirnya Lisa memilih untuk kembali ke rumah tua itu
Kedatangan kapal sudah diketahui oleh keamanan gedung tua, “lapor tuan ada sebuah kapal mendarat sudah teridentifikasi kapal itu membawa anak – anak”
“anak – anak ? kenapa mereka kesana?”
“kami belum tau pasti tapi jika dilihat dari laporan petugas yang mengawasi mereka hanya rombongan dari sebuah sekolah”
“awasi saja dan jangan ambil tindakan jika tidak genting, jangan menyerang karena sepertinya mereka hanya datang untuk tugas sekolah namun awasi terus”
“siap tuan”
Tidak tahu bagaimana Lisa masih hidup dan kini ia berada disebuah rumah tua yang sebenarnya bukan hanya rumah tua biasa dia dikendalikan seperti boneka oleh seseorang .
Rara masih mencari dimana jurnal itu ia terus meneleusuri sungai hingga tak sadar sudah jauh dari rombongannya, ia kebingungan kemana rombongannya padahal ia yang sudah berjalan terlalu jauh dari rombongan sekolahnya itu
Rara berpikir untuk kembali menelusuri bibir sungai ke arah sebaliknya karena sungai ini hanya lurus dan tidak berbelok mungkin akan mudah kembali ke tempat awal
Lisa tidak pergi jauh dari area rumah tua itu sebenarnya ia hanya ingin menikmati indahnya awan dengan berbaring setelah mandi di sungai, hari sudah mulai sore semua panik mencari Rara
“bu sepertinya ini tidak akan benar, kita lebih baik kembali dan membuat laporan kehilangan agar bisa dibantu oleh pihak kepolisian atau kemiliteran I.V.V” ujar pak Eky yang berusaha menenangkan bu Sania
Akhirnya mereka kembali tanpa Rara, bu Sania berkalia – kali mencoba menghubungi nomor Hanna namun tidak ada jawaban akhirnya ia pasrah dan ingin segera melaporkan kehilangan agar bisa cepat ditangani
Rara mulai kelelahan dan hari sudah semakin gelap, ia bingung dan ketakutan apalagi Rara tidak suka tempat yang gelap “kak Lyta” lirihnya, dari kejauhan ia melihat seseorang yang hendak memasuki hutan
Sosok itu berbalik, Rara berlari menghampiri dan terkejut melihat siapa yang ada didepannya
“sedang apa kau disini, kukira pulau ini tidak berpenghuni selain aku dan para bedebah itu?” sapa orang itu
Rara yang tadinya sangat senang melihat ada orang disana namun dia nampak ragu dan mengambillangkah mundur perlahan
“kau taku? Hah jangan bermain dihutan” lalu orang itu berjalan menjauh
Namun Rara tidak punya pilihan lain “kau...”
“bukankah kau kak Lisa?”
Langkah Lisa terhenti “lagi – lagi nama itu” gumamnya lalu berbalik dan mencengkram bahu Rara ia hendak marah namun melihat Rara yang nampak lesu dan bekaca – kaca Lisa luluh dan membawa nya pulang
Mereka mengendap masuk melalu pintu belakang rumah itu “kau jangan berisik” ujar Lisa
Lisa membuka kulkas yang ada di kamarnya “makanlah” memberikan makanan kepada Rara
Rara nampak ragu menerima nya, “bisakah kau membawaku ke pantai?”
“pantai? Kau mau mati kedinginan disana?”
“sudahlah asalkan kau tidak bersuara besok aku akan mengantar mu kesana” lanjut Lisa
Malam terasa hening Rara tidur di lantai dengan alas selimut saja bukan Lisa yang kejam tapi memang Rara tidak mau tidur bersama Lisa di tempat tidur ia waspada dan mengingat pesan ibunya ‘jangan percaya pada orang baru’
“tapi aku kenal dia, apa mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi” pikir Rara.
Lisa terbangun “hei nak, kau naik saja ke tempat tidur aku akan tidur disini”
Rara yang sudah setengah sadar dan hampir terlelap pun sempoyongan pindah ke tempat tidur “kau tau ibuku, ayahku, bahkan pria tampan itu menunggumu mereka sudah menganggapmu tiada tapi aku tahu mereka merindukanmu” Rara berbicara sembari mengantuk lalu tertidur kembali
Lisa termenung “apa mereka adalah orang – orang yang selalu muncul dalam mimpiku” pikirnya
***
Makan malam sudah tersedia Lyta menyiapkannya untuk Rara, ia melihat jam sudah hampir jam 8 malam Lyta mencoba menelpon Rara namun tidak dapat terhubung
“Halo, hanna?” Lyta menelpon Hanna namun tidak dapat terhubung juga
Lyta mulai merasa gelisah “mungkin mereka baru sampai pelabuhan” gumamnya menenangkan diri
Suara ketukan terdengar dari luar..
Lyta membuka pintu dan tamu itu adalah guru Rara, mereka berusaha memberi tahu berita yang mungkin kan membua Lyta mengamuk
“kenapa Rara tidak pulang bersama kalian? Bukan kah kalian kesini mau antar Rara?” muka Lyta nampak sudah cemas dan menduga jika ada sesuatu yang terjadi
Bu sania tidak sanggup bicara akhirnya pak Eky lah yang menjelaskan semua nya, tangan Lyta nampak gemetar “bagaimana kalian bisa seceroboh ini?” sembari menggebrak meja Lyta menahan emosi
“maaf kami salaah, saya akan berusaha mencarinya semaksimal mungkin” ucap bu Sania
Lyta mencoba menelpon Hanna namun sangat sulit untuk terhubung mungkin ia menggunakan mode silent agar tidak terganggu akhirnya Lyta menghubungi pihak rumah sakit agar memberi tahukan kabar buruk ini.
Lyta bergegas mengambil keperluan untuk pergi ke pualu itu namun guru – guru Rara melarangnya dan membujuknya untuk menunggu hari esok karena sekarang tim pencari pun tidak bisa mencari di pulau itu karena kabut yang lebat, Lyta mengacuhkan peringatan itu.
Ia terkejut saat membuka pintu karena Alif yang tiba – tiba ada didepan rumah sembari membawa sesuatu “hai, Lyta ya? aku...” belum sempat Alif bicara Lyta langsung pergi dan mengabaikannya.
Lalu Alif bertanya pada guru – guru Rara “ada apa? Sepertinya dia sedang dalam mood yang kurang baik”
“anda siapa?” tanya bu Sania
“saya kerabatnya”
Lalu mereka menceritakan nya pada Alif mendengar itu ia pun bergegas mengejar Lyta.