DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
Episode 36 Chapter 2 - The Last Mission : Ocean II



Terdengar suara burung berkicau dan suara ombak laut disertai angin kencang, mataku perlahan mencoba untuk terbuka terlihat samar bayangan seseorang semakin jelas terlihat itu ternyata Ben dan Luna


“ waah, apa kalian tidak kedinginan semalaman tertidur disini, jika jatuh kebawah laut bagaimana?” kata Ben


Aku yang masih setengah sadar lalu mendongak keatas “ Alan” kataku terkejut ternyata aku dan Alan semalam kami tertidur disini, kaki Alan aku jadikan bantal semalaman apa dia tidak merasa keram. “heei anak muda bangun ini sudah pagii” Ben berusaha membangunkannya


Aku pun berdiri untuk pergi mencuci muka “bagaimana aku bisa tertidur disana” gumamku sembari menatap kaca di kamar mandi kapal


Tok , tok , ada yang mengetuk pintu aku pun keluar ternyata Luna yang mengetuk


“ kau mau pakai kamar mandi, tunggu ya aku sebentar lagi beres” kataku


Luna menahan ku untuk kembali ke dalam, ia menarik tanganku keluar


“ kak, kenapa kau bisa disana bersama Alan” tanyanya


“ aku hanya berbincang dengannya lalu tidak tahu jika tertidur disana, kenapa memang Luna” tanyaku balik


“ aneh saja kau lebih memilih tidur diluar dengan dia padahal angin laut kan dingin” ketusnya


Dalam hati ku berkata ‘ ada apa dengannya’


“ tunggu tadi kau menyebut Alan dengan namanya, seharusnya kau memanggilnya kaka bukankah umurmu saat ini 16 tahun setahuku Alan itu umurnya 23 tahun sangat terpaut jauh darimu Luna denganku saja dia masih lebih tua” aku mencoba menghiburnya


“ maksudmu apa sih, emangnya tidak boleh aku memanggilnya dengan nama, lagipula kau tahu darimana dia berumur segitu?”


“ Alan dan aku membicarakan banyak hal semalam mungkin karena itu kami sampai tertidur diluar, Luna aku tahu kau sedang gelisah karena kakakmu tapi janganlah kau merubah siapa dirimu karena kesedihanmu Luna kau ini anak yang periang sopan dan sangat peduli dengan sesama”


Luna mengalihkan pandangannya, “ aku sudah selesai jika kau mau pakai kamar mandi, silahkan” akupun pergi


Kami masih terus cemas karena tidak terlihat kapal sejauh ini Alan terus mengawasi ruang mesin Ben tidak keluar dari ruang panel kemudi aku dan Luna hanya bisa mamantau sekitar siapa tahu ada kapal yang kami butuhkan, hari kedua kami dikapal dengan rasa cemas kapal akan mati ditengah laut sebelum sampai di pelabuhan yang kami tuju, berjam – jam sudah kami harap – harap cemas tapi belum ada tanda – tanda kapal lain terlihat ruang mesin kapal sudah mulai mengeluarkan asap karena dipaksa berlayar sedangkan minimum bahan bakar sudah dibawa standard batas pemakaian


“ kita harus mematikan mesin jika tidak kapal bisa terbakar” Alan yang berlari dari ruang mesin


“ matikan saja” kataku


Alan pergi ke panel kemudi untuk memberitahu Ben


“ kenapa kau mengambil keputusan sepihak?” tanya Luna


“ sepihak apa, ini sudah darurat bukan hanya aku tapi Alan dan Ben pun mengetahui resiko nya jika terus memaksakan kapal ini bergerak dengan bahan bakar  yang minim” aku mulai kesal dengan sikap Luna kali ini


Dengan memalingkan wajahnya ia tersenyum sinis “ hah, lalu untuk apa kita pergi dari pelabuhan sebelumnya jika akhirnya kita juga akan mati, kau mengorbankan dan meninggalkan kakaku disana dengan para monster itu hanya untuk terombang – ambing di lautan seperti ini”


“ Luna jika kau tidak membantu sebaiknya diam saja” ketusku


Aku pergi mencoba tidak meladeni ucapannya karena emosiku sudah mulai terpancing dengan kelakuan Luna yang berubah derastis, aku tahu dia sedih terpisah dari kakaknya tapi dalam kondisi seperti ini semua hal tak terduga bisa saja muncul kapan saja dan darimana saja contohnya apa yang kami alami saat ini kapal kami yang harus mati mesinnya karena kehabisan bahan bakar, Luna mencoba kembali memancing amarahku ia menarik lenganku “seharusnya aku biarkan saja kau menjadi sample percobaan pada saat itu” katanya dengan nada datar


Aku melepaskan tanganku “ maaf sudah membuatmu menyesali perbuatanmu dan kakamu”  ketusku lalu pergi keruang panel kemudi untuk memikirkan bagaiman caranya kami menyelesaikan masalah ini


Ben dan Alan sudah terlihat pasrah  “ kita hanya bisa menunggu kapal yang datang sekarang” lesu Ben


“ kemana Luna?” sahut Alan


“ dia dibawah” singkatku dengan wajah sedikit bete


Ben yang menyadari suasan hatiku “ kau kenapa Lisa, tidak biasanya mukamu gelap seperti itu” tanya Ben


“ tidak apa” singkatku


Ben pun memberi kode pada Alan untuk pergi menemui Luna, Alan pun pergi lalu Ben kembali menyelidiku “ kau bertengkar dengan anak umur 16 tahun?” tanya Ben


“ sikapnya sudah kelewat batas, aku berusaha sabar menghadapi anak itu” kataku dengan nada sedikit meninggi


“ dia baru saja kehilangan kakaknya Lisa”


“ Ben bukan hanya dia yang kehilangan aku pun sama, aku kehilangan kedua kawan baikku” ketusku


“ maklum lah dia masih labil namanya juga anak baru gede” ben mencoba mencairkan hatiku


“ kali ini aku tidak tahu Ben, dia sudah melewati batas” aku pun duduk dengan memejamkan mata di kursi sebelah Ben


Ben pun tersenyum kecil mengetahui pertengkaranku dengan Luna ia memandang lautan didepan matanya dari atas kapal diruang panel kemudi ini terlihat Luna yang sedang berjalan menuju ujung kapal “ mau apa dia” gumam Ben masih memperhatikan gerak gerik Luna la semakin curiga


“ Lisa bangun lihatlah” Ben mengguncangkan bahuku


“ apasih ah”


Alan yang baru saja turun dari panel kemudi melihat Luna yang sedang berdiri di ujung kapal “ mau apa anak itu” gumamnya lalu mendekati Luna, saat akan mendekat terlihat Luna semakin melangkahkan kakinya seperti akan menjatuhkan diri ke lautan melihat itu aku dan Ben berlari kebawah berusaha mencegah Luna namun terlihat Alan didepan kami sudah  berlari “ LUNAA”  ia menangkap Luna dari belakang


“ iish anak nakal itu” kataku marah


Ben pun menarikku kembali keruang kemudi “lepaskan Ben dia harus di beri pelajaran harus dimarahi” kataku memberontak pada Ben


“ sudahlah Alan juga pasti akan memarahi nya” kata Ben dengan terus menariku


Alan berseru marah sekaligus ia kaget dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Luna ia tidak menyangka jika Luna akan melakukan hal semacam itu ia membangunkan Luna memegang kedua bahunya menatap tajam Luna


“ Luna kau ini kenapa sebenarnya hah!!” Alan marah


Luna hanya menangis dengan tatapan kosongnya


“ sadar Luna jangan sia – siakan apa yang sudah Arya dan Alif lakukan” tegas Alan


“ memangnya apa yang mereka lakukan hah!!” Luna balas membentak


Alan masih menatap tajam Luna “ mereka sudah berkorban untuk kesalamatanmu dan Lisa, mereka berharap kau dan Lisa dapat menyembuhkan dunia” tegas Alan


“ yah aku bisa menyembuhkan dunia, aku masih bisa bernafas karenanya” Luna tertunduk lalu kembali menatap Alan kali ini tatapannya penuh dengan amarah dan kekecewaan “ tapi aku harus mulai berjalan sendirian ketika dunia membaik karena kakaku satu – satunya sudah tewas, lalu akupun bernafas dengan penuh kesedihan dan rasa takut karena sendirian di dunia ini”


Alan berdiri “ kau ini anggap kami apa Luna, apa bagimu kami ini hanya orang asing yang kebetulan bertemu denganmu begitu?” ketus Alan


“ memang kalian siapa? Apa kalian akan terus memperhatikan aku? Apa kalian akan terus berjalan bersamaku?” tanyanya


Luna pun berdiri dan berteriak “ lalu apa pernah kau melihatku sedetik saja ka?”


Langkah Alan pun terhenti tanpa berbalik melihat Luna, “ lihat kau tidak menjawabku, kau dan yang lainnya sama saja ka, hanya peduli pada Lisa”


“ kau salah, Lisa selalu mengkhawatirkanmu dibandingkan mengkhawatirkan dirinya sendiri tapi sikapmu malah seperti ini”


Luna melangkah mendekati Alan dengan langkah perlahan “ sebelumnya kau selalu memperhatikanku sebelum ka Lisa datang ke markas, selain kakaku kaulah yang aku punya ka Alan kau selalu berkata akan melindungiku tapi sekarang setelah dia datang kau lebih memperdulikannya” Luna memeluk Alan dari belakang “ aku sudah kehilangan kakaku jika kau juga meninggalkanku lalu aku harus kemana?” Luna menangis


Di atas kapal ruang panel kemudi Ben dan aku melihat itu semua “ sejak kapan mereka berhubungan” gumam Ben, aku tidak menanggapinya mungkin ini alasan Luna bersikap arogan pikirnya aku akan merebut Alan darinya


“ paman aku tidak-,”


“ hei hei, kau panggil apa?” kata Ben


“ kenapa sih kau tidak mau dipanggil paman, padahal kan memang kau sudah tua”


“ dengar ya aku ini ingin berbaur dengan kalian sebagai kawan bukan sebagai wali pengganti kalian jadi panggil saja aku Ben”


“yah yah, kau atur saja lah” aku pun kembali memejamkan mata dikursiku tadi


“ hei hei kau tidak mau melihat adegan romantis secara live ini” Ben mengguncangkan bahuku


“ bukan urusanku, jangan ganggu” kataku


“ hem palingan dia iri soalnya Alex sang pujaan hati sedang berjuang di pulau yang kami tuju” celetuk Ben


Aku pun melotot kearahnya, Ben pun pura – pura pergi ke kamar mandi padahal ia menghindari omelan dariku, Ben yang membahas soal Alex aku jadi sedikit khawatir bagaimana kondisi mereka disana Lyta juga dia sedang menyelidiki kondisi disana tapi mereka dibantu oleh Komandan kurasa akan baik – baik saja,


Beberapa saat hening aku mulai sedikit terlelap, tiba – tiba terdengar suara Alan dan Ben yang gaduh dibawah aku pikir Luna berbuat sesuatu yang nekat lagi aku segera berlari menghampiri mereka “ ada apa, kenapa kalian gaduh sekali?” tanyaku


“ lihatlah kapal” Ben kegirangan


“ kita bisa melanjutkan perjalanan akhirnyaaaa” sahut Alan yang bersemangat menunggu kapal itu mendekat


“ tunggu kapal itu kenapa pergi kearah yang berlawanan dari kita” gumamku


“ sudahlah yang penting itu bahan bakar nya bukan” kata Ben


“ Alan cepat pergi dan ambil bahan bakarnya” Ben mendorong Alan


“ hei hei kau pikir aku akan pergi sendiri?” tanya Alan


“ yah kalau begitu Lisa, semoga kalian berhasil” senyum tipis Ben


“ heeei, kau yang ikut denganku” Alan menarik Ben untuk bersiap mengambil bahan bakar di kapal itu


Kapal pun sudah semakin mendekat namun tetap saja untuk sampai disana Ben dan Alan harus berenang hingga sampai di tangga darurat kapal tersebut kapalnya lebih besar dari kapal yang kami pakai


“ tunggu apa kalian benar benar akan melakukan ini?” aku memastikan


Alan yang sudah siap terjun ke lautan menahan lompatannya “ kenapa lagi Lisa, ini yang kita butuhkan jika menunggu kapal lain tidak tahu sampai kapan”


“ mungkin kau punya alasan untuk membuatnya ragu Lisa” kata Ben dengan sedikit ragu pergi kekapal


“ kapal itu mungkin saja berisikan Kroon ataupun mungkin jika ada awak yang masih hidup apa mereka akan memberikan bahan bakarnya pada kita?” kataku


“ nah benar” sahut Ben


“ terserah saja, apapun itu aku akan kembali dan membuat kapal ini hidup lagi” Alan menyeburkan dirinya kelaut “Been cepatlah!!” teriaknya


“ haduuuh iya iya”


“ ka Alan kau harus kembali jika tidak aku akan menyusulmu” teriak Luna pada Alan


Alan hanya melihatnya dari bawah, mereka sudah mulai berenang mendekati kapal “mereka harus menghentikan laju kapal terlebih dahulu” gumamku


Aku mencoba mengubungi mereka lewat earphone “ masuk Alan apakah kau mendengar” kataku


“ yah ada apa?”


“ apakah masih bisa berfungsi walau terkena air?” tanyaku


“ earphone ini berbeda dari yang diapakai untuk permainan test buatan Letnan, ini lebih canggih” dengan suara tersengal dan  suara air laut


“baiklah selalu beritahu kondisi kalian ya”


“copy”


Aku terduduk di lantai kapal Luna sepertinya sudah lebih membaik moodnya “ kau lapar?” aku berusaha membuka pembicaraan


Luna menggeleng “ tidak terimakasih”


Aku kembali menatap lantai kapal lalu “ka maafkan sikapku tadi, aku hanya frustasi dengan semua ini” katanya dengan pipi yang basah


“ sudahlah aku mengerti kau sedang dalam mood yang buruk, tapi lain kali belajarlah dewasa ya dan jangan berpikir jika kau bisa mati dengan cara seperti tadi” tegas ku


Luna menangguk, “ hem, Luna aku mau bertanya tentang perkataanmu tadi  sebenarnya kau dan Alan kalian sejak kapan mulai berhubungan?” ledeku


“ hah, aku tidak, maksudku itu anu” Luna terkejut dengan pertanyaanku ia terlihat sangat gugup


“ hahahah iya iya sudah, mukamu merah sekali Luna terlihat sekali kalian memiliki hubungan” ledeku


“ ka Lisaa, apasih ko ngecengin mulu” kata Luna


Aku menghela nafas “ semoga mereka sampai dengan selamat” gumamku,