
Alex dan Lyta memutuskan untuk menyelidiki keberadaan Arya dan Ben terlebih dahulu karena menurut mereka Lisa bisa bertahan sedikit lagi, Alex khawatir jika dokumen itu sudah jatuh ketangan yang salah,
“ Alex jika ini tidak membuahkan hasil, aku akan memukul mu hingga puas” ancam Lyta
“ aku sudah menyelidiki ini kemarin, hanya saja belum sempat masuk ke ruang bawah tanah mereka” kata Alex
Sekarang mereka sedang berada di rumah Letnan dengan menyamar tentunya, Alex mencoba membuka pintu menuju ruangan yang berada di bawah rumah ini namun sangat sulit karena membutuhkan kunci untuk membukanya karena merasa tidak punya waktu lagi ia pun merusak pintu itu dengan merusaknya
“ kau ini, jika ada yang mendengar suara tembakanmu bagaimana?” gerutu Lyta
Mereka memasuki ruangan yang sangat berbau amis itu, tempat lembab dan gelap itu sungguh berbau menyengat, untuk penerangan Lyta menyalakan senter miliknya yang selalu ia bawa berjaga – jaga menemukan ruangan seperti ini saat penyelidikan. Dan betapa mereka terbelalak melihat ruangan apa itu. Setelah senter di nyalakan, ada darah dimana – mana dan ada beberapa potongan tubuh manusia disana hanya saja tidak lengkap, ada yang tangannya saja tergeletak dan hanya kakinya saja sungguh pemandangan yang tak pantas dan tak etis serta menyeramkan. Lyta rekfels membalikan badanya tak kuat melihat apa yang ada dihadapannya
“ sebenarnya apa tujuannya manusia satu itu, ini sudah di luar batas dia menyiksa dan membunuh seseorang, bahkan memotongnya” geram Alex
Lyta pun memberi senter itu pada Alex “ kau saja yang lihat, aku akan tunggu diluar” katanya pergi
Alex pun mulai menelusuri tempat itu ia berjalan terus semakin dalam dan terlihat sebuah sel disana, ia melihat ada orang didalam sel itu, Alex mencoba memanggil mereka “ apa kalian masih hidup?”, lalu salah satu orang itu menoleh kepadanya, betapa senangnya Alex melihat kedua temannya masih hidup hanya wajah mereka babak belur dipenuhi darah juga di sekujur tubuhnya
“ Arya, ben sadarlah kalian harus kuat sedikit lagi agar bisa pergi denganku” sahut Alex mencoba merusak gembok dengan menembaknya
Arya seperti berusaha mengatakan sesuatu sembari mengeluarkan subuah kotak “pewgi dawi ni, awa ni lex” katanya walau tidak jelas karena mukanya bonyok dan bengkak Alex paham apa maksud nya ia ingin Alex membawa kotak itu dan segera pergi dari tempat itu
“ aku tidak akan meninggalkan kalian” gigih Alex
Di luar Lyta sedang mengawasi dan cemas karena Alex sangat lama ia khawatir jika akan ada orang yang datang, didalam Alex sedang berusaha hingga gemboknya terbuka ia pun mengangkut Arya terlebih dahulu, untungnya Arya melindungi kakinya dengan selalu memeluknya saat mengalami penyiksaan diruangan itu sehingga kakinya masih bisa berfungsi dengan normal, saat keluar membawa Arya, Lyta terkejut dengan kondisi mukanya yang sudah sulit untuk dikenali
Lyta menutup mulut dan matanya berkaca – kaca melihat kondisi Arya,” bawa dia cepat” kata Alex, Lyta pun membopong nya sekuat tenaga
“ kau mau kemana lagi Alex?” tanya Lyta
“ aku harus mengangkut Ben” jawabnya
“ Ben!!, dia juga ada disini kalo begitu cepatlah” kata Lyta
Alex segera masuk dan membawa Ben keluar dari ruangan itu, agak sulit membawa Ben karena ia tak sadarkan diri kondisinya lebih parah dari Arya, mereka melewati pintu belakang gudang rumah itu yang tak jauh dari pintu masuk ruang bawah tanah hanya sulitnya mereka harus menaiki tangga agar dapat sampai di gudang lalu keluar dari rumah Letnan, mereka pun pergi menggunakan taksi
TOK
TOK
“ HANNAAA, buka pintunya” teriak Lyta, karena hujan mulai turun dengan deras sepertinya Hanna tidak mendengar ketukan mereka
“ HANNA, buka pintuu” teriak Lyta lagi
Hanna yang tengah melamun di kamarnya tersadarkan dengan suara lantang Lyta, ia segera membuka pintu dan sangat terkejut melihat Lyta dan Alex membawa seseorang bersama mereka
“ ayo masuk” kata Hanna
“ siapa mereka?” tanya Hanna yang belum mengenali mereka karena mukanya Arya dan Ben yang bonyok
Lyta dan Alex pun membaringkan mereka di sofa, menyadari itu Ben Hanna histeris karena kondisinya yang sangat buruk mukanya bonyok dan tubuhnya di penuhi darah begitu pun dengan Arya
Hanna menangis “ bagaimana bisa kau menjadi seperti ini sayaang!!” histerisnya
“ sabar Hanna, kau harus bisa mengobati mereka” Lyta mencoba menenangkan
“ yah aku akan membersihkan mereka” tegas Hanna
Hanna yang dibantu dengan Lyta mulai membersihkan Arya dan Ben lalu mereka di gotong oleh Lyta dan Alex, Arya di pindahkan ke kamar tamu lalu Ben dipindahkan ke kamar Hanna, mendengar keributan yang ada Rara terbangun dari tidurnya
“ maaah, ada apa?” tanya Rara
Karena semua sibuk membagi tugas merawat Arya dan Ben mereka tidak menyadari kehadiran Rara yang memperhatikan di luar kamar Hanna
“ sayang bertahan lah,” kata Hanna
Rara pun kebingungan dengan apa yang terjadi ia ingin sekali bertanya pada ibunya namun sepertinya Rara mengerti jika Ibunya sedang kedatang pasien yang padahal adalah ayahnya sendiri
Lalu Rara berbalik kembali kekamarnya sebelum masuk ia melewati kamar tamu lalu menoleh, karena kamar itu terbuka biasanya kamar itu selalu tertutup karena tidak pernah dipakai, ia melihat Arya yang terbaring, Rara yang belum tahu itu siapa ia masuk dan menanyakan “ hei, kau siapa?, paman maaf tapi,,” setelah melihat wajah Arya yang menyeramkan karena bengkak dan berdarah Rara terduduk dilantai dan berteriak karena kaget dan ketakutan, Lyta yang mendengar itu bergegas kekamar Rara tapi anak itu tidak ada lalu ia kembali dan menuju ruang tamu melewati kamar Arya ia mendengar tangisan Rara “ RARA!!, sedang apa kau disini” Lyta segera menggendongnya lalu mengembalikannya kekamar
“ Rara tenanglah, tidak apa – apa” Lyta memeluknya mencoba menenangkan
“ siapa paman itu, kenapa mukanya menyeramkan kaa” tangis Rara
Hanna dan Alex selesai mengurus Ben lalu mereka pindah ke kamar Arya dan mengurusnya, setelah selesai Hanna mengunjungi Rara karena ia tadi memang mendengar teriakannya namun Hanna mencoba fokus pada Ben , ternyata Rara sudah tenang dan tertidur bersama Lyta
“ mereka sudah tertidur” kata Hanna sembari berjalan kedapur.
“ kenapa dia berteriak tadi?” tanya Alex yang merebahkan diri di sofa
“ sepertinya dia melihat kita atau dia melihat Arya dalam kondsii muka yang seperti itu” jelas Hanna
Alex menghela nafas panjang lalu ia teringat dengan dokumen yang ada di kotak itu, “bukannya dokumen itu ada disebuah tas ya, kenapa sekarang jadi kotak seperti ini” gumam Alex
Ia membuka kotak itu isinya adalah selembar denah bangunan gedung I.V.V dan juga gambar rancangan dari tower berbentung jarum di atasnya juga ada selembar lagi keterang cara mengubah sistem gas dan skala penyebarannya
“ ini dia, tapi bagaimana kondisi Lisa apakah selnya sudah diambil oleh mereka” fikir Alex
Ia pun terlihat menatap lantai dengan mata sedih “ Lex kau mau teh atau kopi?” tanya Hanna dari dapur namun tidak ada jawaban dari Alex, Alex mengingat kenangannya bersama Lisa ia sangat merindukan nya, Alex tidak tahu lagi bagaimana jika Lisa pun bernasib sama seperti ibunya yang mati ditangan para ilmuan dan dokter yang tidak memiliki hati itu.
“ Alex kau kenapa?” Hanna menghampiri Alex karena khawatir
“ tidak aku hanya memikirkan strategi untuk besok” senyum getir Alex
Hanna pun duduk disampingnya dan menggenggam tangannya “ terimakasih kau sudah menyelamatkan ayahnya Rara, aku tidak tahu bagaimana caranya membalasmu” kata Hanna dengan senyumnya
“ untuk apa kau membalasku, dia sudah banyak membantuku menjaga Lisa selama dia tidak ada dikatku bahkan apa yang aku lakukan belum seberapa dengan apa yang dia alami di ruang penyiksaan itu” kata Alex
“ kau harus kuat Alex, selamatkan Lisa dan Luna” kata hanna
“ itu sudah pasti” jawabnya
“ baiklah, kalau begitu malam ini aku buatkan kau teh jahe hangat agar tubuhmu fit” senyum Hanna
“ terimakasih Hanna” senyum Alex
Alex merasa Hanna sangat hangat seperti ibunya, mereka tertidur setelah meminum secangkir minuman hangat, Hanna tertidur disamping Ben sedangkan Alex tertidur di ruang tengah. Aku yang baru selesai menjalani cek up keseluruhan sebelum diambil selnya pun kembali kekamar dan tidak sadar jika Alif ada disana, saat masuk keruangan dengan didorong menggunakan kursi roda, terlihat beberapa tim medis mengerubuni Luna di ruang rawatnya “ ada apa dengan Luna” batinku
Perawat yang membawaku mencoba menyuruhku untuk tenang dan kembali berbaring di tempat tidur tapi aku menolak dan mendorong mereka “Luna kau tidak boleh menyerah” kataku dengan suara bergetar
Lalu semua tim medis yang ada di ruang rawat Luna terlihat panik dan pendeteksi jantungnya menunjukan garis lurus tanda jantung seseorang telah berhenti “ tidak, tidak, tidak LUNAAA!!!” teriakku
Lalu mereka mencoba mengejutkan Luna dengan alat tapi tidak ada reaksi apapun yang terjadi pada Luna, lantas mereka menutup wajah Luna tanda ia sudah tiada “ LUNAAAA, JANGAN MENYERAAAH” kataku histeris dan menangis sejadi – jadinya,
“ gadis yang malang” kata seorang perawat dibelakangku yang ikut menyaksikan kematian Luna
Aku naik darah mendengar itu “ kau bilang gadis malang?, apa pedulimu hah, kau mungkin pernah menusuk kulitnya dengan jarumu dan mungkin mengambil darahnya DENGAN TANGANMU!!, lalu sekarang kau bersimpati padanya?” kataku dengan menarik baju perawat itu
Yang lain mencoba memisahkan dan menyuntikan obat penenang padaku seketika tubuhku lemas lalu semuanya terlihat gelap, seperti ikatan batin Arya yang tengah terbaring pun terbangun dan keluar dari kamarnya ia mencoba pergi dan mencari Luna dengan kondisinya yang masih terluka, untungnya Hanna sedang menyiapkan sarapan ia melihat Arya berjalan dengan sempoyongan keluar kamar dan mencoba membuka pintu rumah “ Arya , kau mau kemana?” tanya Hanna
“ kau siapa?” tanya Arya walau perkataanya masih kurang jelas
“ aku istrinya Ben kita pernah bertemu saat di markas” jelas Hanna
“ oh, aku harus pergi”
“ tidak tunggu” cegah Hanna
Arya memberontak pada Hanna ia menepis tangan Hanna yang mencoba menahanya ‘Bruug’ terdengar suara Hanna terjatuh, Alex bangun terkejut “ ada apa, siapa kau?” kata Alex setengah sadar, lalu ia memperjelas pandangannya “ Arya kau mau kemana?” Alex menghampiri nya
Dan membantu Hanna berdiri “ apa yang kau lakukan?” tegas Arya melihat, Hanna yang tersungkur
“ Alex kau tahu adikku dimana?” tanya Arya
“ sebaiknya kau duduk dulu, aku-,”
“ TIDAAAK, adiku sedang dalam bahaya, aku tidak bisa diam disini” katanya
“ aku tahu tapi lihat kondisimu dan kau juga sudah melukai Hanna yang merawatmu!!” bentak Alex
Lalu menyeret Arya untuk duduk di sofa, “Hanna maafkan dia ya” kata Alex,
“ tidak apa – apa aku mengerti kau pasti khawatir pada Luna” Hanna pun kembali ke dapur mengambil sarapan yang ia buatm, roti isi dan teh
Lyta yang baru bangun berjalan ke dapur mengambil segelas air putih, ia terkejut melihat Arya yang sedang duduk di sofa bersama Alex “auuuh, aku kira siapa, aku baru ingat kau dan Ben sudah ada disini” kata Lyta yang hampir menjatuhkan gelasnya
Mereka segera menyusun rencana dan sepertinya hanya mereka bertiga yang dapat bergerak sekarang untuk menyelamatkan Lisa dan Luna, mulai dari membahas dokumen dan denah yang mereka miliki lalu membagi tugas untuk mengawasi dan membawa Lisa pergi dari gedung itu.
“ aku rasa ada yang kurang, kemana Alif dan Alan?” tanya Arya
“ benar kau belum memberiku informasi tentang mereka” sahut Lyta
“ Alan kudengar ia menjalani hukuman dari Letnan, aku sempat menyelidikinya namun hanya bisa mengetahui infromasi itu dari para pelayan dirumahnya saja, sepertinya dia dikurung entah dimana. Jika Alif yang ku dengar dari Lyta dia sedang menjalani perawatan di tempat yang sama dengan Lisa berada dan itu masih menjadi misteri kenapa dia bisa berada disitu” jelas Alex
“ lalu ehm,, siapa namanya yah?,” Arya tampak mencoba mengingat seseorang
“ siapa?” tanya Lyta
“ ehm, Kye yah dia, diamana dia sekarang?
”
“ Kye?, siapa dia?” tanya Lyta
“ kakaknya Alif, informasi tentangnya aku tidak mendapat petunjuk apapun” jawab Alex
“ seingatku saat aku, Ben dan juga Kye dibawa oleh orang – orang berbaju hitam itu ia sempat didatangi oleh seorang pria lantas pria itu membawa Kye bersamanya, samar aku dengar saat itu karena aku juga sudah dipukuli oleh mereka, Kye memanggil pria itu dengan sebutan ayah ” sahut Arya
“ bagaimana perawakan pria itu?” tanya Alex
“ entahlah aku lupa – lupa ingat, samar sekali waktu itu, kalau tidak salah pria itu walau terlihat sudah cukup berumur tubuhnya lumayan tegap berisi, wajahnya sekilas mirip dengan seseorang” jelas Arya
“ haaah, penjelasanmu itu tidak jelas” sahut Lyta
“ mau bagaimana lagi, kondisiku sangat buruk saat itu”
Alex pun memastikan kondisi Arya pada Hanna karena ia baru saja mendapatkan pengobatan takutnya pada saat menjalankan rencana ini Arya mengalami hal yang tidak diinginkan, namun meski Hanna sudah membeberkan kondisi tubuhnya saat ini, Arya tetap ingin ikut karena Luna juga harus ia selamatkan, entah apa yang terjadi pada Arya mengetahui adiknya sudah tiada.
Di gedung I.V.V, aku masih terbaring lemah karena efek obat bius tadi, di kamarnya Alif masih belum sadarkan diri pasca operasi yang ia lewati, Rey tengah duduk di bangku samping tepat tidur Alif ia sedang mananti putranya siuman sembari menunggu Dokter memberikan dokumen biodata sample vaskin
“ permisi” Dokter masuk
“ kenapa?” tanya Rey
“ ini dokumen yang tuan minta”
“ ada dua, yang mana masih sehat?” tanya Rey
“ sample dengan nama Lisa yang masih bertahan karena ia belum menjalani
pengambilan selnya” jelas Dokter
“ oh begitu, lalu kondisi sample yang lainnya?”
“ ia telah wafat pagi tadi, dan pengambilan sample itu bisa dikatakan gagal karena sel yang kami ambil tidak cukup bahkan sangat kurang, lalu sample mengalami kondisi drop sebelum kami berhasil mengambil sel dengan standar yang dibutuhkan”
Rey pun terdiam sejenak “ jadi kalian gagal dengan sample itu, kemudian kalian juga membiarkannya mati” Rey pun berdiri lantas menampar keras Dokter itu, Dokter itu pun tersungkur ke lantai , ia pun berusaha segera berdiri lagi
“ jika tidak bisa diambil saat itu, KENAPA DIPAKSAKAN” Bentak Rey
Rey menghela nafas dan memalingkan wajah “sekarang kita tidak punya cadangan, itu artinya hanya gadi bernama Lisa itu satu – satunya sebelum kita dapat menemukan yang lainnya”
“ maaf tuan, bukan saya yang mengambil tindakan tersebut” jelas Dokter
“ yah memang, aku hanya memberi pelajaran padamu untuk mewakili nama DOKTER , yang tidak becus agar kalian dapat bekerja lebih fokus lagi”
Dokter itu pun pergi dari ruang rawat, Rey pun kembali duduk dan ia hanya memeriksa dokumen tentang diriku,
“ bukan dari kalangan penting rupanya, aaah ternyata dia orang asli negara pemilik pulau ini sebelumnya, sama dengan Lolita istriku bangsa keturunan Nusantara rupanya” senyum Rey
“ umurnya pun sama dengan Alif, hanya lebih muda beberapa bulan dari Alif. Yah semoga saja dia dapat bertahan dan Dokter bodoh itu lagi tidak membuat sample berharga itu mati” lanjut Rey lalu ia pergi untuk mengunjungi Lab yang ada di gedung itu dengan meninggalkan dokumen itu di bangku