DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 44 Chapter 2 - The Last Mission : rencana baru (revisi)



Pukul 00.00 Lyta tertidur dengan nyenyak setelah mengamuk dan hampir menghabisi Alex jika tidak dihadang oleh Hanna, Alex yang baru saja sadarkan diri segera di obati oleh Hanna karena lebam di sekujur tubuhnya sehabis diamuk oleh Lyta “ Lyta seharusnya tidak bersikap seperti itu, maafkan dia ya” kata Hanna sembari mengolesi salep pada lebam di tubuhnya, dengan wajah meringis Alex memaklumi itu dan memang dirinya yang meminta untuk dihabisi oleh Lyta


“ kalian seharusnya semakin menguatkan satu sama lain untuk memenangkan misi dan pertempuran ini” tegas Hanna


“ yah kau benar, A- sakit” kata Alex


“ sudah selesai” sahut Hanna


Sekarang dikepalanya banyak sekali yang ia pikirkan dan begitu besar kecemasan pada dirinya, Hanna mengerti perasaan Alex “ aku yakin Ben masih hidup” kata Hanna dengan menatap lantai


Alex menoleh “ kenapa kau seyakin itu?”


“ aku hanya mencoba berprasangka baik agar semua itu terjadi, insyaallah” senyum Hanna


“ bagaimana kau bisa setenang ini saat suamimu menghilang?” tanya Alex


“ aku tidak tenang aku gusar, aku cemas, aku takut jika Rara bertanya kemana papahnya” Hanna yang sedari tadi mencoba untuk tegar akhirnya menangis


Alex mengusap punggungnya tanda menenangkan “ kau wanita kuat Hanna, kau memiliki beberapa kesamaan dengan ibuku” sahut Alex


"ia juga selalu terbangun di malam hari dan bersimpuh seraya melihat ke atas, ia mengangkat tangan meminta sembari menangis, aku ingat sekali saat itu aku pun ikut terhanyut dengan ketenangan nya saat berdoa. karena pandemi ini mungkin teguran karena pencipta yang maha esa ingin mengingatkan kita. "lanjut nya


"yah, harus lebih banyak mendekat pada nya" kata Hanna


Di kamar Lyta membuka matanya kepalanya terasa sakit matanya terasa bengkak karena terlalu banyak menangis, ia teringat lagi dengan apa yang Alex sampaikan tadi sore “bisa – bisa nya kau tertidur disini” Lyta bergegas pergi dan membawa peralatan serta senjatanya


Alex yang mencoba mengecek Lyta membuka kamarnya “ kau mau kemana?”


“ kenapa kau bertanya seharusnya kau juga bersiap” ketus Lyta


“ kita butuh rencana, mungkin rencana awal kita hanyalah rekayasa Komandan tapi aku sudah memiliki rencana B atau biasa dibilang rencana cadangan” kata Alex


Beda tempat berbeda pula masalah yang mereka hadapi kini Alif yang di seret oleh pelayan ayahanya untuk bertemu dengan ayahnya, di sebuah ruangan ada ibu dan ayahnya yang terlihat menunggu kedatangannya ‘ceklek’ terdengar suara seseorang membukakan pintu, ayah dan ibu Alif refleks menoleh berharap jika itu adalah kabar tentang anaknya benar saja itu Alif yang datang bersama pengawal dan beberapa pelayan ayahnya, pelayan itu melepaskan pegangan mereka pada Alif, “ Aliif, kau pulang juga naak” sambut histeris sang ibu, ayahnya hanya kembali menatap keluar jendela “ anak tidak tahu DIRI” bentak ayahnya


Muka Alif terlihat semakin pucat pasih bukan karena takut pada ayahnya melainkan itu pertanda efek dari racun yang sudah menyebar keseluruh tubuhnya “ jika kau ingin bertemu denganku hanya untuk memarahi atau menceramahiku itu hanya membuang waktumu juga waktuku” kata Alif


“ sayaang kenapa mukamu nak, pucat sekali badan mu juga dingin sekali” ibunya khawatir


“ ibu lebih baik ibu tunggu aku saja di kamar ya, aku ingin menyelasikan ini dengan cepat” kata Alif dengan senyum yang penuh kasih sayang pada ibunya


“ tidak, ibu akan disini” ibunya memeluk Alif


Alif menoleh kemeja yang ada di ruangan itu tertera disitu papan nama bertuliskan nama ayahnya ‘Rey Prakarsa’, “ heh menyebalkan sekali” gumam Alif


“ kau tidurlah, istirahat” sahut ayahnya


Mendengar itu Ibu, Alif, serta pelayan yang ada disana keheranan dengan sikap tuan Rey kenapa dia tidak menghukum Alif padahal dulu perngainya sangat kasar dan tegas bahkan Alif sampai babak belur saat minta untuk Kye kakaknya tidak dikirim ke panti asuhan lagi karena mencuri barang milik nya


“ sayang, benarkah kau memaafkan anak kita?” tanya Ibunya Alif


“ yah, bawa dia, kondisinya kacau sekali” sahut Rey


Tapi Alif menolak saat hendak di bawa oleh Ibunya ia merasa ada yang aneh dari sikap ayahnya itu karena Alif tahu betul perangai ayahnnya “ tidak !!, lebih baik kau pukul aku hingga mati!!” sahut Alif, Alif nampak berfikir siapa kemungkinan yang menjadi target Ayahnya


“ nak sudahlah jangan cari gara – gara ayahmu sudah memaafkan mu, ayoo sebelum dia berubah fikiran” Ibunya menarik Alif


Namun Alif menolak dengan sopan dan tersenyum, “ Alif Prakarsa, kenapa kau selalu menantangku!!” bentak Rey sembari menarik pedang persis dengan Letnan saat mengancam Alan


“ HAHAHAHA, yaah begitu lebih baik, jadi dirimu sendiri,i jangan memakai topeng di depanku” kata Alif


Rey mencoba sabar menghadapi putranya ia kembali menurunkan pedang dan tersenyum “aku tidak perlu menghukummu, karena sudah ada yang menanggung itu semua”


“ Kye, jangan – jangan” tangan Alif mulai gemetar menahan emosi apa yang ia duga ternyata benar ini pasti berimbas pada Kye karena Alif sampai lupa dan tidak sadar saat Kye juga hilang di hutan


“ Kini kau menjadi penerus keluarga prakarsa, kau putra tunggal keluarga Prakarsa” tegas Rey


Ibu Alif nampak memalingkan wajahnya dan menangis “ KAU MEMBUNUHNYAA!!” bentak Alif yang menyadari jika Kye sudah tiada


“ AKU TIDAK SUDI MEMAKAI NAMA PRAKARSA” bentak Alif lagi


‘ngiing’ kepala Alif mulai berputar lagi, kini semakin parah gejala yang ditimbulkan oleh racun itu semakin kuat dan menyakitkan, Rey sudah hilang kesabaran ia mengayunkan pedangnya namun sebelum pedang itu menyentuh Alif “ OOOEEK, uhuuk uhuuk” ia terkejut bukan main semua orang disana histeris apalagi ibunya Alif melihat anaknya memuntahkan darah dan langsung tidak sadarkan diri “ AAAAA, Alif anaku” tangis ibunya lalu kehilangan kesadaran melihat anaknya terkapar dengan darah yang banyak keluar dari mulutnya, Rey yang tadinya emosi menjatuhkan pedangnya menatap dengan mata penuh kekhawatiran padahal ia tadi hampir menebas Alif, memang Rey tidak pernah mengarah bagian vatal jika sedang memberi hukuman namun itu tetaplah kejam,


Alif segera dipindahkan dan di bawa ke pusat perawatan terbaik yaiut gedung pusat I.V.V, sebenarnya ada beberapa rumah sakit di pulau ini yang sudah didirikan namun fasilitas serta kemampuan tenaga medis yang mumpuni berada di gedung I.V.V, tubuh Alif dipenuhi selang dan alat bantu pernafasan,


“ ada apa dengannya, kenapa dia bisa muntah darah seprti itu?” tanya Rey pada Dokter yang menanganinya


“ racun dalam tubuhnya sudah menyebar keseluruh pembuluh darah juga beberapa alat vital miliknya” jelas Dokter


Seperti terkena hantaman yang besar mendengar itu, Rey yang tabiatnya keras sekali pun bisa lemah jika melihat anak satu – satu nya sedang berada diambang kematian “ racun apa? Binatang buas atau jangan – jangan virus KV-19 itu ?”


“ tidak ini bukan virus KV-19, ini sebenarnya virus dengan level yang tidak terlalu berbahaya tapi juga tidak bisa dianggap remeh karena racun itu sudah dibiarkan cukup lama berada didalam tubuhnya dan sekarang menyerang organ vital miliknya” jelas Dokter itu lagi


Rey berdiri, dan bergegas pergi “ tolong cari kan penyebab racun itu masuk ke tubuh anaku lalu buat dia pulih kembali” tegas Rey


Dokter itu hanya mengangguk, lalu Rey pergi untuk memeriksa kondisi istrinya. Alex dan Lyta sedang merencanakan penyelamatan Lisa dan Luna terlebih dahulu setelah itu mereka akan mencari Alan karena Alex yakin jika dia tidak akan dibunuh,


“ namun sebelum itu, kau selidiki dimana letak pasti Lisa dan Luna berada serta informasi terbaru siapa tahu bisa mendukung rencana selanjutnya” jelas Alex


“ itu terlalu memakan waktu, jika mereka sudah berbuat sesuatu pada Lisa dan Luna maka semuanya percuma” kata Lyta


“ Lyta ini hanya membutuhkan waktu sedikit karena jika tanpa menyelidiki dahulu kita akan gegabah” tegas Alex


“ aku harus menemui seseorang” mata Alex dipenuhi dengan amarah


Mereka pun menjalankan rencana mulai pagi ini, pagi – pagi buta Lyta yang sudah handal memasuki gedung dan menyelidiki sesuatu disana tentu tidak perlu dikhawatirkan lagi, sekarang Alex fokus untuk mengurusi masalah nya dengan Komandan ia mendatangi kediamannya. Sesampainya disana tanpa basa basi ia masuk dan menanyakan pada pelayan dengan wajah yang sangat marah


“ dimana dia?” tanya Alex


“ tuan sedang berada di ruang pribadinya” jelas pelayan


“ antar aku kesana!!”


Alex pun pergi dengan dituntun oleh pelayan ke ruang pribadi milik Komandan, ‘BRAAAK’ Alex membuka pintu dengan keras hingga Komandan yang sedang menatap sendu foto keluarga mereka terkejut


“ Alex” sapa Komandan


“ tidak usah basa – basi , tidak cukupkah kau membuat kedua orangtuaku mati, apa kurang puaskah kau melihat ku tersiksa selama hampir satu tahun ini, dan kini kau merebut teman – temanku dan Lisa” Alex menodongkan pistolnya


Komandan terihat melangkah mundur “dengarkan aku dulu nak, aku melakukan itu bukannya tanpa alasan”


“ ALASAN APAPUN!!, tidak pernah dibenarkan jika kau membunuh seseorang hanya untuk kepentingan mu!!” bentak Alex


Langkah Alex mendekat, “ tidak sepenuhnya aku bocorkan pada Letnan, tentang denah dokumen yang aku suruh kalian ambil itu cara untuk mengubah sistem penyebaran vaksin secara luas, aku tidak memberi tahunya agar kau dan teman – temanmu dapat menyelamatkan bumi dan juga gadis pemilik imun itu” jelas Komandan


Alex yang sudah tidak percaya kata – kata Komandan “ DIAAAM, semua ucapanmu itu hanyalah kebohongan”


Alex mulai menarik pelatuk itu secara perlahan, namu ia arahkan pistolnya ke kepalanya sendiri “TIDAAAK!!” teriak Komandan, seketika terlintas kejadian satu tahu yang lalu saat anaknya mati dihadapannya


“jangan lakukan itu Alex, kakekmu ini, bunuh saja aku tidak apa nak” bujuk Komandan


“ aku tidak mau membunuhmu secara langsung, aku akan membuatmu tersiksa karena telah kehilangan orang – orang disekitarmu KOMANDAN” ancam Alex


Alex pun tersenyum sembari menghitung mundur “ tigaa,,, duaaa,,, saa”,


“ BAIKLAH, aku akan memberimu alasan terbesarku jadi hentikan itu Alex” Komandan bergemetar karena takut cucunya menghabisi diri sendiri sama seperti mendiang ayahnya


Lalu Komandan menggeser tembok yang ada di ruangan itu, mereka memasuki kamar dan terlihat seorang pria yang dibantu oleh alat – alat ditubuhnya, “ Ayah” gumam Alex terkejut


“ ini alasanku, Letnan mempunyai cairan sel otak untuk kesembuhan ayahmu dia belum mati hanya sekarat akibat kerusakan dikepalanya, Letnan menggunakan kelemahan ku untuk mendapatkan keinginannya”


“ dia sudah mati, apa kau menjamin jika dengan menggunakan cairan itu dia bisa kembali hidup?” tegas Alex


“ dia belum mati jaga bicara mu!!” bentak Komandan


Komandan juga mengalami keterpurukan yang mendalam akibat perbuatannya hanya saja ia mengulangi hal yang sama untuk menebus kesalahannya dimasa lalu “ ayah, aku tidak menyangka bisa menatap wajahmu lagi,” Alex melihat parameter pendeteksi detak jantung sudah sangat lemah walau dibantu dengan alat penopang hidup sekaligus


“ kau lihatlah, parametrnya saja sudah tidak jelas, artinya ayahku memang sudah tiada berhenti menyiksanya dan kebumikan dia dengan layak” Alex pergi meninggalkan Komandan yang termenung melihat jasad anaknya yang sudah lama tiada hanya saja jantungnya dipaksa untuk tetap berdetak dengan bantuan alat itu


Di luar Alex menangis terlintas lagi wajah ayanya tadi, “ ayah, ibu aku rindu kalian”. Alif yang terbaring di ruang rawatnya sedang menjalani perawatan insentive, dari ruangan itu terhubung ke jendela di ruangan pengawasan, diruangan itu keluarga pasien dapat mengawasi dan berkonsultasi langsung dengan Dokter yang menanganinya, ruangan Alif tidak jauh dari tempat isolasi Lisa dan Luna yang akan segera diambil sel dan cairan dalam tubuhnya untuk dijadikan vaksin


“ saat ini kami masih belum tahu racun apa yang ada di tubuhnya, tapi saya sudah mencoba menghentikan penyebaran dengan obat – obatan paten yang mengandung antibiotik, setelah penyebaran berhenti kami akan menyedot racun itu keluar dari tubuhnya” jelas Dokter


“ baiklah, aku tahu kau memang berbakat menangani hal seperti ini” kata Rey


“ terimakasih tuan”


“ ah iya, kapan pengambilan sel itu dimulai?” tanya Rey


“ kami akan mengambilnya secara bergantian karena ada dua sample, sekarang kami sedang mengambil sel dari sample pertama” jelas Dokter


“ hem, seperti itu”


*****


Rey yang baru saja kembali dari rumah sakit mendapati istrinya yang sedang dibujuk untuk makan oleh pelayan dirumah itu, “ kenapa ini?” tanya Rey


“ maaf tuan, nyonya tidak mau makan” kata pelayan yang baru saja keluar dari kamar


Rey pun masuk “kenapa kau bersikap seperti itu, aku tidak rugi jika kau kelaparan tapi tubuhmu yang akan mengalami kerugian”


“ Rey apa tidak cukup dengan membunuh Kye, dan sekarang Alif juga harus jadi


korban?”kesalnya


“ dia akan segera sadar setelah itu dia akan menjadi penerus keluara Prakarsa, aku tidak pernah berniat membunuh Kye dia memang sudah dalam kondisi lemah saat sedang menjalani hukuman dariku, itu karena dia menyembunyikan sesuatu”


“ itu hanya alibi mu untuk menutupi rasa bersalahmu”


“ menutupi?, untuk apa, dia bukan anakku, lagi pula dia sudah terinveksi virus KV19 itu jadi sejatinya dia memang sudah mati” ketus Rey


“ bagaimana dengan calon pendamping Alif?” lanjut Rey


“ mana bisa aku mengurus hal seperti itu disaat putraku sekarat” jawab istrinya


“ Lolita, dia juga anaku jadi jangan seenaknya mengaku jika dia hanya anakmu. Baiklah jika kau tidak bisa mencarikannya pendamping aku sudah punya calon untuknya” senyum Rey


“ siapa?, dari keluarga mana?”


“ entahlah aku belum tahu tapi yang pasti dia sangat spesial masalah latar belakang itu bisa ditutupi karena hal spesial yang dia miliki”