
Saat semuanya tengah kacau dan ricuh terdengar suara seseorang berjalan mendekat, “ ada apa ini?, apa kalian mulai saling membunuh?” sahut orang itu, mereka pun menoleh dan ternyata itu adalah Rachel
Hanna berdiri menghadangnya “ mau apa kau kemari?” ketus Hanna
“ tenang saja, aku kemari bukan untuk menghabisi kalian” Rachel pun pergi menghampiri Alex yang masih terduduk
Alex menepis tanga Rachel “ mau apa kau kemari?” ketus Alex
“ aku akan langsung keintinya,” Rachel menaruh sebuah flasdisk di meja dekat Arya
“ didalam sini, ada program atau sisitem yang kalian inginkan, aku akan melakukan negosiasi disini” jelas Rachel
Alex pun berdiri mencoba menyimak begitu juga dengan yang lainnya, “ kalian bisa mendapatkan ini untuk mengatur ulang sistem tower” kini suaranya terdengar sendu
“ aku tidak akan tertipu” ketus Arya
Kami pun menatap sinis Rachel, namun ia nampak tidak merasa terdekriminasi karena pandangan kami padanya, “ aku sudah muak menjadi kaki tangan ayahku jadi aku melakukan ini juga untuk membebaskan diriku dari jeratannya”
Rachel pun berjalan menuju pintu keluar, “ ah iya, aku mau meminjam kamar disini boleh kan, karena ayahku pasti membunuhku jika tahu aku yang mencurinya” pergi begitu saja
Alex menghela nafas begitu pun dengan Hanna, “ ada apa dengan kalian?, apa kalian percaya pada wanita itu?” selidik Lyta
“ kurasa dia tidak berbohong, karena jika ia berbohong kau bisa mengetahuinya Lyta. Periksalah isi flashdisknya” kata Alex
Lyta pun mengambil Flasdisk itu dan pergi ke ruang rahasia bersama Arya
****
Di gedung pusat sedang terjadi kericuhan karena hilangnya sampel yang diambil oleh Lyta kemarin malam, mereka kelimpungan karena hanya itu sampel vaksin yang mereka punya untuk menyempurnakan gas vaksin yang siap untuk di sebarkan walau hanya separuh bumi yang mereka incar, segera rapat darurat pun diadakan oleh Letnan terlihat beberapa petinggi I.V.V duduk di kursi yang ada disana
“ bagaimana itu bisa hilang!!” Rey menggebrak meja sebelum Letnan membuka rapat itu
“ duduklah dulu tuan” Letnan mencoba terlihat tenang
Ada lima orang disana padahal petingginya ada lebih dari dua puluhan orang termasuk Rey dan Letnan mereka pun berembuk membahas masalah ini, Letnan pun menggertakan giginya tanda kesal
“ ada seseorang yang menyamar dan masuk ke Lab ia memakai jubah seperti pegawai disana” jelas Letnan “ nampaknya ini sudah terencana” lanjuntnya
“ jelas ini sudah terencana, MENGAPA KAU LENGAH?!!” bentak Rey
“ aku sudah bekerja sekeras mungkin bahkan hingga melenyapkan ketua organisasi ini, masalah ini lebih baik kita cari solusinya jangan hanya menyalahkan satu pihak” Letnan membela diri
“ huh, lalu apa rencanamu?” tanya seorang petinggi disana
Letnan menatap para petinggi itu “ aku akan mengambil lagi sel itu, kami masih punya sampel percobaannya” senyum licik Letnan
Mendengar rencana Letnan Rey berdiri tidak terima ia tahu bahwa sampel itu adalah Lisa calon menantunya , Rey pun menepis rencana itu
“ kau gila, jika itu kau lakukan anak itu akan mati” bantah Rey , semua orang yang ada disana menatapnya
“ dengar dia satu –satunya aset yang masih hidup jika sampai dia mati kita tidak mempunyai sumber untuk memproduksi sel itu lagi. Lagi pula daripada membunuh aset berharga ku lebih baik kau mencari siapa yang mencurinya dan rebut kembali vaksin itu” tegas Rey
Semuanya mengangguk setuju denga Rey, Letnan nampak menyunggingkan bibirnya tanda curiga dengan sikap Letnan walau alasannya cukup masuk akal “aku anggap kalian setuju” Rey pergi dari ruang rapat itu, disusul dengan petinggi lainnya,
“ yah kau tidak perlu repot juga mencari tahu, huh kau memang lamban Letnan, aku sudah tahu pelakunya siapa” sahut Rey
Mereka semua terkejut, “ siapa?” selidik Letnan
“ cucu Komandan, Alex” ketus Rey
“ huh, kau benar – benar membuatku muak Alex” gumam Letnan dengan tatapan tajamnya
Aku terus menoleh kearah kamar disebelahku yaitu dimana Luna terbaring kaku disana entah bagaimana mereka bisa tidak mengebumikan jasadnya dan hanya membiarkannya disana, mengingat kelakuan mereka sangat membuatku geram serasa ingin menebas kepala mereka satu persatu
Akhir – akhir ini aku melihat seseorang dengan pakaian tertutupnya ia selalu memandangiku dari balik tembok yang ada di luar kamar ini, itu pasti Alex yang sedang mengawasiku tapi kenapa dia tidak membawaku pergi atau mencoba merusak alat penyebar gas itu agar dapat menyebarkan dengan maksimal.
Aku membaringkan tubuhku menghadap kaca melihat lorong yang sepi disana, baru saja memejamkan mata terdengar seseorang membuka pintu kamar “ Lisa, apa kau tertidur?” tanya Alif
Aku membuka mata dan merubah posisiku “tidak, ada apa?”
“ vaksin dari sel mu telah dicuri” kata Alif
Pupil mataku memebesar mendengar itu terkejut sekaligus senang karena yang mencuri itu pasti Alex, berbeda dengan Alif raut wajahnya sangat cemas dan khawatir
“ bagus Alex berhasil, sebentar lagi misi kita akan selesai” sahutku dengan senyum lebar
Alif mentapku lamat – lamat, matanya terlihat sendu dan penuh kekhawatiran,” kenapa dengan ekspresimu itu, seharusnya kau juga senang” kataku
“ aku tidak tahu harus senang atau takut” kata Alif
“ takut?, apa yang kau takutkan Lif, sebentar lagi dunia akan kembali puliih” senyumku
“ mereka sekarang kehilangan vaksin itu, tidak menutup kemungkinan kau akan menjalani pengambilan sel itu lagi, dan itu beresiko sangat besar” suara Alif terdengar bergetar
Benar juga, jika vaksin itu hilang mereka masih punya sumbernya yaitu aku lantas apa aku akan bernasib sama seperti Luna sebelum berhasil menyelesaikan misi ini. “ benarkah, jika benar maka kemungkinan aku tidak akan tahu apakah misi ini berakhir sukses atau gagal karena mungkin”, Lisa menoleh kekamar Luna “aku akan berakhir sama seperti Luna”
Alif mengepalkan tangannya ia keluar kamar tanpa sepatah kata pun, Alif kembali menuju kamarnya ia melempar bantal dan menendang tempat tidur yang ada disana “ sial, kenapa mereka ceroboh sekali, seharusnya jika sudah mencuri vaksin itu mereka juga harus membawa pergi Lisa” gumam Alif emosi dengan rencana Alex yang mencuri vaksin tanpa tahu efeknya yang berdampak padaku
“ kau tidak perlu emosi seperti itu, karena akan berdampak buruk pada pemulihanmu” sahut seseorang dari belakang Alif
Alif menoleh dan ternyata itu Rey, “ kami akan mencari pencuri vaksin itu, Letnan tidak akan gegabah membunuh sampel berharganya” lanjut Rey
“ maksudmu Lisa tidak akan melakukan pengambilan sel lagi?”
“ ya, sebaiknya kau fokus saja pada dirimu, cukup kau membangkang dan pergi berbulan bulan membuat kekacauan” ketus Rey
Alif menghela nafas, Rey berbalik dan segera pergi dari ruang rawat Alif, “ tunggu, apa aku bisa meminta bantuan mu?” kata Alif yang tertunduk
Langkah Rey terhenti bibirnya tersenyum tipis “bantuan?, hahahaha apakah aku tidak salah dengar nak?” Rey kembali menatap Alif
“ carikan informasi dimana keluarga Lisa yang sempat dikirm oleh Komandan kemari”
“ huh, baiklah tapi sebagai gantinya kau harus mau menerima calon yang sudah kusiapkan”
“ calon apa maksudmu?”
“ apa lagi, calon menantuku, calon istrimu”
Alif memalingkan wajah kesal dengan sikap ayahnya yang selalu saja mengatur kehidupannya bahkan hingga pendamping hidupnya tapi dia harus mengiyakan dulu saat ini untuk informasi dimana keluarga Lisa berada, Rey pun pergi dengan senyum lebarnya.
***
Grudug ,, gruduug
Suara seseorang seperti sedang mendorong sesuatu itu membuat Alif terbangun, Alif yang baru bangun tidur itu melihat ke arah koridor terlihat seseorang membawa alat medis dan masuk keruangan Lisa, “ mau apa orang itu?” gumamnya, Alif pun hendak pergi ke ruangan Lisa mencari tahu apa yang orang itu lakukan, namun sayang pintu ruang rawat Alif terkunci “ini pasti ulah ayah” geramnya, Rey sepertinya sengaja untuk menngunci ruang rawat Alif agar ia tidak bisa seenaknya keluar dari ruang rawatnya, itu semua agar Alif dapat segera pulih.
Namun karena itu Alif tidak bisa mencari tahu siapa dia, dari pakaiannya terlihat seperti seordang Dokter karena memakai jas putih seperti itu, “ jangan – jangan dia mau mengambil sel Lisa lagi” fikir Alif karena vaksin tengah dicuri kemungkinan itu bisa saja terjadi walau Rey sudah berkata Letnan tidak akan berani melakukan itu tapi dengan tabiatnya Letnan yang licik kita tidak pernah tahu bukan.
Setengah jam Alif mondar –mandir cemas menunggu orang itu keluar dari ruang rawat Lisa, tak lama terdengar suara dorongan alat medis itu, segera Alif pun mengintip ke arah koridor. Terlihat Dokter itu membawa sebuah kantong darah dan ia nampak seperti orang yang tergesa – gesa saat melewati koridor “sial, apa yang dia lakukan pada Lisa” Alif meninju kaca besar itu namun karena kaca itu tebal maka pukulan Alif tidak mempan untuk membuatnya retak
“ siapa orang itu, mau diapakan darah Lisa”