
Alex yang mendengar itu langsung mencari arah datangnya suara sedangkan Lisa memilih kembali ke rumah besar itu dengan langkah malas ia berjalan masuk “sample sudah kembali dengan sendiri” terdengar suara seseorang yang ada di depan Lisa lalu Lisa menuju ruang kontrol ia berjalan dengan muka datar namun tatapannya sangat sedih “tuan sample itu-“ laporan petugas itu di potong oleh Lisa yang merebut telepon “kau tidak perlu berisik dasar sialan” lalu ia melempar telepon itu
Alan masih mencoba melepaskan diri “apa yang ada dipikiran nya” gerutu Alan
Terdengar suara langkah kaki yang menginjak rumput dan ilalang, suara itu semakin mendekat dalam benak Alan itu adalah para petugas tadi
Alex mencoba membantunya melepaskan ikatan pada tangannya “brengsek pergi kalian dia sudah kembali ke tempat kalian” Alan berontak karena ia pikir itu para petugas yang datang
“diamlah aku akan menolongmu”
Alan diam lalu menoleh “kau...” Alan melihat Alex
“kenapa kau melihat ku begitu?”
Muka Alan nampak masam “bagaimana kau ada di sini?”
“cih, Arya memintaku menjemputmu jika president tau aku akan dipenggal karena membantu mu”
Alan pergi tanpa menanggapi Alex
“hei, kau mau ikut denganku atau tetap disini?” ketus Alex
“kau ini bodoh atau memang se brengsek itu ?” Alan menoleh
Muka Alex tampak sudah kesal dengan Alan “apa kau mau kutembak?”
Alan nampak marah karena melihat Alex ia pikir Alex membuang Lisa dan tidak perduli lagi dengannya tapi ada sedikit kebingugan di hati Alan ia juga nampak ragu jika Alex seperti itu
“sebenarnya ada apa dengan I.V.V? aku tidak perduli dengan kalian tapi kau tau Lisa itu sangat sayang padamu?” Alan menarik kerah Alex
Alex menepis tangan Alan “apa kau gila?
“kau yang gila, andai Lisa tau pria yang dia cinta itu bodoh dan brengsek maka-“
Brugh
Alex memukul Alan “cukup!” tak lama anak buah Alex datang
“bawa dia” komando Alex pada anak buahnya untuk membawa paksa Alan
Sepanjang jalan menuju ke bibir pantai ia terus memberontak
“dengar Alex, Lisa ada sini dia dikurung di rumah tua besar itu”
Alex tidak menggubris itu dengan wajah datarnya, mereka menaiki kapal untuk kembali ke ibu kota
Sesampai di ibukota Alex membawa Alan kerumah Hanna karena disana tempat aman ia membawanya dengan pengawasan ketat berjaga - jaga ada yang tau jika Alan memasuki Ibu kota I.V.V
Dirumah hanya ada Rara yang sedang mengerjakan tugas sekolah nya, sekolah sudah didirikan walau masih tahap pengembangan murid di wajibkan untuk mengikuti kelas seminggu 3 har selebihnya mereka belajar alam di luar kelas saat itu Rara sedang mengerjakan tugasnya sebelum tidur karena sudah malam orangtuanya belum ada yang pulang bertugas Lyta juga tak nampak dirumah
Alex meminta ajudannya untuk mengantar Rara ke kedai milik Lyta, Alan marah dengan sikap Alex namun bukan karena perlakuan Alex padanya melainkan sikap Alex yang seolah tidak mau tahu tentang Lisa yang terjebak dipulau itu.
Alex menatap ke luar jendela “ nampaknya kau benar- benar tidak mengetahui kabar terakhir tentang lisa”
“aku tau! Dia ada dipulau tadi dan kau tidak mau mendengarkanku” bentak Alan
Alex memejamkan mata terlihat ia mengepalkan tangannya tanda menahan emosi, “iktu aku” Alex pergi berjalan menuju pemakaman Lisa yang tidak jauh dari rumah Ben dan Hanna. “mau apa kau kemari?” tanya Alan yang kebingungan melihat Alex membawanya ke pemakaman hingga Alex berhenti disebuah nisan bertuliskan nama Lisa binti Rahmat
“makam siapa?” ketus Alan
“kau tidak bisa baca?” balas Alex
Alex memukul Alan karena kesal ia bersikeras jika Lisa masih ada, dengan mata merah dan berkaca – kaca “kau pikir aku bisa bercanda dan mengarang hal seperti ini?”
Alan yang tersungkur bibir nya berdarah karena pukulan itu “lalu kau pikir aku gila? Aku benar – benar bertemu dengannya di pulau itu!”
Di rumah Hanna sudah ada Lyta, Rara dan ajudan Alex “mana mereka?” Lyta membuka pintu mencari Alex dan Alan disetiap ruangan rumah itu
“sebenarnya apa yang terjadi?”
Ajudan itu hanya diam, “tolong pak jelaskan saja padaku, kenapa Alex memakai rumah orang sembarangan?”
Brugh
Alex membanting Alan ke lantai rumah membuat yang lain terkejut, “ALEEX!!” Lyta menarik dan menyembunyikan Rara dibelakangnya “kau pergi ke kamar sekarang”
Rara mengangguk dan pergi menuruti kata Lyta
Lyta membantu Alan berdiri melihat wajahnya babak belur Lyta melotot ke arah Alex “bagaimana dia ada disini? Bagaimana kau membawanya kerumah ini? Dan apa kau membawanya hanya untuk memukulinya?”
“simpan pertanyaanmu, aku sudah muak dengan ocehan bocah ini” Alex pergi diikuti oleh Ajudannya
Hanna tidak bisa pulang malam ini ia banyak sekali menangani pasien begitu juga dengan Ben yang sedang sibuk mengembangkan teknologi bersama tim nya, Lyta membantu Alan mengobati lukanya nampak Alan yang sudah lelah dan lemas karena hari yang sangat melelahkan dan membuat syok
“kau demam lebih baik kau bersihkan badan dan ganti pakaian mu” kata Lyta sehabis mengompres luka di wajah Alan
“kenapa kau tidak-“
“tidak, aku akan menginterogasimu setelah Hanna dan Ben pulang” Lyta pergi ke kamar Rara
“kamar mandi ada diujung sana” lanjut Lyta sambil berjalan
Alan berdiri sembari meringis dan sesekali hampir tejatuh, baru terasa sekarang tubuhnya sakit semua karena berlari dan terjatuh berkali kali di hutan saat bersama Lisa
“Rara kenapa belum tidur” Lyta nampak masuk ke kamar Rara
“masih banyak tugas” jawab Rara sembari belajar di meja belajar nya
“istirahat Ra, jangan memaksakan diri” Lyta memeluk Rara
Namun Rara menjauh dan berdiri “sebenarnya mereka itu siapa? Kenapa dengan seenaknya masuk ke rumah ini, membuat kegaduhan” protes Rara
Lyta menghela napas lalu tersenyum “Rara gak nyaman ya, maaf ya mereka itu teman – teman kakak”
Rara masih cemberut dan memalingkan wajah dari Lyta, “yasudah lain kali kakak akan berhati – hati untuk membawa teman – teman kakak ya” Lyta menawarkan jari kelingking tanda perdamaian
“tapi kakak tidak bisa janji kalo mereka tidak datang kesini lagi” jelas Lyta
Alan mendengar percakapan mereka dari luar saat akan menuju ke kamar mandi lalu ia mengetuk pintu dan Lyta membukanya “ apa aku boleh masuk?” tanya Alan
“kau, kenapa kesini?” tanya Lyta
Alan masuk ke kamari Rara tanpa menggubris Lyta “maafkan aku ya sudah membuatmu tidak nyaman padahal ini rumahmu sendiri” kata Alan dengan senyum
Rara hanya mengangguk dan Lyta menarik Alan keluar kamar Rara
“oke oke aku mengerti aku akan pergi setelah beristirahat sebentar” sahut Alan sembari meringis
“kata siapa kau bisa pergi dengan mudah, kau sudah masuk kesini tanpa permisi lalu mau pergi begitu saja? Jangan harap kau bisa” ketus Lyta
“benar juga, apa aku harus mencuci atau mengepel agar bisa lolos?” Alan melontarkan candaannya
“pergi saja sana bersihkan badanmu”