DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 30 Rencana



Kesadaranku sudah mulai pulih aku mulai membuka mataku dan samar –samar terdengar suara keributan, Alan yang melihatku “ Lisa, coba ikuti jariku ” ia mengarahkan satu jarinya ke kiri dan ke kanan


Lyta menghampiri ku begitu juga dengan Alif, Arya dan Komandan “ Lisa syukurlah kau sudah sadar” getar suara Lyta


“ Lyta kenapa kau melarang kami untuk pergi ke pulau itu?” selidik Alif


“ Rachel bilang jika Lisa haru memilih untuk hidup dengan cara yang egois atau mati dengan datang ke pulau I.V.V sebagai penyelamat dunia” jelas Lyta


Mendengar apa yang mereka bicarakan aku berusaha untuk bangun dari tidurku “ ada apa sebenarnya? Komandan kau ada disini?” tanyaku bingung melihat semua orang berkumpul di sekitarku


“ Lisa katakan apa yang dikatakan Rachel padamu?” tanya Alan yang terlihat begitu serius


Aku sudah menduga Lyta pasti yang memberi tahu mereka “ maksud kalian apa?”


Lyta terlihat marah padaku dia tahu jika aku menyembunyikan sesuatu “ Lisa jangan kau tutupi apapun dari kami”


“ Lisa ayolah katakan saja” desak Alif


Aku tertunduk tak terasa air mataku mengalir mengingat kejadian sebelum aku tidak sadarkan diri “Lisa apa yang kau pendam, jika seperti ini kau hanya membuatku dan yang lainnya bingung” Lyta memeluku mencoba menenangkanku


“ saat itu aku mencoba kabur dari ruanganku” mencoba menceritakan apa yang ku alami sebelum pengambilan sel darah dalam tubuhku


Flashback


Aku berpura – pura meminum obat yang mereka berikan lantas setelah mereka anggap aku tertidur dan pergi dari ruanganku, itu kesempatan yang sangat bagus untuk segera pergi dari tempat eksekusi ini, di lorong yang hening dan sepi ku coba untuk mencari jalan keluar dan ternyata tempat itu dipenuh dengan cctv juga lorong yang rumit sulit untuk mencari jalan keluar, sesekali aku menghindari pengawas yang melintas hingga aku menemukan ventilasi dengan besi penutup yang gampang – gampang susah untuk di buka. Sedikit lagi ventilasi ini terbuka aku sudah tertangkap basah oleh pengawas dan Rachel, pangawas itu menarik lenganku tapi Rachel menyuruh mereka mundur, Rachel melangkah mendekatiku “ aku tidak akan memaksamu Lisa, tapi kau harus tahu kebenaran sebelum kau memilih pergi dari sini”


“ orangtuamu sudah berada di pulau itu, mereka selamat karena dirimu” lanjutnya


“ apa maksudmu?”


“ ya mereka dapat pergi karena kau sebagai jaminannya jadi jika kau pergi dan tidak mau membantu kami dengan menyerahkan dirimu maka keluargamu disana akan kami hukum dengan pasal pelanggaran perjanjian. Lisa camkan ini kau tidak hanya bisa menyelamatkan keluargamu tapi juga orang – orang yang tengah menderita karena penyebaran virus ini” Rachel menunjukan ekspresi yang sulit ku tebak dia sangat licik tapi ekspersinya kali ini berbeda


“jaminan, mereka tidak akan membuatku menjadi jaminan. Mereka sudah tahu aku akan datang kemari dan bertemu dengan mereka lagi” batinku berkecamuk rasa tidak percaya dengan apa yang di nyatakan Rachel juga kecewa jika itu benar adanya


“ kau berbohong Rachel, heh kau licik aku tidak akan pernah termakan omonganmu” bentaku dengan mata berkaca – kaca


“ aku tidak akan asal bicara ada surat yang ditandatangani oleh ayahmu disini, atau kau mau lihat ini” Rachel mengeluarkan tablet miliknya dan memperlihatkan ayah, mamah dan juga adik – adiku sedang bercanda gurau di halaman rumah mereka di sana, mereka nampak bahagia tanpaku. Disatu sisi aku senang melihat senyum mereka tapi hatiku juga tersayat karena mereka nampak bahagia walau tidak ada aku disana


“ jangan kecil hati, itulah sebabnya kau disini. Mereka bisa tertawa ceria dan bahagia karena pengorbanan mu itu artinya dengan kau tetap disini dan menyerahkan dirimu kau sudah menyelamatkan dunia juga membuat keluargamu bahagia” kata Rachel


Tubuhku terasa sangat lemas kakiku bergetar, aku menciba menahan tubuhku dengan menyenderkan diri di tembok melihat semua kenyataan itu membuat seluru tubuhku seperti tidak memiliki tenaga apapun “ Lisa terkadang kita harus menjauhkan diri dari orang yang kita sayangi untuk kebahagiaan mereka” Rachel membantuku berdiri dan membawaku ke ruangan itu, setelah itu aku merasa inilah akhirnya aku memang harus berakhir disini dengan luka yang entah bagaimana aku bisa menahannya.


Hening semua mendengarkan ceritaku dengan seksama Hanna menangis memeluk Ben yang menatapku dengan sendu, Arya dan Alif sesekali mengacak – acak rambut mereka dan mengatupkan rahangnya karena merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku, apalagi Arya ia tidak bisa menahan rasa bersalahnya dan pergi ke luar rumah untuk menenangkan fikirannya disusul oleh Luna yang selesai menjalani perawatan


“ Komandan apakah benar itu semua?” suara serak Alif


“ hem, kau tidak perlu menyimpan amarah apalagi dendam pada keluargamu, apa yang dikatakan oleh Rachel sebagian adalah rekayasanya untuk mempermainkan pikiran dan emosimu” jelasnya


“ dia berbohong?” tanya Lyta


“ya di beberapa bagian yang ia ceritakan”


“ bagian mana yang bohong?” tanyaku


“ video dimana ia cap keluargamu bahagia tanpamu juga perjanjian bertanda tangan itu hanya rekayasaku untuk mengelabui mereka, jadi sebenarnya keluargamu aku yang bujuk untuk mengikuti apa yang I.V.V inginkan dengan berjanji akan melindungi mu dan membawamu ke pulau” jelas Komandan


“ kenapa kau lakukan itu, mereka pasti sangat menderita menunggu kedatangan dia” Ben membuka mulutnya


“ itu satu – satunya cara agar kau bisa bertemu dengan keluargamu, karena jika tidak mereka akan dibunuh oleh pihak I.V.V,”


Lyta berdiri dari duduknya. “ namamu Lyta bukan, jadi jangan larang mereka untuk pergi karena jika bukan kalian siapa yang dapat menyelamatkan vaksin itu” wajah Komandan terlihat begitu sedih


Lyta hanya melirik kearah Arya dan Alif mereka mengangguk tanda setuju dengan Komandan “lantas dimana letak pulau itu?” Alif duduk di sofa tempat Luna tadi


Ben mempersilahkan Komandan duduk dengan membawakannya kursi “ pulau itu milik salah satu negara di Asia” kata Komandan


“ Asia itu luas kakek, jadi dimana tepatnya?” Alif yang tidak sabaran


“ dulu negara itu bernama Indonesia tapi setelah diambil alih oleh pihak I.V.V entah bagaimana itu terjadi mereka merebutnya begitu saja setelah seluruh negara hancur karena wabah ini, tapi sekarang katanya negara itu bernama Nusantara” jelas Komandan


Begitu terkejutnya aku dan Alif mendengar negara kami menjadi tempat I.V.V melaksanakan kejahatan mereka ‘Bruaak’ Alif melemparkan kotak berisikan obat – obatan di sampingnya “ hey” refleks Alan melihat obat – obatan miliknya berhamburan


“BRENGSEEK, kenapa kalian memilih negaraku” bentak Alif pada Komandan


“ hey nak tenanglah ini juga bukan kesalahan Komandan” Ben berusah menahan Alif yang emosi hendak menyerang Komandan


Aku pun mencoba menghalangi Alif yang emosi mendengar nama negara kami dijadikan tempat seperti itu aku memasang badan menghalangi Komandan yang akan di serang oleh Alif, Komandan berdiri dari duduknya “ tenanglah nak aku bisa mengerti kemarahan mu terhadap kami”


“ Alif kau tenang dulu ya, aku tahu kau marah akupun sama, tak terima negara kita mereka manfaatkan seperti itu” kataku


Emosi Alif perlahan menurun ia turunkan tangannya yang tengah memegang tiang besi untuk infusan yang akan dia lempar kepada Komandan “ aku bisa terima jika kalian menginjakku, menembakku, bahkan membunuhku tapi janganlah kalian buat tanah kelahiranku menjadi sejarah yang buruk” Alif meneteskan air matanya baru kali ini aku melihatnya seperti itu “ disana aku lahir, disana aku tumbuh dengan teman dan keluargaku, tinggal negaraku yang kupunya dari semua yang telah hilang dari hidupku” suaranya bergetar menahan tangis


Melihat Alif dan mendengar pernyataannya aku begitu merasakan sakit yang luar biasa dadaku terasa sesak karena dua hal dalam hidupku terancam hilang yaitu keluarga dan tanah kelahiranku, tak hanya kami Komandan pun tertunduk dan berlutut “ maaf aku memang manusia yang sangat bodoh dan tidak berguna, aku hanya manusia egois yang selalu memikirkan diriku sendiri aku tak jauh berbeda dengan mereka” Komandan menangis merasa bersalah atas apa yang ia buat dimasa lalunya walau kini ia telah berubah dan sadar setelah menyakiti dan merenggut kebahagiaan Alex cucu semata wayangnya saat itu


Alif kini sudah lebih tenang Ben dan aku pun melepasnya “ maafkan aku karena terbawa emosi kek” suara nya terdengar lemah muka Alif sedikit pucat sekarang


“ baik sekarang kalian susun rencana apa yang akan kalian lakukan nanti” saran Ben


Aku celingukan mencari Arya dan Luna kemana mereka aku baru saja sadar dari tadi mereka tidak terlihat, setelah suasan kembali tenang aku mencoba keluar rumah mencari Luna dan Arya “ Luna , Arya kalian dimana” aku menyusuri halaman rumah ini hingga jalanan didepannya tapi mereka tidak terlihat. Karena heningnya perumahan disini akibat penyerangan Kroon aku mendengar suara seperti orang bertengkar di sekitar jalan lantas kucoba cari sumber suara itu ternyata Luna dan Arya mereka sedang berbebat tidak jauh dari blok dimana rumah Ben berada, Luna yang coba menghentikan Arya terlihat menangis mencoba untuk menghalangi jalan Arya


“kak, bisakah kau peduli dengan dirimu sendiri? Ka Lisa pasti mengerti jika kau menjelaskan semua padanya” isak tangis Luna terdengar


“hey , hey kalian kenapa bertengkar seperti ini?” peluku menenangkan Luna


Arya menatapku terkejut terlihat dari sorot matanya bahwa ia menyimpan rasa bersalah “sedang apa kau disini, Lisa pulanglah disini berbahaya” Arya memalingkan wajahnya


“ kau sudah tahu diluar berbahaya, tapi kenapa malah berdebat dengan adikmu disini?” tanyaku


Tangis Luna “ ka tolong maafkan kakaku yang sudah menyerahkanmu pada pihak I.V.V dia hanya mencoba menyelamatkanku”


“ bukankah yang seharusnya meminta maaf itu kau Arya” tatap ku pada Arya


“ ka aku mohon tolong maafkan dia jika tidak katanya dia akan pergi mencari penggantiku dan kakak untuk membalas apa yang sudah dia buat”


Arya mencekram kedua lenganku “ kurasa kata maaf saja tidak cukup untuk menebus apa yang sudah kuperbuat selama ini, benarkan Lisa”


“ benar jika alasanmu hanya untuk kebebasan dirimu semata, tapi aku melihat kau merindukan adikmu lantas apa aku pantas menuntut dirimu dalam kondisi seperti ini?” kataku


“ sekarang pulang dan bawa Luna jaga dia, karena kita akan pergi ke suatu tempat” aku mendorong tubuh Arya dan Luna, mereka menurut dan kami pergi berjalan kembali kerumah Ben. Baru saja sampai di belokan blok komplek rumah Ben aku sudah merasa pening ada apa dengan tubuhku, kakiku terasa lemas berjalan pun tak terasa menginjak tanah semua terlihat kabur lalu aku jatuh tak sadarkan diri tanpa disadari oleh Arya dan Luna. Mereka hampir sampai di halaman rumah Ben yang tak jauh dari belokan tempat aku pingsan tak sadarkan diri mereka melihat ada dua Kroon yang berjalan dari arah depan mereka “ Luna, Lisa cepat masuk” Arya menarik Luna dan ketika menengok kebelakang Arya tidak menemukan keberadaanku


“ Luna kemana Lisa?” tanya nya panik


“ tadi dia ada dibelakang kita ka” jawab Luna


“itu ka dia ada disana” Luna melihatku tergelaetak dekat belokan tadi


“Luna masuk kerumah sekarang” Arya berlari dengan berusaha tidak mencuri perhatian Kroon yang sedang berjalan di belakangnya memang jarak Kroon itu cukup jauh tapi tetap saja merepotkan jika sampai mereka sadar keberadaan ku dan Arya


Arya sudah tidak mencoba untuk menyadarkanku karena mungkin dia tahu percuma saja membangunkaku karena kondisiku yang sedang lemah, lantas dia menggendong ku dan berusaha menyelinap di antara kendaraan yang terbengkalai di jalanan


BRUAAK


Luna membuka pintu dengan gelisah “ tolong, tolong kakaku dan ka Lisa” panik Luna


Semua orang yang sedang menyusun rencana terperanjat terkjeut dengan melihat Luna yang datang dengan panik dan muka yang pucat “ ada apa nak? Tenangkan dirimu dulu” sahut Hanna


“ ka Lisa dan kakaku terjebak oleh Kroon di jalan dekat belokan rumah ini” Luna menjelaskan dengan napas yang tersengal


“APA!” Alif mengambil senjatanya dan berlari keluar untuk membantu Arya dan aku “ Isshh kapan kroon sialan itu musnah” gerutunya


Arya berusaha menyelinap kesebrang jalan menuju rumah Ben dengan bersenbunyi dianatara mobil yang ada disana “ uh, kemana mereka pergi” Arya mengintip dari balik badan mobil mencari keberadaan Kroon tadi, terlihat Alif yang tengah keluar dari rumah dan berlari ke arah jalan “ A-, tunggu kalau aku teriak itu sama saja bunuh diri” gumamnya yang tak jadi memanggil Alif


“dimana Arya dan Lisa” Alif celingukan dan menemukan Kroon yang tengah berjalan diantara mobil mobil di jalanan itu lantas ia melihat ke arah sisi kanan tak jauh dari Kroon itu berada “ Lisa, Arya, aduh bagaimana cara memberitahu mereka” Alif kelimpungan memikirkan cara ia melambaikan tangan “ ah sepertinya dia sudah melihat keberadaanku” Arya juga membalas dengan mengangkat satu tangannya, Alif mencoba memberi kode dengan tangannya ia menunjuk ke samping kiri kami


Arya melihat dua Kroon itu tiba – tiba ada di sana “ aku lebih baik mengendap dengan cepat tanoa suara” kata Arya ia mulai mengendap lagi melewati badan mobil disana Alif sudah membidik Kroon itu jaga – jaga jika mereka m enyadari keberadaan ku dan Arya ia bisa langsung menembaknya saat tengah mengendap menyusuri jalan Arya melihat seorang anak kecil yang terduduk di trotoar membelakangi kami ia terisak menangis “ hey nak kau sedang apa disini cepat berdiri pergliah dari sini” kata Arya dengan celingukan mencari dimana kedua Kroon itu


Anak itu terus menangis “ hey nak ayolah aku tidak punya banyak waktu” ajak Arya


Alif terus mengeker kedua Kroon itu “dimana Arya kenapa dia lama sekali” gumamnya, Alif mencoba mencari keberadaan Arya melewati teropong di senapanya “ sedang apa dia, siapa anak itu” gumamnya lagi


“nak kau mau ikut tidak” Arya menarik bahu anak itu dan ternyata saat anak itu berbalik begitu terkejutnya Arya anak itu sudah dalam fase perubahan menjadi Kroon terlihat pucat diwajahnya dengan urat pembuluh dara yang terlihat keluar di permukaan kulitnya anak itu menangis menahan sakit di lengannya ia sudah terinfeksi kerena gigitan Kroon.


Arya melangkah mundur dari anak itu “ hiks, kaka aku ta-kut” suara anak itu mulai terbata – bata dan tidak jelas karena fase perubahannya sudah masuk tahap akhir


Alif yang geram melihat Arya yang hanya berdiam diri disitu tidak segera pergi dan masuk ke rumah ia menembak kepala anak itu, suara tembakan yang mengundang kedua Kroon mengejar Arya dan aku “ sial kenapa juga dia menembak” geram Arya yang berlari menuju rumah Ben


“ CEPATLAH” terialk Alif


DUAR


DUAR


Kedua Kroon itu sudah tewas ditembak oleh Alif, Luna membukakan pintu untuk Arya dan Alif yang menyusul di belakang . Arya menaruhku di tempat tidur Alan dan Hanna dengan sigap memasangkan oksigen pada ku


“ dia pingsan lagi ya, jangan – jangan dia kritis” sahut Komandan


“ ya ini tahap kedua dan terakhir, jika ia dapat melewati tahap kedua ini maka imun dalam tubuhnya itu sudah dipastikan stabil” jawab Alan


“ tapi jika tidak dia akan mati” sahut Luna


Semua melihat kearahku sekarang Alif membantikan dirinya di sofa, Arya menarik baju Alif “ kau kenapa kau selalu membunuh seseorang” Arya emosi karena Alif menembak kepala anak tadi


“ lalu aku harus menonton kau dan Lisa di serang tiga Kroon sekaligus?” sinis Alif yang melepaskan cengkraman Arya


Luna melerai mereka dengan berdiri di tengah – tengah “ sebenarnya ada apa lagi sih?”, Arya memalingkan wajahnya dan mengacak acak rambutnya “ dia bukan manusia, walau terlihat seperti anak kecil tapi dia sudah menjadi Kroon” kata Alif yang kembali duduk di sofa


“ sudahlah kalian ini satu tim jangan bertengkar terus” sahut Ben, Ben memanggil Hanna untuk berbicara dengannya di kamar Rara


“ ada apa Ben, aku sedang membantu Alan” tanya Hanna


“ sepertinya kita harus ikut dengan mereka jika terus disini maka tidak lama lagi nasib kita akan sama seperti Kroon diluar sana” jawab Ben


Hanna melihat Rara yang tengah tertidur pulas “ baiklah” Hanna mengangguk dengan mata berkaca – kaca


Ben pun menghampiri Komandan “Komandan izinkan saya akan ikut dengan mereka”


“ boleh saja tapi jangan kau ajak istri dan anak mu mereka biar ikut bersamaku ke pulau” saran Komandan


“ kenapa kau tidak angkut kami saja kesana, agar lebih cepat” sahut Arya


“ karena kami sudah punya rencana” jawab Alif


“ rencana?” tanya Arya


“ yah nanti juga kau tahu” sahut Alan


Terdengar suara helikopter diatas rumah Ben sepertinya itu jemputan untuk Komandan “aku pergi dulu kalian semua aku tunggu di pulau itu, Ben mana istri dan anakmu” Komandan berisap untuk pergi


“ apakah tidak apa kau aku tinggal?” cemas Hanna pada Ben


“ tidak apa pergilah, aku tidak bisa meninggalkan mereka”


Hanna pun ikut dengan Komandan ke pulau itu “ aku butuh dua orang untuk berjaga – jaga jika ada serangan Kroon yang datang karena mendengar desingan helikopter itu” kata Komandan. Mereka pun pergi dengan dikawal oleh Alif dan Arya


“ Letnan tolong bawa Lyta juga saya tugaskan dia untuk memahami situasi disana agar saat kami sampai pulau kita bisa langsung mengambil tindakan” sahut Alif


“ Alif kenapa kau seenaknya seperti itu” ketus Lyta


“ hey aku leader distrik kalian saat ini, lagipula tidak ada yang cocok selain kau untuk tugas ini” jawab Alif


“ Lyta berhati – hatilah, kami mengandalkanmu” sahut Arya


Hari itu terasa sangat panjang dan rumit memang semua hari terasa berat dalam kondisi bumi yang sedang sekarat, tapi hari ini banyak sekali informasi dan kenyataan pahit yang kami terima dan perjalanan kami belum berhenti hanya karena sudah melewati permainan atau rintangan itu, masih panjang perjalanan kami hingga sampai pada titik penentuan antara keberlangsungan kehidupan manusia dan Bumi saat ini juga penentuan untukku memilih mati dan menyelamatkan banyak nyawa dengan menyerahkan diri untuk menyempurnakan vaksin itu atau tetap hidup untuk terus melihat dan tetap bersama dengan orang yang ku sayangi.