DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
DIE or LIFE SEASON 2



Alif mencoba memasuki hutan itu para penembak sudah siap dengan senapan mereka, “Aliiif!” teriak Lyta yang menghentikan langkahnya


“kau mau kemana semuanya sudah siap untuk kembali ke kota”


“aku..” Alif masih menatap kedalam hutan itu


“apa ada yang tertinggal disana?” Tanya Lyta


Mendengar pertanyaan nya sendiri ia baru ingat jika Alan masih tak sadarkan diri dirumah karena efek dehidrasi dan kelelahan yang ia alami “ya ampun saking paniknya karena Rara hilang sampai lupa jika dirumah ada pasien” gumamnya


“siapa? Pasien?"


“iya ayolah kita pulang” menarik Alif


Awan sangat cerah sekali biru dihiasi awan yang perlahan berjalan Hanna Nampak selalu memeluk Rara ia sangat menyesal karena kurang memperhatikan Rara selama ini kehilangan Rara membuat nya belajar untuk bisa memperhatikan Rara lebih baik


Lyta mondar mandir karena khawatir pada Alan jika dia membutuhkan sesuatu namun tidak ada orang di rumah bagaimana jika dehidrasinya semakin parah karena tidak ada yang mengontrol asupan cairan infusnya


“kau ini sebenarnya kenapa sih?” Alif menenggak air minumnya


Lyta menceritakan tentang Alan pada Alif dari awal kejadian hingga bagaimana Alan bisa sampai di kota I.V.V, mendengar ceritanya Alif merasa kasihan pada Alan yang sudah hidup sulit Karena hukuman yang seharusnya ia tidak jalani sebab ayah dan kakaknya lah yang seharusnya menjalani hukuman itu


“dan ada satu hal lagi ini sedikit sensitive untuk kita sebenarnya”


Mata Lyta dan Alif saling bertemu “waaah kenapa rasanya kau bertambah tampan”celetuk Lyta


Membuat Alif kaget “kau ini, kukira kau akan bicara hal serius” ia terkekeh mendengar celetukan Lyta


“hahahaha maaf habisnya kau tidak berkedip menunggu ceritaku”


Melihat wajah Alif yang kembali serius “baiklah, aku serius sekarang jadi Alan bilang dia bertemu dengan Lisa”


Mata Alif nampak melotot ekspresi wajahnya berubah seketika menjadi tidak enak dipandang “sudah kuduga seharusnya aku tidak memberitahu nya” batin Lyta


“lalu bagaimana dengan reaksi Adam dan Alex?”


“Adam belum tahu dan Alex menghajar Alan”


Muka Alif nampak pucat pasih bagaimana tidak ia baru saja bertemu dengan seorang wanita bercadar dengan mata dan suara yang sama persis dengan Lisa lalu sekarang Lyta bercerita seperti ini, tangannya bergetar meremas botol yang ia pegang


“kau ini kenapa? Sudahlah diagnosis Hanna ia mungkin mengalami delusi atau halusinasi karena dehidrasi dan kekurangan makanan saat terdampar di pulau itu” Lyta berusaha


menangkan Alif


Dipikirannya sekarang berkecamuk ia berusaha melawan pikiran jika yang dikatakan Alan mungkin ada benarnya karena ia bertemu wanita itu di hutan namun disisi lain ia merasa akal sehatnya hilang jika mengiyakan Alan jelas ia melihat kuburan Lisa ada di pemakaman


Sesampainya di kota Alif berpisah dan pamit pada yang lainnya ketika sampai sini ia belum sempat beristirahat karena langsung kerumah Hanna dengan niatan memberi surprise dan hadiah namun malah bertemu dengan masalah Rara yang hilang di pulau


Rumah megah itu menyambut kedatangan Alif dengan pelayan dan ibunya “sayaang ibuuu, akhirnya pulang juga” memeluk dan mencium Alif


Para gadis yang menjadi pelayan baru pun saling berbisik membicarakan ketampanan Alif mereka kira rumor yang beredar itu telalu berlebihan namun memang nyatanya Alif setampan itu


“tidak kalah tampan dari Letnan kemiliteran I.V.V ya” celetuk salah satu pelayan itu


“apa!? Beraninya kalian membandingkan anakku dengan orang lain” tegur Lady


Lady sebutan untuk istri dari president I.V.V yang menjabat “ibuu sudah dong, mereka tidak salah Letnan memang tampan yaah tapi memang masih tampan aku” Alif tertawa bersama ibunya


“yaaah tampan sih tapi sayang masih jomblo” ejek Lady


“waah suka bikin skakmat” Alif duduk di ruang keluarga


Lady menghela napas “ini serius kapan kamu akan buka hatimu?


Alif tersenyum dan menggaruk kepalanya tanda bingung menjawab ibunya itu, “ bu aku cape sekali aku mau istirahat yaa” ia segera berjalan menuju kamarnya


Alif menjatuhkan badannya di kasur besar itu ia menatap langit kamarnya baru saja sampai di kota yang sudah lama ia tinggalkan Alif sudah mendapat kabar serta kejadian yang tak terduga


“wanita itu siapa ya?” pikirnya dan mungkin Alan berhalusinasi yang dimaksud Lisa itu wanita yang ada dipulau tadi. Pikirannya dipenuhi tanda tanya akan siapa wanita itu karena pulau itu seharusnya tidak berenghuni , matanya terlelap karena kelelahan.


Di rumah besar di tengah hutan itu Lisa menjerit karena dikurung dan dikunci dikamarnya ia terduduk lemas sudah tidak bisa menangis lagi menatap lantai “percuma aku berteriak, menangis, bersedih mereka tidak akan peduli, itu hanya membuatku lelah” batinya


Hari ini Ben dan Hanna memutuskan mengambil cuti karena ingin bersama Rara setelah ia hilang kemarin mereka berencana membuat kue bersama semua sudah siap dibantu Lyta sang ahli pastry Hanna dan Ben saling membantu memasangkan celemek dengan Ben yang sesekali jahil memeluk Hanna dari belakang


“mah, kau seharusnya memasukan telurnya juga” Rara memeberi tahu Hanna yang salah urutan saat membaut adonannya


“benarkah, waah aku salah ya kenapa anakku bisa lebih pintar dariku” Hanna tertawa dan mencium pipi Rara


Ben yang selalu jail mengotori wajah Rara dan Hanna dengan tepung membuat Hanna dan Rara mengejar Ben dan membalasnya


Lyta tersenyum dan tertawa melihat keluarga itu mereka sangat bahagia namun rasa senang dan bahagia itu tidak sepenuhnya ia rasakan hatinya juga sakit karena merasa dia merasakan kebahagiaan dan kehangatan sebuah keluarga saat ini tapi Lisa tidak sempat merasakannya dengan keluarganya “Adam sedang apa dia sekarang?” batin Lisa yang berpikir mungkin saja Adam sekarang merasa sangat kesepian


“Hanna, Ben Rara bagaimana kita selesaikan ini lalu kita berikan kue nya pada Adam?” usul Lyta


Hanna mengangguk “yah sekalian kita mengunjunginya sudah lama bukan kita tidak berkunjung ke sana”


“ayoo aku juga mau ikut”


Kriiiing


Telepon rumah berdering Lyta berlari ke ruang tengah menerima telepon itu “keluarga Ben dengan Lisa disini” sapa nya


“ooh tunggu sebentar”


Lyta memberitahu Ben jika ada yang mencarinya di telpon, Ben mendapat kabar buruk dari gedung pemerintah I.V.V perihal masalah yang tengah dihadapi selaku kepala riset peneliti dan penembang Teknologi di I.V.V. ia dipanggil untuk menyediakan dan mempersiapkan alat rapat besar tertutup dengan pemimpin wilayah timur


Ben segera bergegas ke kamarnya kerusuhan itu terdengar oleh Hanna dan Lyta “ada apa sayang?” Hanna masuk ke kamar


Melihat Ben sibuk menarik jas dan bajunya Hanna membantu mencarikan baju untuk Ben


“sayang bisa kah kau katakan apa yang terjadi?”desak Hanna


Ben melihat Lyta yang ada di pintu kamar mereka Ben tersenyum kecil seakan memberi kode untuk Lyta menutup pintu kamar, Lyta paham dan kembali ke dapur


“kenapa kau sampai mengusir Lyta?”


“aku juga belum tahu detailnya apa namun sekarang sedang ada masalah yang cukup serius gedung pemerintahan memintaku mempersiapkan rapat tertutup dengan wilayang timur”


“tapi kenapa harus kau?”


“aku kepala riset dan teknologi mereka butuh aku untuk mempersiapkan alat komunikasi karena ini akan diadakan secara virtual”


Hanna menghela napasnya Ben tahu Hanna kecewa namun biasanya ia selalu mengerti kondisi genting apalagi berkaitan dengan kota ini


“maafkan aku” Ben memeluk Hanna


“aku bisa mengerti namun saat ini kita baru saja menemukan anak kita kemarin ia sendirian di hutan, kedinginan tanpa ada orangtuanya” Hanna menangis


Ben memeluk Hanna menenangkannya “aku juga sangat merasa bersalah pada mu dan Rara”


Didapur Lyta masih mengintip kearah lorong kamar Hanna dan Ben


“ada apa sih ka?” tanya Rara yang mengunyah kuenya


“tidak apa apa, hey kau jangan habiskan ini semua ya” Lyta mencubit hidung rara


“cup cake ini enaaak sekali” senyum Rara


Ben keluar dari kamar dan bergegas pergi ia hanya mencium kening Rara “aku akan kembali secepatnya” lalu pergi


Hanna mengejarnya namun Ben sudah menaiki mobilnya, mendengar keributan itu Lyta menghampiri Hanna yang berdiri di depan pintu rumah “ada apa sih?” disusul Rara sembari membawa kuenya


Kriing, telepon rumah itu berbunyi


Hanna mendapat telepon dari rumah sakit jika hasil test para pedagang dan anggota kemiliteran pasukan khusus itu sudah keluar “aku tidak bisa hari ini” ketus Hanna


Namun sepertinya pihak petinggi memaksanya untuk segera mengecek hasil itu hari ini, semua jadi kacau Rara nampak mengerti apa yang terjadi ia menghampiri ibunya yang tengah mondar – mandir gelisah “kau tidak perlu bingung mah, ini makan dulu setelah itu kau pergi saja ke rumah sakit, aku tidak apa – apa “ Rara memberikan cup cake itu dengan senyum kecilnya


“sudah Hanna tidak apa – apa , Rara biar aku yang jaga” Lyta memuluk Hanna


“maafkan mamah ya Ra”


Rara mengangguk dengan senyuman diwajahnya


“tuan muda anda ditunggu segera diruang makan” terdengar samar oleh Alif


Alif yang masih tidur menggeliat ia membuka matanya dan sangat terkejut melihat ada lima orang pelayan dihadapannya “k-kalian semua ngapain ada di kamar saya?” Alif mencoba menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutupi badannya, karena kebiasaannya tidur tanpa busana ini yang membuatnya malu tiba – tiba ada lima orang pelayan apalagi mereka semua perempuan


“ibuuuu” teriak Alif


“maaf tuan tapi kami memang bertugas untuk melayani penghuni rumah ini dimana mereka adalah keluarga pemimpin Negara I.V.V” jelas pelayan itu


Dua dari pelayan itu berbisik “tampan sekali ya”


“ada apa sih nak” Lady datang


“ibuu, tidak perlu aku dilayani oleh mereka”


“ini protokol”


“buu, aku malu bisakah kalian pergi aku mau berbusana”


Lady membubarkan para pelayan itu


“makanya kalo tidur itu pakai baju tidur ini cuman pakai ****** doang kebiasaan”


“ibuuu” muka Alif memerah


Dimeja makan sudah tersedia sarapan bermacam makanan “kau mau apa nak?”


“aku mau roti isi saja bu”


Sambil mengunya rotinya ia tidak menemukan keberadaan ayahnya walau tidak bertanya Lady tahu jika anaknya mencari keberadaan ayahnya


“ayahmu tidak disini ia sangat sibuk belakangan ini”sahut Lady


“aku tidak bertanya apapun”


Lady tersenyum “kalian ini memang gengsi nya tinggi”


“masalah apa memang nya yang sedang terjadi selama aku pergi?”


“sebenarnya masalah ini baru muncul beberapa hari belakangan sayang”


“apa?''


“aku tidak bisa sembarang bercerita bahkan pada anakku sendiri”


Alif mengangguk “baiklah aku selesai makan”


“kau mau kemana?”


“aku mau mengunjungi calon menantumu dan mencari tahu informasi terkini”


“berhentilah mengunjungi makam anak itu”


Alif berhenti melangkah “bu, ada dua wanita yang sangat ku sayangi pertama kau dan kedua adalah dia jadi jangan melarangku mengunjunginya”


“bukan seperti itu, ibu tidak mau kau terus terusan sendiri karena perasaanmu pada orang yang sudah pergi”


Alif tidak menjawab ia langsung pergi ke makam Lisa ia membawa bunga dan tak lupa mengirimkan doa nya


“aku sangaat rindu padamu” ucapnya sembari menabur bunga


Ia belum sempat sarapan dengan benar tadi karena tidak mau mendengar ocehan ibunya ia pergi setelah sedikit menggigit rotinya


“sepertinya kemarin aku lihat toko pastry dekat rumah Ben”gumamnya


Aroma harum roti dan kue tercium saat memasuki toko Alif memilih tempat di dekat kaca dengan sofa berwarna coklat ia memesan satu buah sandwich dengan jus buah apel, merasa terkejut dengan rasa sandwich yang ia makan mengingatkannya pada sandwich buatan Lisa.


Dulu saat masa sekolah menengah ia dan Arya sering dibuatkan sandwich oleh Lisa, semua memori itu terulang lagi dikepala Alif masa – masa persahabatan mereka yang ujung nya harus berpisah dengan cara yang tidak menyenangkan karena Lisa yang menyukai Arya pada saat itu namun Alif yang malah menyukai Lisa semua sudah berlalu dan kini itu semua hanya kenangan saja “masa itu kita bertiga memang masih anak anak ya” gumamnya


Tuk tuk


Lyta mengetuk meja “halo”


Alif tersadar dari lamunannya “oh hai, Lyta kau sarapan disini juga?”


“ sebenarnya aku yang membuat sarapan disini”


“kau bekerja disini?”


“aku pemilik toko ini” senyum Lyta


“benarkah? Waaah bukan hanya bersahabat baik bahkan sandwich mu terasa seperti buatan Lisa”


“benarkah, artinya aku berhasil membuatnya karena memang Lisa yang mengajariku waktu itu”


Alif mengangguk “ooh pantas saja”.


...****************...


Alex berdiskusi dengan Rey tentang formula yang ia harus bawa ke wilayah timur tanpa adanya para eksekutif hanya Rey dan Alex yang tahu tentang masalah formula ini Alex meminta izin pada Rey untuk memberi surat perintah ke departemen penelitian agar berusaha membuat formula untuk mengekstrak darah pasien yang ada wilayah timur itu


“kenapa tidak kau bawa saja pedagang itu kemari untuk pemeriksaan lebih lanjut?”


“ aku juga berniat seperti itu tapi para petinggi itu tidak mau jika pasien dibawa masuk ke area ibu kota bukan”


Rey nampak menarik napas “jika dibuatkan pun apakah efektif? Vaksin dosis kedua saja kita masih dalam tahap uji, saya tidak yakin jika formula itu ampuh tanpa adanya sample”


“kita coba saja dulu” rayu Alex


“bukankah Lisa punya adik? Bisa kau bawa dia ke gedung penelitian”


“untuk apa? Aku rasa walau mereka saudara namun system tubuh mereka mungkin saja berbeda” Alex mulai cemas karena Rey sudah mulai berpikir untuk menggunakan Adam


“lagipula dia itu keras kepala kau tidak akan mampu membujuknya” lanjut Alex


Rey nampak melihat kearah jendela “siapa bilang aku membujuknya jika dia tidak mau aku akan seret dia”


“kau tidak bisa melakukan itu aku pun akan menghalangimu menyentuh Adam”


“kau ini bagaimana? Bukankah kau yang ingin memaksaku memerintahkan para peneliti membuat formula itu, kenapa sekarang aku beri solusi kau malah menentangku”


“solusimu tidak lah efektif dengan mencoba percobaan pada manusia lain membuang waktu yang ada, lebih baik kau perintahkan saja mereka membuat formulanya dengan contoh gas vaksin pertama” ketus Alex


“kau ini sangat keras kepala, jika aku perintahkan pun lalu mereka membuat formulanya apa ada jaminan akan menghasilkan apa yang kita mau?”


Alex nampak bingung dengan apa yang dinyatakan oleh Rey


“maksudku jika pihak wilayah timur mengambil kesempatan ini untuk mencuri setetes saja dan menganalisa formula yang kita buat maka itu akan berbahaya untuk I.V.V”


Alex mengusap wajah dan menarik napas “kau… haah sial” ia serba salah separuh perkataannya benar namun juga sekarang tidak ada pilihan lain karena mereka para petinggi itu sendiri tidak mau jika pedagang itu dibawa ke ibu kota


“suruh mereka bawa sample darah nya kemari, kita bisa uji coba disini” ide Rey


Alex juga sebenarnya sudah memikirkan ide itu namun ia punya tujuan untuk menekan Rey membuat formula “ sepertinya memang ada yang ia sembunyikan” batin Alex karena Rey bahkan tidak mengijinkan Alex memasuki gedung penelitian selama ia menjabat dengan alasan analisa dan penelitian adalah langsung dibawah kendalinya tidak ada yang bisa mengatur dan ikut campur selain keputusan presiden


Aturan itu resmi disetujui para petinggi lain kecuali Komandan yang enggan menandatangani nya


“baiklah aku akan mencoba membawa sample darah itu”