
Semua sudah direncanakan dengan matang oleh Alex dan lainnya, namun disisi lain Letnan pun sudah mempunyai rencananya untuk menyambut Alex dan yang lainnya, tidak tinggal diam Alif pun sudah berkomuikasi dengan Alex melalui orang suruhannya ia mengetahui rencana dan akan membantunya dari dalam begitu juga denganku, aku sudah siap sedari dulu untuk waktu ini. Apapun yang akan terjadi aku akan tetap menyelesaikan misi ini.
Rey dengan sikap cuci tangannya dan selalu mengorbankan orang lain untuk keselamatannya pun sudah bersiap dengan rencana miliknya sendiri, kini ia sedang melakukan brefieng dengan anak – anak asuh miliknya yang dikenal dengan sebutan ‘Blood tim’, terdiri dari anak mudah pilihan dan juga sudah dilatih mati matian oleh Rey untuk menjalankan rencana terselubungnya juga regu ini dibentuk olehnya untuk keselamatannya sendiri dan juga keluarganya. Dengan berpakaian serba merah maroon para pemuda ini selesai diberi arahan langsung oleh Rey karena Letnan sudah menyalakan alaram berperang melawan Alex.
“ piroritaskan keselamatan Alif, juga gadis imun itu, jika sudah paham maka alian segera pergi ke posisi masing – masing” komando Rey
Mereka semua pergi kecuali satu pemuda yang masih berdiri dihadapannya, “ kenapa kau tidak pergi?” tanya Rey
“ kenapa kau mau menyelamatkan gadis itu?, bukankah jika vaksin sudah kalian dapat maka tuan juga tidak begitu peduli dengan siapa yang tewas” jelas pemuda itu
“ kau tidak perlu banyak bertanya, untuk apa juga aku memberitahu alasannya padamu. Dengar walau kau masih muda jangan kau ikuti rasa penasaranmu itu, aku tidak mau membunuh bidak ku yang berharga, kau itu bidakku yang kuat jadi jangan banyak bertanya”
Pemuda itu pergi dengan geram, di luar ruangan ia sudah ditunggu oleh regu timnya mereka menunggu perintah langsung kemana harus menuju karena pemuda tadi adalah kapten dari bunglon tim ini, ia mengangkat waja dengan tatapan tajamnya dan memberi perintah “ ikuti koordinasi yang sudah ku beritahu semalam” jelasnya
“ siap kapten” seru yang lainnya
Mereka segera bergerak ke posisi yang sudah diberitahu oleh kapten mereka, “aku tidak akan membiarkan kakaku jatuh di tangan mu, Rey” gumam si pemuda
***
Waktu menunjukan pukul 11 malam, Alex sedang bersiap ia dan yang lainnya memakai pakaian serba abu, “ Lyta pakai ini” Arya membantunya memasang anti peluru sebelum mengenakan jaketnya, “ kalian sudah memakainya juga kan?” tanya Lyta yang sedang memakai sepatunya
“ sudah” sahut Alex, Hanna juga tengah memakai rompinya dibantu oleh Arya, mereka pun saling melihat satu sama lain “ baiklah kita harus bisa menyelesaikan misi ini, aku dan Arya tidak akan membiarkan kalian terluka parah” jelas Alex
“ berisik kau Alex, aku sudah tidak peduli lagi akan terluka ataupun mati disana, yang aku pikirkan sekarang bagaimana kita berhasil menyebarkan gas vaksin itu” sahut Lyta
Mereka merasa semangat Lyta sangat besar hingga membuat mereka juga bersemangat lebih lagi. Hanna mengunjungi Ben sebelum berangkat “ sayang aku akan pergi, sadarlah sayang jika aku tidak kembali maka kau harus menjaga Rara” getir suara Hanna menatap Ben yang masih terbaring koma, “ kau akan kembali Hanna, aku tidak akan membiarkan Rara kehilangan ibunya” sahut Alex dari pintu kamar
Hanna menoleh, “ aku sudah siap untuk kemungkinan terburuk jadi kau fokus saja pada misi nya, aku akan berusaha membawa Lisa ketempat aman” kata Hanna dengan senyumnya
Mereka pun pergi menuju gedung I.V.V, di gedung itu Letnan sudah menyusun rencana untuk menjebak Alex dan yang lainnya , ia membuat situasi normal seperti biasa dan hanya memperketat penjagaan saja, agar Alex tidak begitu curiga.
Padahal ia sudah menyiapkan dan memberi perintah pada penjaga dan aparat keamanan yang ia miliki untuk bergerak jika Alex dan yang lainnya sudah dalam posisi yang direncanakan untuk memojokan mereka, di luar gedung Alex sudah memberi arahan sesuai rencana yang sudah mereka susun sebelumnya. Segera Hanna menuju ke tempat yang sudah dibertahukan kepada nya oleh Alex untuk mengamankan Lisa, Arya pun menuju tower dengan alat alat peretasnya bersama Lyta dan Alex yang tadinya menuju ke arah tower bersama memutuskan untuk kembali dan menyusul Hanna ia khawatir dengan keselamatan Hanna dan Lisa
“ ada apa?” Lyta melihat Alex berhenti
“ maaf Lyta sepertinya aku harus menemani Hanna”
Didepan Arya sudah terus berlari menaiki tangga menuju tower
“ baiklah, bawa mereka dengan selamat” Lyta pun bergegas menyusul Arya
Di waktu yang sama anak didik Rey yang tergabung dalam tim yang bernama bunglon itu pun mulai bergerak dengan target utama mereka yaitu Lisa dan Alif yang harus mereka selamatkan sesuai perintah Rey, Hanna pun sudah didalam lift ia sudah menuju lantai dimana Lisa berada
‘Srrk’ suara sambungan terdengar “ masuk Hanna”
“ aku hampir sampai Alex” sahut Hanna yang menunggu lift terbuka
“ kau kembali Hanna ada perubahan rencana, kau tunggu saja di pintu belakang gedung dan siapkan alat medis sederhana” komando Alex
“ kenapa, aku hampir sampai” Hanna melihat angka lift
“ bisa kau lakukan Hanna” sahut Alex
Ting suara tanda lift sudah sampai pada lantai yang dituju, Hanna kembali menutup pintu liftnya dan kembali ke lantai dasar, Alex pun menghela nafas panjang ia menatap kedepan “entah apa yang akan terjadi kenapa perasaanku sungguh tidak enak seperti ini, jantungku dari tadi juga berdetak kencang, semoga saja kami semua selamat” gumam Alex
“ kapten kami sudah mensteril area mereka semua sekarang fokus pada pemberontak” lapor anggota bunglon tim pada pimpinannya
Mereka sedang bersiap naik ke lantai dimana target berada, “ baiklah bravo, kau tahu harus apa?”
“ siap kapten” sahut Bravo
“ untuk misi kali ini kalian jangan panggil aku kapten, cukup dengan namaku saja” kata Kapten
“ ada apa, kau mau mengorbankan dirimu?, memang sebahaya apa situasi yang kita hadapi kapten?” tanya Elang
“ benar jika kapten sudah berkomando untuk berhenti memanggilmu kapten itu artinya kemungkinan misi ini adalah misi terakhir kita” sahut Bravo
“ kawan – kawan fokus ini resiko kita, selagi ada waktu dan kesempatan larilah sejauh mungkin agar Rey tidak menganggu kalian lagi, misi ini aku yang akan turun langsung, mengerti Bravo, Elang, Gold, Loop!!” tegas Kapten
“ baik kapten”
“ siapa namaku kawaan?!!”
“ siaaap Adam” sahut semua anggota
Mereka pun menuju lantai tersebut dengan melewati tangga darurat karena sesuai namanya ‘Bunglon’ yang memiliki kemampuan kamuflase mereka tidak boleh diketahui siapapun, untuk kepentingan Rey sendiri.
Wuooong,,, wuoong,wuoong
Terdengar suara alaram darurat dan terdengar keruihan di koridor, aku yang sedang menutup mata semabari merebahkan tubuhku di tempat tidur pun sontak membuka mata dan terperanjat melihat staf dan perawat berlarian panik di koridor aku pun segera turun dan hendak membuka pintu mencari tahu apa yang terjadi, namun Alif datang dan langsung mengunci pintuku “ kau harus tetap disini” katanya
Aku sudah muak dengan kelakuanya yang selalu melarangku, aku juga tidak selemah itu dan berhak tahu atas apa yang terjadi, “minggirlah Alif aku sudah malas berdebat denganmu”
Ia melangkah mendekatiku memegang bahuku “ dengar, diluar sana paling hanya ada beberapa kesalahan kecil saja”
Dengan tatapan dingin “ kau pikir aku dungu huh?, kau berakta seperti itu kau anggap aku bocah?”, aku pun mendorongnya dan bergegas membuka pintu
“ maafkan aku, tunggulah aku, sedikit lagi kau dan aku akan aman dari semua ini” Alif kembali ke ruang rawatnya , ia menatap kaca besar yang menuju ke lorong koridor samar ia menatap pantulan dirinya dan mengingat pertemuannya dengan Alex beberapa hari lalu
2 hari yang lalu...
Di sebuah gudang tempat penyimpanan bahan makanan yang sudah usang itu Alex sedang duduk termangu menunggu seseorang, beberapa jam berlalu orang itu belum juga datang. Alex memutuskan untuk pergi fikirnya mungkin surat yang ia dapat hanyalah jebakan yang dibuat oleh musuhnya enah Letnan atau Rey. Ia berjalan menjauh dari gudang saat hendak menaiki motornya terdengar suara mobil yang mendekat
“ maaf aku lama” sapa seseorang yang baru saja turun dari mobil taxi
“ kau, ternyata benar kau masih hidup, hahaha aku senang sekali Alif”
Alex pun memeluk dan menepuk punggung kawannya itu ia lupa jika Alif sebelumnya sudah ia anggap rivalnya untuk mendapatkan Lisa, itu semua sirna karena Alex sudah menganggap Alif sebagai sahabtnya ia sudah melindungi Lisa selama Alex tidak ada disamping Lisa. Namun tidak dengan Alif ia masih menganggap Alex adalah penghalang baginya mungkin dulu karena Arya juga sahabat dekatnya juga Arya tidak menggubris perasaan Lisa saat itu Alif tidak melakukan apapun pada Arya namun kali ini Alex adalah saingan yang sebenarnya.
“ langsung saja, tujuanku adalah untuk mengetahui rencanamu aman atau malah membuat semuanya kacau” tegas Alif
“ baiklah, tapi sebelumnya aku juga ingin mengetahui sesuatu darimu”
“ maksudmu kau ingin aku membayarnya dengan informasi juga?”
“ siapa kau sebenarnya?” selidik Alex dengan mengerutkan dahi
“ beritahu dulu rencana mu”
“ baiklah, baiklah rencana ku...”
Alex pun menjelaskan rencananya, Alif pun mengajukan beberapa ide yaitu ia menyarankan agara Alex fokus pada pengamanan tower saja dan Alif akan bertemu dengan Hanna untuk membawa Lisa pergi secara diam – diam, namun tanpa sepengetahuan Alif, Alex merubah rencana saat menuju ke tower ia menyuruh Hanna kembali dan menunggu sedangkan Alex yang akan memeriksa Lisa secara langsung. Saat Alex menyetujui itu Alif pun beranjak pergi dari sana
“ tunggu, hei hei kau jangan curang jawa pertanyaanku yang tad, siapa dirimu?”
Tanpa membalikan badannya ia menjawab singkat “ penerus keluarga Prakarsa” lalu Alif pun pergi begitu saja
Alif pun kini merubah rencananya sendiri ia menyembunyikan Lisa di ruangan itu agar Alex tidak menemukannya pada saat yang tepat Alif akan membawa Lisa pergi bersamanya jauh dari semua kekacauan dan orang – orang yang membuatnya muak selama ini.
****
Begitu juga dengan Alex ia merubah rencana nya untuk kembali dan menuju keruangan Lisa ia memiliki firasat jika Alif tidak melakukan rencana sesuai apa yang telah disekapati, bayangan pertemuan itu pun teringat kembali di benak Alex.
2 hari yang lalu...
Setelah pertemuan itu Alex nampak mencoba mengingat nama itu, Alex merasa Alif sangat dingin dan juga berbeda dari sebelumnya ia nampak seperti menyembunyikan sesuatu. Setelah pertemuan itu Alex pun mencoba mencari dokumen yang berkaitan dengan nama perusahaan atau marga nama ‘Prakarsa’ dari semua dokumen yang ada di ruang kerja Komandan ia mendapatkan jawabannya, saat mengetahui siapa Alif sebenarnya seribu perntanyaa muncul di kepala Alex, apakah Lisa tahu Alif siapa, apakah selama ini Arya juga menyembunyikan sesuatu karena mereka berteman dekat dengan Alif namun Alex mencoba menepis prasangka buruk yang ada ia mencoba realistis namun tetap menjengkelkan mengingat Alif menyembunyikan saipa dia sebenarnya itu bisa memuat kemungkinan jika ia juga memiliki niat terselubung selama ini. Alex lebih mengkhawatirkan Lisa sekarang ia juga tidak bisa memberi tahu yang lain karena khawatir itu membuat mereka tidak fokus dalam rencana kali ini.
Duar
Dooor
Terdengar suara ledakan dan suara senapan dari arah tower, Alex yang sedang menuju ke lantai Lisa berada pun menghentikan langkahnya ia kembali menoleh ke belakang, “Lyta, Arya” gumamnya panik, ‘Srkk’ suara sambungan terdengar “ Alex aku kewalahan disni, apa bisa kau kemari?” terdengar suara Lyta dengan gemuruh senapan
“ baiklah, bertahan lah Lyta” tanpa fikir panjang lagi Alex segera berlari kembali ke arah tower “maaf Lisa aku harus menyelamatkan yang lainnya terlebih dahulu” ia mengepalkan tangannya.
Drap
Drap
Drap
“ Bravo masuk” komandan Adam
Bravo pun masuk mengecek ruangan Lisa namun tidak ada siapapun disana, itu membuat Adam naik pitam “ sial dimana mereka menyembunyikannya” fikir Adam. Mereka pun mengecek ruangan sebelah dan terdapat Alif yang sedang mondar – mandir menunggu kesempatan untuk pergi, tangan Adam memberi kode untuk meringkusnya, Bravo dan Gold menahannya “ siapa kalian?” tanya Alif
Adam berjalan mendekat “ kau yang bernama Alif?”
“ ya, siapa kalian?”
Bugh, Adam menghajar Alif tepat di perutnya hingga Alif mengokoh kesakitan, “ Kap – maksudku Adam bukankah kita tidak boleh melukainya?” tanya Loop, namun Adam tidak menggubrisnya
“ dimana kakaku?” sangar Adam
“ kakak ? siapa aku tidak tahu saipa kakakmu bocah” tegas Alif
Adam pun kembali menonjok Alif kini mulut Alif berdarah karena pukulan itu, “ Lisa, dimana dia?”
“ Lisa?, apa kau Adam?”
“ jangan bertanya balik, dimana Lisa?”
***
Rey sudah berada di samping penembak jitu di sisi gedung yang lain di gedung I.V.V itu, ia bersiap menyaksikan pekerjaan Letnan secara langsung, “ bagaiaman?, sudah selesai?” tanya Rey pada Letnan
“ kau diam saja tuan, ini akan segera berakhir” sahut Letnan
Rey pun mencoba menghubungi tim bunglon, dengan menjauh dari Letnan agar ia tidak mendengar nya. Namun dari tadi sambungan terus terputus “ dasar bocah – bocah itu , kenapa mereka memutuskan sambungannya” gerutu Rey
“ tembak saja mereka, menghadapi bocah saja kau kewalahan” sahut Rey
“ mereka memegang vaksin itu, jika salah maka vaksin itu akan dalam bahaya. Kau sendiri yang bilang untuk merebut kembali vaksinnya?”