
Udara semakin terasa dingin menusuk kulit, aku membuka mataku ternyata ini sudah hampir pagi mungkin sekitar jam 05.00 udaranya sangat dingin sekali “ loh ko, bukannya dia tidur dengan Alex ya semalam” melihat Rachel yang tidur menghadap Arya memang awalnya tidak seperti ini tapi mungkin karena Rachel merasa kedinginan akhirnya ia agak mendekat ke Arya “ Lyta bangunlah bantu aku membangunkan yang lain” aku mengguncangkan tubuhnya agar Lyta terbangun
Aku dan Lyta mencoba membangunkan yang lain, setelah semua bangun Arya langsung menyusun rencana menggantikan Alex yang tengah terluka
“ aku rasa kita semua mulai menelusuri pedesaan atau kota ini aku tidak tahu ini kota atau pedesaan yang pasti disini lumayan juga penduduknya dan mereka amat kurang ramah memang namun kita harus mulai bergerak” jelas Arya
“ jangan banyak bicara cepat jalan” Rachel berdiri disusul oleh Kye dan Alif, sepertinya ia marah kepada Alex karena ucapannya semalam, Arya mencoba membantu Alex untuk berjalan tapi Alex memilih untuk berjalan sendirian “ tidak apa, aku sudah lebih mendingan sekarang” dengan suara lemah
“ kau yakin? Mukamu saja masih menunjukan jika kau ini sedang kesakitan” kata Lyta
“ia, sudahlah biar kan saja Arya membantumu” bujukku
Alex tidak menanggapi ku dan Lyta ia pergi menyusul Kye dan Alif dengan jalan yang masih sempoyongan “cih, keras kepala sekali dia padahal sedang dalam kondisi seperti itu” gerutu Arya
Kami berjalan terus menelusuri jalan aspal ini, dengan rumah di samping kanan dan kiri tidak begitu terlihat kegiatan disini, saat kami lewat mereka hanya mengintip lewat jendela lalu jika berpapasan mereka menatap sinis kami. “wah wah, pendatang baru lagi, kalian berhasil melewati game kejam itu” hadang seseorang yang menjegat kami
“ siapa kau?” tanyaku
Pria dengan kulit coklat dan rambut yang berantakan membawa senjata itu mendekati ku, “wah wah disini ada 4 orang pria, tapi kau sungguh berani sekali maju dan bertanya” ia semakin mendekatiku
“ apa mau mu?” Alex berdiri di depanku
melihat pria ini terus mendekat ke arahku
Pria itu bersiul lalu datanglah sekawanan orang bersenjata “ serahkan gadis itu, lalu kalian dapat melewati kami” kata pria itu menunjuk ke arah ku
“ huh, kalau begitu angkat saja senjata kalian” Alex menantang
“ HEEI KAU,” bentak pria itu “ kau ini sudah seperti orang yang akan mati jadi jangan besar kepala” lanjutnya, mendengar itu Rachel menjadi sangat geram ia tidak bisa menahan dirinya lagi walau hatinya masih sakit karena ucapan Alex tapi mana bisa ia membiarkan pria kesayangannya itu di sakiti
Rachel melangkah maju
“minggir kalian” kata Rachel dengan nada datar
“kau, lady Rachel, sedang apa kau bersama mereka?” tanya pria itu melihat Rachel
Rachel melangkah lagi semakin mendekati mereka
“ aku bilang menyingkir sekarang juga, atau-,”
“baik baik, kami mundur, maaf kan kami lady” pria itu mencium tangan Rachel tapi segera ditepis olehnya
Akhirnya kami dapat melanjutkan perjalanan “ kau kenal mereka?” selidik Alex, Rachel terus berjalan tanpa menggubris Alex
Bruug
Tubuh Alex terjatuh karena memang ia masih dalam kondisi sakit sekarang, “Alex” Rachel menahan badanya, aku dan yang lain menoleh “ kau tidak apa apa?” tanyaku cemas
“ ya aku hanya sedikit pusing” jawabnya
“ aku hanya tidak pernah meihat orang orang itu disekitarmu” kata Alex
“ kau sudah menyakitiku semalam dengan kata katamu itu, sekarang kau sedang mengkhawatirkanku?”
“ aku, Aa-aah kenapa sa-kit sekali” Alex meringis kesakitan
“ lex bertahanlah” Rachel mulai panik
“ kalian berjalan lebih cepat ikuti aku “
komando Rachel melihat luka Alex yang kembali berdarah “ Arya bopong Alex, nanti kau ikuti aba – abaku untuk bisa menemui adikmu lalu jangan lupa amankan Lisa” bisik Rachel
Kami pun segera mempercepat langkah kami “ lex bertahanlah” gumamku mencemaskan Alex, Rachel menghentikan langkahnya segerombolan orang sepertinya sedang berdemo di depan tembok besar ini, “kita sampai” kata Rachel, kami segera menerobos kekerumunan itu lalu sampai lah kami di depan gerbang ini “apakah ini markas itu?” tanya Lyta, Rachel mengangguk “ bukalah kami dari distrik 4” kata Rachel kepada penjaga di depan gerbang itu
Satu penjaga itu mengangguk lalu membuka akses masuk untuk kami tapi sayangnya Alif dan Kye dicegah oleh salah satu penjaga “ kalian tidak bisa masuk karena menurut data kalian bukanlah distrik4” jelas petugas
“ APA KAU BILANG” bentak Kye
“tapi kami datang bersama mereka dan-,” kaliamat Alif terpotong penjaga
“mundurlah kalian” mendorong Alif dan Kye
“ciih wanita sialan, kenapa dia tidak bilang kita datang bersamanya” emosi kye
“ Kye tenanglah lebih baik kita cari info dulu di sekitar sini” saran Alif
“untuk apa hah?” tanya Kye
“ siapa dia sebenarnya ? dia sangat misterius, kenal dengan perampok tadi tapi ia juga seorang kelinci perobaan di hutan kemarin dan sekarang ia bisa dengan mudah masuk kedalam markas ini padahal ia juga bukan anggota distrik 4” fikir Alif
“aku butuh informasi tentang wanita bernama Rachel itu, cepatlah” Alif menarik lengan Kye
Sesampainya didalam aku dan yang lain tidak sadar kalau Alif tidak ada bersama kami, sungguh pemandangan luar biasa di dalam markas I.V.V ini seperti tempat yang berbeda dari luar sana, gedung tinggi menghiasinya dengan jalan aspal dan kereta layang, ini seperti kota masa depan saja. Disaat yang lain berjuang di luar sana melawan ketakutan menghadapi wabah dan harus berjuang hidup mereka disini hidup dengan layak dan aman.
Didalam sudah ada petugas yang menunggu kami, Rachel berbicara dengan mereka lalu mereka segera mengarahkan Lyta terlebih dahulu menaiki sebuah kendaraan, setelah itu Arya menyerahkan Alex pada petugas lainnya mereka membawa Alex, aku dan Arya juga Rachel menggunakan mini bus ke suatu gedung tinggi di kota markas ini “ kita akan kemana sebenarnya?” bisiku pada Arya “ tenanglah dia akan membawa kita ketempat aman” kata Arya
Aku dan Arya berjalan di belakang Rachel dan Alex yang sudah di naikan ke tempat tidur pasien kami melewati lorong lorong putih dan saat Rachel mengangkat tangannya Arya menghentikan langkahku “tunggu disini” tahan Arya,
Aku melihat Alex yang terus di bawa oleh Rachel “ tapi Alex mau dibawa kemana” lagi lagi langkahku ditahan oleh Arya “ kau ini kenapa?” kataku menatap Arya penuh tanda tanya sebenarnya ada apa dengan mereka. Tidak lama kemudian dari kejauhan terlihat seorang gadis menghampiri kami di temani oleh 2 penjaga lainya “ Luna” gumam Arya menatap dalam gadis itu, aku yang masih tidak tahu apa apa hanya bisa terdiam dan bertanya dalam fikiranku
Gadis itu sepertinya tidak jauh umurnya dengan adikku yang pertama Rizki namanya kisaran umur 18 tahunan sepertinya, ia langsung berlari begitu melihat Arya “ kakaa” teriaknya “ kakaak?” tanyaku dalam hati. Arya menyambut hangat adiknya dengan pelukan erat “ kau baik baik saja Luna” Arya memastikan “ iya” singkat gadis yang bernama Luna itu
Aku yang sedang terharu melihat kebersamaan mereka tiba – tiba di tarik oleh kedua penjaga itu “ hei lepaskan aku, Arya tolong aku” kataku dengan polosnya “ ayo Luna kita pergi” Arya menatapku dengan tatapan sendu dia meninggalkanku begitu saja “ sial, Arya apa yang kau lakukan hah, ARYAAA” aku teriak dan meronta – ronta berusaha melepaskan diri tapi apalah dayaku ini dengan sisa tenaga yang ada aku tak dapat lepas dari penjaga ini. Aku terus di seret hingga dimasukkan kedalam ruangan semua isi gedung ini berwarna putih seperti menandakan steril dan bersih, dalam ruangan itu terdapat tempat tidur layaknya pasien dan beberpa lampu serta toliet dengan kaca besar di yang mengarah ke lorong “ masuklah” petugas itu mendorongku
“ apa yang sebenarnya terjadi” aku melihat sekeliling ruangan itu, lalu aku baru sadar jika Arya menukarku dengan adiknya, aku terduduk di lantai dan manatap lantai ruangan itu sembari terlintas perjalananku selama ini bersama distrik 4 dan sekarang aku berakhir di sini, di khianati oleh kawanku sendiri seklias ucapan Alif terlintas membuatku tak bisa menahan tangis “ dalam kondisi seperti ini kawan dapat menjadi lawan dan sebaliknya, jangan kira kawanmu tidak dapat menyakitimu” itu yang terlintas dan terngiang ngiang di kepalaku
“ AAAAA, huaaa” aku memukul mukul lantai menangis sejadi jadinya “ kenapa kalian meninggalkanku, hiks” kataku dengan tersedu sedu “ Aleex, aku takuut” nadaku semakin rendah penglihatanku mulai kabur lalu semua menjadi gelap.