DIE Or LIFE

DIE Or LIFE
episode 21 perjalanan ke markas



Liam mencoba membopongku sekuat tenaga membawaku lari dari kerumunan Kroon itu, sambil mengayunkan pedangnya untuk menebas Kroon yang meloncat agresif ke arah kami, Alex datang menembaki Kroon itu hingga terdengar


DUAR


bukan dari senapan Alex peluru itu tepat mengenai punggung Liam, "Liam" Alex dengan sigap menghadang Kroon itu dengan terus menembaki mereka Brug tubuh Liam terduduk aku berusaha menahannya, "Liam kau tertembak" aku melihat ke arah belakang mencoba mencari siapa penembak itu, dan ternyata itu Jaky yang tengah di digigiti Kroon masih sempat nya ia menembak seseorang dalam kondisi seperti itu " aku tidak akan mati sendirian" kata Jaky dengan suara berat berlumuran darah


Kwrrkk


Kwrrk


suara itu menikmati tubuh Jaky, sungguh menjijikan dan mengerikan. "Liam kau harus bertahan" ku coba menguatkan diri, berusaha membantu Liam tapi apalah daya tubuhku sudah tidak mau mendengarkanku karena aku memaksakam diri berlari dengan kondisi efek vase perubahan masih ku rasakan, " pergi Lisa, Lari!" mulut Liam mulai mengeluarkan darah karena tembakan itu, ia beridiri mencoba menguatkan kakinya lalu berlari menghadang dan mengalihkan perhatian Kroon itu dengan mengorbankan tubuhnya,


"AAAAARGHH" Liam menghadang Kroon itu


Alex kaget bukan main


"APA YANG KAU LAKUKAN" teriak Alex,


"LIAAAM" teriaku


" Alex bawa Lisa pergi dari sini cepat, aku tidak bisa menahannya terlalu lama" kata Liam


Kwrkk, Liam tergigit di bahunya " Aaa, cepatlah"


Alex mengepalkan tangan segera menggendongku agar lebih cepat kami berlari, "ayo Lisa" Alex menggendongku lalu menengok kembali ke arah Liam "tidak Alex Liam, bagaimana?" aku berontak, " CEPAAAT, LARII" teriak Liam


Alex meneteskan air matanya sebelum sempat berbalik berlari menjauhi Kroon itu dan meninggalkan Liam,


DUAR


satu tembakan lepas lagi dari Jaky, kini mengenai dada kanan Alex langkah Alex sempat melambat namun ia menguatkan tenaga membawaku lari secepat mungkin " kenapa kau kembali hanya untuk membawaku" aku mencoba menahan darahnya yang semakin banyak keluar dengan tangan kiriku mataku berkaca kaca, " hah,, hah, kau berat juga ya" Alex tersenyum dengan matanya yang sudah mulai sayu dan sesekali meringis, dalam kondisi seperti ini dia masih saja seperti itu


"ALEEX" teriak Rachel melihat kami datang


Arya berlari menghampiri Alex dan aku ia menyadari jika Alex terluka, Lyta membantuku berjalan "dimana Liam?" tanya Lyta, aku hanya bisa tertunduk lemas


Arya mencoba memapah Alex yang terluka


"buka gerbang sekarang" teriak Ali


Rachel menscane barcode yang ada pada pergelangan tangannya, bep "kode tidak terdeteksi" kata mesin scane itu


" apa, kenapa tidak bisa" Rachel kebingungan,


Kwrkk


Kwrkk


"CEPATLAH MEREKA SEMAKIN DEKAT" teriak Kye


DUAR


DUAR


Kye dan Alif menembaki Kroon itu untuk mengulur waktu, "coba kau bersihkan tanganmu takutnya kotor" saran Lyta


Rachel mengelap pergelanganya dengan cepat menggunakan bajunya, Rachel mencoba kembali


bep " kode diterima"


"sudah, ayo cepat" kata Lyta


semua memasuki gerbang lalu Alif dan Kye yang terakhir, jarak Kroon itu hanya tinggal 4 meter lagi dari mereka, "bagaiamana menutup gerbangnya?" Rachel panik, Kye menarik tangan Rachel lalu menscane kembali barcode nya kemudian gerbang nya tertutup kembali


KWERRK


telat saja beberapa menit mungkin Kroon itu akan bisa mengejar kami karena gerbangnya tidak tertutup, Kroon itu hanya bisa meraung raung di luar gerbang sekarang.


Rachel mencoba menekan pendarahan pada bahu Alex "AAAA" Alex kesakitan, Lyta menangis termenung melihat Liam di luar gerbang yang sudah menjadi bagian dari monster Kroon itu, melihat darah segar terus mengalir di luka nya membuatku sangat ketakutan dan phobiaku terhadap darah sangat menyebalkan karena melihat darah yang banyak seperti itu membuatku terkulay lemas dan hanya bisa menangis menatap Alex yang kesakitan ,


Alex mengangkat tangan kirinya menutupi mataku, "jangan dilihat" Alex mencoba agar aku tidak melihat kondisinya yang terus bercucuran darah, aku menurunkan tanganya " maaf aku selalu membuat kau dan yang lain dalam kesulitan, aku-," Lisa tersedu menangis "Ssst.., kau terlalu banyak menangis hari ini" suara lemah Alex


tanganku bergetar melihat darah Alex yang terus mengalir memenuhi tangan Rachel yang menahan pendarahan pada bahu Alex "Lisa tutup matamu" Alex menggenggam tanganku yang bergemetar, Alex sedang dalam kondisi dimana ia sedang merasakan sakit tapi masih berusaha menenangkanku,Aku memenjamkan mataku.


"kau ini bodoh Alex, kenapa gadis lemah ini yang kau pilih menjadi penggantiku hah" fikir Rachel,


"Lyta, bisa kau bantu aku " teriak Rachel, Lyta tersadar dari lamunannya mencoba mengusap air matanya lalu menghampiri Rachel


"kau punya pinset, obat bius, perban?" Rachel masih menahan pendarahan Alex dengan tangannya


" aku hanya memiliki pinset " jawab Lyta


"baiklah, Arya mungkin ini akan sangat sakit jadi kau tahan ya" Rachel membuka tangannya dari luka Alex, "Arya pegangi dia"insturksi Rachel lagi


Alif juga mencoba menahan Alex agar tidak berontak saat pelurunya diambil "aku bantu" Alif mencoba menahan sisi kanan, "kita mulai" Rachel memberi kode


Tubuh Alex meronta kesakitan Arya dan Alif mencoba untuk menahan agar tubuhnya tidak berguncang karena akan menyulitkan Rachel untuk mengambil peluru di dalam tubuhnya, “kau bisa membedah?” Lyta memastikan. Rachel mulai menusuk luka dengan pinset untuk mengambil pelurunya “ tenang saja aku biasa dengan hal ini” Rachel menjawab


“aku memang biasa dengan hal ini tapi rasanya berbeda dengan membedah tubuh Alex, aku takut kehillangannya aku bahkan sebenarnya takut sekali jika salah mengambil tindakan” batin Rachel berkecamuk


Kwwrkk


Kwrkk


“iiissh Kye bisa kau buat mereka diam” teriak Alif


Kye menatap para Kroon itu “aku tidak bisa membuat mereka diam, tapi” kye mengambil batu melilitkannya dengan Rumput kering ia gosokan batu itu dengan jalan aspal disana, batu itu terbakar lalu kye tendang batu itu ke arah hutan


Kwrkk


Kwwrk


Kroon dengan jumlah yang sangat banyak itu berhamburan kembali ke dalam hutan mengikuti batu yang di tendang oleh Kye, Rachel masih mencoba fokus untuk mengambil pelurunya “sakiit Aaa, hah hah,,” keringat membanjiri tubuh Alex peluru itu sudah berhasil di keluarkan


“kita tidak punya perban” kataku


Bruueek


Rachel merobek dres nya untuk menutupi luka Alex “Ssst tenanglah bernapaslah perlahan, sudah selesai kau bisa istirahat” Rachel menenangkan Alex dengan lembut sembari menutupi lukanya “terimakasih” mata mereka saling bertemu melihat itu membuatku merasa sangat tidak berguna dan hanya bisa membuat Alex selalu dalam kesulitan.


“ sudah selesai, kita harus temukan tempat istirahat sekarang” kata Rachel


“ya, sepertinya disini tidak ada kroon jadi kita bisa sedikit santai” sahut Arya


aku tertunduk, Alex yang masih mengatur napas nya masih menggenggam tanganku "hey, tidak apa sudah selesai Lisa" suara nya lemah, aku melepaskan genggaman Alex dan berdiri


" kau bodoh" masih tertunduk


"HEI, apa maksudmu dia sudah berkorban nyawa hanya untuk gadis lemah sepertimu" bentak Rachel,


" makanya aku bilang dia bodoh, untuk apa dia membahayakan dirinya hanya untuk gadis lemah sepertiku" aku membalas membentak


Alex mencoba duduk ia menatapku tapi aku tidak mau menatap matanya karena rasa bersalah ini, " karena gadis yang lemah itu adalah penyelamat sekaligus orang yang ku sayang" tegas Alex,


"cih, Alex benar kata dia kau ini bodoh memilih gadis lemah sepertinya" sinis Rachel


"Rachel aku baru saja berterimakasih dan menghargaimu, jadi tolong jangan buat aku kembali memandangmu dengan pandangan yang buruk lagi" tegur Alex


Rachel memalingkan wajah, aku pergi tanpa berkata kata lagi, kami terduduk beberapa saat dengan posisi agak berjauhan


Rachel terlihat selalu siaga menjaga Alex, Lyta terus termenung memikirkan Liam, Arya mencoba berkeliling tempat sekitar mencari tahu sesutu atau mungkin mendapatkan sedikit makanan,


" Lisa kau jangan terlalu menyalahkan dirimu" Alif yang duduk disebelahku membuka mulutnya


" kau ini kenapa , hanya hitungan jam kau bisa so dekat dan menasehatiku padahal beberapa jam lalu kau ini hampir membunuhku bukan" mataku melirik sinis


" maaf soal itu, tapi aku memang tidak tahu jika kau ada didistrik yang akan ku serang, aku pun tidak berniat menembakmu" Alif menangkat bahunya


"terserah saja, benar katamu dalam situasi ini semua bisa berubah dalam sekejap bahkan kawan bisa menjadi lawan atau sebaliknya" kataku


"ya, dan kawan seperjuangan juga bisa menjadi pasangan" celetuk Alif


aku melirik Alif dengan wajah yang mengatakan "apa maksudmu", Alif tertawa kecil "kau ini dari dulu memang tidak pernah peka, Alex itu menyukaimu" senyumnya lebar


kini aku terdiam memandangi tanah dibawah


" aku tidak bisa menanggung perasaan sepertu itu, terlalu berat dalam kondisi seperti ini" jelasku


" yah, kau pasti juga sudah menyukainya makanya kau takut kehilangannya apalagi jika untuk berkorban menyelamatkanmu bukan" sahut Alif


" aku jadi teringat dulu kau menabraku lalu buku yang kau bawa terjatuh semua ke lantai, aku mencoba membantu kita saling menatap dan-,"


"hey hey, hentikan aku geli mendengarnya" aku tertawa kecil


kami tertawa dengan mengingat masa lalu di sekolah dulu, Alex yang memperhatikanku tersenyum melihatku tertawa


" kau lihat dia tertawa dengan pria lain sedangkan kau disini terluka karena menyelamatkannya, kenapa kau tersenyum?" hasut Rachel


" aku tahu dia marah karena mengkhawatirkanku, dia takut kehilanganku hanya saja dia tidak mau menunjukan perasaannya padaku, entah apa sebabnya" jawab Alex


Rachel mencoba tersenyum walau hatinya panas melihat Alex begitu tulus menyayangi Lisa " baiklah, terserah saja"


aku menghampiri Lyta, "Lyta, kau baik baik saja? "


"Liam , Liam sudah" suaranya bergetar menundukan wajah


" Lyta aku juga sangat sedih, dia rela mati padahal sedikit lagi kita berhasil menuju markas" tangis ku lagi lagi pecah begitu juga dengan Lyta, berusaha menengakan Lyta


" Lyta janji padaku kau tidak akan meninggalkanku oke, kau lebih dari sahabat kau sudah ku anggap sebagai saudara perempuanku" kataku


" Lisa terimakasih, sejak aku mengenalmu kau selalu menjadi saudaraku bukan sekedar sahabat, kau selalu menenangkanku di kala aku rindu dengan kedua orangtuaku dulu" pipi Lyta basah oleh air mata


"sudah Lyta, kita harus tetap semangat siapa tahu orangtua asli dan angkatmu berada di markas bukan" aku mencoba menyemangati


Lyta mengangguk.