
“ mah aku melihat dia-“ kalimat Rara terpotong karena suara dering ponsel milik
“ halo, dengan Hanna” lalu Hanna menjauh dari Alan dan Rara untuk menerima telepon itu
“ kau lihat kan bahkan dia tidak mendengarkan ku bicara” ketus Rara pada Alan
“Ra mungkin saja itu penting” jawab Alan
“ ya lebih penting dariku” Rara cemberut
Hanna nampak masuk ke kamar karena ia menerima telepon dari Letnan “ apa ada yang darurat ? hingga kau menghubungi ku secara langsung?” tanya Hanna
“ benar, tapi aku tidak bisa menjelaskannya di telepon aku minta kau pergi ke wilayah timur ada anak buahku yang akan mengantarmu”
“apa? Tunggu aku tahu ini mungkin darurat tapi aku sedang ada masalah di rumah apa mungkin aku harus kesana?”
“ Hanna tenaga medis yang ku percaya saat ini hanya kau aku tidak bisa meminta yang lain karena ..” Alex terdiam
“karena apa?” tanya Hanna
“karena itu aku akan menjelaskannya di sini secara langsung jika kau menjelaskan di telepon sekarang ada kemungkinan disadap dan ini akan bocor kemana – mana “
Hanna nampak menepak jidat “ apalagi ini” pikirnya
“ bagaimana aku bisa menghadapi Rara sekarang” gumamnya
“ maafkan aku Hanna tapi aku hanya bisa percaya pada mu sekarang, maafkan aku sudah membuat mu kehilangan banyak waktu dengan Rara”
“aku mengerti”
Hanna menutup teleponnya ia mencoba membicarkannya pada Rara namun respon Rara hanya diam dan pergi ke kamarnya. Hanna nampak sedih dan berat meninggalkan Rara lalu ia mencoba menghubungi Ben dan memberi tahu jika ia akan pergi ke wilayah timur namun Hanna tidak ingin Ben memberi tahu siapapun jika ia pergi kesana ia hanya meminta Ben untuk sering pulang kerumah melihat Rara
****
Dikala Alex yang tengah sibuk mengurusi pedagang yang terinveksi dengan virus yang belum terdeteksi Lisa tengah terbaring lemah menatap langit kamarnya “membosankan” gumamnya
Ia melihat keluar jendela daun – daun berjatuhan dan terhembus angin “bahkan kalian pun sudah ditakdirkan kapan saatnya jatuh dari pohon itu ya” gumamnya lagi.
Lisa merasa mengingat sesuatu ia seperti pernah berada dalam posisi daun – daun itu sekarat saat jatuh dari pohonnya
Ngiing..
Kepalanya sakit, Lisa mengingat memori dimana ia tertembak di tower vaksin lima tahun yang lalu “apa itu” iya memegangi dadanya yang terasa sakit tepat dimana ia tertembak “sakit, kenapa terasa sakit” ia mencoba mengatur napasnya yang tersengal lalu ia jatuh di lantai kamarnya tidak sadarkan diri.
Di dalam kamarnya Rara bersiap pergi ia mengemas apa saja yang ia butuhkan di perjalanan nanti “ jika kalian menginginkannya aku akan membawanya kemari agar kalian tidak mengabaikan ku lagi” air matanya menetes
Alan mencoba berbicara ia berusaha masuk ke kamar nya Rara namun tidak ada sahutan balik dari Rara, “ Hanna bagaimana caramu membujuk nya agar mau membuka pintu?” kata Alan
“bairkan beberapa menit dulu setelah itu dia akan luluh” jawab Hanna yang tengah mengemasi barangnya
“apa kau akan pergi jauh?”
“hm.. aku titip putriku ya, ayahnya akan sering pulang sekarang. dia akan mengunjungi Rara dia akhir pekan” Hanna menggendong tasnya
“tunggu Hanna, jangan bilang tadi kau menelpon Ben karena kalian akan..” Alan menatap mata Hanna ia khawatir jika mereka sedang tidak baik baik saja
“akan apa?”
“ kau tidak akan berpisah kan?”
Alan menghela napas “baiklah hati – hati “
Hanna mengangguk “oh iya jangan lupa kunjungi Lyta suruh ia kembali kemari ya”
Alan mengangguk melambaikan tangan pada Hanna.
Alan menghela napas lagi “bagaimana kau bisa kepulau itu kondisinya saat ini tidak memungkinkan” gumamnya
“kenapa tidak memungkinkan? Kita berangkat saja sekarang” sahut Rara dari belakang
Alan nampak kaget karena Rara tiba – tiba bicara dari belakang “ lupakan, kau harus makan sekarang”
“tidak aku tidak mau” Rara bersiap berlari lagi kekamarnya namun Alan lebih cepat sekarang ia menangkap Hanna dan menggendongnya ke meja makan
“jangan nakal, aku tidak selembut Lyta dan ibumu” datar Alan ia memberikan makanan pada Rara
“tersreah” Rara membuang muka
“sepertinya aku harus menjemput Lyta” pikir Alan
Di kamar Lisa ia terbangun dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit ia mendapati dirinya di lantai “lagi– lagi seperti ini”
Seseorang mengetuk pintu
“ masuk” sahut Lisa
Seorang perawat masuk “ ini makan malam mu dan ini obat mu ya” perawat itu nampak berdiri ia tidak pergi setelah memberi makana dan obat – obatan, Lisa nampak heran ia menyuruh perawat itu untuk pergi namun perawat itu tidak mau karena sebelumnya ia mendapati obat yang seharusnya Lisa minum berada di tempat sampah jadi kali ini ia akan mengawasi Lisa agar tidak membuang obatnya
Lia menghabiskan makan malamnya lalu meminum obat itu “puas?” sinis Lisa
Perawat itu kemudian pergi lalu Lisa memuntahkan pil yang diberi ternyata Lisa menaruh pil itu dibawa lidahnya dan berpura – pura menelannya ia curiga pil ini atau obat bius itu yang membuat ingatannya melemah maka Lisa sengaja mencoba tidakmenelan pil itu lagi.
Hanna yang sudah sampai di wilayah timur ia segera menemui Alex untuk mendapat keterangan sebenarnya apa yang tengah terjadi. Mereka berbincang di ruangan bekas rapat sebelumnya Alex dan Arya menjelaskan apa yang terjadi pada pedagang yang terkena serangan kroon saat membawa barang dagangan untuk penduduk wilayah timur yang tengah krisis saat itu
Hanna terdiam ia mencoba mencerna semua yang di katakana oleh Alex dan Arya “jadi intinya kalian ingin aku mencoba menemukan dan memecahkan apa yang sebenarnya terjadi pada pedangan itu?” tanya Hanna
Arya mengangguk, “ juga aku tidak bisa sepenuhnya percaya pada peneliti dan dokter yang ada disini maka dari itu aku memintamu untuk tetap mengawasi disini” jelas Alex
Hanna mengangguk dan mencoba membantu sebisa dan semampu nya, “ aku ingin melihat kondisi pasein” kata Hanna
“ baiklah” Arya dan Alex menunjukan pedagang yang terjangkit
Pasien itu sedang mengamuk dan mencoba memecahkan diding disekitarnya yang terbuat dari kaca yang tebal
“gejala ini bukankah sudah jelas KV19?”
“ kami mengira seperti itu awalnya tapi ternyata ini lebih kompleks” jelas Alex
“ kompleks?”
“hm… lebih parah dan lebih sulit, sel dan apalah itu mereka bilang ini lebih rumit dan virusnya juga berbeda dengan KV19”
“aku butuh akses untuk bisa masuk ke lab mereka” kata Hanna
“ kau bebas masuk kesana, Arya akan mengurus id dan identitasmu selama disini”