
Rencana kami hancur Arya dan Ben hilang lalu disusul oleh Alif dan Alan kini tinggal aku dan Luna tapi aku bingung harus bagaimana, akhirnya kami memutuskan sembunyi di pepohonan dekat sungai, sepanjang perjalanan kami sejak awal tidak menemukan Kroon tapi lebih buruk lagi yaitu para bedebah yang mencoba menangkap kami, kapan dunia akan berhenti menjadi sesulit ini, aku sudah tidak sanggup dan tidak terasa air mataku mengalir begitu saja, Luna yang melihatku pun ikut menangis “ ka, sudah tidak ada harapan lagi bagaimana jika mati saja” kata Luna, aku menoleh dan menatap tajam Luna “ dengarkan walau kau menyerah dengan apa yang kau lalui jangan pernah menyerah pada dirimu sendiri apapun itu jika kau memilih menyerah maka tetaplah jaga dirimu untuk tetap hidup”
“ untuk apa aku hidup jika sendirian, cukup saat aku menjadi kelinci percobaan mereka aku berpisah dengan kakakku jika bukan karena Alan yang selalu ada untukku saat itu mungkin aku juga sudah mengakhiri hidupku” nampak wajah frustasi terlihat dari Luna
“ Luna kau harus tetap hidup” kataku dengan suara lemah
Luna melihat darah di perut bagian kananku “ka Lisa kau terluka” katanya
“ benarkah?, sepertinya tergores saat bertarung tadi, tidak apa – apa ini hanya tergores” aku berusaha tersenyum
Tiba – tiba ada seseorang yang menyekap Luna dari belakang dengan obat bius, aku yang tengah lemah karena luka tusuk akibat melawan para pembunuh bayaran tadi hanya bisa melihat dengan pandangan yang buram lalu terlelap.
Alex yang mendapati kabar jika pemilik imun sudah tertangkap beserta para pemberontak yang ditemukan tewas di hutan membuat nya syok dan emosi berat, ia mendatangi Komandan di rumahnya saat baru sampai ia melihat Komandan yang pergi dengan beberapa pengawalnya dengan tergesa – gesa, Alex pun mengikuti kakeknya itu karena tidak tahan lagi dengan semua kekacauan ini Alex mengikutinya terus hingga sampai di sebuah ruamah mewah “ rumah siapa ini” gumamnya,
Lalu terlihat Komandan yang turun dari mobilnya dan masuk kerumah itu , Alex mencari cara agar tidak dicurigai masuk kedalam rumah itu, ia diam – diam memukul salah satu pengawal milik kakeknya lalu bertukar baju dengannya lantas masuk kedalam tanpa dicurigai siapapun dan mencoba bersikap normal dengan terus berjalan mengikuti Komandan.
Komandan memasuki suatu ruangan di rumah itu, Alex membukakan sedikit pintunya agar terdengar lebih jelas dan dapat mengintip apa yang terjadi di dalam ruangan itu
Komandan pun duduk di sebuah sofa, dengan seorang pria yang sedang menatap keluar jendela “ terimakasih Komandan informasimu sangat membantu” pria itu berbalik dan betapa terkejutnya Alex mengetahui orang yang sedang bersama Komandan adalah Letnan “apa ini” gumam Alex, Letnan memberi hormatnya pada Komandan “ kau sudah mendapatkannya jadi berikan apa yang kau janjikan” Komandan pun berdiri lalu pergi, Alex segera bersembunyi dibalik tiang tembok yang ada disana dengan tangan gemetar.
Mengetahui apa yang terjadi padahal ia baru saja mau mengadu pada kakeknya itu dan menangis si pelukannya tapi ternyata rasa sakit itu berasal dari kakeknya sendiri kejadian yang hampir satu tahun berlalu itu kini terulang lagi, ia tak lagi bisa menahan air matanya basah pipinya karena itu, dengan mata merah penuh emosi ia menyusul Komandan memastikan apa yang sebenarnya terjadi, namun sebelum itu ia melihat Rachel yang tengah berjalan memasuki suatu ruangan karena emosi dan berfikir jika Rachel juga dalang dari semua ini
BRUUGH
Alex membuka pintu dengan kencang sontak Rachel yang tengah duduk menikmati minumannya terkejut “ Alex, sedang apa kau disini?” tanyanya
Alex menghampiri Rachel dengan tatapan kebencian lalu mencekiknya “ kau, apa lagi yang kau perbuat dengan ayahmu?” kata Alex menatap galak
“aak-a- Alex a-ku ti-dak” kata Rachel dengan terbata – bata karena lehernya dicengkram kuat oleh Alex
Mendengar suara keributan Letnan pun datang dan menendang Alex “ jangan kau sentuh putriku” bentaknya
“haaah-haah, papah sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Rachel dengan nafas tersengal
“ kalian memang bukan MANUSIAAA!!” bentak Alex
“ hah, hahahaha jika kau mengutuku atas perbuatanku lantas bagaiaman dengan kakekmu?” senyum Licik Letnan
Rachel yang kebingungan atas apa yang terjadi berteriak “ JELASKAN PADAKU”
Alex berdiri “ tidak cukupkah kalian membunuh ibu dan ayahku, kini kalian juga membunuh teman – teman dan kekasihku”
“ anak malang, itulah bayaranmu karena kau sudah menyakiti putriku” kata Letnan
Rachel tercengan ia tidak menduga jika Lisa dan yang lainnya sudah mati “ apakah benar mereka sudah tiada”
“ yah, dan kita bisa memulai menyempurnakan vaksin lalu disebarkan ke sebagian bumi ini” jelas Komandan
Alex pun mengambil vas yang ada disana ia melemparnya ke arah Komandan ‘TRAANG’ lengan Komandan terluka, kemudian Alex pergi “ aku akan membunuhmu, tidak, aku akan menyiksamu dengan membunuh orang – orang terkasih mu lalu menghabisimu” senyum menakutkan Alex
Mendengar itu Rachel terduduk lemas dan gemetar “ kau takut dengan ancamannya? Bukankah kau sudah sering membunuh seseorang?” tanya Letnan
“ kau yang membuat dosa dan kau yang membuat kesalahan kenapa harus aku yang MENANGGUNG BEBAN DAN AKIBATNYA!!” bentak Rachel
Datang seseorang yang tidak lain adalah pelayan Letnan “ tuan, tuan muda Alan baru saja datang” kata si pelayan
Letnan pun pergi “ tidurlah, kau harus bisa menang dalam melawannya singkirkan perasaan pribadimu yang tidak berguna itu”
Letnan pun pergi untuk melihat kondisi Alan yang sudah ada diruang kerjanya, kedua tangannya diikat “ mana anak sialan itu” kata Letnan masuk keruang kerjanya, Letnan menatap Alan dan Alan menatapnya dengan tatapan tajam juga kecewa “ berani kau menatapku setelah apa yang kau lakukan” Letnan mengambil pedang nya mengarahkan pedang itu pada anaknya
“ PENGKHIANAAT” teriak Letnan ‘Sriing’ ia menebas rambut Alan, Alan yang memjamkan matanya heran kenapa ia tidak merasakan sakit lalu ia membuka matanya “ kenapa ayah, lakukan saja, TEBAS AKU” bentak Alan
“ ANAK KURANG HAJAR, kau sudah membuatku malu didepan semua dewan sekarang kau minta aku untuk menebasmu, kau benar – benar sudah kehilangan fikiranmu” Letnan bersiap untuk menebas Alan
Dengan kuda – kuda nya lalu saat pedang itu diayunkan kearah Alan Rachle menerobos masuk dan menghadang pedang itu “ BUNUH SAJA AKU” teriaknya
Letnan hampir menebasnya “ APA YANG KAU LAKUKAN” bentak Letnan, “ apa kau mau mati?” lanjutnya
“ yah, lebih baik kau bunuh saja aku terlebih dahulu, aku sudah muak melihat perangaimu dan kau tidak pantas ku sebut Ayah” tegas Rachel dengan mata merah berkaca – kaca
“ kakak, menyingkirlah nanti kau yang terluka” sahut Alan
Letnan menurunkan pedangnya ia memerintahkan pelayan untuk membawa Rachel kekamarnya, hari semakin sore menjelang malam. Alex yang mengejar kendaraan Komandan terhenti karena kemacetan yang ada di depan gedung pusat I.V.V terlihat mobil ambulance yang mendorong dua orang pasien dan itu adalah Lisa dan Luna, Alex turun dari motornya ia meninggalkan nya begitu saja di pinggir jalan “ LISAAA” teriaknya berusaha menerobos keamanan gedung itu “ MENYINGKIR KALIAN” bentak Alex pada petugas yang menghadangnya
Melihat Alex yang ada di depan gedung pusat, Komandan turun dan melerainya “ biar aku yang tangani” kata Komandan pada petugas
“ nak tenanglah dulu” kata Komandan
Alex menepis tangan Komandan “jangan menggunakan topengmu lagi dihadapanku” ketus Alex
Komandan terdiam ia hanya menatap cucunya itu , “ kau sudah tahu rupanya” batin Komandan.
Alex pun pergi dengan motornya kini hanya Lyta yang dapat Alex andalkan untuk membantunya, ia pergi dengan memotong jalan ke rumah Hanna, Komandan terlihat pucat mengetahui jika Alex sudah tahu semua yang ia lakukan “ maafkan aku, aku terpaksa” gumam Komandan
Hujan mengguyur kota di pulau itu, bagaikan turut menangis melihat usaha kami yang hancur tapi ini belum berakhir karena masih ada kesempatan untuk merubah sistem penyebaran gas vaksin itu secara menyeluruh ke seluruh penjuru bumi, sesampainya di ruamah Hanna, Alex turun dari motornya berjalan ditengah derasnya hujan langkahnya lemah seakan habis disambar petir mengetahui kelakuan Kakeknya selama ini, dengan langkah sempoyongan ia sampai di depan rumah Hanna mengetuk pintu itu dengan perlahan, terdengar oleh Hanna yang sedang menidurkan Rara “ siapa ya, bukankah Lyta ada dikamarnya” gumam Hanna sembari berjalan kedepan untuk membukakan pintu
Hanna terkejut melihat seorang pria yang basah kuyup dengan mata sembab merah berada di depan rumahnya “ siapa kau, bukankah ini rumah Lyta?” tanyanya dengan suara serak
“ yah ini juga rumah Lyta dia tinggal bersamaku, siapa kau?” jawab Hanna
“ aku perlu bertemu dengannya” kata Alex
“ Lyta, ada yang mencarimu, masuklah” sambut Hanna
Lyta yang mendengar teriakan Hanna bergegas keluar kamar padahal ia baru saja akan pergi lewat jendela untuk menyelidiki kabar terbaru tentang teman – temannya, melihat Alex di depan pintu ia terlejut “ Alex ada apa denganmu, kenapa kemari?” , Alex yang tak bergeming dari tempatnya walau sudah ditawari masuk oleh Hanna menangis “ Lyta, aku harus bagaimana” katanya
“ ada apa, kenapa kau menangis seperti itu” Lyta menariknya masuk kedalam
Hanna membuatkan minuman hangat untuknya, “ Alex katakan padaku yang jelas, ada apa?, kenapa kondisimu sangat buruk seperti ini?, apa kau bertengkar dengan Komandan?”Lyta bertanya tanpa henti
“ Lyta biarkan dia memilih yang mana pertanyaanmu yang harus dia jawab” kata Hanna
“ maaf aku terlalu banyak bertanya ya”
Alex menatap Lyta “ Lisa dan Luna sudah ada di sini”
Mata Lyta menunjukan bahwa ia terkejut bukan main “ apa, lalu dimana mereka?, kenapa tidak kemari”
“ semua teman kita sudah ditangkap entah mereka masih hidup atau sudah mati, yang aku tahu hanya Lisa dan Luna yang dibawa ke gedung pusat I.V.V, aku melihat tangan Lisa yang berlumuran darah” Alex meremas rambutnya
Mendengar itu Hanna yang berdiri di dapur tak jauh dari ruang tamu berlari menghampiri Alex “ bagaimana dengan suamiku, dimana dia?” panik Hanna
“ aku juga tidak tahu dia dimana selain Lisa dan Luna aku tidak tahu yang lainnya” jawab Alex
Lyta menutup wajahnya ia menangis Alex merangkulnya untuk menenangkan Lyta “ aku sudah memperingatkan Komandan soal ini, dia hanya menyuruhku untuk diam dan terus menyelidiki” kata Lyta
Alex melepas pelukannya mukanya semakin pucat saat hendak memberitahu jika Komandan yang ada dibalik semua itu “ Lyta kau boleh pukul aku bahkan membunuhku terserah kau” sahut Alex
“ KAU INI BICARA APA HAH, SADAR ALEX KITA HARUS MENYELAMATKAN MEREKA!!!” bentak Lyta
“ BAGAIMANA AKU BISA, SAAT KOMANDAN SENDIRI YANG ADA DI BALIK INI SEMUA!!” bentak Alex
“apa kau bilang” Lyta berdiri tidak percaya dengan apa yang Alex katakan
Hanna menutup mulut tidak percaya, “ yah dia melakukan hal yang sama padaku seperti satu tahun yang lalu, dia membantu Lentan melenyapkan ibuku dan ayahku sekarang dia mengambil Lisa dariku dan membunuh teman – temanku” tangis Alex pecah lagi
“ BIADAAAB, AAAARGH” Lyta mengamuk ia memukuli Alex tapi Alex hanya pasrah
Melihat itu Hanna menahan Lyta “ LYTA sadarlah, ini bukan kesalahannya”
“ biar saja jika Alex mati, Komandan akan merasakan apa yang aku dan kau rasakan Hanna!!” emosi Lyta yang terus berontak dari Hanna
“ Lyta dia juga terluka, dia juga dibohongi bahkan ini yang keduakalinya untuk Alex apa kau tidak mengerti!!” bentak Hanna
Lyta terdiam baru kali ini ia melihat Hanna marah, Alex yang tak sadarkan diri karena bertubi – tubi di pukuli oleh Lyta menggunakan pedang kayu yang Lyta ambil di meja tak jauh darinya
“ cukup Lyta aku juga kehilangan Ben, kita semua sakit disini jangan seperti itu Lyta” tangis Hanna memeluk Lyta
Lyta terduduk dilantai “ aku sudah kehilangan keluargaku bahkan sedari kecil aku tidak pernah tahu wajah ayahku, ibuku pun tak mau mengrusiku aku hanya tinggal bersama keluarga angkatku tapi aku sudah menganggap mereka sebagai keluarga asliku, mereka lenyap karena pandemi ini mereka mati, dan kini hanya Lisa yang aku punya dia sahabatku Hanna,, bahkan dia bukah sekedar sahabtku dia kakakku aku hanya ingin dia hidup dan selamat” tangis Lyta semakin keras
Hanna terus memeluknya mencoba menenangkannya “ anak yang malang, kau harus kuat Lyta” batin Hanna yang juga menangis.