
Setelah berhasil keluar dari hutan kami berada di sebuah jalan aspal dengan hutan di samping kiri dan kanan kami menuju camp sebelum kami dikirim menjadi surviver, entah kondisi disana seperti apa sekarang kami berharap disana masih bisa dihuni untuk sekedar beristirahat dan memikirkan bagaimana kami bisa sampai di pulau itu, sedangkan Alex ia segera membaca surat itu di kamarnya agar tidak diketahui oleh siapapun Alex juga mencoba membuka buku lalu ia buka kertas surat dari Komandan didalamnya agar tidak ada yang curiga karena Alex tahu bahwa cctv yang ada di kamarnya pasti diawasi langsung oleh Rachel surat itu berisikan alamat hunian Komandan serta dituliskan bahwa Alex ditunggu oleh Komandan untuk datang ke sana besok pukul 10 pagi dan akan ada orang suruhannya yang menjemput Alex disana. Saat sedang serius membaca surat itu terdengar suara ketukan pintu yang membuat Alex terkejut ia pun segera membukakan pintu ternyata Rachel yang berada disana “ mau apa lagi?” ketus Alex
“ makanlah kau belum makan seharian ini” kata Rachel yang membawakan kotak makanan
Alex melihat kotak itu lalu ia menjawab dengan ketus “ huh, kau sudah menjadi pelayan rupanya”
Walau Rachel tersenyum tapi dihatinya ia merasa kecewa dengan sikap Alex “ tentu saja aku kan pelayan pribadimu tuan” Rachel memegang bahu Alex
“ oh ya, kalau begitu kau juga harus melayani Lisa” kata Alex
“ kenapa?” Tanya Rachel
“ karena pelayanku juga harus mengurus semua kebutuhan istriku nanti” ketus Alex dengan senyuman manis di wajahnya
Rachel terdiam dan menyerahkan kotak makan itu dengan kasar pada Alex “ makan saja makananmu” Rachel pergi dengan wajah emosi
Alex memandang tajam dari kejauhan lalu masuk kembali ke kamarnya ia membuka kotak makanan itu mencium baunya berjaga – jaga jika ada racun yang ditaruhnya dimakann ini atau obat tidur dan semacamnya
Rachel emosi dan kecewa dengan mata yang berkaca – kaca “ Lisa, kau tidak akan bisa mengambil apa yang sudah menjadi hak dan miliku” gumamnya dengan mengepalkan tangan tanda emosi yang mendalam ia pun pergi ke gedung pusat yang ada di pulau itu sebelumnya mereka memiliki gedung yang sama di markas sebelumnya juga di pulau ini mereka pun memilikinya untuk penelitian dan sebagainya mereka pun berhasil mengamankan beberapa vaksin yang sudah ada walau tingkat keakuratannya masih lemah sedangkan vaksinn yang berasal dari imun Lisa dan Luna hancur berserakan karena tersenggol karyawan yang panik saat penyerangan yang Marko buat. Rachel terduduk diruangannya memikirkan cara untuk membuat Lisa kapok berhubungan dengan Alex tadinya Rachel berencana ingin membunuh Lisa saja agar hubungannya dengan Alex kembali tenang tapi itu akan membuat pejabat dan orang – ornag penting disini murka jika mereka tahu yang dibunuh adalam pemilik imun terkuat, “ Lisa dimana adikmu?” Letnan masuk tanpa permisi secara tiba – tiba
“ mungkin saja dia sudah mati” ketus Lisa
“ Lisa mau kau membencinya sebagai manapun dia masih adikmu”
“ pernyataanmu itu salah Letnan, yang benar dia yang membenciku dan menolak untuk ikut kemari” jelas Rachel
“ adikmu membencimu karena perlakuanmu padanya”
“ lantas bagaimana perlakuanmu padaku dan Alan?” telak Rachel
Pertanyaan itu membuat letnan terdiam tanpa bisa membalas kata- kata Rachel karena ia sadar jika selama ini sudah memperlakukan mereka terlalu tegas hingga terdapat jarak diantara mereka bertiga
“ cari adikmu hingga ketemu, seret dia kemari” perintah Letnan lalu pergi
“ cih menyusahkan saja”
Keesokan harinya Alex berusaha keluar tanpa di ketahui siapapun termasuk Rachel yang selalu mengganggunya ia berjalan keluar apartemen dengan berusaha tidak terlihat mencurigakan, diluar sudah ada orang suruhan dari Komandan ia menghampiri Alex lalu mengatakan untuk ikut dengannya karena sudah ditunggu oleh Komandan, Alex pun pergi menemui Komandan. Rumah megah dengan halaman yang cukup luas dan terlihat beberapa pelayan dan pegawai kebun disana “disaat orang menderita berjuang hidup, disini malah ada rumah semegah ini, melihatnya membuatku muak” gerutu Alex yang berjalan melewati halaman rumah Komandan
Saat memasuki rumah megah berwarna kream itu ia disambut beberapa pelayan “ selamat datang tuan mari saya tunjukan jalannya” sambut pelayan, Alex mengikuti nya dari belakang ia dibawa ke ruang makan dengan meja makan yang berbetuk oval ada Komandan yang sedang meminum teh dan kudapanya
Komandan menengok dan melihat Alex yang berjalan dari kejauhan ia termangu melihat Alex yang sangat mirip dengan almarhum Ayahnya yaitu anak dari Komandan “ anaku kau sudah datang” kata sambutan itu terlontar bergitu saja karena Komandan pun merindukan sosok anaknya itu
“ siapa? Apa kau punya anak selain ayahku?” tanya heran Alex
“ ah tidak maksudku kau cucuku, kau sangat mirip sekali dengan ayahmu” senyum nya
“ cepatlah kau mau bicara apa sebenarnya?” desak Alex
“ kau tidak mau makan atau -,”
“ tidak perlu, cepat katakan apa yang mau kau bicarakan” ketus Alex
“ baiklah tapi tidak disini ayo ikut aku”
Mereka pun pergi tanpa di temani pelayan menuju lorong rumah dengan bingkai foto hologram di samping kanan dan kiri yang terdapat foto Alex kecil dan kedua orang tuanya “ untuk apa kau pajang foto seperti ini” tanya Alex,
“ memangnya kenapa, apa tidak boleh aku melepas rindu walau hanya memandang fotomu dan kedua orangtuamu”
Mereka sampai di ujung lorong yang buntu lalu Komandan menekan ukiran kaligrafi di tembok itu yang jika dibaca dengan jelas itu artinya masuk dalam bahasa arab, tembok bentuk itu pun terbuka dan masih ada pintu lagi namun kali ini harus menggunakan telapak tangan atau sidik jari
“ sekarang bukalah dengan letakan tanganmu di sini” Instruksi Komandan
Alex menaruh talapak tangannya pada scaner itu lalu pintu terbuka menunjukan lorong yang berbeda dengan lorong yang ada dirumah ini disini terbuat dari bahan kuat anti ledakan pintu tembok dan pintu kedua pun tertutup setelah mereka memasuki ruang rahasia itu “ aku sengaja menambahkan sidikmu pada ruangan ini jadi hanya aku dan kau yang dapat menggunakannya” jelas Komandan
Ruangan itu penuh dengan alat canggih termasuk komputer dan penghubung komunikasi jarak jauh jika ada hecker mungkin ini akan menjadi tempat favorite mereka, “untuk apa semua ini?” tanya Alex
“ duduklah aku akan menjelaskan semuanya” Komandan sudah duduk di meja rapat yang ada disana
Alex pun duduk dan mencoba menyimak apa yang akan di jelaskan oleh Komandan “sebelumnya kau bertanya kenapa aku baru sampai di pulau?, jawabannya karena aku sudah menyusun rencana bersama kawan dsitrikmu itu, mereka setuju untuk membantuku menggagalkan rencana tersembunyi I.V.V yang bahkan kau pun tidak mengetahuinya. Sebelum aku masuk kerencana yang sudah kami buat akan kujelaskan jika I.V.V mempunyai rencana yang tidak masuk diakal dan menurutku itu sudah sangat diluar batas juga terlalu egois yaitu hanya menyembuhkan setengah dari bagian bumi dan setengahnya lagi akan mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi yang entah akan mereka apakan nantinya para Kroon yang tidak terkena vaksin nanti, jika itu terjadi maka akan ada kemungkinan siklus kehancuran bumi yang kedua kalinya sama seperti perang dunia kedua yang terjadi karena kesalahan dan keegoisan yang tersisa dari perang dunia pertama bedanya kita melawan virus dan melawan manusia picik yang ada sekarang, pekerjaan kita lebih berat” jelas Komandan
“ lantas bagaimana cara menghentikan penyebaran vaksin yang tidak merata itu, lagi pula vaksin yang ada sekarang katanya masih belum akurat dan masih lemah tingkat keberhasilannya” kata Alex
“ benar, maka dari itu Lisa dan Luna pun ada dalam rencana ku mereka akan datang kemari dan akan menyumbangkan sel mereka secara diam - diam Alan yamg akan melakukan pebgambilan sel itu di bantu oleh Hanna mantan tenaga medis I.V.V, karena penyebaran Vaksin dilakuakan dengan metode gas agar lebih cepat tersebar juga lebih efisien masuk kedalam tubuh melalu udara”
Alex dan Komandan mereka mulai sibuk menyusun strategi agar rencana ini tidak sia – sia mereka pun segera berusaha menghubungi dan mencari lokasi serta sinyal komunikasi pada distrik 4 yaitu kami yang sekarang sedang menuju camp sebelum dilepas untuk test permainan yang di buat oleh Letnan dulu
Arya dan Ben turun untuk membuka gerbang camp lalu mobil kami bisa masuk dan gerbang di tutup kembali “ uuuh semakin dingiiin saja” gumam Ben
“ tempat ini masih rapih seperti sebelumnya, tapi tidak menutup kemungkinan disini ada Kroon” fikir Arya
Aku pun turun dari mobil dan mencoba mencari selimut melihat Alif yang tertidur pulas dengan kedinginan, tenda disini masih sama dan masih sangat rapih tapi kenapa sepi sekali disini ya walau semua anak yang tersisa sudah dikirim saat itu setidaknya pasti ada petugas disini, aku menemukan selimut yang berada di sebuah tenda dan ternyata itu adalah tenda ku dulu dengan adikku jika mengingat itu maka kembali muka Alex terlintas di fikiranku
“ Luna kemana Arya dan Ben?” tanya ku pada Luna yang sedang menyalakan korek
“ entahlah mereka pergi begitu saja” jawabnya yang masih fokus menyalakan korek
“ sudah nyala belum” kata Alan
Aku kembali ke mobil dan menyelimuti Alif sekarang suhu benar – benar sangat dingin hingga nafas pun sudah berasap “ selimuti saja dirimu” kata Alif dengan mata tertutup
“ ku-kurkira kau tidur, tidak apa – apa pakai saja” kataku dengan menggosokan tangan agar tetap hangat
Alif bangun dan menyelimuti ku “ jangan ceroboh lagi, dan pedulikan dirimu sendiri” Alif pergi menghampiri Luna dan Alan
Aku rasa dia masih bete dengan kejadian tadi, bahkan dengan selimut yang menyelimuti tubuhku saja tetap tidak merasakan hangat. Akhirnya api unggun bisa dinyalakan aku dan yang lain berkumpul disana untuk menghangatkan diri karena hari sudah gelap Arya dan Beni datang dengan membawa senjata dan kardus yang berisikan makanan
Kami memang kelaparan sekali dan butuh mengisi ulang tenaga “kurasa disini tidak ada Kroon” sahut Ben yang menaruh kardus itu
“ wah mantap ini” Alif tersenyum lebar melihat mainannya yang tidak lain adalah senjata yang terdiri dari pedang dan senapan serta sekotak isi peluru full
“ huuft, aku berharap tidak akan pernah melihat benda – benda itu lagi” sahut Luna dengan wajah sendunya
“ kau wanita jadi memang seharusnya bermain boneka” kata Alif
“ aku pun tidak begitu senang dengan boneka” sahut Luna lagi
Melihat ekspresi Luna yang hampir menangis aku merasa maksud Luna itu bukanlah hal yang biasa atau tidak biasa antara perempuan dan laki – laki “ Luna semua ini akan segera berakhir oke” aku mencoba menenangkan
Semua melihat Luna yang mulai meneteskan air matanya melihat itu Arya memeluk dan mencoba menenangkannya “ kau tidak akan terluka, kakakmu akan selalu melindungimu”
Melihat mereka akupun menangis karena emosional dan menjadi senstive “ sudahlah jangan membuat diri kalian lemah, kita akan menang” tegas Alif
Kami pun menyantap makan malam, Alan yang tengah mengambil air di mobil mendengar suara ’bep’ seperti sinyal atau semacamnya lalu ia membuka bagasi yang berada di bawah tempat kemudinya dan ternyata ada sebuah router sinyal ia membawa router itu “ guys lihat ini” kata Alan
“ sepertinya ada yang ingin mengirimi kita pesan” kata Alan
“ ini router wifi, kau ini kenapa?” sahut Ben
“ ini berbeda hanya bentuknya saja sama, lihat ada tombol yang bergambar seperi eraphone yang kita kenakan sekarang dan jika aku tekan” Alan menekan tombol itu
‘Srkk’ terdengar sambungan di earphone semua saling menatap sekarang suasana menjadi hening dan serius “ masuk, halo apa kalian dengar suaraku” itu suara Alex
Aku menutup mulut tidak percaya, wajah kami kembali memancarkan semangat “ ya kami mendengar” balas Alan
“ akhirnyaaa dari tadi aku coba menghubungi kalian” sahut Alex dari earphone
“ lex, kau sudah bertemu dengan Komandan?” tanya Alif
“ ya, aku sudah bertemu dan sekarang pun kami sedang membuat strategi untuk kalian bisa sampai kemari, tapi sebelum kalian kemari Komandan meningalkan sesuatu yang dapat membantu kita nantinya” kata Alex
“ apa itu? Jika ada di markas kami tidak bisa kembali karena disana sudah benar – benar kacau bahkan bukan hanya Kroon yang mengincar kami sekarang tapi Marko juga” jelas Arya
“Marko? Siapa dia?” tanya Alex
“ sudahlah lupaka saja, lalu kami harus apa sekarang?” sahut Alif
Alif menjelaskan pada kami jika ingin sampai ke pulau yang berletak di kawasan Asia tenggara itu kami harus mengambil jalur yang cukup jauh karena memakai kendaraat darat jika memakai kendaraan laut mungkin akan lebih mudah lantas Arya teringat dengan pelabuhan yang berada di dekat camp tak jauh dari kota dan camp disini ia mengusulkan kami berpindah jalur darat ke laut saja karena masih ada beberapa perahu yang layak, kendalanya hanya Kroon yang ada disana “ itu terlalu berbahaya” tegas Alex
“ lalu pilihan apa lagi yang ada?” tanya Arya
“ jika melewati jalur darat bisa sangat lama kami sampai disana mungkin I.V.V sudah melakukan sesuatu saat itu” sahtu Alif
Karena lokasi sekarang pun entah ada dimana maka keputusan sudah di dapat kami akan memakai jalur laut hanya ada misi untuk kami yaitu sebelum sampai di pulau I.V.V kami harus mengambil dokumen dan data yang ada di sebuah gedung milik Komandan, gedung itu berada di suatu kawasan Asia juga, hanya saja bukan di Asia tenggara Alex memberi tahu koordinat dari gedung itu Ben pun segera mengambil peta yang ada di mobil lantas mereka tandai koordinat nya
“ prioritaskan Lisa dan Luna jaga mereka karena imun mereka juga penting untuk keberhasilan memulihkan dunia” tegas Alex
Arya menatapku seolah ia menyuruhku untuk membuka mulut “ tidak jangan seperti itu jika kalian memprioritaskan aku dan Luna maka akan ada yang mati” kataku
“ baiklah sudah kuberitahu lokasinya jadi jaga diri kalian jika kalian datang tidak utuh aku akan sangat marah” Alex tidak menggubris perkataanku
Saat sinyal router hampir mati terdengar Alex mengatakan sesuatu “ jaga dirimu baik – baik, jangan menangis saat melawan Kroon dan pastikan kau selamat sampai kemari, aku sayang padamu” getir suara Alex lalu sambungan router terputus
Ben kebingungan dengan apa yang ia dengar "ekhem, apa aku salah dengar"
Alif menatap ku lalu melihat kearah api unggun dengan ekspresi murung, Arya melihat Alif lalu melihat kearahku ia bingung dengan posisi ini dan hanya bisa menggelengkan kepalanya “waah ka Lisa ternyata kau dengan ka Alex, uuuuuh kyuut” goda Luna yang kembali ceria
Alif yang melihat peta dengan koordinasi yang diberikan oleh Alex terus menatap peta yang ia pegang, Arya merasa Alif menyadari sesuatu “ada apa?” tanya Arya
“ kenapa kau bisa sepercaya ini pada mereka?” Alif bertanya balik
“ hah, maksud kau apa?”
“ koordinat ini termasuk zona merah yang ada dunia” kata Alif
“ benarkah, waah bagaimana ini” cemas Ben
Alan yang melihat kepanikan di antara kami pun mencoba meredam dan mencoba untuk tidak berfikiran negatif terlebih dahulu “mungkin saja dokumen itu memang tertinggal disana sebelum mereka pindah ke lokasi gabungan organisasi I.V.V” jelas Alan
Kami semua terdiam dan mencoba berfikir jernih “ mereka tidak akan membunuh atau menjebak kita karena ada aku dan Luna disini” sahut ku yang memecah keheningan
“ benar, jika mereka berniat buruk sama saja dengan melenyapkan temuan mereka” kata Ben