ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 9



“Ucapin salam dulu~“ ucap Camilla pada putera Puteri kecilnya. Saat ini ia berada di ambang pintu. Pekerjaan di rumah majikan telah selesai. Kini saatnya Camilla dan kedua anaknya beristirahat.


“Assalamu'alaikum.“ ucap Bayan dan Icha berbarengan. Meskipun mereka hidup sederhana. Badrun dan Camilla tidak lupa untuk selalu mengajarkan ilmu agama pada anak-anaknya. Ia ingin suatu saat kedua anaknya menjadi anak-anak yang soleh solehah.


NGROK NGROK NGROK. Suara dengkuran Ares terdengar. “Ya ampun~“ gumam Camilla melihat Ares tertidur dengan posisi satu tangan ada di perut dan mulut terbuka. Kalau dilihat dari kain serbet yang menggantung di pundak. Sudah pasti Ares baru selesai bersih-bersih.


“Banguninnya hati-hati sayang~“ ucap Camilla pada Bayan dan Icha. Dua adik Ares ini paling usil sekali. Bayan dan Icha tersenyum misterius. Bayan mengambil kemoceng untuk menggelitiki tapak kaki Ares. Sedangkan Icha mengambil serbet dari pundak Ares dan meletakkannya di atas kepala.


Bayan tersenyum jahil sambil menggelitiki tapak kaki Ares. Camilla geleng-geleng kepala melihat tingkah usil sang anak. Selama itu tidak di luar batas, Camilla masih membolehkan hal itu untuk bercanda dan hiburan semata.


Camilla duduk. Ia juga ikut-ikutan cekikikan melihat Ares nampak kegelian meskipun ia masih terlelap. Sesekali Ares mengelap sudut bibirnya yang sedikit basah karena air liur. “MALIIIIIINNNNG.“ suara Ares pun menggema hingga membuatnya otomatis terbangun lalu duduk.


“Inak? Inak kapan pulang?“ tanya Ares sedikit kaget.


“Udah dari tadi kali Ares~ Kamu nya aja yang tidurnya kek orang mati.“ sahut Camilla geleng-geleng kepala.


“Hehehe.“ Ares pun tersenyum garing sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


“Hihihihi.“ terdengar suara dua anak kecil sedang cekikikan. Ares pun langsung menatap keduanya. Tatapan tajam yang bercanda dan lucu. Kedua adik Ares pun langsung kabur ke kamar. Sungguh hiburan tersendiri bagi Ares melihat adik-adiknya tersenyum sesumringah itu.


“Ares..“ seru Camilla.


“Iya inak?“ sahut Ares.


“Kenalin pacar kamu ke inak dong.“


“Hah? Pacar?“


“Iya~ Pacar kamu~“


“Ares nggak punya pacar inak.“


“Trus foto kemaren itu apa kalo bukan pacar? Mana ada orang gak pacaran tapi ciuman? Aneh-aneh aja kamu Ares.“


Ares heran. Mengapa ibunya saat ini terlihat seperti ibu-ibu kompleks yang haus akan berita gosip? Lihatlah ibu Ares semakin mendekat dan memasang telinga baik-baik. “Siapa? Kasih tau inak dong Ares~ Kan inak juga pengen tau.“


“Errrr..“ dag dig dug. Ares seperti ditagih hutang oleh rentenir saja. Keringat menetes dari pelipisnya menandakan kepanikan yang amat sangat. Camilla menatap Ares penuh harap. “Ares mau mandi dulu.“ ucap Ares kemudian. Ia pun tersenyum lima jari dan langsung melesat menuju kamar mandi.


“Itu anak dasar deh..“ protes Camilla.


Di lain tempat Rakha tengah bersiap-siap untuk berangkat dinas. Ugh, Ami sangat terpana. Hingga ia pun membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana kalau nanti Rakha main perempuan disana? Ami mendadak cemberut. Ia cemburu buta.


“Cemberutnya udah dong sayang~“ ucap Rakha lemah lembut. Bibir Ami sedikit bergetar. Rakha tau Ami sedang menahan tangis. Ami memalingkan pandangannya. Ia tidak sanggup memandangi Rakha dengan sekelebat pikiran negatifnya.


“Sayang.. Mas itu dinas.. Kerja.. Bukan buat main cewek. Sayangnya mas itu cuma kamu sama Bella. Hm? Jangan mikir yang nggak-nggak yah? Nanti mas malah nggak fokus lagi.“


“Hmm..“ sahut Ami menahan sesak di dadanya. Dimana-mana seorang wanita akan selalu bersedih ketika ditinggal suami sendiri dinas. Begitu pula Ami. “Mas tadi udah hubungin supir di rumah kamu biar jemput kamu malem ini. Mas nggak mau kamu nyetir sendiri.“


“Hmm..“ sahut Ami menganggukkan kepala pelan. “Muach.“ Rakha mengecup kening sang istri. “Hati-hati nanti ke bali nya sayang~ Dompet musti bawa ke mana-mana. Pake tas selempang biar gak kelupaan~“ ucap Rakha berpesan. Ia tau Ami tipe wanita yang sangat pelupa untuk urusan dompet.


“Cium.“ pinta Ami menunjuk bibirnya. Ugh, inilah sisi dari Ami yang sangat Rakha suka, yaitu sifat manjanya. “Muach.“ Rakha mengecup bibir Ami sekilas. “Berangkat dulu ya sayang~ Assalamu'alaikum.“ ucap Rakha. “Wa'alaikumussalam.“ sahut Ami.


Sebagai ketua pramuka Barra selalu totalitas. Ia rela membantu anggota lain tanpa membangga-banggakan sebutan ketua pada dirinya. Barra satu tingkat di atas Ares. Itu artinya Barra adalah kakak kelas Ares.


“Makasih banyak ya kak.“ ucap beberapa anggota pramuka lain. Barra tersenyum saja sambil membawa peralatan yang diperlukan dalam kegiatan pramuka ini ke gudang. Sambil berjalan Barra sambil bersenandung. Ia pun tak paham lagu apa yang ia senandungkan.


BUGH! Tiba-tiba seseorang memukul tengkuk leher Barra sampai Barra tak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian ia pun tersadar. Pandangan matanya sedikit buram. Barra membuka mata perlahan-lahan. Dimana dia saat ini?


Barra menelisik seluruh isi ruangan. Ini mirip seperti gudang. Kalau dilihat dari bentuk ruangannya, sudah pasti ini masih di lingkungan sekolah. Cahaya temaram lampu pun menyoroti sosok seorang lelaki berseragam SMA. Lelaki itu duduk di sebuah kursi persegi empat.


“Adithama?“ gumam Barra ketika Adithama berdiri dan mulai mendekat. Adithama pun duduk berjongkok. Ia menyipitkan mata tajam menatap Barra. Ia pun memunculkan smirknya.


“Gak semudah itu Bar..“ ucap Adithama lalu mencengkeram dagu Barra hingga membuat Barra meringis. “Lu udah nyakitin Ares. Mungkin ortu Ares lapang dada nerima fakta itu. Tapi, lu nggak tau gimana terlukanya hati ortu Ares.“


Adithama geram. Ia melepas cengkeramannya paksa. “Start!“ seru Adithama memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengeroyok Barra. Teriakan Barra meminta ampun pun menggema di ruangan itu. Adithama itu terlalu sayang, atau mungkin obsesi?


Kalau ini obsesi belaka, mungkin Adithama akan memaksa Area untuk menerima perasaannya. Tapi, nyatanya? Adithama memilih untuk diam. Terlalu naif kalau Adithama memaksa orang lain untuk mencintainya jua sementara orang tersebut sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.


Kalau tidak bisa memiliki Ares, melindunginya dari orang-orang yang mencoba ingin menghancurkan hidupnya sudah cukup bagi Adithama. “Cukup.“ seru Adithama lagi. Teman-teman nya itu pun langsung berhenti memukuli Barra.


“Gue suka sama Ares dan gue pengen milikin dia sepenuhnya. Tapi, gue gak bakalan pake cara licik buat dapetin dia.“ ucap Adithama dingin. “Dan satu hal lagi.. Kalo lu berani-berani lapor polisi.. Gak cuman lu doang.. Seluruh keluarga lu bakalan gue hancurin. Heh!“


“Cabut gaes.“ seru Adithama. Sebelum benar-benar pergi, salah satu teman Adithama masih sempat-sempatnya menendang tubuh Barra hingga membuat Barra tersungkur.


“Brengsek.“ batin Barra. Ia mengutuk Adithama dalam hatinya. Siapa Adithama sehingga orang bar-bar sepertinya mau menghancurkan keluarga Barra? Barra sungguh tidak berdaya lagi. Kini satu matanya bengkak membiru, kedua pipinya lebam, dan sudut bibirnya pecah berdarah.


Tubuh Barra terasa mati rasa. Matanya memburam. Serasa kematian sudah berada di ujung tanduk. Tidak. Barra tidak akan berakhir semengenaskan itu. Dalam hati ia bertekad ingin mencari tau siapa sesungguhnya Adithama dan membalaskan semua perbuatan Adithama padanya hari ini.


Suara ambulan menggema satu sekolah. Barra diangkat dengan tandu dan segera dilarikan ke rumah sakit, setelah salah seorang siswa tidak sengaja menemukan dirinya di sebuah gudang. Ares belum tau masalah ini, lantaran memang Ares tidak mengikuti ekskul mana pun, dikarenakan ia harus berdagang keliling.


Setelah selesai melayani banyak pembeli, Ares memutuskan untuk duduk sebentar sambil menunggu pembeli lain. Cuaca hari ini cukup terik. Beruntung Ares bukanlah anak dengan kulit mudah menghitam bahkan jika harus berpanas-panasan dalam waktu yang lama.


Tring tring tring. Notifikasi dari whatsapp pun berbunyi. Ini pesan dari teman-teman di grup sekolah di kelasnya, juga satu sekolah. Disana ramai membicarakan Barra yang dilarikan ke rumah sakit setelah dipukuli sampai babak belur.


Ares menelan ludah susah payah. Kenapa Barra bisa dipukuli sampai babai belur? Yang Ares tau kalau Barra tipikal orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Dia juga tidak mempunyai musuh. Jadi, kenapa ini bisa terjadi? Oh tuhan, Ares harus bagaimana? Haruskah Ares ke rumah sakit jua? Tapi, dagangan Ares belum habis.


“Maafin gue Bar.. Gue pengen nengokin lu sekarang.. Tapi, sikon gue lagi nggak pas. Gue janji besok bakalan jengukin lu.“ gumam Ares penuh sesal. Apalah daya Ares ingin menjenguk Barra secepatnya. Ia juga tidak ingin pulang masih membawa sisa dagangannya.


Tepat setelah kepergian Rakha untuk dinas. Keesokkan harinya Ami juga terbang ke Bali bersama teman-temannya untuk berlibur. “Hah..“ Ami menghirup udara banyak-banyak sambil merentangkan di tepi pantai pulau dewata. Sungguh sudah lama sejak ia liburan terakhir kali.


“Liat kamera ciiiiin cepetaaaaaan satu dua tiga.“ ucap salah satu teman Ami meminta Ami dan yang lain untuk menghadap kamera. Rata-rata teman Ami hampir sudah menikah semua. Tapi, tinggal Belinda saja yang masih bujangan.


“Mblooo lu pilih dah salah satu bule yang ada disini. Lumayan kan~ Itunya gede loh~ Tu hahahahahahahaha bisa puas lu nanti beuuuuh ketagihan.“ ledek Chessy.


“Lu kira gue apaan, hah? Maen pilih-pilih aja. Harus tau bebet bobotnya juga kali~“ sahut Belinda masa bodoh. Ia sudah sering menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Kenapa sih teman-teman Belinda suka sekali meledek kejombloannya?


Setelah puas bermain-main di pantai, mereka memutuskan untuk mengisi perut yang semakin berontak minta diisi. Di Locavore Ubud Restaurant inilah menjadi tempat pilihan mereka untuk mengisi perut. Sungguh saat ini Ami juga sangat lapar.


“Mimi.. Trus kalo lu liburan kesini, anak lu sama siapa?“ tanya Dewi.


“Sama nyokap gue lah.“


“Widiiiiihhhh.“


“Suami lu gimana?“ tanya Chessy.


“Lagi dinas dia. Ngapain dah lu nanya-nanya suami gue?“


“Yaela Mimi.. Gue gak banget ya ama suami lu.. Gue bukan pelakor.“ sahut Chessy ketika mendapat tatapan tidak mengenakan dari Ami. “Gue sih ya cuman nyayangin kecantikan, pendidikan, dan latar belakang lu aja. Ya gue mikirnya dengan apa yang lu punya, lu bakalan dapet pengusaha kaya raya gitu.“


“Bener banget Mi.. Jaman sekarang gitu ya kita musti nyari yang berdompet tebal tau~ Kek gue nih..“ timpal Belinda.


“Hah? Emang lu punya cowok?“ cetus Chessy. Ia tidak yakin kalau Belinda benar-benar mempunyai pasangan. Ayolah Belinda itu jomblo sejati.


“Punya lah~ Dua tiga..“


“What?“


“Lu ngertilah gue cuman mo morotin duit mereka. Mana ada gue mau nikah ama mereka. Bisa-bisa gue diselingkuhin.“


Ami diam. Cinta memang tidak membuat kenyang. Tapi, mampu merasakan bahagia lahir dan batin. Namun, kalau ia sendiri susah untuk menikmati hidup, lalu apa artinya cinta? Bukankah seorang wanita juga ingin berbelanja dan liburan seperti wanita lainnya? Apakah Rakha sudah menyanggupi semua itu? Jawabannya tidak dan belum.