ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 26



Bagaimana kah rasanya hidup di negara orang tanpa mengenal siapa pun disana? Terasingkan bukan? Suasana musim panas di bulan agustus, di London, memang tidaklah sepanas indonesia. Terkadang angin berhembus sangat kencang, membuat siapa saja malas untuk sekedar jalan-jalan keluar.


Sudah satu minggu Adithama tinggal di negeri asing ini. Selama itu pula ia menutup mulut tanpa berbicara sepatah kata pun pada Noah. Ia marah. Noah sudah membawanya ke tempat yang salah. Bagi Adithama ini adalah neraka dunia.


Jujur saja tubuh Adithama agak kurusan. Ia mogok makan. Biasanya Adithama akan makan teratur tiga kali sehari atau lebih. Tapi, disini ia hanya makan satu kali sehari. Sungguh Adithama tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Ia hanya berpikir bagaimana cara supaya bisa keluar dari penjara ini. Noah sengaja menyembunyikan paspor Adithama, ia tau Adithama itu tipikal orang yang nekad. Bisa saja Adithama lari tanpa Noah ketahui.


Noah mengetuk pintu beberapa kali. Namun, Adithama tidak bergeming jua untuk membukakan pintu. Untung saja pintu kamar Adithama tidak dikunci, sehingga memudahkan Noah untuk masuk ke dalam. Noah membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauk pauk dan segelas air putih.


Noah menghela nafas. Ia melihat Adithama sibuk bermain game ditemani sekotak pizza dan sebotol cocacola. ”Ini masih pagi dek, masa kamu makan begituan?” seru Noah sembari meletakkan nampan itu di nakas. Ia pun duduk di pinggiran ranjang. Sementara Adithama di bawah bermain PS.


Adithama menuli. Ia semakin mengencangkan volume PS yang tengah ia mainkan supaya suara Noah sama sekali tidak terdengar oleh telinganya. ”Kamu udah libur sekolah dua hari loh dek?” seru Noah lagi. Adithama tetap tidak bergeming.


Noah pun langsung mencabut kabel penghubung ke saklar, dan layar PS yang tengah Adithama mainkan pun otomatis mati. Adithama langsung melepas headset yang menempel di antara kepala dan telinga. Ia menatap Noah tajam dan tidak suka. ”Maksud lu apaan, hah?” seru Adithama ketus.


”Maafin kakak Ad,” ucap Noah lemah lembut. Bagaimanapun kerasnya Adithama pada Noah, Noah tetap tidak akan pernah bisa marah. Ia yakin bahwa cinta dan kasih sayang akan melembutkan hati seseorang. Noah pun turun dan duduk di samping Adithama yang kini tengah menatapnya sengit.


”Kakak kangen banget sama kamu Ad, mungkin lebih dari kangen,” ucap Noah. Suara gemeretak gigi Adithama terdengar. Tolong jangan buat Adithama semakin marah. Kelembutan Noah serasa membuat sesuatu dalam diri Adithama semakin mendidih.


”Gue benci banget sama lu brengsek,” ucap Adithama dengan suara sedikit bergetar. Ponsel Noah berdering. Itu dari sekretaris pribadinya di kantor. ”Tolong batalin semua janji saya hari ini. Saya ada urusan di luar.” ucap Noah lalu mematikan sambungan telepon.


Noah bersandar di ranjang. Ia pun mulai bercerita, berharap Adithama mau mengerti dan memahami situasi yang Noah alami dulu sampai sekarang. Dulu sebelum Tomo meninggal dunia, Tomo secara pribadi meminta Noah untuk bicara di ruang kerja. Disana ia disuguhkan oleh beberapa lembar foto, bukti kemesraan antara dirinya dan Adithama.


Noah membeku. Ia tau sebentar lagi Tomo akan mengeluarkan ultimatum perihal temuannya ini. Noah siap lahir batin menerima semua ultimatum yang akan diberikan oleh Tomo padanya nanti. Meskipun mungkin ia sendiri akan sakit dan terluka.


Tomo tidak ingin memiliki keluarga cacat. Ia ingin keluarga yang utuh dan sempurna. Hal-hal terlarang seperti menyukai sesama jenis harus ditiadakan. Jangan sampai hal ini mencemarkan nama baik keluarga Pangestu. Tomo juga dikenal keras dalam mendidik anak-anaknya, kecuali Adithama. Kala itu Adithama masih terlalu muda untuk mengembangkan urusan perusahaan, sehingga Tomo melimpahkan semua urusan perusahaan pada Noah. Kalian bisa menebak kalau Tomo lebih keras didikannya pada Noah dibandingkan Adithama.


Diberikan kepercayaan sebesar itu Noah juga tidak bisa menolak. Selama ini Tomo dan sang istrilah yang berjasa dalam hidup Noah dan membesarkannya sampai saat ini. Giliran Noah untuk membalas budi kebaikan Tomo.


”Minggu depan kamu nikah sama anak temen papa. Dia cantik dan berpendidikan. Papa yakin kamu pasti suka.” itulah ultimatum yang dikeluarkan oleh Tomo. Tidak hanya itu, Noah juga diminta untuk tinggal di luar negeri dan mengurus kantor pusat di London.


Tomo bukan tipikal orang yang suka berbasa-basi. Memang tidak ada pembicaraan panjang lebar di antara keduanya. Foto-foto itu sudah cukup jelas untuk memahami maksud Tomo yang ingin segera menikahkan Noah dan memintanya tinggal di luar negeri.


Noah tidak mempunyai pilihan lain selain menurut saja. Pernikahan itu pun berlangsung meriah. Adithama saat itu sengaja tidak berhadir. Tentu ia tidak rela melihat Noah bersanding dengan wanita lain. Memangnya siapa yang mau menghadiri pernikahan orang yang dia cintai, yang ternyata menikah dengan orang lain?


Setelah menikah pun Noah secara pribadi meminta kepada istrinya untuk tidak tidur bersama. Noah juga berkata jujur perihal situasi yang ia hadapi sehingga membuat dirinya terus-terusan meminta maaf. Pernikahan yang sejatinya suci, ia nodai dengan pengakuan yang mengejutkan.


Perih itu pasti. Goresan luka di hati wanita itu semakin dalam. Tidak semua perjodohan itu berjalan mulus. Itu hanya kisah di TV belaka. Ingin Noah bercerai dari sang istri. Namun, ia tau Tomo juga memasang mata-mata untuk mengawasi dirinya.


Ia memulai kehidupan baru. Meski sudah bercerai, Noah tidak pantas langsung pulang ke indonesia dan kembali pada Adithama. Masih banyak hal yang harus ia urus semenjak kepergian Tomo secara mendadak. Terutama terkait masalah perusahaan dan hak waris.


”Kakak nggak minta kamu buat ngerti semuanya sekarang. Kakak tau kamu pasti juga butuh waktu. Tapi, satu pesen kakak dek. Jangan pernah nyakitin orang lain lagi yah? Kakak mau kamu kembali jadi Adithama yang dulu. Hm? Papa sama mama disana pasti sedih banget. Kamu nggak mau kan bikin papa sama mama sedih?”


Adithama diam. Sorot mata yang semula tajam kini berubah menjadi teduh. Noah mengelus pucuk kepala Adithama. ”Mau jalan-jalan nggak? Mumpung cuaca lagi bagus?” ucap Noah. ”Hm,” sahut Adithama dengan deheman saja. Noah tersenyum. ”Kakak tunggu di depan ya?” ucap Noah mengecup pucuk kepala Adithama.


Sepanjang perjalanan Adithama dan Noah saling diam. Noah sengaja mengajak Adithama jalan-jalan keluar. Yah, sekalian refreshing, ia juga ingin Adithama bisa menghafal jalan-jalan yang ada di London. ”Gue mo balik.. Gue gak betah disini..” ucap Adithama. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak bersitatap dengan Noah.


”Maafin kakak dek, kali ini kakak nggak setuju. Kamu sekolah disini dulu setahun. Kalo udah lulus baru kita balik ke indo lagi.” sahut Noah. Adithama cemberut dengan kedua alis saling bertautan. Benar, kan? Percuma saja Adithama bicara. Toh, Noah tidak ingin mendengarkan.


Saat ini Adithama dan Noah berada di St. James's Park, taman tertua di London, Inggris. Suasananya begitu asri dan hijau. Sungguh indah dan nyaman dipandang mata. Noah berjalan lebih dulu, sedangkan Adithama mengikuti di belakang.


Noah tiba di pinggiran danau. Selama seminggu ini pula ia juga sudah berpikir keras. Melihat sikap berontak Adithama juga membuat dadanya terasa perih sekali. Noah berbalik. Ia menatap Adithama lamat-lamat. Adithama menaikkan sebelah alisnya. Apa lagi yang ingin Noah bicarakan padanya?


Noah ingin memperjelas semuanya. Ia juga tidak ingin Adithama tersiksa. ”Kakak nggak bakalan maksa kamu lagi Ad,” ucap Noah. Jarak antara dirinya dan Adithama sekitar tiga meter. Entah mengapa Adithama mampu merasakan, kalau senyuman Noah kali ini terlihat perih sekali. Seolah-olah ia ini adalah senyuman terakhir dan Noah akan pergi jauh.


”Peluk kakak kalo kamu mau kita mulai hidup baru bareng. Tampar kakak.. Kalo kamu mau kita pisah dan hidup masing-masing nggak saling kenal satu sama lain. Kakak nggak papa Ad.” ucap Noah tersenyum tipis.


”Maafin semua kesalahan kakak Ad. Maafin kakak udah nyakitin kamu dan bikin kamu kek gini. Maafin kakak Ad.”


Sudut mata Adithama memerah. Noah, tolong jangan tersenyum seperti itu. Jangan berkata-kata seperti itu jua. Mendengarnya saja membuat dada Adithama terasa disayat oleh belati tajam. Adithama sudah kehilangan ayah dan ibunya. Bahkan ia juga kehilangan Noah dulu.


Bukankah lebih sakit lagi kalau kita kehilangan seseorang yang kita sayang untuk kedua kalinya? Cukup sekali saja. Cukup sekali. Adithama juga tidak akan sanggup menahan perih dan sakitnya ditinggalkan. Ah, mengapa semua ini harus terjadi secara tiba-tiba?


Oh tuhan, biarkan Adithama bahagia setelah ini. Hapuskan semua kesedihan, perih, dan luka yang ia rasa selama ini. Tolong gantikan itu semua dengan kebahagian. Biarkan Adithama kembali menjadi Adithama yang baik dan penurut. Jangan biarkan Adithama masuk ke dalam lembah kehancuran.


”Gue benci. Lu udah ngancurin semuanya.” ucap Adithama. Noah memejamkan mata. Sungguh hati ini tidak kuasa jika ia harus merasakan penolakan Adithama. Noah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di hidup ini. Hanya Adithama seorang lah. Bahkan tidak ada sesiapa pun yang mampu hinggap di hatinya. Tiap jam menit dan detik, semuanya hanya ada Adithama dan Adithama saja. Tidak pernah terpikir di benak Noah untuk memberikan hati dan perasaannya pada wanita dan lelaki manapun. Hanya Adithama saja yang boleh merajai hati ini.


Oh tuhan, tolong biarkan keberuntungan berpihak pada Noah. Jangan biarkan mereka kembali tenggelam dalam kepiluan yang berkepanjangan. Sudahi semua kepiluan ini. Hap. Noah merasa waktu seakan berhenti. Adithama memeluk dirinya? Itu artinya.. Itu artinya Adithama menerima dirinya bukan? Hm? Benar, kan?


”Jangan tinggalin gue lagi kak,” ucap Adithama. Ia membenamkan wajahnya di dada Noah. Dada Adithama terasa sesak menahan gejolak dalam dada. Noah sangat sangat bahagia. Ia pun memeluk Adithama dengan erat. Kerinduan bertahun-tahun akhirnya terbalas jua. Adithama dan Noah sama-sama menitikkan air mata. Akhirnya mereka berdua mampu melewati tajamnya duri yang menghalangi kebersamaan keduanya selama ini.


Noah berjanji tidak akan pernah melepaskan Adithama apapun yang terjadi. Tidak akan ia biarkan Adithama meneteskan air mata karena dirinya. Akan Noah berikan seluruh hidupnya untuk membahagiakan Adithama. Noah pun mengecup kening Adithama lama sekali. ”Love you,” ucap Noah tersenyum lalu kembali memeluk Adithama dengan erat.