![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Dua mata itu menatap Ares sinis. Ini pertama kalinya Barra menatap Ares dengan tatapan seperti itu. Mengapa?, batin Ares. Ares rasa ia dan Barra tidak pernah berselisih dalam bentuk apapun. Namun, mengapa Barra menatap Ares seperti itu? Salah Ares apa?
“Bar,“ seru Ares. Kedua alis Ares berkerut. Ia pegang pergelangan tangan Barra meminta penjelasan. “Kenapa?“ tanya Ares. Sepeka itu kah seorang Ares? Ares tidak butuh waktu lama untuk merasakan keanehan itu. Dari kejauhan Keanu melihat aksi dua anak lelaki terlihat hampir sedang ingin bertengkar.
“Lepasin,“ ucap Barra ketus. Ini bukan Barra, batin Ares. Barra tidak pernah seketus ini. “Bar, lu marah sama gue? Gue udah bikin salah sama lu? Bilang Bar,“ ucap Ares sekaligus bertanya. “Gue jijik sama lu Res,“ sahut Barra dengan mata melotot tajam. “Jijik?“ seru Ares heran dan mulai menyipitkan mata.
“Bar, gue ngerasa kita nggak ada masalah apa-apa. Tapi, gue mohon lu jujur ke gue, kenapa lu sesinis itu ke gue?“ tanya Ares. Persahabatan itu harus dipertahankan apapun yang terjadi. Ares tidak akan pernah membiarkan persahabatan ini hancur begitu saja. Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa Barra sampai mengatai Ares itu menjijikkan?, batin Ares.
“GUE JIJIK SAMA LU RES! LU PACARAN SAMA SESAMA JENIS, KAN? DAN ITU YANG BIKIN GUE JIJIK SAMA LU.“ ucap Barra berteriak dengan keras, dan hal itu pun didengar oleh banyak siswa dan siswi disini. Bahkan, Laras dan teman-temannya yang lain pun ikut mendengar.
Ares diam membeku. Darimana Barra mengetahui hal ini? Hah, Ares menghela nafas. Semua orang mulai berkerumun dan saling berbisik. Jadi, Barra memilih mengibarkan api permusuhan ini? Baik, Ares kabulkan. “Kenapa? Gue bener, kan? Heh,“ ucap Barra tersenyum remeh. Barra sudah keterlaluan meskipun itu benar sekalipun.
Jauh di ujung sana Keanu berdiri dan tersenyum miring saat melihat duo Ares dan Barra tengah beradu argumen. Mari kita lihat, siapa yang akan menang?, batin Keanu. Ini sungguh adalah hal yang tidak biasa antara dua orang itu, karna selama ini mereka selalu lengket bak prangko, jalan bersama kemana-mana.
Semua orang terlihat menunggu jawaban Ares atas pertanyaan yang Barra lontarkan—pun Laras harap-harap cemas. Semoga Ares tidak seperti yang Barra katakan tadi. Ini tidak mungkin. Sungguh tidak mungkin, batin Laras. Ares bukanlah lelaki seperti itu. Laras yakin.
“Lu bener, gue pacaran sama sesama jenis, dan bahkan gue mau nikah bentar lagi.“ ucap Ares sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya. Tatapan Ares pada Barra langsung berubah. Barra sinis? Ares lebih sinis lagi. Barra pun terdiam saat Ares berkata seperti itu. Semua orang, termasuk Laras, kontan mereka pun langsung menutup mulut mereka sendiri tidak percaya. Ini sungguh adalah berita besar untuk sekolah mereka hari ini.
“Puas, kan? Lu sekarang?“ ucap Ares tersenyum sinis. Ares pun mendekati Barra lalu meremas pundaknya sedikit kuat. “Makasih udah nunjukin lu sebenarnya siapa ke gue. Dan lu inget satu hal Bar. Semua yang lu teriakin ke gue hari ini, bakalan berbalik arah ke diri lu sendiri. Dan saat itu tiba, jangan pernah lu cari gue buat minta maaf.“ ucap Ares penuh penekanan. Ares salah. Heh, ya, Ares salah sudah terlalu percaya kepada orang seperti Barra. Setega itu Barra berteriak menjelek-jelekkan Ares dan membuat Ares dipermalukan bahkan ditertawai satu sekolah. Orang kaya seperti Barra sebaik apapun pasti tetap akan ada saat dimana dia akan merendahkan orang lain. Ares bisa apa? Ares cuma penjual siomay keliling.
Dada Barra bergemuruh hebat. Barra marah. Hah, siapapun yang melihat ini, meskipun Barra yang telah lebih dulu mengatai Ares, siapapun tau Ares lah pemenangnya. Lihat bagaimana Barra terdiam saat Ares menghujaninya dengan kata-kata yang tegas dan penuh penekanan.
Ares menatap Laras beberapa saat sebelum ia kembali ke kelas. Ares tau tatapan Laras itu. Dia terkejut bukan main. Hah, mungkin ini adalah puncak dari persahabatan Ares dan Barra. Sudahlah, Ares tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Biarkanlah ini menjadi bagian dari masa lalu yang tidak perlu diingat-ingat lagi.
Barra mengepalkan tangan kuat-kuat sambil memandangi punggung Ares yang mulai menjauh. Punggung itu bahkan masih berjalan dengan kokoh meskipun mulai terdengar berbagai hinaan dan cacian di sepanjang jalan yang ia lalui. Ya, Ares itu sekuat itu. Kalian tidak akan pernah tau betapa kuatnya seorang Ares. Kalau itu Barra, hah, Barra tidak akan mampu berjalan sekolah itu di atas hinaan dan cacian orang lain.
Kali ini Keanu berada di pihak Ares. Barra sudah bertindak terlalu jauh. Ares itu seorang sahabat yang setia kawan. Susah mencari seorang sahabat seperti Ares. Itu hanya satu dari 100. Keanu tau begitu karna Keanu mencari tau dalam-dalan lingkaran pertemanan Ares baik di sekolah ataupun di luar sekolah. Beberapa teman Ares di sekolah ini pun bahkan ada yang pengguna narkotika. Tapi, apa yang Ares lakukan? Dia tutup rapat-rapat rahasia itu tanpa mau mengumbarnya kepada siapapun. Ares pun bahkan bersedia membantu satu dan dua temannya untuk menjalani rehabilitasi tanpa pihak sekolah mengetahui hal ini. Semulus itu? Ya, semua berkat bantuan dan kesetiakawanan seorang Ares. “Lu bakalan nyesel Bar,“ batin Keanu.
“WOY! LEMES BANGET MULUT LU PADA! BISA DIEM NGGAK SIH! KEK LU SUCI AJA, HAH? GUE BONGKAR RAHASIA LU PADA BARU TAU RASA. JANGAN LU KIRA GUE NGGAK PUNYA BUKTI YA YANG SUKA NGEHOTEL SAMA CLUBBING TRUS JADI CEWE/COWO PANGGILAN.“ ucap Putra berteriak di kelas. Semua orang pun langsung diam. Putra itu adalah seseorang yang tidak asing dengan dunia malam. Bahkan, ia tau siapa-siapa saja siswa dan siswi di sekolah ini yang berbuat tidak-tidak di luar sana. Jangan dikira Putra itu tidak tau apa-apa.
“Jangan dengerin mereka Res.“ ucap Putra. Ares pun tersenyum saja sambil mendengarkan musik melalui earphone. Salah satu sahabat Ares yang telah menjalani rehabilitasi dan bertaubat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Cukup sekali ini saja, kata Putra.
Ares mengisi waktu istirahat dengan bermain sepak bola bersama teman-teman yang lain. Meskipun banyak yang melempari Ares dengan cacian dan makian, namun masih banyak juga yang menyemangati Ares. Ares langsung menatap Keanu datar saat Keanu datang tanpa diundang dan ingin ikut bermain. Hah, Ares masih ingat kekalahannya beberapa waktu lalu. Sangat sangat memalukan sekali.
Permainan pun dimulai dengan sengit. Semua orang meneriaki tim Ares tentunya. Di luar dugaan, tim Ares berada di atas tim Keanu. Kali ini Ares yakin akan memenangkan permainan kali ini. Namun, entah bagaimana ceritanya tangan Ares mengenai kepala Keanu dan membuat sesuatu yang menempel di kepala Keanu terlepas begitu saja.
Keanu langsung terdiam dengan mulut setengah menganga dan kedua alis yang hampir saling bertautan. Ya, wig yang Keanu kenakan terlepas, dan terpampang lah rambut gondrong Keanu terurai yang indah itu. Semua orang yang ada disana pun terkejut bukan main. Sungguh Keanu terlihat badboy sekaligus tampan sekali, meskipun ia mengenakan kacamata minus dan behel sekalipun.
Ares mencium-cium hawa seekor banteng ingin menyeruduk dirinya. Ares pun tersenyum lima jari dan bersiap-siap ingin segera lari dari sana. “SORRY KEAAAA GUE NGGAK SENGAJAAAA,“ ucap Ares berteriak. Ares dan Keanu pun malah kejar-kejaran mengelilingi lapangan. “Bangsat lu Res,“ umpat Keanu. Kenapa Ares bisa lari secepat itu?, batin Keanu. Keanu sudah ngos-ngosan. Mungkin keduanya telah mengelilingi lapangan nan besar dan luas ini lebih dari 5 kali.
Irfan ingin membersihkan diri di kamar mandi sebentar. Irfan pun keluar dari kamar menghampiri Ami yang seperti biasa bersantai di teras belakang sambil memandangi tanah kehijauan yang amat luas. Disini juga bisa bermain golf. “Ami?“ seru Irfan. Ami tidak menoleh. Ia hanya mengerlingkan mata ke samping tanpa menyahut sepatah kata pun.
“Ini hp aku, tolong kamu pegang ya? Soalnya aku mau mandi. Takutnya ada temen bisnis yang nelpon, jadi biar kamu yang angkat. Ntar kamu tinggal kasih tau aku misal beneran ada yang nelpon. Ok?“ ucap Irfan. Ami diam saja. Irfan pun tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Ami.
Baru pertama kali ini Ami melihat ada seorang pria dengan senang hati memberikan hp, yang notabene adalah hal yang amat sangat pribadi kepada orang lain. Hm, kira-kira isi hp milik Irfan ini apa ya?, batin Ami. Hah? Kedua alis Ami berkerut saat ia mengetahui kalau hp Irfan itu sama sekali tidak dikunci.
Ini semakin memudahkan Ami untuk melihat siapa saja yang ada di hp Irfan. Pertama Ami buka aplikasi chat di whatsapp. Hah, benar saja, semuanya teman bisnis Irfan. Memangnya Irfan tidak mempunyai teman apa? Sampai-sampai semuanya hanya berisi tentang hal yang berbau bisnis saja?
Disini juga ada beberapa grup chat seperti travelling, bisnis mana, dan grup alumni dari SD, SMP, SMA, sampai kuliah. Ami tidak sengaja membuka isi chat di grup tersebut, dan tanpa Ami sadari ia tersenyum samar melihat isi chattan tersebut yang nampak lucu dan menghibur.
Namun, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. “Halo,“ seru Ami. “Irfan mana?“ tanyanya dari seberang sana. Kenapa suara perempuan ini terdengar sangat familiar?, batin Ami. Ami merasa pernah mendengar suara ini di suatu tempat. Tapi, dimana?
“Irfan lagi mandi,“ sahut Ami dingin. “Kamu siapa, hah? Oh, calon istri dia yang cacat itu ya?“ hardik Astrid. Ami sama sekali tidak tersinggung, karna nyatanya ia sama sekali tidak cacat, melainkan ia harus full bedrest untuk kehamilannya kali ini. “Tutup mulut kamu Astrid.“ ucap Ami. Astrid ini benar-benar perempuan tidak beretika, ya?, batin Ami.
“Seharusnya kamu ya yang tutup mulut dan sadar diri. Bukan aku. Eh, Irfan itu milik aku, dan kamu cuman sampah doang jangan bangga.“
Dzafina berdiri di belakang sana mendengar pembicaraan Ami di telepon. Dzafina terkejut saat ia mendengar Ami memberikan ancaman dengan seseorang. Ah, bukankah itu hp Irfan?, batin Dzafina. Tunggu dulu, apa jangan-jangan yang menelepon adalah Astrid? Si perempuan ular itu?
“Emangnya kamu siapa, hah? Jangan sok belagu deh,“
“Kamu liat aja dalam 1X24 jam nanti, apa yang bakalan terjadi ke kamu. Aku bakalan kasih kamu peringatan Astrid. Irfan itu calon suami aku. Kamu nggak berhak deketin dia. Kamu cuman masa lalu dia. Ngerti? Sampah jangan teriak sampah.“
Dzafina tercengang melihat Ami bisa seberani itu. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri Irfan? Apa artinya ini? Apakah Ami sudah mulai menerima Irfan? “Ami?“ seru Dzafina. Ami pun menoleh tanpa menyahut sama sekali. Dzafina tidak masalah dengan hal itu. Sebagai perempuan Dzafina memahami perasaan yang dirasakan oleh Ami. Menerima sesuatu yang kita benci itu memang bukan perkara mudah.
“Hp Irfan, ya?“ seru Dzafina. Ami pun menganggukkan kepala pelan. Dzafina tersenyum. Dzafina mendadak ingin menitikkan air mata. “Kamu tau nggak Ami? Pas kami denger Irfan ngomong jujur ke kami semua karna dia udah lakuin itu ke kamu ampe kamu hamil. Kami itu marah campur bahagia. Marah karna Irfan udah ceroboh. Bahagia karna dia mau bertanggung jawab dan juga kami bakalan punya dede bayi baru lagi nanti.“
“Kamu tau nggak? Mama sama papa senengnya bukan main loh.“ ucap Dzafina sembari mengusap sudut matanya yang berair. “Mba ngomong gini nggak ada maksud buat belain Irfan ato apapun nggak ada sama sekali. Tapi, satu hal yang kamu musti tau, Irfan itu.. Dia kalo udah sayang dan mau bertanggung jawab, dia pasti bakalan pertahanin itu ampe akhir Ami,“
“Itu lah yang bikin Astrid malah ngeremehin Irfan. Dia mikir dengan kepribadian Irfan yang teguh pendirian itu Irfan bakalan pertahanin dia bahkan kalo dia sendiri ngehianatin Irfan. Tapi, di saat kepercayaan dan perjuangan Irfan itu sendiri dihianatin, no, Irfan bakalan berhenti saat itu juga Ami.“
Benar kah begitu?, batin Ami. Ami sedikit tergugah hatinya setelah mendengar kata-kata Dzafina. “Ya, kamu bisa liat sendiri, nggak ada istilah privasi antara dia ke kamu. Hp dia aja dia kasihin ke kamu, kan?“ ucap Dzafina. Benar, apa yang Dzafina katakan itu memang benar. Bahkan, hp Irfan tidak dikunci sama sekali. Hah, sebegitu besar kepercayaan yang Irfan berikan kepada Ami.
“Lagi ngerumpiin apa? Rame banget?“ seru Irfan. “Kepo,“ sahut Dzafina. “Mba keluar dulu ya Ami, mau jemput Caesar sama Serena dulu ke sekolah.“ ucap Dzafina. Ami tersenyum tipis meskipun terlihat sangat dipaksakan. “Tadi ngomongin apa?“ tanya Irfan. “Nggak ada,“ sahut Ami sedikit ketus.
“Fan,“ seru Ami. “Hm? Apa Ami?“ sahut Irfan berjongkok di samping kursi roda Ami. Ami ingin menguji seberapa besar kasih sayang dan kepercayaan yang Irfan berikan kepada Ami. Tadi Ami tidak sengaja membaca chat di whatsapp, kalau Irfan memiliki rapat penting siang ini, dan itu sebentar lagi. Irfan membersihkan diri itu mungkin dia ingin segera bersiap-siap pergi. “Gue mau jalan-jalan,“ ucap Ami.
“Boleh, mau kemana?“ sahut Irfan mengiyakan tanpa mempertimbangkannya sama sekali. “Terserah,“ ucap Ami. Hah, mengapa Irfan malah mengiyakannya dengan mudah bahkan tanpa memikirkan sekalipun? Ami tidak untuk mengetahui rapat jenis apa yang akan Irfan lakukan nantinya. Itu adalah rapat penting mengenai kerja sama bisnis dengan keuntungan miliaran hingga puluhan miliar. Dan Irfan membatalkannya begitu saja? Kalau itu Ami mungkin ia akan memperhitungkan hal itu kembali.
“Hmm,“ gumam Irfan berpikir sebentar. Sama sekali tidak beban terlukis di wajah tampan Irfan. Irfan bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. “Ke pantai aja kali, ya? Seger hehe,“ ucap Irfan kemudian. Ia pun mengirimkan pesan kepada Andre untuk membatalkan rapat siang ini, karna ia sendiri tiba-tiba ada kesibukan lain. Ya, kesibukan mendampingi calon istri jalan-jalan siang. Not bad, batin Irfan.
“Loh? Fan? Mau kemana? Kan kamu ada rapat siang ini, nak?“ seru Diomira, ibu Irfan. “Irfan tunda ampe besok ma, ini mau jalan-jalan dulu.“ sahut Irfan. “Oh gitu~ Hati-hati loh Fan ngangkat Ami nya~“ ucap Diomira memperingatkan supaya Irfan berhati-hati. “Iya ma, Irfan otw dulu ya?“ ucap Irfan tersenyum. Setelah mengucapkan salah, Ami dan Irfan pun pergi ke pantai membelah jalanan Kota Mataram.
Ares melamun sambil mengiris bawang. “Akh,“ pekiknya saat dirasa mata pisau itu menyayat jari telunjuk Ares sampai berdarah. “Res? Kenapa? Duh, kamu kenapa kok ampe luka gini ya ampun,“ seru Camilla. “Mungkin Ares lagi nggak fokus aja inak,“ sahut Ares. Ya, Ares masih memikirkan kejadian di sekolah tadi. Dalam hati Ares berharap Barra akan kembali seperti dulu, menjadi sahabat terbaik Ares. Tapi, di sisi lain Ares juga tidak ingin memaksa Barra.
“Udah, kamu ke depan aja, biar inak yang kerjain.“ ucap Camilla. Ares pun duduk di ruang tamu setelah menempelkan hansaplast di jarinya. Ia buka aplikasi chat WA dan membuka ikon status. Ya, Ares ingin menuliskan sebuah status berisi kata-kata mutiara.
ARES CASUGRAHA:
“Kata orang mati satu tumbuh seribu. Kehilangan satu tidak apa-apa karna suatu saat kita akan mendapatkan lebih banyak. Biarkan orang lain menggores luka di hati, asal jangan diri ini yang menggores luka di hati orang lain.“
“Manusia itu terlahir suci dan bersih. Namun, saat ia sudah beranjak dewasa, tidak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Begitu pula dalam hal memilih teman, tidak ada satu pun di antara mereka yang sempurna, menerima kekurangan mereka adalah cara terbaik atas nama sebuah 'PERSAHABATAN'.“
Sejurus kemudian Ares pun mendapat banyak tanggapan di chat. Tapi, ia sengaja mengabaikan itu semua dan malah merubah hp nya ke dalam mode hening. Kalian tau suara-suara notifikasi yang menyala aktif itu sangat mengganggu sekali? Huh, beruntung sebentar lagi sudah mendekati ulangan semester akhir. Ares bisa menumpahkan semua kekesalan dan kemarahannya dengan belajar.
Setelah satu jam lebih Ares belajar, rasa kantuk pun mulai menyerang. Ares tidak kuasa lagi menahan rasa kantuk ini hingga akhirnya ia pun tertidur dengan posisi kepala ia rebahkan di atas meja. Tanpa Ares sadari sebuah peristiwa besar pun terjadi. Hp Ares berdering berkali-kali. Bahkan, panggilan masuk itu tercatat sudah ada 30 panggilan lebih. Namun, Ares tidak bergeming. Ia masih berkelana di dunia mimpi.
“Duh, Jangan-jangan Ares kenapa-napa lagi?“ gumam Rakha berpikir yang tidak-tidak. Ia pun menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Baru saja Rakha pulang dari kantor, ia pun langsung tancap gas menuju rumah Ares. Rakha sampai-sampai harus ngebut dengan kecepatan maksimum.
“Assalamu'alaikum tok tok assalamu'alaikum,“ ucap Rakha terdengar sangat khawatir. Rakha bahkan mengetuk pintu berkali-kali tanpa henti. “Iya? Tunggu,“ sahut Camilla dari dalam sambil mengikat rambut. “Eh? Nak Rakha? Masuk nak,“ ucap Camilla mempersilahkan Rakha untuk masuk. “A-Ares mana bu? Ares nggak papa, kan? Soalnya saya telponan dari tadi dia nggak angkat,“ ucap Rakha ketara sekali kekhawatiran di wajahnya.
Camilla malah tersenyum. Seketika membuat Rakha terheran-heran. “Tuh, ketiduran dia,“ ucap Camilla menunjuk ke arah meja di ruang tamu. Rakha pun menghembuskan nafas lega. Oh tuhan, untunglah Ares tidak apa-apa. “Posesif banget kamu Rakha, yang kek Ares mau kemana aja wkwkwk,“ ucap Camilla diiringi suara tawa.
“Gimana nggak khawatir, bu? Saya telponan dari tadi nggak diangkat. Dari nelpon lewat WA, messenger, line, instagram, ampe yang pake pulsa juga nggak Ares angkat, bu.“
“Udah udah ah Rakha ibu jadi mau ketawa mulu tau. Kamu susul aja sana gih si Ares. Bangunin.“
Rakha pun menyusul Ares di ruang tamu. Benar saja, Ares tertidur pulas, bahkan suara dengkurannya saja terdengar sangat jelas. Selelah itu kah Ares belajar sampai-sampai ia tertidur seperti ini? Hah, tidak salah memang Rakha memilih seorang istri seperti Ares, pintar dan rajin belajar—juga bekerja. Tentunya juga pintar mengurus suami di rumah.