![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Deon sudah bersiap-siap ingin pergi ke suatu tempat. Dia juga mengenakan kemeja over size warna pure white dan celana jeans warna biru—pun rambut yang ditata sedemikian rupa dengan gaya comma hair. Uh, Deon terlihat amat sangat tampan. “Mau kemana? Kamu nggak kerja?“ seru Alena saat ia melihat Deon yang nampak terburu-buru.
Hari ini hari senin. Deon terpaksa libur bekerja satu hari. “Errr..“ Deon bingung. Bagaimana Deon harus menjawab pertanyaan sangat ibu? “Deon, jujur sama mama,“ ucap Alena lagi. Disini juga ada Yudi yang sedang membaca koran ditemani secangkir teh hangat. “Deon mau ke ketemuan sama temen ma,“ sahut Deon. Mata Alena menyipit curiga. Bertemu teman?, batin Alena. “Kok rapi begitu? Kek mau ketemu pacar aja?“ ucap Alena membuat Deon tertohok.
“Uhuk,“ Deon langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan Alena barusan. Benar juga. Kenapa Deon bisa berpenampilan serapi ini, ya?, batin Deon. “Ng-nggak ada kok ma. Deon belum punya pacar,“ ucap Deon gugup. “Kalo gitu Deon jalan dulu ya ma pa? Assalamu'alaikum,“ ucap Deon lalu mencium tangan Alena dan Yudi.
“Biarin aja lah ma~ Deon libur kerja sekali-kali demi pacar,“
“Bukan itu masalahnya pa. Mama penasaran aja siapa pacar Deon. Soalnya mama nggak pernah liat Deon jalan-jalan sama cewek apalagi ngenalin cewek ke mama.“
“Namanya juga anak muda, gengsi lah ma kalo langsung ngenalin ke orang tua,“
Hm, Mudah-mudahan Deon memiliki seorang kekasih yang cantik dan pengertian, batin Alena. Deon sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Melihat Deon bisa berpenampilan serapi itu, rasanya hati Alena juga bahagia. Pasalnya Deon itu jarang sekali pergi keluar, apa lagi sampai libur kerja demi seorang pacar.
Saat turun dari bandara, Darren pun menghentikan langkah kakinya tiba-tiba—pun Edgar ikut berhenti jua. “Maaf, Tuan? Apa ada masalah?“ seru Edgar. Barangkali Darren kehilangan dompet atau ada barang penting yang tertinggal di pesawat, batin Edgar. “Kita ke rumah mama sendiri-sendiri aja.“ ucap Darren. “Tapi, Tuan? Saya harus—“ belum sempat Edgar menyelesaikan perkataannya, Darren memotong terlebih dahulu, “Hari ini kamu saya bebas tugaskan Edgar. Besok baru balik lagi. Jangan nolak. Ini perintah.“ ucap Darren. Edgar sedikit terkejut saat Darren tiba-tiba membebas tugaskan dirinya hari ini. Edgar berpikir, mungkinkah ia telah berbuat kesalahan?
Darren tersenyum samar. Edgar tidak tau jika Darren tersenyum samar, lantaran Edgar menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada tuannya. Ya, inilah hadiah yang ingin Darren berikan kepada Edgar, membiarkan Edgar berjuang untuk mengejar cintanya. “Kalau begitu saya duluan,“ ucap Darren tersenyum tipis. Uh, beberapa wanita yang tidak sengaja berpapasan dengan Darren bahkan sempat terpesona akan senyuman Darren itu. Benar kata orang, orang yang jarang tersenyum seperti Darren, sekalinya tersenyum benar-benar amat sangat menggoda iman. Sungguh memikat hati para jomblowati dan jomblowan mungkin?
Lagi-lagi Deon dilanda kebingungan. Deon mondar-mandir sambil sesekali menggigit bibir bagian bawah. Ingin Deon mendial nomor hp Edgar. Namun, Deon gengsi. Masa Deon harus lebih dulu menelepon? Bagaimana pikiran Edgar nanti tentang dirinya? Hah, Deon menghela nafas berat. “Ok, kita sms aja,“ gumam Deon.
DEON:
“Dimana?“
Singkat dan padat. Itulah isi dari sms yang Deon kirimkan kepada Edgar. Beberapa saat kemudian, hp Deon berdering. Ah, ini balasan dari Edgar, batin Deon. “Maju 25 langkah.“ itulah isi balasan sms dari Edgar. Hah, apa-apaan Edgar ini?, batin Deon sebal. Kenapa Edgar tidak langsung memberitahu Deon saja secara langsung persisnya dimana? Maju 25 langkah? Dasar pria aneh, batin Deon.
Huft, Deon pun terpaksa melangkahkan kaki ke depan sebanyak 25 langkah. Cih! Dia pasti menipu, batin Deon. Dimana Edgar sekarang? Deon sudah maju 25 langkah. Tapi, Edgar sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. “Saya disini,“ seru Edgar berbisik tepat di telinga Deon dari belakang. “Hah?“ gumam Deon terheran-heran setelah melihat kemunculan Edgar yang tiba-tiba.
“Kamu hari ini sibuk?“ tanya Edgar. Edgar sampai-sampai menaikkan sebelah alisnya, melihat keterdiaman Deon. “Ng-nggak kok,“ sahut Deon terlihat canggung. Deon benar-benar harus mendongakkan kepala saat berbicara dengan Edgar. Asal kalian tau bahwa Edgar memiliki tinggi kurang lebih 191cm, sedangkan Deon 170cm saja, sangat berbeda jauh, bukan?
“Hati-hati,“ seru Edgar melingkarkan tangannya di pinggul Deon. Deon hampir saja bertabrakan dengan orang lain. Sedangkan Edgar hanya berniat ingin melindungi Deon saja. Deon jujur saja agak risih diperlakukan seperti ini oleh Edgar, yang notabene Deon belum terlalu kenal. “Jangan berontak, saya cuma nggak mau kamu kenapa-napa,“ ucap Edgar seolah mampu membaca pikiran Deon.
Saat akan keluar dari bandara, Deon dan Edgar tidak sengaja berpapasan dengan Evan yang sedang menarik kopernya sendiri. Kalau dilihat-lihat mungkin Evan ingin pergi dinas. Entah ke luar kota atau keluar negeri. Saat Deon ingin menyingkirkan tangan Edgar dari pinggulnya, Edgar malah sebaliknya, semakin mempererat lingkaran tangannya disana.
“E-Evan?“ seru Deon terkejut. Deon menelan ludah susah payah. Meskipun ia dan Evan telah berpisah. Tetap saja Evan terlihat begitu sangat memesona. Dalam hati Deon juga merasa rindu. Bibir Deon sedikit bergetar. Namun, ia mencoba menahannya sekuat tenaga. Jangan sampai bulir-bulir mutiara ini berjatuhan begitu saja.
“Deon?“ seru Evan. Suara itu kembali menggema di telinga Deon. Deon tertegun. “Mau berangkat dinas?“ tanya Deon sekedar berbasa-basi. Uh, ingin Deon bisa berbincang-bincang lebih lama lagi dengan Evan. Tapi, Deon tidak lagi bisa berada pada situasi dan hubungan sedekat itu. “Hm,“ sahut Evan dengan deheman saja. Evan juga menahan sesak di dada. Jujur Evan juga amat sangat merindukan Deon, sang mantan kekasih.
Bagaimana ini? Sebentar lagi Evan harus take off. “Maaf, aku musti berangkat sekarang, jaga diri kamu baik-baik De,“ ucap Evan tersenyum tipis. Ia menatap Edgar sebentar. Lalu, langsung berlalu begitu saja. Hah, dada Deon terasa semakin menyesakkan saja. “Ehem,“ gumam Deon. Tenggorakannya terasa tercekat. Ya, Deon menahan tangis.
“Ed? Tolong kamu aja yang nyetir, ya?“ seru Deon memberikan kunci mobil kepada Edgar. Edgar harus melakukan sesuatu. Lihatlah kedua bola mata itu saat berkaca-kaca. Terlihat rapuh sekali. Edgar tidak sanggup melihat Deon seperti itu. Hah, Edgar menghela nafas, dan Deon sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Suasana hati Deon semakin memburuk. Sepanjang perjalanan Deon tidak berhenti menangis. Deon selalu saja terisak dan berkali-kali mengusap air matanya dengan punggung tangan. Deon lemparkan pandangan matanya keluar jendela. Ya tuhan, tolong hapuskan semua kesedihan dari dalam hati ku, batin Deon. Sungguh rindu Deon kepada Evan yang teramat sangat itu amat sangat menyiksa.
Deon terus bergelut dengan pikirannya yang terus saja memutar kembali kisah di masa lalu. Hingga tanpa ia sadari mobil yang dikendarai oleh Edgar terparkir di sebuah resort. “Uh? Kita dimana?“ tanya Deon seolah baru tersadar. Edgar diam saja lalu melepaskan seatbelt yang masih terpasang di badan Deon. Deon malah menatap Edgar penuh tanya. “Turun. Nanti kamu tau sendiri.“ sahut Edgar sok misterius.
“Waaahh,“ gumam Deon berdecak kagum saat ia dan Edgar turun dari mobil. Bukankah ini adalah Katamaran Resort?, batin Deon. Gaji Deon satu bulan pasti akan habis sekejap jikalau dirinya berjalan satu sampai dua malam saja disini. Sungguh menakjubkan, batin Deon. Bagaimana tidak? Sebagai seorang teller bank, Deon cuma menerima gaji sebesar 5jt saja setiap bulan. Sedangkan Katamaran Resort, per malamnya sekitar 2,4jt.
Hah, Deon menghela nafas. “Kita ngapain kesini?“ tanya Deon. “Tau deh,“ sahut Edgar acuh tak acuh. Pria jangkung ini dasar, batin Deon sebal. Deon dan Edgar pun masuk ke dalam. Ini sungguh di luar ekspektasi Deon. Deon merasa dirinya seperti ada di belahan dunia lain. Deon berjalan menuju teras dan lagi-lagi ia berdecak kagum. Semua rasa sedih dan pilu seolah sirna.
Lihatlah tipe kamar Ocean View Suite yang di booking oleh Edgar persis berhadapan langsung dengan Infinity Pool dan Private Beach. “Gimana? Suka?“ seru Edgar. Deon pun menoleh ke samping melihat Edgar yang sudah melepas jas serta rompi, dan menyisakan kemeja putih saja—serta bagian tangan yang ia gulung sampai ke sikut. Sesaat Deon tertegun melihat tangan Edgar yang nampak kekar dan beurat itu. Namun, tidak berlebihan sama sekali. Edgar sambil meminum minuman kalengan. Uhm, terlihat seperti bir? Entahlah, batin Deon.
“Deon?“ seru Edgar. Lihat, mata kebiru-biruan itu mulai menatap Deon lurus hampir tanpa berkedip. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal romantis seperti yang kalian pikir. Edgar hanya ingin memastikan saja, apakah Deon merasa nyaman disini atau tidak.
“Bayar? Gratis?“ seru Deon ragu-ragu. “Pft,“ Edgar menahan tawa. Jadi, Deon takut kalau-kalau Edgar meminta bayaran sejumlah uang? Oh tuhan, Deon Deon, batin Edgar. Lihatlah ekspresi Deon yang berubah drastis itu. Hahaha, dalam hati Edgar tertawa terbahak-bahak. “Jangan ketawa. Gaji aku sebulan 5jt doang.“ ucap Deon terdengar seperti memelas.
Deon cemberut. Edgar ini senang sekali ya menertawai orang lain?, batin Deon. “Gratis~ Lagian gaji saya satu bulan bisa buat tinggal di resort ini ampe 3 bulanan.“ ucap Edgar terkekeh geli. “Ed!“ seru Deon semakin sebal. Uh, lebih baik Deon jalan-jalan ke depan sana, ke bibir pantai melihat ombak yang menari-nari. Disini tergolong sepi karna bisa dibilang disini adalah salah satu private beach untuk ocean views suite.
Edgar pun menghampiri Deon dengan celana panjang hitam yang sudah Edgar gulung sampai lutut supaya tidak terkena deburan ombak. “Besok aku kerja,“ ucap Deon singkat. “Libur dulu,“ sahut Edgar. “Nggak bisa. Hari ini aku udah ijin.“ ucap Deon.
“Udah saya bantu ijin buat libur besok,“
“Hah? Masa? Ketauan banget boongnya,“
“Serius. Coba tanya ke atasan,“
Kedua alis Deon saling bertautan. Ia tatap Edgar dengan tatapan curiga dan tidak percaya. Memangnya Edgar siapa? Sampai-sampai dia bisa seakrab itu dengan atasan Deon di kantor? “Fan, bener nggak sih gue ijin dua hari sama besok? Perasaan gue ijin sehari doang deh?“ tanya Deon ke Fany melalui chat whatsapp.
“Beneran Yon. Tadi ada orang nelpon gitu dan atasan langsung lapor juga ke kita-kita. Tapi, siapa yang nelpon sih gue kagak tau.“ isi balasan dari Fany. Deon menelan ludah susah payah lalu menoleh ke samping menatap Edgar yang minum sambil berdiri. Deon terus saja menatap Edgar dengan kedua tangan bersedekap di dada. Lalu, Deon langsung merebut minuman beralkohol itu dari Edgar.
“Kamu sebenernya siapa?“ tanya Deon antara marah dan penasaran. “Deon, saya nggak suka kamu liatin saya kek gitu.“ ucap Edgar terdengar sedikit dingin dan penuh penekanan. Ya, Edgar tau tatapan marah Deon itu, dan Edgar tidak suka akan hal itu. Bagi Edgar seseorang tidak pantas menatap orang lain dengan tatapan marah seperti itu tanpa mengetahui sebab terlebih dahulu, entah itu teman, sahabat, kerabat, atau keluarga. “Selama kamu marah sama saya, saya nggak bakalan mau jawab,“ ucap Edgar lagi. Tatapan Edgar itu mengerikan, batin Deon. Hah, Deon pun menghela nafas.
“Ok, sekarang aku tanya, kamu siapa? Kenapa kamu bisa minta ijin ke atasan aku? Jujur aku nggak pernah liat kamu dateng ke kantor sebelumnya,“ ucap Deon dengan intonasi kalimat yang lebih tenang dan tidak ketus. Edgar tersenyum samar. Deon ini penurut sekali, batin Edgar. “Saya Edgar Loudon lulusan S2 jurusan hukum di Universitas Oxford. Saya bekerja di bawah Darren Scott sebagai pengawal pribadi.“ sahut Edgar menjelaskan sedikit tentang dirinya pada Deon.
Deon terkejut mendengar penuturan Edgar barusan. Edgar bukan orang biasa, batin Deon. Lulus dengan predikat S2 jurusan hukum disana sangatlah tidak mudah. Sungguh Deon tidak mampu bayangkan betapa jeniusnya seorang Edgar. Edgar terkekeh melihat keterkejutan Deon dengan mulut setengah menganga itu. “Trus kamu di Indonesia ngapain? Kenapa musti sebulan sekali kesini?“ cerca Deon penasaran.
“Anak kecil nggak boleh banyak tanya,“ sahut Edgar tersenyum penuh arti. Uh, apa-apaan Edgar ini? Semua hal dibuat misterius. Huh, kalau saja dia orang biasa, mungkin Deon sudah memberi Edgar pukulan manis. Deon sungguh terlihat sangat menggemaskan saat dia merajuk seperti ini, batin Edgar. Sambil berjalan-jalan pelan di pesisiran pantai, keduanya sambil berbicara tentang kehidupan masing-masing, meskipun Deon kerap kali kesal karna Edgar itu sangat tertutup dan tidak semua pertanyaan Deon dijawab begitu saja. “Entahlah, tau deh,“ dua kalimat itu saja yang sering keluar dari bibir Edgar. Mengesalkan, bukan?
“Deon,“ seru Edgar. Deon pun menoleh. “Sampai kapanpun kamu nggak bakalan bisa move on dari Evan,“ ucap Edgar. Hah? Maksud Edgar berkata seperti itu kepada Deon, apa? Kembali mendengar nama itu disebut, hati Deon terasa diiris-iris. “Selama kamu nggak dapetin ganti Evan. Kamu nggak bakalan bisa move on. Sama halnya seperti kamu yang nggak nemuin tempat cuci mobil, mobil kamu nggak bakalan bisa sebersih itu, meskipun kamu cuci sendiri di rumah.“ ucap Edgar. Langkah keduanya pun terhenti seketika. Deon dan Edgar saling bertatapan.
“Bukan urusan kamu Ed,“
“Cuma orang bodoh yang masih kepikiran buat balikan ato milikin orang tersebut. Padahal dia udah nyakitin kamu berkali-kali.“
“Udah Ed, aku nggak mau bahas,“
Deon langsung memalingkan wajahnya dari Edgar. Hah, siapa Edgar sampai dia harus ikut campur masalah Deon seperti ini? Edgar bukan siapa-siapa, batin Deon. “Kamu nggak usah urusin masalah aku Ed. Kamu cuma temen yang baru aku kenal, dan bukan siapa-siapa, apa lagi keluarga ato temen deket.“ ucap Deon kemudian. Edgar mengepalkan tangan dengan rahang yang mulai mengeras. Heh, Edgar mendengus pelan.
“Bisa ganti yang double bed aja nggak?“ seru Deon. Edgar melepaskan kemeja yang ia kenakan dan memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan terbentuk sempurna. Edgar diam saja. Ia membuka lemari mencari beberapa pakaian yang bisa dipakai. “Kamu dengerin aku ngomong nggak sih, Ed?“ seru Deon lagi semakin sebal dibuatnya. “Kamu bilang saya bukan siapa-siapa, kan? Jadi, nggak masalah dong kalo kita tidur berdua di single bed? Hm?“ ucap Edgar sarkasme. Tatapan tajam Edgar itu, membuat nyali Deon menciut. Deon sampai harus melemparkan pandangannya ke objek lain.
Edgar duduk di teras sambil menyalakan laptop. Beberapa urusan kantor memang terkadang diserahkan kepada Edgar. Meskipun bukan hal besar, setidaknya ini bisa membantu mengurangi kesibukan Darren. Deon tau Edgar itu marah meskipun dia tidak banyak bicara. Hah, Deon menghembuskan nafas kesal.
Uh, ini sudah senja, dan sedari tadi Deon belum makan apapun. Laper banget, batin Deon. Keluar dari kamar mandi, Deon melihat Edgar yang mengenakan handuk piyama duduk setengah rebahan sambil bersender. Dia masih sibuk rupanya, batin Deon. Sejak pertengkaran singkat tadi keduanya sama-sama saling diam. Deon pun duduk di pinggiran ranjang. Edgar sama sekali tidak menoleh barang sedikit.
Bagaimana ini? Gue laper banget masa? Gimana mau pesen makanan coba? Makan sendiri aja apa gimana?, batin Deon. “Ed?“ seru Deon memberanikan diri menyapa Edgar lebih dulu. “Hm," sahut Edgar dingin. Uh, Deon jadi tidak enak hati. Haruskah Deon meminta maaf kepada Edgar?
Deon pun geser ke kiri sedikit menghampiri Edgar. “Ed?“ seru Deon hati-hati sambil mencolek lengan Edgar. “Plis jangan marah lagi,“ ucap Deon. Edgar pun menoleh dan wajah keduanya kini dekat sekali, mungkin cuma berjarak 15cm saja. Deon sempat terdiam memandangi wajah Edgar dari dekat seperti itu. “Mata kamu biru,“ seru Deon tanpa ia sadari.
“Ehem, a-aku laper,“ ucap Deon. Dalam hati Deon benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Dasar tidak tau malu, batin Deon. Tapi, mau bagaimana lagi? Deon saat ini benar-benar lapar. Edgar tiba-tiba menarik pergelangan tangan Deon, lalu mengecup leher Deon dan menghisapnya dalam-dalam sampai berbekas. Kontan Deon pun terkejut bukan main sambil memegangi lehernya yang dikecup oleh Edgar barusan.
“Ka-ka-kamu ngapain?“ tanya Deon panik. Edgar ini mesum atau bagaimana sih?, batin Deon. “Biar orang mikirnya kamu udah ada yang punya,“ ucap Edgar beranjak dari tempat tidur lalu segera berganti pakaian. Setelah selesai berganti pakaian, Edgar melihat Deon masih terduduk di atas tempat tidur sambil memegangi leher. “Cepetan, mau makan nggak?“ seru Edgar.
Deon pun keluar setelah berganti pakaian beberapa saat. Disana sudah ada Edgar menunggu. Deon salah tingkah dan bahkan ia agak menjaga jarak dari Edgar. Sialnya Edgar malah meraih pinggul Deon. “Kamu?!“ seru Deon. Hampir saja Deon ingin meledak-ledak. Tapi, ia ingat, saat ini ia dan Edgar berada di tempat umum. Sangat memalukan sekali kalau Deon harus marah-marah disini. Nanti orang lain mengira keduanya sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
.
.
.
Edisi khusus Deon X Edgar. Kalau gue di posisi Deon, mungkin gue udah kesel di tingkat akut ngadepin orang kek Edgar wkwkwk. Jangan lupa baca LION HEART [BL] juga ya!