![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Suasana hati Rakha sore ini begitu sangat bagus. Dia bahkan membelikan Ares makanan dan pakaian baru, dan setangkai bunga? Hm, biarin aja lah, salah bunganya juga kenapa bisa warna lilac unyu kek gitu haha, batin Rakha. Tiba di rumah sendiri—pun Rakha langsung turun dari motor. “Dek! Ares! Sayang! Istri mas ganteng!“ seru Rakha berteriak dengan semangat. “Iya iya,“ sahut Ares dari dapur. Ares pun menghampiri Rakha di ruang depan; dengan posisi masih memakai celemek. “Nggak usah teriak-teriak juga kali, mas? Toh aku bisa denger kok,“ ucap Ares sebal.
“Ini ada baju baru buat kamu sama makanan buat kita makan juga,“ ucap Rakha sembari memberikan bungkusan plastik berisi makanan dan paper bag berisi beberapa pakaian baru. Ares terheran-heran. Tumben Mas Rakha belanja banyak kek gini?, batin Ares. “Eh? Ini bunga apaan mas? Buat apa?“ tanya Ares. Di dalam paper bag itu, terselip beberapa tangkai bunga berwarna keungu-unguan. “Itu bunga lavender. Katanya bagus buat kesehatan,“ sahut Rakha. “Oh, satu lagi,“ ucap Rakha sembari mengeluarkan map coklat dari dalam tas, lalu memberikannya kepada Ares.
“Ini map isinya bukti-bukti siapa pelaku yang udah ngechat mas nggak jelas,“ ucap Rakha. “Oh? Gitu?“ sahut Ares biasa-biasa saja. Rakha pun mengerutkan alisnya. Ia heran. Kenapa Ares terlihat biasa-biasa saja? Padahal kemaren-kemaren dia kek marah banget sama aku deh?, batin Rakha. “Kok reaksi kamu oh doang, sih? Ini bukti kalo mas nggak maen sama cewek lain, lho?“ ucap Rakha. “Trus aku musti gimana dong? Kan emang kamu nggak salah, mas?“ ucap Ares sembari membawa belanjaan Rakha ke dapur—pun diikuti oleh Rakha.
Eh? Semudah itukah Ares mempercayai dirinya? Hm, dia tau dari mana, ya? Kalo itu bukan aku?, batin Rakha. “Kamu tau dari mana kalo itu bukan mas? Kan mas belum buktiin apa-apa?“ cerca Rakha. Ares pun menatap Rakha diiringi helaan nafas berat. “Dari kemaren aku coba mikir keras, mas. Kalo seandainya itu beneran kamu, otomatis kamu sengaja telat pulang kerja, sering maen hp, telponan diem-diem, dan hal-hal lain yang nggak wajar. Tapi, apa? Kamu aja pulang kerja awal banget? Alesannya kangen lah cemas lah ini lah itu lah, dah di rumah pun kamu nempel mulu sama aku kek permen karet, mana kamu jarang pegang hp, kan? Berarti ya kamu nggak macem-macem samsek di belakang aku,“ ucap Ares panjang lebar.
Rakha cengo. Dua puluh juta ku melayang, batin Rakha penuh sesal. Ugh, jangan ampe istri ku tercinta tau, bisa-bisa nggak dikasih jatah, batin Rakha. “Mas? Kenapa? Kok bengong? Mandi dulu sana, biar makan bareng sama ibu sama bapak,“ ucap Ares. “Nggak kenapa-napa kok sayang. Kalo gitu mas mandi dulu, ya?“ sahut Rakha. Baru beberapa langkah ia melangkah. Ares pun bersuara. “Mas? Jangan lupa, abis mandi kamar mandi langsung disikat, ya? Kalo nanti pas aku periksa kamar mandinya belum kamu sikat, nggak wangi, dan masih licin, awas aja mas,“ ucap Ares memperingatkan. Entah ini memang nasihat atau sebuah ultimatum mematikan, batin Rakha. Lihat, lihat tatapan membunuh Ares itu, batin Rakha.
Hujan deras tengah mengguyur kota kabut—yang di mana di kota itu sering kali berkabut, hingga membuat Golden Gate Bridge tidak terlihat, karna tertutup oleh kabut tebal. Dialah San Fransisco. Dua minggu sudah Irfan tinggal di kota ini. Selama itu pula ia telah memikirkan banyak hal, termasuk masa depan sangat putera, Defran. Irfan bersumpah, tidak akan membiarkan Defran disentuh oleh Ami barang sedikit pun. Suasana dingin di malam hari; terlebih saat hujan tiba; benar-benar dingin sampai terasa menusuk tulang. Darren pun datang sembari memasangkan jaket di punggung Irfan, demi mengurangi rasa dingin.
Secangkir teh hangat tanpa gula. Uh, ini saja sudah sangat nikmat sekali. Baru saja Darren duduk di kursi di dapur—pun berhadapan langsung dengan pintu, dan jendela besar. Darren mendengar Irfan mengatakan kata-kata manis dan romantis? “Thank you for making every miracle possible for me, Om Darren,“ ucap Irfan. Darren pun tersenyum setelah mendengar Irfan berkata seperti itu. “Kamu bikin om salah paham, Irfan,“ ucap Darren. Irfan dan Darren pun saling bertatapan satu sama lain. Sempat hening sesaat. Sebelum pada akhirnya Irfan pun bersuara. “Salah paham? Salah paham apa?“ tanya Irfan.
“Om deg-degan,“ sahut Darren berterus terang. Irfan malah tertawa. Ia berpikir, bahwa saat ini Darren sedang bercanda. “Om deg-degan? Becanda kali, ah. Hahaha,“ ucap Irfan geleng-geleng kepala, lalu menyesap teh miliknya. “Kamu tau sendiri, Irfan. Om nggak pernah becanda. Hal-hal berbau lelucon, om paling nggak suka,“ ucap Darren. Irfan pun menatap kedua mata kebiru-biruan itu. Darren menatap dirinya lurus. Dia lagi serius?, batin Irfan. Suara hujanlah—yang memecah keheningan di antara keduanya saat ini.
“Udah malem, Irfan. Gimana kalo kamu temenin om tidur? Lagi ujan, dingin,“ ucap Darren. Darren deg-degan? Tapi, kenapa dia terlihat biasa-biasa saja? Hah, paling-paling cuma bercanda dan ingin menghibur, batin Irfan. Irfan ragu apakah dirinya harus ikut berbaring di sana atau tidak. Sementara Darren telah duduk, dan hampir rebahan di atas ranjang serba broken white itu. “Kenapa? Kamu masih kepikiran kata-kata om tadi? Cuma gegara om bilang deg-degan, kamu nggak mau deket-deket sama om lagi?“ ucap Darren sarkasme.
Irfan pun naik ke atas ranjang king size tersebut, dan ia rebahan dengan posisi saling berhadap-hadapan dengan Darren. Darren meraih tangan Irfan, lalu meletakkannya di pipi, seolah-olah Irfan lah yang sedang mengelus pipinya. “Boleh om tidur sambil meluk kamu?“ tanya Darren. Hujan pun terdengar semakin deras. Jujur Irfan bingung harus berkata apa. “Om anggep kamu setuju,“ ucap Darren lagi—pun langsung melingkarkan tangannya di pinggul Irfan. Sehingga keduanya pun jadi lebih dekat. Darren telah memejamkan mata; bisa jadi karna memang telah tertidur—atau berpura-pura tidur. Sedangkan Irfan masih terjaga sambil menatap wajah Darren.
Dingin banget, batin Irfan. Lalu, ia pun otomatis membenamkan wajahnya di d a d a Darren; demi mendapatkan kehangatan. “Jangan dengerin detak jantung om, anggep aja kamu lagi nggak dengerin apa-apa,“ gumam Darren. Jadi, Om Darren beneran deg-degan?, batin Irfan. Irfan mampu dengan jelas mendengar suara detak jantung Darren—yang bisa dibilang sedang berdegup sangat kencang. Hembusan nafas Darren amat begitu terasa. Entah mengapa Irfan semakin mengantuk, hingga ia pun terlelap.
Seluruh keluarga Scott itu pun sarapan bersama. “Jayden, hati-hati, nanti kamu keselek,“ ucap Darren menegur. “Uhm, dad, Om Edgar mana? Kangen,“ tanya Jayden polos. “Om Edgar udah nggak tinggal di sini lagi. Dia tinggal di tempat Om Irfan, Jay,“ sahut Darren. Jayden kecil pun mengerucutkan bibir. Dia terlihat sebal saat mengetahui Edgar tidak lagi berada di sini. Tentu saja Jayden bisa sesedih itu, karna ia dan Edgar bisa dibilang sangat dekat sekali, seperti om dan ponakan saja.
Tiba-tiba Irfan pun tersedak, sesaat setelah ia mendengar perkataan ambigu dari Darren. “Dua bulan setengah lagi, kita pulang ke Indo, Fan. Sebelum pulang gimana kalo kita atur pernikahan kita dulu?“ ucap Darren. Irfan pun langsung minum air putih sampai tetes terakhir. Darren sedang berhalusinasi atau apa? Lagi kenapa Jim dan Sarah terlihat biasa saja, dan tidak terkejut sama sekali?, batin Irfan. “Hati-hati, kamu itu bukan anak kecil lagi—yang kalo makan ampe keselek kek gitu, Irfan,“ ucap Darren sarkasme.
“Om, kalo becanda jangan suka kelewatan—“
“Om nggak suka becanda, Irfan. Kamu tau sendiri om kek gimana,“
Kalau ditanya alasan Darren ingin membahas masalah pernikahan. Itu karna ia dihantui oleh bayang-bayang Eisha di mimpinya waktu itu. Ia merasa belum cukup; jikalau demi menjaga Irfan; cuma sebatas saudara ipar saja. Ia merasa dengan menikahi Irfan, maka hatinya akan sedikit lebih tenang. Terlebih Budi memberi kabar, bahwa Dzafina—pun memiliki rasa kepada dirinya. Tidak boleh. Eisha ingin aku menjaga Irfan dan Jayden, batin Darren. “Om? Om?!“ seru Irfan. Darren pun tersadar dari lamunannya. “Om, sampai kapan pun aku nggak setuju,“ ucap Irfan. Darren meletakkan sendok dan garpu dengan kasar, hingga membuat suara gesekan antar meja terdengar.
Jayden terlihat sangat terkejut. Huft, Darren pun menghela nafas. “Maaf, Jay. Tangan daddy tadi keram,“ ucap Darren berbohong. Jangan sampai perilaku buruk Darren barusan; malah diikuti oleh Jayden. Jangan sampai, batin Darren merasa bersalah. “Ma, pa, aku duluan. Soalnya ada yang mau aku kerjain,“ ucap Darren meninggalkan meja makan lebih dulu. “Om!“ seru Irfan. Hampir saja ia ingin langsung menghampiri Darren, dan membicarakan hal ini kembali. Tapi, Sarah menahan pergelangan tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sebagai isyarat agar Irfan tidak mengganggu Darren untuk sementara.
Sampai detik ini, tak ada satu pun di antara mereka, yang mau untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Benar-benar seperti sudah menjadi orang lain. Barra juga telah menghapus nomor hp Keanu. Jam istirahat pun tiba, setelah bergelut dengan mata kuliah hukum internasional selama kurang lebih dua jam. Benar. Barra memutuskan untuk mengambil prodi hukum. “Liat tuh, Bar. Pada rame banget,“ seru Saepul menunjuk ke arah kerumunan di depan sana, tepatnya di panggung—yang biasa diadakan pertunjukan musik.
“Tes satu dua tiga,“ ucap salah seorang senior mengetes mic. “Selamat siang teman-teman semua? Seperti biasa tiap jam istirahat bakalan ada pertunjukan kecil. Entah itu band dan lain-lain. Hari ini lumayan rada beda, sih. Soalnya gue minta temen gue—yang udah jago nge-DJ ini buat maen di sini. Dijamin lu semua pada goyang, cus aja lah, ya,“ ucap si senior. Si senior itu pun meminta dia untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Met siang gaes. Kenalin gue Keanu dari sekolah sebelah, dan gue masih SMA,“ ucap Keanu dengan suara khasnya yang berat itu.
Keanu?, batin Barra. “Bar? Barra?“ suara Didi bahkan terdengar samar, karna pikiran Barra berpusat pada sosok Keanu. Kenapa dia ada di sini? Gimana kalo gue ketemu dia ntar? Trus gue musti gimana?, batin Barra cemas. “Barra!!“ seru Didi lagi. Barra pun langsung tersadar dari lamunannya. Setelah Didi menepuk bahunya. “Parah lu! Kalo kesambet gimana woy?! Dimari kagak ada pak ustadz,“ ucap Didi. “Gue cuman lagi mikirin sesuatu aja kok,“ sahut Barra.
Keanu dan teman-teman seniornya itu pun duduk di meja—yang tidak jauh dari Barra. Tentu saja Barra mampu mendengar jelas obrolan mereka. “Lu kurusan ngab,“ ucap si senior bernama Timbul. “Baru putus cinta gue. Kagak nafsu makan,“ sahut Keanu sambil minum cocacola. Keanu berniat ingin memanas-manasi Barra. “Halah baru putus cinta aja lu udah kagak nafsu makan? Dah lah, masa depan lu masih panjang ngab, lu nggak perlu mikirin orang yang sama sekali nggak mikirin lu, ampe fisik lu sendiri jadi tarohannya,“ ucap Timbul. Sadis juga Sen Timbul kalo ngomong, ya?, batin Barra merasa dipojokan. Padahal Timbul sama sekali tidak tau menau.
“Jangan salah ngab, dia paling beda dari yang laen, kagak bakal nemu lagi dah gue modelan kek dia tuh,“
“Cih! Lu tinggal pilih dah temen-temen gue tuh. Pada cecan semua. Siapa tau lu dapet bonus ngehotel? Iya nggak?“
“Parah lu bangsat. Gue nggak ada niatan mau pacaran lagi. Gue mau fokus menata masa depan gue biar gue bisa hidup mandiri,“
Keanu pun terdiam beberapa saat. Ia tatap punggung Barra dari sini. “Lu? Lu seriusan mau nangis?“ seru Timbul. “Hah?“ gumam Keanu tidak mengerti. Timbul pun menghela nafas. “Dah gue bilang, kan? Lu nggak pantes lah mikirin orang yang nggak mikirin lu samsek, apalagi ampe lu tangisin,“ ucap Timbul. “Gue masih sayang banget sama dia ngab. Gue janji sama diri gue sendiri. Gue nggak bakalan nikah sama siapapun, kalo bukan sama dia, kecuali dia yang nikah duluan ngab,“ ucap Keanu. Suara Keanu terdengar sangat lirih. Keanu pun tersenyum pahit. “Serah lu dah,“ ucap Timbul.
Edgar menunggu sangat pujaan hati di depan bank; lebih tepatnya di dalam mobil. Karna memang ini sudah jam tiga sore—yang di mana di jam inilah Deon telah selesai bertugas. Deon masuk ke dalam mobil sambil bertelponan dengan Alena. Lalu, sambungan telepon itu pun terputus. “Kenapa?“ tanya Edgar. “Mama bilang kita langsung ke rumah. Jangan jalan ke mana-mana. Trus jangan makan di luar, soalnya mama masak,“ sahut Deon sambil memasang seatbelt.
Semenjak Alena tau hubungan antara Deon dan Edgar; Alena meminta Edgar untuk tinggal bersama. Bukan cuma itu saja—pun Alena menjadi sangat overprotective. Salah satunya ialah melarang Deon dan Edgar makan di luar sepulang kerja—pun Edgar harus pulang tepat waktu, dan itu pun harus bersama dengan Deon. “Ed?“ gumam Deon menoleh. “Hm?“ sahut Edgar mulai melajukan mobilnya. “Kamu yakin? Kamu bisa ngadepin mama? Kamu masih mau sama aku?“ cerca Deon. Edgar pun tersenyum samar. “Kalo aku serius sama kamu, aku harus ambil hati mama sama papa kamu, De. Karna urusan pernikahan itu bukan cuman antara aku sama kamu aja. Tapi, juga orang tua,“ sahut Edgar.
“Kenapa? Kamu takut aku tinggalin?“ ucap Edgar mengulum senyum. Deon jadi sebal. Deon dan Edgar tiba di rumah, lalu keduanya pun mengucapkan salam, dan mencium tangan Alena dan Yudi bergantian. Setelah itu, keduanya pun masuk ke dalam kamar bersama-sama, karna memang di keluarga ini sudah terbiasa dengan peraturan, mandilah setelah pulang kerja baru melakukan aktivitas lain. Dan itu adalah peraturan—yang telah Alena buat sejak dulu. Jauh sebelum dia menikah dengan Yudi.
Deon meletakkan tas kerja miliknya dan milik Edgar di lemari khusus untuk meletakkan tas. Deon paling anti menggantung tas, karna menurutnya menggantung tas itu bisa membuat tas cepat rusak. “Kita mandi bareng aja gimana? Biar cepet, ntar mama kamu kelamaan lagi nungguin kita?“ ucap Edgar. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Deon langsung melesat ke kamar mandi bersama Edgar. Deon itu ajaib, batin Edgar. Di kamar mandi? Jangan berpikir macem-macem dulu. Si jagoan Edgar memang sedang menegang saat itu. Tapi, tidak pantas membuat Edgar langsung memakan Deon.
Deon juga sama. Dia biasa-biasa saja. Toh, sesama pria, kan? Setelah selesai mandi. Deon melarang Edgar untuk memakai pakaian terlebih dahulu. “Skincare an dulu,“ ucap Deon. Edgar pun duduk di tepi ranjang, dan membiarkan Deon mengoleskan ini dan itu di wajah. Pertama-tama; Deon membersihkan wajah Edgar dengan toner untuk mengembalikan pH kulit. Kedua; ia aplikasikan serum ke wajah untuk mencegah timbulnya jerawat. Ketiga; ia aplikasikan moisturizer untuk melembapkan kulit. Keempat; ia aplikasikan eye cream anti aging untuk mengatasi mata panda dan kerutan.
“Udah,“ ucap Deon kemudian. Sejurus kemudian; Edgar pun melingkarkan tangannya di pinggul Deon—yang di mana Deon dalam posisi berdiri, dan dirinya dalam posisi duduk. “Kamu emang istri idaman banget, ya?“ ucap Edgar menatap Deon dengan tatapan yang dalam. “Jangan gombal~“ ucap Deon menganggap Edgar sedang menggombal. Padahal itu tulus dari hati. “Serius aku nggak gombal. Trus kapan kamu mau ngasih aku itu?“ ucap Edgar sekaligus bertanya, lalu ia pun mendusel-duselkan kepalanya di perut Deon. Deon memutar bola mata malas. “Ed? Kamu lupa? Kan kamu pernah bilang ke aku nunggu udah sah dulu? Kenapa? Nggak tahan?“ ucap Deon membuat Edgar tertohok. Edgar pun mendongakkan kepala; menatap kedua mata Deon. “Sedeket ini sama kamu tiap hari gimana aku nggak on sayang? Hm?“ ucap Edgar lemah lembut. “Paan si ah, cepetan bagian, udah ditungguin mama tuh,“ ucap Deon sembari melepaskan tangan Edgar dari pinggul.
Ares dan Rakha mengantar Fadhli dan Sarmini ke Bandara untuk penerbangan pada sore hari menuju Semarang. “Ares, Rakha, jangan lupa ke Semarang juga, ya? Kalo ada libur nanti?“ ucap Sarmini. “Iya, bu. Pasti,“ sahut Ares. “Dek, gimana kalo kita nanti liburan keluar kota? Lagian duit tabungan kita cukup deh keknya?“ ucap Rakha bersemangat dengan rencana liburan—yang ia dusun di benaknya saat ini. Di luar dugaan. Ares malah menatap Rakha dengan tatapan yang tajam. “Ditabung mas~ Tadi denger nggak ibu ngomong apa? Ditabung biar kita bisa pulkam ke Semarang, trus bayar cicilan rumah. Siapa tau nanti bisa beli mobil sama buka usaha, kan? Lagian di Mataram juga banyak kok tempat wisata. Nggak usah ke mana-mana,“ sahut Ares.
Pas bilang mau liburan aja, dia udah sewot kek gitu? Gimana kalo Ares ampe tau masalah 20jt itu, ya? Duh, bisa dicincang aku, batin Rakha. “Mas mas, nanti mampir dulu beli ayam taliwang, ya? Lagi mau makan itu soalnya,“ ucap Ares. Ares dibonceng oleh Rakha. Ya, seperti pasangan pada umumnya. Saat berboncengan, maka yang dibonceng akan meletakkan kedua tangannya di atas paha. “Jatah mas malem ini ada nggak, dek?“ tanya Rakha saat berkendara. Kontan Ares pun langsung mencubit pinggul Rakha. “Lagi di jalan mas. Dijaga ih omongannya. Kedengeran orang kali, mas? Dasar deh kebiasaan,“ ucap Ares sebal.
Setelah tiba di warung—tempat orang yang menjual ayam taliwang, Rakha pun bertanya, “Mau dibungkus ato makan di sini?“. “Dibungkus aja biar puas makan di rumah. Bilangin sambelnya yang banyak mas,“ sahut Ares. Ares menunggu sambil duduk di atas motor dan main gadget. Sedangkan Rakha menghampiri si penjual; memesan ayam yang diinginkan oleh Ares. Beberapa saat kemudian; Rakha pun datang menghampiri sembari menggantung bungkusan plastik tersebut di gantungan motor. Lalu, keduanya pun mulai melajukan motor menuju rumah.
.
.
.
FYI: BUKAN BERARTI DARREN BENER-BENER UDAH SAYANG BANGET ATO UDAH ADA RASA KE IRFAN. TAPI, LEBIH KEPADA DIHANTUI RASA TANGGUNG JAWAB GITU LHO. JADI, NURUT DIA NIKAH SATU-SATUNYA CARA BIAR DIA BISA TENANG. GITU~ TAPI BASIC UDAH ADA RASA NYAMAN SIH SEBATAS ITU DOANG. SUGAR D PENDING SOALNYA MAU UP BARENGAN SAMA GKTG.
SUGAR D [BL] CHAP 09 - 10 UDAH UP!