ARES [BL]

ARES [BL]
ARES 13



Beberapa bulan lagi Bayan masuk taman kanak-kanak. Sambil berpikir Ares sambil menatap langit-langit kamar. Hah, ia menghela nafas. Di usia Ares yang terbilang masih muda, ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Itu berarti Ares harus bekerja lebih giat lagi.


Kalau dipikir-pikir Ares cukup luang saat malam hari. “Apa gue nyari kerja aja ya buat malem? Kan lumayan bisa nabung buat biaya sekolah Bayan ntar?“ batin Ares. Ia pun mulai mencari-cari informasi di sosial media. Barangkali ada pekerjaan dekat-dekat sini yang cocok untuk Ares.


Setelah mencari-cari lowongan kerja malam hari di berbagai situs. Pilihan Ares pun jatuh pada sebuah rumah makan. Dari rumah Ares terbilang cukup jauh. Tapi, tidak apa-apa. Ares bisa naik sepeda untuk menempuh jalan tiga kilometer lebih. “Besok gue kesana deh.“ gumam Ares. Ia pun bersiap-siap untuk segera tidur. Semoga ia diterima di rumah makan itu nanti.


Saat di sekolah Ares menjalani kehidupan sekolah seperti biasa. Namun, ia dikejutkan oleh seorang siswi yang menghampirinya ke kelas, dan berkata bahwa Pak Ben memintanya untuk segera menuju ruangan beliau. Tunggu dulu. Pak Ben itu selain menjadi guru olahraga, beliau juga guru BP. Duh, ada apa ini?


Ellie menatap Ares dengan tatapan menakut-nakuti. Dasar Ellie. Pintar sekali dia menciutkan nyali Ares. Kalau ada hantu mungkin Ares bisa lari. Tapi, kalau sudah berhadapan dengan guru BP, mau seakrab apapun tetap terasa lebih horor daripada hantu asli.


Di ruangan Pak Ben, Ares duduk berhadapan. Raut muka Pak Ben terlihat sangat tidak bersahabat. Ada apa gerangan? Oh tuhan, jangan sampai Ares terlibat kasus-kasus aneh di sekolah. Ares tidak ingin mengecewakan ayah dan ibunya.


“Maaf, kalau saya boleh tau.. Ada apa ya pak?“ tanya Ares memberanikan diri.


“Saya nemuin video kamu Ares.“ ucap Pak Ben. Video? Video apa?, batin Ares mulai panik. Jangan-jangan ini video asusila. Tapi, tidak, Ares tidak pernah berbuat seperti itu. Pacaran saja ia tidak pernah. “Kamu liat sendiri.“ ucap Pak Ben dingin.


Ares menelan ludah susah payah. Ia pun meraih ponsel Pak Ben dan menonton video yang Pak Ben maksud. Jantung Ares berdegup kencang. Kedua alis Ares langsung mengkerut. Darimana Pak Ben bisa mendapatkan video ini? Ia pun menatap Pak Ben meminta penjelasan.


“Kenapa kamu nggak cerita sama saya Ares?“ ucap Pak Ben. Ares diam. Pak Ben sungguh menyayangkan kemampuan renang Ares setelah menonton video tersebut. Di video itu terlihat jelas Ares tengah mengikuti perlombaan renang antar provinsi. Kemampuannya sangat luar biasa sampai-sampai ia meraih urutan pertama. Ini sungguh di luar dugaan.


Ares menunduk sedih. Ia serasa bernostalgia kembali ke beberapa tahun silam. Tepatnya ketika ia duduk di bangku kelas 2 SMP. “Kamu tau, kan? Kamu bisa jadi atlit handal dengan kemampuan kamu itu?“ ucap Pak Ben. “Iya pak..“ suara Ares sedikit bergetar.


Sungguh ia mencintai dunia renang. Tapi, ia juga tidak ingin egois. Masuk ke dalam dunia atlit sama saja dengan menyita waktu kerjanya. Bagaimana nasib keluarganya nanti? Ares tidak mengatakan kalau profesi atlit itu adalah profesi yang tidak menjanjikan. Bahkan jika ia mendapat uang saku selama pelatihan, juga tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.


“Gimana? Bisa?“ seru Pak Ben memastikan. Pak Ben sendiri berharap penuh pada Ares. Selain beliau ingin Ares berprestasi, beliau juga ingin Ares mengharumkan nama sekolah di luar sana. Pak Ben mengerti posisi Ares saat ini sebagai tulang punggung keluarga. Sulit memang. Tapi, Pak Ben berharap Ares mampu memberikan keputusan terbaik.


“Saya pikirin dulu, pak. Tapi, saya minta maaf kalo saya nggak bisa kasih keputusannya cepet-cepet.“


“Kalo bisa kamu konfirmasi sebelum tanggal 20 ya Ares.“


“Baik pak.“


Untuk saat ini Ares tidak ingin ambil pusing dulu. Masih ada satu minggu lagi sebelum ia memberikan keputusan, apakah ia menyetujui untuk bergabung dalam lomba renang atau tidak. “Gue cari kerja part time dulu ntar malem.“ gumam Ares.


Keluar dari ruangan BP. Ares heran banyak murid-murid berlarian ke lapangan. Ada apa lagi ini? “Bim Bim Bim ada apaan?“ tanya Ares ketika ada temannya dari kelas lain lewat. “Adithama sama Keanu berantem.“ sahut Bima lalu melesat menuju lapangan. Ares menghela nafas. Lagi-lagi Adithama berulah, batin Ares. “Tuh anak nggak ada abis-abisnya deh. Sekarang apa lagi coba.“ gumam Ares.


Ares membelah kerumunan. Ia melihat Adithama menatap lapar seorang siswa berkacamata dan lebih pendek darinya sedikit sambil mencengkeram kedua sisi merah seragamnya. “STOP AD STOP!!!“ seru Ares ketika Adithama hendak memukul siswa tersebut. Ares menahan Adithama. Sudut mata Adithama memerah menahan amarah.


“Jangan talangin gue Res.“ ucap Adithama masih saja ingin menghajar Keanu. Keanu tersenyum sinis. Ia sungguh menertawai Adithama yang tentu saja membuat Adithama makin emosi. Saat Adithama dirasa tidak bisa lagi dikendalikan. Ares tidak punya pilihan lain. Akhirnya ia pun menampar pipi kanan Adithama.


Sudut mata Adithama berair meskipun tidak sampai menetes. “Dia udah ngehina bonyok gue Res.. Gue terima kalo dia ngehina gue tapi beda cerita kalo itu bonyok gue.“ ucap Adithama dengan pandangan yang mulai menurun. Ares sungguh tidak menyangka jikalau Adithama juga bisa rapuh. Ares tau saat ini Adithama membutuhkan tempat untuk bersandar. Bisakah Ares menjadi tempat bersandar Adithama sebagai sahabat?


“Gue gak nangis.“ ucap Adithama mengelak. Saat ini Ares dan Adithama duduk di bawah pohon belakang sekolah. Ares melihat ke atas. “Serem juga nih pohon.“ batin Ares sedikit merasa ngeri duduk di bawah pohon beringin. Adithama melirik ke samping. Sebelah alisnya terangkat. “Pffft.“ Adithama menahan tawa. “Serius lu takut duduk di bawah pohon beringin ginian Res?“


Ares tersenyum kaku. Ah, ini salah Ares karena sudah terlalu percaya diri membawa Adithama kemari demi menghilangkan kegundahan yang Adithama rasa. Ujung-ujungnya Ares malah merinding duduk disini. “Kan di film-film biasanya pohon beringin itu angker Ad.“


Adithama menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Ia pun berdiri. “Jangan lu samain realita sama fakta yang sebenernya.“ ucap Adithama. Kali ini raut mukanya kembali dingin dan datar seperti biasa. Baru saja Adithama terlihat seperti orang yang hilang semangat hidup. Sekarang? Cepat sekali dia berubah, batin Ares.


“Kalo lu takut sama apa yang ada di dunia nyata cuma gara-gara lu liat dunia fiksi.. Ampe kapan pun lu gak bakalan bisa liat kebenaran Res.. Ah.. Bosen ngomong sama lu.“ ucap Adithama lalu pergi meninggalkan Ares sendirian.


“Lu bener Ad.. Gue gak bisa liat kebenaran yang lu maksud.. Gue buta..“ gumam Ares.


Rakha memutar knop pintu. Ia tekan tombol saklar untuk menyalakan lampu seisi rumah. Di depan tidak ada mobil Ami bertengger. Itu artinya Ami belum pulang. Bahkan rumah yang baru saja Rakha tinggal selama seminggu nampak berdebu.


Rakha pun duduk di sofa sebentar guna mengusir rasa lelah setelah seminggu penuh dinas di luar kota. Ia pun mendial nomor sang istri. Kedua alis Rakha mengkerut seketika. Kenapa nomor Ami tidak bisa dihubungi? Suara operator itu jelas mengatakan kalau nomor Ami memang tidak bisa dihubungi lagi.


“Apa hp dia ilang pas di bali ya? Tapi.. Dia kan bisa nelpon aku pake telpon rumah ato hp siapa gitu..“ batin Rakha lalu mencoba kembali mendial nomor Ami. Nihil. Ami tidak bisa dihubungi. Rakha tidak menyerah jua. Ia pun akhirnya menelepon ke nomor telepon rumah mertuanya.


“Halo? Assalamu'alaikum..“ seru Rakha.


“Wa'alaikumussalam nak..“ sahut Yudi dari seberang sana.


“Uhm.. Saya mau nanya apa Ami ada di tempat bapak?“


Yudi diam. Yudi bingung harus menjawab apa. Dada Yudi terasa sesak. Yudi sungguh berat hati menerima semua apa yang terjadi. Sungguh Rakha itu menantu yang baik. Sebagai mertua Yudi sangat menyayangi Rakha seperti anak sendiri.


“Pak?“ seru Rakha.


Yudi mencoba mengendalikan diri. Saat ini kondisi Ami sedang tidak baik-baik saja. Dia mengurung diri di kamar. Setelah kepulangannya kemarin dari bali. Dan Yudi serasa dihantam oleh ombak besar akan pengakuan puterinya atas apa yang telah terjadi di bali.


Sebagai seorang ayah tentu Yudi tidak membenarkan tindakan Ami. Ingin Yudi marah semarah-marahnya atau mungkin memukuli Ami sampai dia jera. Tapi tidak, kasih sayang Yudi terlalu besar untuk itu. Yudi menahan air mata yang hendak menetes.


Perasaan Rakha mendadak tidak enak. Mengapa Yudi tiba-tiba berkata seperti itu? Ini sungguh tidak biasa. Apa yang telah terjadi pada Ami sebenarnya? “Emangnya Ami kenapa, pak?“


“Maafin bapak nak, bapak belum bisa jelasin itu semua ke kamu. Yang jelas bapak mohon kamu jangan cari atau hubungi Ami dulu. Biar bapak yang temuin kamu minggu depan.“


Rakha terdiam setelah sambungan telepon dirinya dan ayah mertuanya terputus. “Ami..“ gumam Rakha. Rakha semakin gusar. Ia pun menatap kotak kecil berisikan kalung emas putih yang hendak ia hadiahkan pada Ami. Rakha memang tidak bisa memberikan baru permata mahal untuk sebuah kalung. Namun, ia berharap ini saja mampu membuat Ami bahagia. Ujian apa lagi ini ya allah, batin Rakha sembari mengusap wajah ya kasar.


Ia pun mencoba menenangkan diri dengan membersihkan diri di kamar mandi. Meskipun saat ini kepalanya penuh dengan Ami sang istri dan Bella sang anak. Rakha tidak bisa untuk tidak peduli. Ia hanya bisa berdo'a, semoga Ami baik-baik saja.


Ares berdiri di sebuah rumah makan. Rumah makan yang menjual aneka bakar-bakaran dan sayur-mayur dari yang oseng sampai berkuah. Dari luar saja aromanya sudah dapat tercium. Sungguh membuat perut ini semakin lapar dan berontak minta diisi.


“Permisi bu,“ seru Ares.


“Iya dek?“ sahut si ibu. Sepertinya beliau adalah pemilik rumah makan ini.


“Saya mau nanya, apa disini masih nyari pegawai bu?“ tanya Ares. Ia berharap masih bisa diterima bekerja disini.


“Masih dek masih.“ jawab si ibu cepat. “Adek mau kerja disini?“


“I-iya bu mau,“


“Nama kamu siapa?“


“Ares bu,“


“Ya udah nak Ares, kalo gitu kamu boleh kerja disini, tapi mulai besok aja yah?“


“Iya bu.. Terima kasih banyak ya bu,“


Ares keluar dari rumah makan itu dengan perasaan teramat senang. Sebelum pulang ke rumah, ia ingin membeli sesuatu, martabak telor mungkin? Ugh, sudah lama sekali Ares dan keluarga tidak menikmati martabak telor. Makanan yang satu ini juga merupakan makanan favorit Bayan dan Icha.


Saat Ares menunggu pesanannya dibuat. Ia tidak sengaja melihat pria berjaket abu-abu. Kepalanya ditutupi hoodie. Kebetulan pria itu hendak menyeberang dari minimarket dan minimarket ini bersebelahan dengan pedagang martabak telor.


Ares memperhatikan pria itu. Ia heran mengapa pria itu terlihat tidak melirik kiri dan kanan. Ugh, Ares mengumpat dalam hati. Ini sungguh berbahaya. Ayolah ini masih tidak terlalu malam dan jalanan masih ramai. Tuh orang mo bunuh diri apa gimana sih?, batin Ares.


Ares kalang kabut. Ia pun berlari menuju pria tersebut dan menarik tangannya hingga membuat pria itu otomatis mundur ke belakang beberapa langkah. Untung saja Ares kuat menahan tubuh pria tersebut supaya tidak terjatuh.


“Kak Rakha?“ seru Ares mengerutkan alis. Oh tuhan, ada apa dengan Rakha? Mengapa ia begitu bodoh ingin menyeberang tanpa melihat kiri dan kanan? Rakha diam. Ia masih tertegun atas aksi Ares barusan. “Makasih dek..“ sahut Rakha pelan. Terdengar tidak bersemangat.


Sorot mata Rakha terlihat sendu. Ada apa? Ingin Ares bertanya lebih lanjut. Namun, saat ini ia tengah berada di pinggir jalan. Ares dan Rakha saling bertatapan. “Maaf.“ ucap Ares ketika ia baru menyadari kalau sedari tadi ia memegang pergelangan tangan Rakha.


“Kakak kesini sama apa?“


“Motor.“


“Kunci motornya mana?“


“Kenapa emangnya?“


“Siniin dulu kunci motornya.“


Rakha diam. Untuk apa Ares meminta kunci motornya. “Kok malah bengong? Siniin kunciin motornya.“ ucap Ares sedikit sebal. Rakha pun terpaksa memberikan kunci motornya pada Ares sambil menghela nafas berat.


Jujur saja saat ini kepala Rakha dipenuhi oleh Ami dan Bella. Hampir saja ia tidak bisa mengendalikan diri karena terlalu banyak melamun, sampai-sampai ia hampir saja tertabrak. Kalau tidak ada Ares mungkin tamatlah sudah riwayat Rakha.


“Biar saya yang nyetir. Saya anterin kakak ampe rumah.“


“Kamu bisa naik motor dek?“


Rakha sedikit tidak percaya. Ia tidak bermaksud merendahkan Ares. Hanya saja yang Rakha tau Ares selalu jalan kaki tiap kali ke sekolah. Seandainya tidak jalan kaki pun, paling-paling cuma naik angkot atau naik sepeda.


“Bisa.“


“Nggak usah dek.. Biar kakak aja.. Kakak masih bisa nyetir kok.“


“Maaf kak.. Saya nggak bisa biarin kakak nyetir dengan kondisi kakak yang kek gini. Bahaya.“


Sebegitu jelasnya kah di mata Ares kalau kondisi Rakha saat ini tidaklah bisa dikatakan baik? Rakha membatin, sepertinya ia perlu belajar lebih untuk mengendalikan emosinya sendiri dari orang lain. Kalau sudah seperti ini bagaimana jadinya nanti? Rakha tidak ingin dicap sebagai lelaki yang tidak dewasa.