![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Rakha berusaha memberi pengertian kepada sang istri. Tidaklah mudah untuk menasihati seseorang dengan sifat manja. Ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Rakha. Ia juga tidak bisa bersikap terlalu keras, karena ditekan sedikit saja Ami mungkin akan merasa dirinya terlalu dikekang.
Berbicara berdua empat mata dengan kepala dingin adalah solusi terbaik. Ia tidak ingin masalah sepele seperti ini dibiarkan begitu saja. Pernahkan kalian melihat tumpukan sampah yang dibiarkan begitu saja sampai menggunung dan mencemarkan lingkungan? Seperti itu pulalah masalah yang timbul dalam rumah tangga pabila dibiarkan begitu saja.
“Dek.. Mas minta maaf udah bikin kamu khawatir.“ ucap Rakha lemah lembut sambil memegangi tangan sang istri. Ami masih membuang muka. Ia amat sangat kecewa pada Rakha. Selain ia tidak ingin Rakha mencampuri urusan orang lain, ia juga tidak ingin Rakha kenapa-napa. Bisakah Rakha peka sedikit saja?
Rakha meraih dagu sang istri hingga keduanya pun kini saling tatap menatap. Rakha tentu sangat mengagumi kecantikan Ami yang natural dan alami khas wanita-wanita tropis. Menikahi Ami, Rakha harus mengerahkan semua usaha. Ini jelas, karena memang hubungan keduanya ditentang oleh sang ibu mertua.
Dua tahun sudah usia pernikahan Ami dan Rakha. Namun, selama itu pula hati ibu Ami masih tertutup rapat. Bahkan ketika mengunjungi kediaman beliau sekali pun, Rakha sama sekali tidak dianggap dan ibu Ami lebih memilih bercengkrama dengan sang cucu yang masih berusia 5 bulanan.
Rakha mengecup bibir sang istri sekilas. Rakha benar-benar paling bisa membuat Ami mabuk kepayang hanya dengan sebuah kecupan manis. Bukankah ini adalah salah satu hal yang paling disukai oleh seorang wanita? Iya, kan?
“Kita harus saling tolong menolong dek.. Tapi, tetap harus hati-hati dan jaga diri. Kalo mas hati-hati, ya mas pasti bakalan baik-baik aja.“
“Lain kali mas jangan gitu lagi.. Aku nggak mau mas kenapa-napa..“
“Iya sayang~“
Keduanya pun saling berpelukan dan berciuman mencurahkan perasaan masing-masing. Cinta bukan berarti memandang pada kekurangannya dan menjadikannya tolak ukur dalam menjalani hubungan rumah tangga, melainkan menerima segala kekurangan masing-masing dengan kelebihan yang dimiliki.
Icha terus saja menangis di tengah malam. Bahkan suara tangisannya semakin kencang. “Inak.. Icha kenapa?“ tanya Ares di luar kamar. Ares sangat khawatir akan keadaan sang adik, karena Icha tidak biasanya menangis sekejar itu.
“Badan Icha panas Ares..“ ucap sang ibu cemas sambil mencoba menenangkan Icha.
“Ares masuk ya Inak?“ ucap Ares. Sang ibu pun mengizinkan. Ares mencoba mengecek keadaan sang adik dengan meletakkan satu tangannya di dahi sang adik. Panas sekali. Ini sudah pasti demam tinggi.
“Kita bawa Icha ke RS aja Inak.. Amak..“ ucap Ares mengusulkan.
“Kita nggak punya biayanya Ares.“ ucap sang ayah.
“Udah bawa aja.. Masalah biaya biar Ares yang pikirin nanti. Ayok Inak Amak.” ucap Ares meyakinkan.
Malam itu jua Ares dan kedua orang tuanya menuju rumah sakit. Sebenarnya Ares juga bingung harus mencari biaya rumah sakit nanti kemana. Tabungan pribadinya juga masih sedikit. Uang muka yang diberikan oleh Desy tadi siang pun mungkin masih kurang.
Ya allah mudahkan Ares dalam mencari rezeki, do'a Ares dalam hati. Segera setelah ia tiba di rumah sakit, Icha pun langsung ditangani oleh seorang dokter. Sungguh mengejutkan. Pun menyayat hati. Icha divonis terkena demam berdarah.
Bagaimana ini? Icha harus dirawat beberapa hari ke depan, dan bagian administrasi mengatakan bahwa total biayanya ialah 10 juta lebih. Kemana Ares harus mencari uang sebanyak itu? Rumah sakit tidak mungkin memberikan keringanan untuk mencicil. Ini bukan hutang piutang yang biasa orang lakukan. Ini rumah sakit yang harus langsung dibayar saat itu juga.
“Ares.. Gimana ini nak? Inak sama amak nggak punya uang segitu.“ ucap Vega mengeluh. Ini bukan sihir atau bahkan ilmu Hitam yang bisa mendatangkan sejumlah uang begitu saja tanpa bekerja. Meminjam di bank? Punya apa Ares untuk jaminannya nanti?
“Inak nggak usah khawatir.. Ares usahain nyari ya.. Serahin aja semuanya sama Ares.“ ucap Ares lalu permisi keluar ruang tempat sang adik dirawat.
Ia diam cukup lama di depan pintu. Berpikir kepada Siapakah ia akan meminta pertolongan. Adithama? Tidak mungkin. Meminjam uang kepada Adithama sama saja menggali lubang sendiri, membuat dia semakin semena-mena nanti.
Tiba-tiba Ares teringat akan sosok Rakha yang sempat menolongnya beberapa waktu lalu. Bolehkah Ares meminta tolong kepada Rakha? Meskipun keduanya belum saling mengenal satu sama lain? Biarlah Ares memutus urat malunya sebentar dengan berniat meminjam uang pada Rakha. Ia rela melakukan apapun demi keluarga.
Ares menyalakan ponsel miliknya. Lebih tepatnya milik Adithama, karena itu adalah pemberian darinya. Ares mendial nomor Rakha. Ares beberapa kalli mendial nomor Rakha namun tidak diangkat. Wajar saja karena ini sudah tengah malam. “Halo?“ Ares sangat bersyukur karena akhirnya Rakha mengangkat telponnya jua.
“Uhm Kak Rakha?“
“Iya betul.. Ini aku Ares.. Ada apa?“
“Kak.. Uhm.. Ares boleh minta tolong nggak?“
“Minta tolong apa?“
Ares ragu. Ia sempat diam beberapa saat hingga pada akhirnya Rakha kembali bersuara dari seberang sana. “Minta tolong apa Ares? Bilang aja pasti kakak bantu.“ ucap Rakha meyakinkan.
“Adik aku masuk rumah sakit kak.. Aku butuh biaya lebih.. Uhm.. Mungkin aku bisa pinjam sejumlah uang ke kakak? Tapi, kalo kakak nggak mau nggak papa.“
“Rumah sakit mana? Biar kakak kesana sekarang.“
“Eh? Nggak papa nih kak? Ini udah malem loh.“
“Kakak khawatir aja kalo nggak cepet diselesein administrasinya, pihak RS bakalan lama nanganinnya. Kakak nggak mau terjadi apa-apa sama adik kamu.“
“Uhm gi-gitu yah kak? Makasih banyak ya kak.“
“Ya udah kakak tutup dulu ya. Ini kakak mau otw. Assalamu'alaikum.“
“Wa'alaikumussalam.“
Ares merasa lega. Ia sangat sangat bersyukur karena Rakha sudi meminjamkan sejumlah uang padanya. Kalau bukan Rakha mungkin Ares sudah pusing tujuh keliling saat ini. Jangan sampai Ares harus merendah pada Adithama untuk meminjam sejumlah uang. Adithama itu licik. Dia bisa melakukan apa saja untuk memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Lihat bagaimana kasarnya Adithama memperlakukan Ares waktu itu. Cukup menggambarkan bagaimana liciknya seorang Adithama.
“Kenapa Ares? Bilang aja sama Inak.. Inak nggak papa.“
“Ares.. Sebenernya minjem uang Inak buat biaya perawatan Icha.“
“Minjem uang? Sama siapa Ares? Sama rentenir?“
“Bukan Inak bukan..“ Ares menggerakkan tangannya untuk mengatakan bahwa itu bukan pinjaman dari rentenir. Siapa yang mau meminjam pada seorang rentenir? Bisa-bisa gerobak siomay Ares diluluh-lantakkan karena tidak mampu melunasi hutang-hutangnya.
“Trus kamu minjem sama siapa Ares?“
“Ares minjem sama kenalan Ares, Inak. Sama Kak Rakha.“
“Rakha? I-iya Inak.“
Vega merasa tidak asing dengan nama tersebut. Siapa gerangan Rakha? Mengapa Vega merasa nama tersebut sangat familiar sekali? “Assalamu'alaikum.“ seru seseorang masuk ke dalam.
“Wa'alaikumussalam.. Eh? Rakha?“ seru Vega. Ares heran, mengapa sang ibu terlihat sudah sangat mengenal Rakha. Padahal ini baru pertama kali bertemu, atau memang sangat ibu pernah bertemu Rakha sebelumnya?
“Inak udah kenal sama Kak Rakha?“
“Ya iyalah Ares.. Dia itu menantu majikannya Inak.“
“Hah?“ Ares melongo. Begitu pula Rakha.
“Jadi, Ares anak ibu?“ tanya Rakha.
“Iya Rakha. Eh? Tapi, ngomong-ngomong kok kamu kesini malem-malem sih Rakha? Tau darimana ibu ada disini?“
Rakha melempar pandangannya pada Ares. Ares sempat kebingungan menghadapi situasi yang membuatnya terlihat kikuk. Ugh, memalukan sekali, batin Ares. Sekelebat perasaan cemas pun menghantui hati dan pikirannya. Ia takut kalau-kalau Vera marah padanya lantaran ia telah meminjam uang pada Rakha.
“Uhm.. Sebenernya Ares minjem uangnya sama Kak Rakha, Inak.“ ucap Ares sedikit takut. Ia takut kalau-kalau ibunya malu atau bagaimana. Ares menunduk.
“Bener itu Rakha?“
“I-iya bu.“ jawab Rakha melirik Ares yang bermuka pias.
Vera menghembuskan nafas pelan. Ia melirik Ares yang terlihat menunduk takut. Lalu, melempar pandangannya pada Rakha. “Makasih ya Rakha.. Ibu juga minta maaf kalo nanti ngembaliin uangnya lama.“
“Sama-sama Bu.. nggak papa kok. Ibu sama Ares bisa balikin uangnya kapan aja.“
“Ares.. Inak nggak marah kok..“ ucap Vera tersenyum. Ares pun mendongakkan kepala. Ares bersyukur kalau sang ibu tidak marah padanya. Ares sungguh tidak tau lagi harus meminta tolong kepada siapa. “Makasih ya Kak Rakha.“ ucap Ares berterima kasih.
“Keadaan Icha gimana bu?“ tanya Rakha.
“Kena demam berdarah Rakha. Alhamdulillaah nya nggak terlalu parah soalnya langsung ibu bawa kesini.“
“Alhamdulillaah.. Ini Rakha bawain buah-buahan sama makanan. Dimakan ya bu.. Ares..“ ucap Rakha meletakkan oleh-oleh yang dibelinya tadi di nakas.
Tring tring tring. Telepon Rakha berdering. Dari Ami. “Iya sayang?“ sahut Rakha.
“Kamu dimana mas? Kok nggak ada di rumah?"
“Ini aku lagi di RS.. Jenguk anak Bu Vera lagi sakit.“
“Bu Vera?“
“Iya.. Yang kerja di rumah kamu itu loh sayang..“
“Cepetan pulang ya mas. Aku sendirian. Takut tau.“
“Iya iya ini mas otw.“
“Bu.. Ares.. saya pamit pulang dulu ya?“ ucap Rakha.
“Makasih ya Rakha.“
“Makasih ya kak.“
Rakha pun mengangguk pelan lalu segera pergi. Ia lupa kalau Ami paling tidak bisa ditinggal sendirian. Katanya takutlah, ada hantulah, dan hal-hal lain yang membuat Rakha tidak mampu menahan tawa. “Semoga aja Ami nggak marah.“ batin Rakha. Ia berharap Ami tidak akan marah kalau suatu saat nanti ia tau, bahwa uang tabungan pribadinya ia pinjamkan pada Ares.