![ARES [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/ares--bl-.webp)
Mentari pagi pun mulai menampakkan diri. Suara kicauan burung itu. Hah, mengapa terdengar merdu sekali? Suhu dingin di pagi hari memang membuat semua penghuni bumi ini malas untuk bangun. Huh, katanya kalau tidak bangun pagi-pagi rezeki malah dipatok ayam? Tapi, bagaimana ya, rebahan di kasur seempuk ini membuat tidur semakin terasa nyenyak.
Suara apa ini?, batinnya. Terdengar sebuah dengkuran halus. Hah, ini manusia, batinnya lagi, saat ia meraba-raba ke samping dan tangannya pun menyentuh sesuatu yang sudah pasti itu adalah orang. Ia buka mata perlahan-lahan. Uh, rasa pusing karna sehabis minum-minum tadi malam masih sangat terasa.
Ia pun mulai menajamkan penglihatannya. Seekor manusia?, batinnya. Lagi ia dan orang itu sama-sama tidak mengenakan apapun. Sial, umpatnya dalam hati. Ia pun otomatis bangun dengan mata melotot tajam. Ia lirik orang penuh tato itu di samping.
“Bangun!“ seru Barra. Keanu memutar wajah ke samping membelakangi Barra. “Bangun woy!“ seru Barra lagi. Orang itu masih belum mau bergeming jua. Barra harus mengeluarkan jurus terampuh untuk membangunkan si kerbau pemalas ini. “BANGUN NGGAK LU?! BANGSAT!!“ ucap Barra berteriak.
“Kenapa kenapa?“ seru seorang perempuan dewasa yang menyembulkan kepala di balik pintu kamar. Hah? Itu siapa lagi?, batin Barra. Tunggu dulu, sebenarnya Barra ada dimana? “Keanu susah dibangunin, yah?“ tanya perempuan itu. Keanu?, batin Barra. Barra seakan tidak asing dengan nama itu. Hm, gumam Barra mencoba berpikir keras.
“Pukul aja mukanya nggak papa,“ ucap perempuan itu. Barra masih diam melongo melihat perempuan itu. “Tante bundanya Keanu hehe. Kalo gitu tante ke bawah dulu, ya? Soalnya tante mau masak.“ ucap perempuan itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Barra dalam kebingungan.
Keanu tiba-tiba terbatuk-batuk saat ia rasa tenggorokannya agak kering. Keanu pun bangun dan meraih segelas air putih di nakas. Ia minum beberapa teguk lalu ia letakkan lagi ke tempat semula. “Udah bangun?“ seru Keanu sambil meregangkan badan.
“Lu apain gue? Ke-kenapa gue nggak pake apa-apa, hah?“ tanya Barra panik. Keanu mengangkat sebelah alisnya. Alih-alih menjawab pertanyaan Barra, Keanu malah bangun berdiri menuju almari mengambil handuk piyama. Lagi kedua mata Barra langsung membolak sempurna saat melihat Keanu berjalan dan memamerkan tubuh indahnya tanpa mengenakan apapun. Bahkan, 'itu' Keanu juga bergelantungan indah.
“Lu pikir aja sendiri,“ ucap Keanu tidak mau tau. Keanu pun masuk ke dalam kamar mandi. Brengsek, batin Barra. Tunggu dulu, dia Keanu? Hm, sepertinya Barra harus mencari-cari sesuatu di kamar ini, batin Barra. Hah, kemana pula pakaian gue?, batin Barra. Shit, umpat Barra.
Itu dia meja belajar Keanu. Sebelum Keanu keluar dari kamar mandi. Kesempatan ini pun digunakan sebaik-baiknya oleh Barra untuk mengorek-ngorek siapa itu Keanu. Ini dia, batin Barra saat menemukan kartu pelajar milik Keanu. “Keanu Abraham?“ gumam Barra. “Ini kan..?“ gumam Barra lagi. Ini jelas-jelas Keanu si penjaga ruangan fitness itu.
Mulut Barra menganga lebar. Bagaimana bisa di foto ini Keanu berbeda jauh dengan aslinya? Di foto ini Keanu memiliki rambut pendek dengan poni diturunkan, berkacamata, tidak bertato—juga mengenakan behel. Sedangkan aslinya Keanu memiliki rambut panjang di atas pundak, tato di mana-mana, dan tanpa behel pastinya.
“Udah tau siapa gue?“ seru si pemiliki suara berat itu. Barra pun memutar badan ke belakang. Barra melihat Keanu tengah mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Barra terdiam. Ia tertegun beberapa saat melihat pemandangan aneh di pagi hari. Keanu langkahkan kakinya langkah demi langkah mendekati Barra.
Tatapan Keanu datar sekali. Mau apa Keanu ini, hah?, batin Barra. Barra sampai-sampai tersandar di meja belajar Keanu. Keanu pun langsung mengambil kartu pelajar miliknya dari tangan Barra. Barra dan Keanu seling bertatapan beberapa saat dengan jarak yang amat sangat dekat.
Kelopak mata Keanu indah sekali. Bibir Keanu juga tipis berwarna kepink-pinkan. Kulit Keanu bersih seperti perempuan. Keanu juga terlihat cantik. “Puas liatinnya?“ seru Keanu. Barra pun langsung mendorong tubuh Keanu. Barra menghela nafas setelah menahannya beberapa saat tadi.
“Tadi malem lu mabuk berat. Gue niatnya pengen nganterin lu ke rumah lu sendiri. Tapi, gue takut bonyok lu bakalan marah-marahin lu. Makanya gue bawa lu kesini aja.“
“Oh iya, soal identitas gue, jangan ampe orang sekolah tau. Kalo identitas gue ampe bocor..“ ucap Keanu mendekatkan wajahnya ke wajah Barra. Barra menelan ludah susah payah. “Lu bakalan gue makan,“ ucap Keanu menjauh. Lagi-lagi Keanu memperlihatkan keindahan tubuhnya saat ingin berganti pakaian di depan almari. Tuh orang urat malunya putus kali, ya?, batin Barra.
“Om tante maafin Keanu ya baru balikin Barra sekarang? Minjemnya kelamaan ya om tante? Hehehe,“ ucap Keanu saat ia dan Barra sudah tiba di rumah Barra. Heh, Barra mendengus. Barra itu bukan barang yang bisa dipinjam atau diperjualbelikan. Tapi, mengapa si iblis ini malah memperlakukan Barra seperti sebuah barang?
“Barra nggak ngerepotin kamu kan Keanu?“ tanya sang ibu. “Nggak dong tante cuman..“ ucap Keanu sengaja menggantungkan kalimatnya. Keanu mengerling sebentar pada Barra. “Tadi Barra otak-atik meja belajar Keanu tante hehehe,“ ucap Keanu. Barra langsung melotot tajam. Oh tuhan, terbuat apa sih mulut Keanu ini sampai-sampai bisa setajam ini?
“Barra~“ seru sang ibu memberikan tatapan membunuh ke Barra. “Barra mau mandi dulu, gerah.“ ucap Barra langsung beranjak menuju kamar. “Tuh anak kapan tobatnya sih,“ seru sang ibu kesal. “Gara-gara kamu sih pas hamil si Barra salah makan, makanya gitu.“ cetus sang suami—pun langsung pergi entah kemana karta tidak ingin kena semprot sang istri.
Saat menunggu WO di ruang tunggu. Tiba-tiba Ares menitikkan air mata. Ares tidak bersedih—ataupun sakit hati. Ares hanya terlalu bahagia. Itu saja. Bahkan, kunjungan kedua orang tua Rakha beberapa waktu lalu pun, kembali terngiang di benak Ares. Betapa murah hatinya beliau mau menerima hubungan sesama jenis ini. Jujur Ares tidak kuasa menahan tangis.
“Dek? Kamu kenapa?“ tanya Rakha. Ares mengusap air matanya dengan tisu. “Nggak papa mas. Aku cuman terharu aja.“ sahut Ares. Sungguh Rakha terhenyak melihat air mata cinta itu. Bagaimana tidak? Sebentar lagi Ares dan Rakha akan mengucap janji suci pernikahan. Rakha pun menggenggam tangan Ares sambil mengusapnya pelan, memberikan semangat dari sana.
“Lama banget ya mas? Maaf ya mas, tadi masih ada urusan di dalem,“ ucap si WO perempuan. “Iya mba nggak papa, kami ngerti kok.“ sahut Rakha. “Jadi, ini mau konsepnya gimana?“ tanya si WO. “Mohon maaf sebelumnya.. Tapi, apa ada wedding dekor yang murah tapi bagus dan nggak nguras kantong?“ tanya Rakha sedikit malu-malu.
“Haha nggak papa mas~ Nggak usah malu-malu~ Hehehe. Ada kok mas dan ini beberapa contoh sewa tenda + dekor untuk harga 10jt an. Jadi, ini udah satu paket mas.“ ucap si WO menjelaskan. Rakha pun mengangguk paham. “Mau yang kek gimana, dek?“ tanya Rakha ke Ares. “Hm.. Bagus semua sih mas.. Mungkin mba bisa kasih rekomendasinya?“ ucap Ares.
“Kalau menurut saya yang ini lebih bagus. Soalnya ini termasuk yang paling banyak disewa juga. Dan konsep warnanya sendiri itu white and brown. Tapi, brown lebih dominan disini. Dan juga lokasinya outdoor. Jadi, dijamin mantep lah hehe.“
Setelah selesai menentukan dekorasi pernikahan. Ares dan Rakha jalan-jalan sebentar di mall. Ares dan Rakha terlihat mesra sekali. Persis seperti orang yang baru pacaran. Hm, atau lebih tepatnya terlihat seperti pengantin baru? Lihatlah bagaimana tangan Rakha tidak lepas dari pinggul Ares. Pun Ares yang sesekali mencubit pinggul Rakha, karna gemas.
“Mas Rakha?“ seru seorang perempuan. Saat Ares dan Rakha asyik memilih mug-mug untuk dijadikan souvenir pernikahan mereka nanti. Sudah lama sekali Rakha tidak mendengar suara ini. “Ami?“ batin Rakha. Tangan Rakha otomatis terlepas dari pinggul Ares. Namun, tidak lepas untuk terus menggenggam tangan Ares dengan kuat. Ares tau, Rakha sedang butuh kekuatan besar disini.
Rindu, itu sudah pasti. Setelah sekian lama akhirnya Ami dan Rakha saling bertemu disini. Namun, mata Rakha menangkap sesuatu yang membuat hatinya sedikit perih. Rakha melihat perut Ami mulai membesar meskipun Ami duduk di kursi roda.
“Ami?“ seru seorang pria. Itu pasti calon suami Ami. Bisa dilihat bagaimana mata pria itu menatap Ami dengan tatapan cinta dan memuja. Irfan juga terkejut saat ia melihat Rakha ada disini. Dada Rakha serasa dihantam oleh puluhan tombak. Sesak sekali. “Gimana kabar kamu, Ami?“ tanya Rakha berusaha kuat. Ares hampir saja ingin melepaskan genggaman tangan Rakha. Ares merasa tidak enak digenggam seperti ini di hadapan Ami dan Irfan.
Namun, Rakha langsung menggenggam tangan itu kembali. Ami tidak buta saat ia melihat hal itu. “Mas.. Kamu..?“ seru Ami menerka-nerka. Kedua mata Ami memerah. Jangan sampai perkiraan Ami benar. Irfan yang berada di belakang Ami sambil memegang dua sisi kursi roda itu pun merasa was-was. Kondisi Ami masih naik turun. Jangan sampai gara-gara ini Ami drop lagi.
“Jangan bilang kalo kamu itu—“ ucap Ami langsung dipotong oleh Rakha seketika. “Iya, apa yang kamu pikirin bener, Ami.“ sahut Rakha. Sampai disini sudah sangat jelas sekali Ami dan Rakha telah berada di jalan yang berbeda. Dada Ami terasa sesak akan fakta ini. Hah, Ami mendengus menahan bulir-bulir mutiara kepedihan itu.
Keheningan menyelimuti mereka meskipun ramai orang berlalu-lalang. “Saking nggak ada cewek lain lagi ya, mas? Ampe kamu lebih milih sama cowok? Dia yang jualan siomay itu, kan? Ato jangan-jangan kamu udah suka sama dia dari dulu, mas? Dari pas kamu masih sama aku? Bener?“ cerca Ami. Irfan dilanda kerisauan. Ini sudah berada di taraf maksimum. Oh tuhan, tolong jaga Ami dan bayi di dalam perutnya.
Rakha diam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ares yang berada di samping Rakha pun hanya diam saja melihat dia orang dewasa ini beradu argumen. “Heh,“ Ami mendengus. “Murahan kamu mas,“ ucap Ami sarkasme. Ami pun meminta Irfan untuk segera membawanya pulang.
“Mas nggak papa sayang,“
Suasana mendung di hati ini menambah catatan panjang perjalanan kisah cinta Rakha. Ami sudah bersanding dengan pria yang lebih baik. Tentu berdompet tebal pula. Tidak seperti dirinya yang cuma berpenghasilan pas-pasan. “Mas,“ seru Ares membawakan segelas teh hangat dari dapur. Mata Rakha terlihat sedikit memerah dan berkaca-kaca.
Sebagai calon istri, Ares, tentu iba melihat apa yang telah terjadi pada calon suami sendiri. Ares pun menggenggam tangan itu. Tangan yang nantinya akan membimbing hidupnya sampai tua nanti. “Ares..“ seru Rakha lirih. Suara Rakha terdengar pilu sekali. Mendengarnya saja membuat relung hati Ares terasa tertusuk.
“Mas cuman karyawan kantor biasa.. Gaji mas juga pas-pasan.. Kamu masih mau sama mas, Ares?“ ucap Rakha tiba-tiba. “Mas jangan ngomong sembarangan,“ sahut Ares. Ares tau suasana hati Rakha sedang berkecamuk. Sampai-sampai Rakha berkata yang tidak-tidak.
“Mas bukan orang kaya, Ares~“ ucap Rakha lagi. Ares pun menghela nafas berat. “Tapi, di mata aku kamu itu sempurna, mas.“ ucap Ares tersenyum. Setiap orang mempunyai kekurangan masing-masing. Kaya raya tidak menjadi kebahagiaan. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bahagia.
Ares pun memeluk Rakha dari samping dan meletakkan dagunya di pundak Rakha. Rakha pun menatap Ares lamat-lamat. “Ares..“ seru Rakha. “Hm?“ sahut Ares menatap Rakha seperti anak kucing. Uh, menggemaskan sekali, batin Rakha. “Mas.. Lagi pengen..“ ucap Rakha.
“Pengen apa?“
“Pengen—kamu tau nggak gimana caranya cowok sama cowok perang di atas ranjang?“
“Hah?“
Uh, mengapa Rakha bertanya seperti itu tiba-tiba? Lagi bukankah tadi ia terlihat pilu dan bersedih? Lalu, kenapa sekarang tatapan Rakha malah terlihat nakal seperti pria-pria mesum? “Ma-mana aku tau mas. Kok nanya ke aku sih?“ sahut Ares benar-benar tidak tau akan hal itu.
“Coba kita buka youtube,“ ucap Rakha. Ares mengerjap-ngerjapkan mata dengan mulut sedikit menganga. Oh tuhan, sampai segitu ingin taunya kah Rakha? Sampai-sampai ia harus berkelana di sosial media youtube untuk mengetahui bagaimana pria dan sesama pria berhubungan badan?
Ares dan Rakha pun menonton beberapa cuplikan adegan-adegan panas genre sesama jenis di youtube. Mulai dari yang disensor dan full tanpa sensor. Ares menelan ludah susah payah. Ares mulai berkeringat dingin. Sedangkan Rakha terlihat biasa-biasa saja.
Uh, bagaimana bisa tongkat sepanjang dan sebesar itu bisa masuk ke dalam lubang pria? Ini amat sungguh tidak masuk akal. Ares merasa ngilu membayangkan akan hal itu. Tunggu dulu, tadi bukannya Rakha berkata pengen? Jangan-jangan yang Rakha maksud pengen adalah ini? Oh tidak, teriak Ares dalam hati.
“Siap, dimengerti.“ seru Rakha langsung menutup laman youtube tersebut. “Ares?“ seru Rakha. “Kok muka kamu pucet?“ tanya Rakha saat melihat perubahan air muka Ares. “Mas.. Mas mau itu ke aku?“ tanya Ares sedikit ragu dan takut. Rakha pun menganggukkan kepala polos sekali.
“Mau kemana?“ tanya Ares saat Rakha beranjak dari kursi. “Mau ngambil sesuatu. Kamu tunggu disini hehe.“ sahut Rakha sembari tersenyum misterius. Oh tuhan, kenapa senyuman Rakha itu mengerikan sekali? Beberapa saat kemudian Rakha pun membawa sebuah botol kecil bening dengan stiker berwarna hijau. “Itu apa?“ tanya Ares. “Ini minyak zaitun. Mas nggak punya pelumas khusus jadi ya pake ini aja.“ sahut Rakha.
“Hah?“ Ares tercengang. Mengapa Rakha bisa berkata sepolos itu dengan raut muka biasa-biasa saja? Lihatlah Ares yang sudah mulai sedikit panik. “Mas bakalan main cantik kok, dek, hehehe. Jadi, jangan takut ya?????“ ucap Rakha. Ares menelan ludah susah payah dengan kedua alis saling bertautan.
Ares gugup bukan main. Rakha mendekati Ares dan mengunci tubuh Ares sampai tubuh Ares tersendiri di bahu sofa. Rakha tatap mata Ares dalam-dalam. Uh, dengan jarak sedekat ini Ares bahkan hembusan nafas Rakha amat sangat terasa. “Mas..“ seru Ares.
Rakha mengarahkan wajahnya ke ceruk leher Ares. “Eummhh,“ gumam Ares saat lidah Rakha mulai menari-nari disana. Lama sekali Rakha bermain-main disana. Hingga akhirnya ia pun menarik wajahnya kembali dari sana. Ia pandangi bekas kemerahan di leher Ares itu sembari tersenyum tipis. “Mas suka suara lenguhan kamu sayang,“ ucap Rakha dengan suara yang lembut sekali. Selembut kapas mungkin?
Rakha pun mengecup bibir bagian atas dan bawah Ares secara bergantian. “Eumh haaaahh eungh,“ gumam Ares di sela-sela ciuman keduanya. Ciuman Rakha turun ke dagu lalu kembali ke bibir. Kini ciuman itu semakin menuntut. Rakha mengulum habis bibir Ares. Uh, pasokan udara terasa mulai menipis. “Mahsss eummhhh,“ gumam Ares ingin Rakha menyudahi ciumannya itu sebentar saja. Mengerti akan hal itu Rakha pun menyudahi aksinya sebentar. Oh tuhan, sungguh indah maha karya mu, Rakha melihat wajah Ares yang sudah memerah sekali. Bagi Rakha, Ares terlihat sangat seksi sekali.
Rakha pun kembali mengulum bibir Ares itu setelah dirasa Ares telah menghirup udara banyak-banyak. Ares menggelinjang hebat saat lidah Rakha mengulum dan menggigit daun telinganya. Oh tuhan, Ares lemas hanya dimanja seperti ini. Sengatan-sengatan listrik beraliran tinggi itu sungguh membuat Ares mabuk kepayang.
Ciuman Rakha semakin turun dan turun. Ia angkat sampai ke atas baju yang Ares kenakan. Ia pun mengulum dua biji kacang itu secara bergantian. “Hahhh ahhhhh,“ gumam Ares. Sambil Rakha membuka resleting celana dan mengeluarkan milik Ares dari sarang. Ciuman itu pun semakin turun hingga milik Ares yang kemerah-merahan itu membuat Rakha tergoda untuk segera mencicipinya.
Rakha pun mengulum milik Ares itu hingga membuat Ares menggelinjang hebat dan berteriak dengan kencang. Ares memegang sofa dengan keras demi menahan rasa ngilu sekaligus nikmat dalam diri ini. “Oohhh mahsss eungh aaahhhhh,“ gumam Ares saat lidah Rakha menekan ujung kepala milik Ares yang mengkilap karna air liur itu dengan lidah. Kontan Ares pun mendongakkan kepala kenikmatan.
Rakha lepas celana yang Ares kenakan. Ia angkat kaki Ares ke atas dan menjilati lubang itu. “Mahsss ngghhh ah aaahh uda aaahh hmmhhh.“ gumam Ares. Kepala Ares pusing sekali menahan kenikmatan tiada tara ini. Ares dan Rakha kembali berciuman dengan posisi kaki Ares mengangkang lebar. Ares pegangi ceruk leher Rakha saat berciuman. Rakha pun menyudahi ciuman itu lalu mengolesi miliknya sendiri dengan minyak zaitun.
“Mas mau kamu di atas sayang aaahhh,“ ucap Rakha. Ares pun bangkit dan kini giliran Rakha yang berada di bawah. Jangan salah paham dulu, karna disini Rakha lah yang menjadi pihak lelaki. Ares duduk di atas Rakha lalu mencium bibir Rakha sebentar. Setelah itu ia pun mencoba mengarahkan milik Rakha ke lubangnya sendiri. “Uhhh aaahhh keuuh.“ gumam Rakha dengan kedua alis saling bertautan. Baru ujungnya saja rasanya sudah terasa merobek-robek, apalagi kalau masuk sepenuhnya.
“Pelan-pelan sayang,“
“Su-sah maahhsss,“
Rakha pun membantu mengarahkan miliknya ke lubang Ares. “Aaakkkkhhhhhh,“ teriak Ares saat milik Rakha sudah masuk sepenuhnya. Kedua tangan Ares berada di pundak Rakha. Ares diam sebentar. “Tunggu dulu mahss ssstt sakit bangheettt eummh.“ ucap Ares.
“Naik turunin pelan-pelan sayang,“ ucap Rakha mengecup kening Ares. Ares pun berusaha menaikturunkan pinggulnya. Meskipun milik Rakha sempat keluar beberapa kali. Namun, Rakha langsung membantu Ares memasukkan miliknya lagi ke dalam sana.
Karna terasa berat dan sulit. Ares pun duduk dengan posisi berjongkok dan pinggul di angkat sedikit. Di posisi ini Rakha lah yang meggerakkan pinggulnya sendiri. “Aahhh aahhh ah ah ah uuuhhh,“ gumam Ares. Keduanya pun berciuman sambil Rakha menggerakkan pinggulnya sendiri menghujam lubang Ares dalam-dalam.
“AH AH AH AH AAAAAHHH UGHHHH EUMH,“ teriak Ares. Posisi keduanya pun berubah. Kini Ares di bawah. Sebuah bantalan sofa pun di selipkan di bawah pinggul Ares, supaya pinggul Ares menjadi lebih terangkat dan memudahkan Rakha untuk menghujamkan miliknya di dalam sana. Rakha angkat tinggi-tinggi kedua kaki Ares dengan lutut ditekuk.
Rakha gerakan pinggulnya dengan tempo yang amat sangat cepat membuat Ares sendiri kewalahan. “Pelan pelan mahs ah ah ah ah ah maaahhhsss uh uh uuuuh eungh.“ gumam Ares. “Mau keluahr mahss,“ ucap Ares lirih. “Tahan dulu sayangg hmph.“ sahut Rakha menekan ujung kepala milik Ares supaya tidak cepat keluar. Rakha ingin mengeluarkan cairan itu bersama-sama. “Kita keluarin bareng sayang aaaahhh,“ ucap Rakha. Rakha pun semakin mempercepat gerakan pinggulnya. “UH UH MAHS! AAAAAAAHHHHHH,“ lolongan panjang itu pun terdengar dari bibir Ares menandakan Ares telah menyemburkan cairan putih itu—pun Rakha sama jua.